Melliflous

Melliflous
MY HUMMINGBIRD


__ADS_3


Ingat janjimu Anne Sayang๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ. Aku akan menunggumu disana


Tulisku cepat disela senyum yang tak henti hentinya mengembang. Aku tau,aku benar benar sedang berada di mood terbaik ku hari ini hanya karena bertukar chat dengan seseorang yang aku yakini sedang uring uringan di seberang sana. Aku kembali terkikik saat membayangkan bagaimana ekspresi gadis itu,pasti sangat menggemaskan. Ahhh... Ini bahkan baru 2 hari sejak aku bertemu dengannya,tapi kenapa ini terasa begitu lama, aku ingin bertemu dengannya lagi


My Hummingbird๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


As you wish, Your Majesty!!!


Tidakkah itu balasan yang sangat cute mengingat si pengirim pesan ini adalah Anne??? Tau begini aku tidak akan pernah menyesali kejadian malam itu hingga setengah mati. Toh... dengan itu aku malah mendapatkan alternatif lain untuk lebih bisa mengontrol gadis bar bar satu itu juga lebih dekat dengannya tentu saja. Dan agenda memanfaatkan kelemahan orang lain seperti ucapannya tempo lalu sekarang malah menjadi hal yang amat menyenangkan untukku. Jangan salahkan aku okay, karna aku hanya ingin membuktikan apa yang sudah dia katakan tentangku. Bukankah pembuktian itu perlu untuk seorang pria dewasa seperti ku???


Dan entah mengapa Anne dengan sosoknya selalu mengingatkanku pada Hummingbird. Ya... Burung terkecil di dunia itu nyatanya memiliki nyali yang bertolak belakang dengan ukuran tubuhnya. Hummingbird yang mungil itu faktanya memiliki nyali yang besar,kemampuan terbang tercepat di dunia,sangat agresif,dan yang paling aku suka,hummingbird adalah burung yang sangat tangguh. Bukankah itu terdengar sama hal nya dengan Anne?


My hummingbird


"Kau yakin dia akan datang kali ini?" Aku tersenyum begitu bangga serayah meletakkan ponselku diantara meja


"Ingin bertaruh mobil denganku??"


"Tidak,lupakan saja!! Dan ini yang kau minta 2 hari lalu" Seok Jin Hyung membuang kasar sebuah map merah diatas meja kerjaku,yang kemudian aku raih


"Bukankah dia anak dari Kim Seung Jae, Menteri kesehatan?" Aku menaikan ke dua alisku sambil meneliti setiap huruf juga angka yang tertera di sana


"Benarkah?"


"Terjadi sesuatu?" Tanya Jin Hyung,


"Tidak... Aku pastikan tidak akan terjadi sesuatu" ucapku dengan senyum lebar sambil menutup berkas itu


"Tapi sepertinya terjadi sesuatu dengan wajahmu Jim, aku rasa otot diwajahmu sudah rusak. Senyum menggerikan itu bahkan sudah ada diwajahmu sejak 2 hari yang lalu. Perlu ku antar ke rumah sakit Dude?!" Aku terkikik saat mendengar hal tidak berfaedah itu dari Jin Hyung. Yang malah membuat pemuda itu semakin diam membeku di tempatnya


"Kerumah sakit jiwa saja,ayo biar ku antar!!!" Serunya yang malah semakin membuatku terpingkal pingkal. Ahhh...rasanya menyenangkan sekali,perasaan ini.


I guess, it's hard for many girl to resist The charm of man like me. Tapi ternyata hal itu tidak berlaku untuk semua gadis,dan gadis inilah salah satunya. I still can't believe that I'm dating Anne. Wow! Dan mari kita kembali pada 2 hari lalu saat aku mengantarnya pulang ke apartemennya dan berhasil tidur di sofa, tentu saja.


"Sofa ini nyaman" ucapku sambil merebahkan diriku diatasnya,sementara gadis itu masih saja setia dengan tampang bengis nya. Dia benar benar menahan emosinya dengan baik,saat aku dengan serampangan masuk ke dalam apartemen nya tanpa permisi.


"Jangan melihatku dengan mata garang seperti itu Ann, aku kan sekarang pacarmu. Akan aneh jika orang lain melihatnya. Kau saja bisa melakukannya pada bekas pacarmu,masak tidak padaku" godaku yang membuatnya merotasi kan ke dua bola matanya,tampak sangat muak dengan omonganku


"Aku akan tersenyum padamu jika kau pulang sekarang juga! Jangan tidur di sofa ku Park Jimin!!"


"Kenapa?? Disini nyaman,lagipula kenapa kau jahat sekali sih Ann,?? Aku kan sudah menjemputmu,aku menyetir selama 3 jam. Aku lelah dan juga mengantuk" aku pura pura menguap sambil merebahkan kembali tubuhku pada sofa berwarna coklat yang berbau hampir sama seperti pemiliknya


"Aku akan tidur disini sebentar, bagaimana dengan 1 jam??" rayuku sambil mengacungkan jari telunjukku ke arahnya yang tengah berdiri di depan sebuah kulkas yang hanya berjarak 5 langkah dari sofa.


"Terserahlah!!" Aku sudah cukup terbiasa dengan kegarangan gadis ini,jadi suara melengking nan frustasi semacam tadi jelas bukan hal yang membuatku terganggu. Lagipula,dia benar benar lucu dengan wajah menahan emosinya itu


Aku menutup mataku sambil menahan senyum yang tak henti henti nya muncul di wajah ku. Melipat satu tanganku untuk menyangga kepalaku yang bersandar di kepala sofa,menjadikannya bantal pengganti sementara.


"Damn!" Pekik ku tertahan karena sesuatu mengenai wajah tampanku tiba tiba saja


"Pakai itu dan ini untukmu!" Ucapnya sadis sambil menunjuk bantal yang kini ada di tanganku dengan dagunya,juga serayah meletakkan sebuah cangkir berwarna navy yang mengeluarkan kepul uap dari dalamnya tepat dihadapanku.


Aku memandang sekilas gelas dengan cairan berwarna coklat itu kemudian memandang punggung yang kini telah hilang bersama sebuah pintu yang kini tertutup.


"Dia cukup manis untuk ukuran gadis bar bar" ucapku lirih pada gelas yang kini sudah ada di genggaman tanganku.



You're too much Ann!!


Umpatku dalam hati saat mendapati sosok yang ku cari sudah raib dari rumah sakit. Bagaimana bisa dia pergi begitu saja saat aku sudah memberitahunya untuk menungguku. Aku memencet deret angka di layar ponselku dengan sedikit kesal. Mencoba menelfon gadis itu serayah memasuki mobilku yang terparkir diparkiran rumah sakit.


Aku memandangi layar ponselku yang masih setia dengan suara operator seluler di seberang sana,ponselnya masih saja tidak aktif. Aku membuka kembali chat ku padanya 3 jam yang lalu, dan benar saja. Gadis itu hanya membacanya tanpa membalas chat dariku. Aku menghembuskan nafasku lalu memutuskan segera pergi dari sini. Mungkin gadis itu sudah pulang ke apartement nya. Dan aku putuskan untuk kesana. Ada sesuatu yang harus aku berikan padanya,juga...karna aku sangat merindukan gadis itu,jujur saja.


Aku melajukan mobilku perlahan,karna kondisi jalan yang masih agak sedikit padat,maklum saja ini jam pulang kantor. Kemudian berhenti saat lampu traffic berubah warna menjadi merah. Aku menatap sekeliling dan tersenyum saat melihat sebuah kotak besar yang tergeletak di kursi penumpang di bagian belakang dengan hiasan pita diatasnya. Dia pasti akan terlihat secantik putri Disney saat memakainya nanti. Aku melajukan kembali mobilku saat lampu sudah berubah hijau. Namun mataku seolah menangkap sosok yang tidak asing,aku menyipitkan mataku mencoba fokus pada 2 orang yang tengah berjalan berdampingan di trotoar jalan.


"Anne??" Gumamku saat aku benar benar melihat dengan jelas wajah yang tersenyum malu malu pada seseorang yang berjalan di sampingnya.


"Shit!!!" Akhirnya aku mengumpat saat mataku dapat dengan jelas menangkap siapa gerangan seseorang yang ada disebelah gadis itu, Kim Young Dae!!! Pantas saja dia tersenyum sampai begitunya!! Gadis itu astaga!! Yang benar saja!!!


Aku buru buru menepihkan mobilku di pinggir jalan,lalu berlari setengah kesetanan menghampiri sepasang manusia yang bertukar senyum malu malu didepan sana.


"Honey!!" Seruku sambil merangkul pundak Anne yang tersentak


"Ow...,Hai!! Bukankah kau pria yang kemarin di gereja?" Sapaku berbasa basi pada pemuda yang kini memasang ekspresi yang berbeda dari sebelumnya namun masih dapat terlihat senyum di wajahnya

__ADS_1


"Aku kan sudah bilang tidak perlu menungguku dihalte,aku bisa menjemputmu di rumah sakit. Lihat dirimu! Kau berkeringat sekarang" cerocosku pada Anne yang hanya melotot padaku saat aku menyentuh keningnya,berpura pura menyeka keringat yang bahkan tak ada walau hanya barang setitik pun. Tapi aku tak memperdulikan nya sama sekali,aku kembali merangkul pundaknya dan kali ini lebih erat dari sebelumnya


"Terima kasih karena sudah menemani pacarku berjalan sejauh ini Kim Young Dae-ssi, kalau begitu kami pergi dulu ya. Karna aku harus membuatnya lebih berkeringat dari ini. Benarkan,Honey??!!" Cengirku pada Anne yang masih terlihat sangat shock dengan kalimat yang keluar dari mulutku,hingga aku harus setengah menyeretnya pergi untuk masuk ke dalam mobilku.


"Park Jimin!!!" Teriaknya begitu aku masuk dan duduk di kursi kemudi


"Kau sinting!!!" Teriaknya sekali lagi yang membuat ke 2 telingaku berdengung nyeri,astaga jenis suara macam apa ini sebenarnya?? Kenapa menggerikan sekali


"Bisa bisanya kau berkata hal sinting seperti itu didepan Young Dae Oppa!!!" Dan pasti masih akan dilanjutkan dengan sesi omelan berikutnya,ck... Bahagia sekali sih Kim Young Dae itu karna mendapat atensi dari Anne. Kira kira kapan giliran ku ya,hmmmm iri sekali rasanya


"Kenapa memang? Bukankah masih untung aku hanya berkata hal sinting semacam itu pada bekas pacarmu? Coba bayangkan kalau aku sampai melakukan hal sinting padanya"


"Juga," aku menggantungkan kalimatku,menatap gadis yang duduk di sebelahku dengan matanya yang masih ber api api. Melihat sekilas pada satu titik dan dengan cepat mencondongkan tubuhku,menghimpit gadis itu yang kini beringsut diantara kursi dan juga diriku


"Pasang sabuk pengamanmu lebih dulu,sebelum mengomeliku, Honey"


Aku tersenyum setelah memasangkan sabuk pengaman itu pada Anne yang masih stagnan di posisinya semula.


"Aku rasa,aku harus memberitahumu 1 hal yang paling fundamental tentang diriku. Aku ini tipekel pria pencemburu buta,aku tidak suka,jika sesuatu yang menjadi milikku di sentuh orang lain. Jadi jangan lakukan itu hanya untuk bersenang senang Anne sayang,kau tidak akan pernah tau hal segila apa yang bisa aku lakukan jika itu benar benar terjadi"


"Memang aku ini milikmu!! Dasar sinting!!"


"Kau kekasihku sekarang,dan itu artinya kau milikku" ucapku seringan bulu


"Percaya diri sekali!! Siapa juga yang Sudi jadi kekasihmu!!" Ckckckck ... Gadis ini memang benar benar ya,sesuatu


"Benarkah?? Lalu bagaimana dengan rekamannya?? Haruskah kusebarkan sekarang juga?"


"Park Jimin!!!!" Teriaknya yang membuatku tertawa geli,duh... Menggemaskan sekali sih gadis ini




ku mengucapkan terima kasih pada Pak Lee yang membukakan pintu mobil untukku yang disambut senyum dari pria paruh baya yang juga nampak rapi dengan setelan jas juga rambutnya yang ditata dengan sedemikian rupa. Aku merapikan sejenak dress sepanjang lutut dengan warna putih yang kini melekat di tubuhku. Dan sedikit tersentak saat suara itu tiba tiba saja menggema dihadapanku.


"Hai Putri Disney" sapanya dengan senyum mengembang,membuat mata itu tak ubahnya bagai sepasang bulan sabit kecil.


"Ayo" ucapnya sembari mempersilahkan tanganku untuk dikaitkan di antara lengannya yang sudah membentuk siku.


Maksudku,Park Jimin yang sekarang terlihat berbeda dengan penampilan formalnya. Setelan jas berwarna biru dengan Shirt berwarna putih didalamnya juga sebuah sapu tangan yang terselip dengan begitu apik di pocket Jasnya. Surai hitamnya yang dulu kini juga berubah warna menjadi Dark Grey yang entah mengapa membuatnya terlihat begitu cerah.


"Kenapa diam saja? Aku tampan ya" ucapnya lirih disudut telingaku dibarengi kekehan khasnya.


Aku membelalakkan mataku lalu menatapnya dengan sedikit sadis,menunjukan padanya betapa ucapannya tak ubahnya omong kosong belakang


"Terima kasih pujiannya,aku tau aku tampan. Kamu juga... Cantik, My Hummingbird"


Cantik??? My Hummingbird?????


Apa apaan itu tadi


...



...


Jimin bilang,ini adalah pesta dari salah satu rekan bisnisnya. Kalau tidak salah Tuan Jang namanya,pesta ini adalah pesta ulang tahun perkawinannya yang ke 30 tahun. Tak heran jika pesta ini terkesan sangat mewah juga dihadiri oleh mayoritas pebisnis juga tokoh tokoh penting lainnya. Taukah kalian jika terkadang,reputasi itu tak akan mampu mengkhianati???


Sesekali langkah kami harus terhenti saat ada yang menyapa. Berbasa basi ala kadarnya dengan gaya khas Park Jimin tentu saja. Aku baru menyadarinya,jika pria ini punya sense of humor yang cukup lumayan. Dan dia pribadi yang cukup humble dan banyak bicara. Berada di sampingnya seperti ini membuatku melihat beberapa hal yang belum pernah ku lihat dari sosoknya.


"Tuan Park!" Seru sebuah suara yang cukup berat,membuatku dan Jimin menoleh kesamping dan menemukan sepasang paruh baya yang bergandengan dengan wajah berseri seri


"Selamat malam Tuan dan Nyonya Jang" ucap Jimin berbarengan denganku yang agak sedikit menundukkan kepalaku,bermaksud menyapa 2 orang yang kini berdiri di hadapan kami. Kemudian terhanyut sejenak dalam konversasi ringan yang cukup menyenangkan. Dan fakta bahwa Park Jimin bisa membawa dirinya ke dalam segmen usia manapun dengan gaya khasnya benar benar membuatku sedikit terkejut. Pria ini nyatanya memiliki kemampuan komunikasi juga sosialisasi yang cukup baik.


"Hadiahmu sangat cantik Tuan Park,terima kasih" ucap Nyonya Jang tulus dengan senyum merekah di wajahnya


"Ah... Itu sesuatu yang kekasih saya pilih sebenarnya" ucap Jimin dengan wajah tersipu sipu malu sambil menatap ku,yang membuatku sedikit gugup kemudian


"Oh begitu rupanya. Terima kasih Nona Kim... Itu kalung yang sangat cantik" terima kasih Nyonya Jang dengan senyum yang begitu tulus,yang aku balas dengan sebuah senyum dan beberapa utas kata. Aku memang yang memilih kalung itu tempo hari,Park Jimin memintaku untuk membantunya memilihkan sebuah hadiah perkawinan untuk rekan bisnisnya. Dan memang kalung itu sangat cantik. Bagaimana tidak,kalau ada banyak Angka nol yang mengikuti dibelakangnya.


"Ann,aku akan kesana sebentar tunggu aku disini okay?" Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan duduk disebuah kursi di sudut ruangan. Aku memandang jam dipergelangan tanganku,2 jam sudah aku berdiri,menyapa ke sana sini dan tersenyum hingga gigiku nyaris kering rasanya. Aku meneguk segelas wine untuk membasahi tenggorokanku yang juga terasa begitu kering. Dan merasakan kakiku yang pegal bukan main. Aku menggelus pergelangan kakiku perlahan,memijatnya perlahan berharap rasa nyeri itu akan sedikit membaik. Dan dengan ini aku benar benar mendeklarkan perang pada sepatu hak tinggi!! Demi Tuhan,aku sungguh benci High Heels!!!


"Permisi..." Sebuah suara mengagetkanku,membuatku berhenti dari aktifitas memijat pergelangan kakiku.


"Ya..." Ucapku sedikit gugup,pada pria tinggi dengan setelan jas berwarna hitam senada dengan surainya yang tertata rapi.

__ADS_1


"Nona...bolehkah aku berkenalan denganmu?" Ucapnya yang terdengar tak kalah gugupnya dariku


"Aku?" Tanyaku berusaha menyakinkan pada diri ku sendiri dan juga pemuda di hadapanku yang kemudian mengangguk dengan sebuah senyum diwajahnya


"Ah, ya...aku Rosseanne Kim" kataku sambil menggulurkan tanganku padanya yang kembali tersenyum


"Aku,"


"Honey!!" Aku sedikit terkejut saat suara sedikit melengking itu tiba tiba saja hadir. Membuatku sedikit terjingkat karna kaget.


"Apa yang kau lakukan disana sayang,ayo Nyonya Jang mencarimu!" Aku sedikit tersentak saat pria itu menarikku menjauh. Meninggalkan pria bersurai legam yang memandangku dengan pandangannya yang masih terpaku padaku walau aku sudah berlalu dari hadapannya.




Bisa bisanya,dia melakukan hal semacam itu padahal belum ada 15 menit aku meninggalkannya sendiri. Bagaimana bisa gadis itu menggulurkan tanganya dengan cuma cuma pada seorang pria asing yang meminta berkenalan. Aku menggenggam telapak tangan itu dengan sangat kencang,hingga si empunya miringis kesakitan.


"Jimin,sakit" ucapnya lirih,namun aku tak memperdulikannya sama sekali. Aku masih menggenggam tangan itu seperti semula. Aku benar benar tidak habis pikir dengan gadis ini. Mungkin lebih tepatnya aku marah sekarang. Karna melihat kejadian semacam itu dengan mata kepala sendiri. Kekasihku berkenalan dengan pria lain didepan mataku??!!!!


"Park Jimin?" Sebuah suara mengusik rungguku


"Kau??!" Dan membuatku mau tak mau menoleh pada sumber suara itu saat Anne sudah membalikkan badannya sepenuhnya menghadap seorang gadis yang aku kenali sebagai Song Lenna


"Tunggu,bukankah kau gadis yang bersama Kim Taehyung di Jeju??!"


"Hai Song Lenna,lama tidak berjumpa" sapaku berbasa basi,fakta bahwa kami mengenal satu sama lain mengharuskan aku untuk tetap menyapanya bukan??


"Kenapa kau bisa disini?? Kenapa kau bersama Park Jimin??" Sekilas aku menatap ke arah mana mata gadis itu terjatuh. Dan seketika itu pula Anne mencoba melepaskan tautan tangan kami,namun urung ku lakukan.


"Dia pacarku" ucapku ringan disertai sebuah senyum di wajah


"Pacarmu?? Gadis ini???!! Yang benar saja!!! Dia pacar Kim Taehyung asal kau tau!!!"


Hampir saja aku kembali menyahut,namun terhenti karna tangan Anne yang masih di dalam genggamanku mencengkram kuat. Aku melihatnya yang hanya diam stagnan di posisinya semula


"Kau cukup hebat juga ternyata,setelah tak cukup dengan Kim Taehyung dan sekarang Park Jimin??" Kali ini aku memandang Song Lenna dengan sengit,namun lagi sebelum mulutku sempat mengeluarkan kata kata makian,tangan itu lagi lagi mencengkeram dengan begitu kuat,mengisyarakatkan agar aku tidak perlu mengeluarkan statement apa pun.


"Dilihat dari dekat seperti ini pun aku masih tidak bisa mengerti kenapa para pria seperti kalian bisa bersama dengan wanita yang seperti ini. Lihat saja, She has no class!!"


"Song Lenna hentikan!" Geramku nyaris menerjang gadis kurang ajar yang ada di hadapanku. Bukankah kalimat itu sungguh kasar dan kurang ajar!!!


"Jimin,aku mohon... Hentikan" mohon Anne sambil menahan tubuhku. Aku menatapnya dengan kebingungan nyata juga emosi yang berkobar gila gila an di dalam diriku. Hentikan??


"Kau yang harusnya berhenti menggoda para pria! Dan untukmu Jim,buka matamu lebar lebar dia tidak sebaik apa yang kau pikir. Kau akan menyesal!"


"Kau!!"


"Jimin,sudah hentikan!" Aku memandang gadis yang ada di hadapanku dengan perasaan marah tak menentu. Bagaimana bisa dia diam saja saat menerima perlakukan seperti ini???!!! Sungguh aku tidak mengerti tentang isi kepala gadis ini.


"Ikut aku!!" Dengan emosi yang sudah naik hingga ubun ubun aku menarik Anne keluar dari ballroom. Setengah menyeretnya yang terus memanggil namaku hingga berkali kali,yang aku anggap hanya sebagai angin lalu. Aku menarik atau lebih tepatnya menyeret tangan itu hingga ke parkiran yang terlihat lenggang.


"Kenapa aku harus berhenti?!! Kenapa kau membuatku juga terlihat sama menyedihkannya denganmu Ann?!!! Kenapa??!!!!" Teriakku syarat akan perasaan frustasi yang teramat sangat. Otakku benar benar tidak bisa mencerna hal semacam ini


"Kenapa kau diam saja?!!"Teriakku sekali lagi,menatap lekat presensi yang memandangku dengan tatapan nya yang sulit aku pahami


"Kenapa kau diam saja saat orang lain memperlakukanmu dengan begitu buruk?!! Kenapa Ann?!!!" Teriakan itu terdengar dengan begitu kerasnya,demi apapun aku sangat marah entah pada siapa,namun aku hanya melihat gadis ini di hadapanku. Dan aku melampiaskan semua emosi yang aku tahan sedari tadi pada gadis yang saat ini justru memandangku dengan lurus.


"Lalu menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan??" Suara itu terdengar begitu dingin dan juga tenang dalam satu tarikan waktu yang sama, namun entah mengapa syarat akan rasa sakit yang pada akhirnya aku temukan pada sorot mata yang terlihat begitu terluka.


"Menjelaskan semuanya??? Menjelaskan tentang kebenarannya???!!" Anne melangkahkan kakinya padaku,menyisakan jarak yang begitu minim diantara kami,dengan mata yang saling beradu pandang. Seperti sedang menceritakan getir yang merambati diri masing masing


"Apa kau pikir mereka akan mendengarnya,- Sesuatu yang kau pikir sebagai kebenaran itu??" Nyaris tersungkur,itulah yang aku rasakan saat kalimat itu di lesatkan dengan begitu dinginnya oleh sosok yang kini sudah berbalik,memunggungi ku.


"... Many people don't have privilege to be born into rich families like you. Dan aku adalah salah satunya. Kau tau sekarang kenapa aku memilih diam?? Karna,sebaik apapun diriku,sebaik apapun usahaku,dan kebenaran semacam apa yang ada didalam diriku,dirimu ataupun mereka. Kalian tidak akan pernah peduli tentang hal semacam itu. Bukankah kalian memang terbiasa memandang rendah orang orang sepertiku?? Kalian menyebutnya sebagai aturan,dan aku menyebutnya sebagai takdir"


Untuk sejenak aku hanya bisa memandang getir gadis yang kini membelakangiku .Tersadar bahwa aku sudah menyakitinya,namun aku bahkan tak sanggup untuk membuka mulutku. Apa yang harus ku lakukan sekarang???


"Ann,"


Anne mendongakkan kepalanya,mengangkat tangannya memberiku peringatan untuk tidak mengatakan atau melakukan hal lain selain diam.


"Aku akan pulang sendiri" ucapnya kemudian berlalu begitu saja dariku.


Dan pada detik itu juga aku menyadari sesuatu,bahwa Hummingbirdku ternyata tidak setangguh yang terlihat dari luar


__ADS_1


__ADS_2