
Aku mengusap bibir dengan jemari tangan saat menatap sebuah kaca yang ada di dalam bilik kamar mandi. Mengamati dengan jelas bayangan diriku dari cermin dan sesekali merasakan air yang menetes melewati sekujur tubuh yang basah karena tertimpa air dari shower beberapa saat lalu. Rasa manisnya bahkan masih sangat terasa hingga kini.
Kepalaku sungguh tak bisa melupakan begitu saja kejadian semalam yang entah mengapa selalu menyusup masuk tanpa permisi. Ini bukan kali pertama, namun terasa begitu gila tiap aku kembali menyecap betapa manis bibir itu. Namun, walaupun sudah sampai disini,sudah hingga sejauh ini. Jangan pernah ragukan fakta bahwa Anne itu tipe Agresor yang sangat mematikan. Dia Ratu dalam bidak catur namum memiliki langkah yang paling sulit dibaca,yaitu langkah Kuda.
"Kamu hanya sedang tertarik. Karna bagimu aku adalah tipe yang belum pernah kamu temui sebelumnya,kamu hanya belum pernah terhubung dengan orang sepertiku dan itu membuatmu sangat penasaran,
... Rasa penasaran dan juga frustasimu bercampur dan itu membuatmu tumpul,hingga berakhir dengan salah mengartikan apa yang sebenarnya kamu rasakan. Tidak pernah ada cinta diantara aku ataupun kamu. Dan yang terjadi diantara kita barusan hanyalah sebuah Erotisisme "
Erotisisme??
Sedangkal itu kah artinya bagimu??
Bukankah gadis ini terlalu blak blakan?? Dia mengatakan hal semacam itu sementara aku masih merasakan euforia karena pagutan bibir kami beberapa saat lalu. Dia benar benar tanpa ragu mendorong seseorang yang sedang berada di puncak tertinggi khayangan untuk terjun bebas ke dalam palung Mariana,berenang bersama Giant fish bertaring mengerikan.
"Eros sekalipun masih termasuk dalam kategori cinta Ann,asal kamu tau"
"Kamu benar,karna itu Eros selalu menjadi cinta yang egosentrik. Seperti dirimu yang tidak mau memahami dan mengerti tentang orang lain"
Egosentrik...,
Seperti dirimu yang tidak mau memahami dan mengerti tentang orang lain"
Jadi begitu rupanya,dia sudah memberikan labelnya padaku ya...
__ADS_1
Aku hanya sedikit kecewa jujur saja. Namun tetap saja setelah dipaksa menelan pil sepahit ini pun,tidak akan merubah isi kepalaku. Diperlakukan dan dinilai seperti ini hanya malah membuatku semakin ingin menerobos lebih jauh lagi. Anne boleh saja memiliki langkah Kuda yang sulit dibaca,tapi seperti bidak dalam catur yang 50 % diciptakan untuk maju,maka aku akan melakukan hal yang sama. Sama halnya dengan pion,yang walaupun kecil dan mungkin tidak memiliki banyak kekuatan,namun pion tidak pernah mengenal apa itu langkah mundur. Lalu dimana seharusnya aku harus memulainya??? Menerobos masuk ke dalam hatinya???
Sejujurnya saja,aku sedikit terlambat dalam memahami apa itu rasa cinta pada lawan jenis. Namun bukan berarti aku tidak mengerti. Pada akhirnya aku juga memahaminya dengan perantara takdir Tuhan,tentu saja. Tapi jelas cinta masa remaja itu sungguh berbeda. Entahlah,mungkin juga karena aku yang minim pengalaman,hanya saja seiring bertambahnya usiaku aku punya pandangan yang aku rasa cukup mature dalam menilai seseorang dan memaknai apa itu cinta. Dan sekarang bagiku,cinta bukanlah sesuatu yang bisa di katakan dengan mudah atau bahkan menjadi sesuatu yang selalu menuntut pembuktian yang selalu berakhir pada kontak fisik. Bagiku,cinta itu emosi yang jauh lebih dalam,lebih kuat dan juga lebih besar. Cinta harus memiliki sebuah dimensi komitmen sebagai dasarnya. Cinta bukanlah perkara yang mudah. Semudah bibirmu mengucapnya atau semudah tubuhmu yang dipasrahkan untuk sebuah pembuktian
Zuck Rubin,seorang Psikolog Amerika dalam sebuah bukunya menyebut bahwa terdapat setidaknya 3 turunan dalam perasaan cinta.
Perhatian, Kasih sayang, Keintiman
Dan dalam case ku kali ini aku akan mengabaikan 2 point awal dan fokus pada point terakhir. Keintiman, kenapa aku sangat terganggu akhir akhir ini dengan 1 kata itu. Kenapa seolah 1 kata itu menjadi momok yang membuatku mengkerut takut. Hal ini tentu sangat berkaitan erat dengan presensi Park Jimin yang belakang hadir dalam kehidupanku. Rasa menjengkelkan yang bercokol di awal karna dirinya kini berangsur angsur berubah dan menggiringku semakin tersudut dalam sekat yang membingungkan. Aku hanya tidak ingin kehilangan pijakan yang sedari awal telah menjadi tempatku berdiri. Tapi pria itu,entahlah... Dia tak ubahnya buldozer yang memaksa menerobos masuk. Dia menerobos sejauh yang dia mau dan membuatku ketakutan setengah mati dengan kata ketiga dalam teori itu,keintiman
Sekalipun Rubin sudah menjelaskan bawasanya keintiman dibutuhkan dan berhubungan dengan keinginan seseorang untuk dapat menerima kontak fisik yang dilakukan pasangan,tapi itu tidaklah cukup untuk menjadi sebuah dasar dalam sebuah hubungan,menurutku. Bagaimana sebuah hasrat bisa berubah menjadi cinta??? Sementara hasrat hanya berlandaskan pada daya tarik seksual yang dipengaruhi fungsi fisiologi manusia???
Dan aku tidak ingin berakhir menjadi sebuah tisu yang digunakan untuk menampung air dan ingus orang lain yang berujung dengan tragis di tong sampah. Aku bukan gadis yang akan menerima dengan pasrah takdir semacam itu,maaf saja. Jadi aku pastikan tidak akan goyah dan ragu. Lagipula,pasangan???? Sejak kapan kata itu ada diantara kami??? Wahhhh... pemikiran melantur macam apa itu barusan,membuat merinding saja.
"Apa yang kau pikirkan Ann?" Aku menolehkan kepalaku menatap Jimin yang duduk di sebelahku,kami dalam perjalanan pulang setelah menghadiri perjamuan makan malam rekan bisnis Jimin
"Tidak ada" celetukku yang membuatnya tersenyum
"Benarkah?? Seserius itu dan tidak memikirkan apapun?? Dahimu sampai berkerut begitu" mendengar itu refleks aku memalingkan wajahku ke jendela mobil,berharap bisa melihat refleksi wajahku sendiri. Namun urung,saat sebuah tangan menahan pergerakanku
"Lihat aku saja,aku bisa mengatakan apapun yang ingin kau lihat" ucap Jimin dengan senyum yang tak surut dari wajahnya. Heoollll... Pria ini benar benar playboy kelas Internasional
__ADS_1
"Hentikan Park Jimin,juga... Ini,bisa lepaskan ini" tunjukku pada ke 2 tangan yang sedang menggenggam yang ada diantara kami
"Kenapa? Kenapa aku harus melepasnya?? Katakan padaku kenapa aku harus??"
"Kau tau alasanya Jim,jadi lepaskan okay?" Aku meminta nya baik baik karena aku tau dia bukan tipe pendengar yang baik saat dia menerimanya dalam tekanan ataupun dalam level emosi tertentu yang tidak 1 tune dengan nya.
"Bagaimana jika aku tidak menerima alasanmu? Bukankah aku sudah bilang jika mulai kemarin aku tidak peduli apapun itu kau resmi adalah kekasihku??" Tentu saja,kau bahkan mengoceh panjang lebar dan berusaha menyakinkan ku untuk tidak memikirkan apa pun selain menerima kehendakmu. Aku menghela nafas,menatap bingung harus bicara apa lagi pada manusia bebal di hadapanku ini
"Haruskah kita menikah saja,agar kau percaya bahwa aku benar benar serius kali ini terhadapmu?"
"Kau gila! Berhenti bicara ngawur Jim!!" Sunggutku sambil memukul lengannya yang kini meringis menahan sakit
"Ann,apa kau masih berfikir bahwa aku hanya terlalu tertarik padamu? Atau kau hanya menduga bahwa aku hanya sedang tergila gila pada dirimu?" Bukankah itu sudah terlihat jelas,bagaimana mungkin kau bisa jatuh hati pada wanita sepertiku sementara lihatlah dirimu??? Ini sungguh terlalu janggal dan sulit diterima oleh akal sehatku. Bahkan hubungan ini dimulai tanpa adanya tendensi perasaan dan kenapa semakin ke sini kau semakin menggiringku pada jurang yang sangat ingin ku hindari selama ini,perasaan..
"Apa yang sebenarnya kau takutkan?"
Mungkin,
Aku hanya,
Hanya,
Hanya takut,benar benar jatuh cinta padamu, Park Jimin.
__ADS_1