
Akhirnya Zafran tiba dirumah, ia melihat jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Pasti Mamanya sudah tidur.
Zafran masuk kerumah dengan pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara, ia tidak ingin Mama dan Ayahnya terganggu waktu istirahatnya.
Begitu Zafran ingin membuka pintu kamarnya, Zafran di kagetkan dengan kehadiran Lilian dari belakang.
"Zafran?". Panggil Mamanya.
"Ha!!!!". Teriak Zafran yang membuat Lilian juga ikut kaget.
"Baru pulang kamu?". Tanya Lilian.
"Iya Ma". Balas Zafran singkat.
"Kamu tidak perlu pergi lagi dari rumah, Loli yang memutuskan untuk tidak tinggal disini. Jadi kamu tidak perlu merasa khawatir". Lilian menjelaskan keberadaan Loli.
"Baguslah". Balas Zafran dan langsung masuk kekamar, Ia mengacuhkan Mamanya yang masih berdiri di depan kamarnya.
"Zafran-Zafran". Batin Lilian.
Didalam kamar Zafran memperhatikan mainan kunci yang di berikan Mika kepadanya.
Ia bertanya-tanya kenapa Mika memberikannya mainan kunci ini padahal ia tidak memintanya.
"Apa Mika suka sama gue?". Batin Zafran.
"Gak mungkinlah Zafran!! Mika suka sama lo. Jelas-jelas Mika itu anak baik dan lo anak kurang ajar mana mau la dia sama lo". Kini Zafran berbicara sendiri.
"Kan gue ganteng".
"Tapi walaupun gue Ganteng".
"Ah cewek kaya Mika pasti nyarik cowok yang sifatnya baik gak pandang wajah". Zafran sangat sibuk dengan pikirannya tentang Mika, ia menebak-nebak bagaimana sosok Mika.
"Apa Mika suka sama kak Candra". Kini Zafran bertanya pada dirinya sendiri.
"Kalau suka ya biarin aja, orang bukan siapa-siapa".
"Akhhh apaansih gue kaya orang labil". Zafran prustasi karena memikirkan perempuan bernama Mika itu.
Di lain tempat, Mika tak henti-hentinya tersenyum dan memegangi dadanya. Ia merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Mika merasa saat ia berada di dekat Zafran ia menjadi salah tingkah, dan jantungnya berdetak tidak karuan.
"Apa aku suka sama Zafran?". Mika bertanya pada hatinya.
"Kayanya gak mungkin deh, Zafran itu ganteng pasti dia cari pacar yang cantik juga. Sedangkan aku?". Mika menunjuk dirinya di hadapan cermin.
"Gak mau ah di bayangin". Mika menutup matanya dengan telapak tangan.
****
Mika memasuki ruangan yang digunakan untuk perkuliahan hari ini. Ia melihat kelas yang masih sepi dan ini juga masih menunjukan pukul 07 pagi, perkuliahan dimulai pukul 08 pagi.
Mika melihat kursi paling belakang, ia mencari sosok Zafran namun tidak menemukannya.
"Aih ngapain di cariin". Mika segera menghilangkan pikirannya itu.
Untuk mengisi waktu sambil menunggu Dosennya datang Mika melanjutkan untuk menulis lirik lagu beserta not nya, saat ini Mika sudah menulis lebih dari 10 judul lagu. Namun ia tak memiliki kesempatan untuk menampilkan hasil karyanya itu.
Mika sedang asik berkhayal untuk mencari sebuah lirik lagu yang indah dan bermakna yang bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini.
Hingga saat ia melamun ia di kagetkan oleh wajah Zafran yang sudah berada tepat di depan wajahnya.
"Akhhhhhh......". Teriak Mika yang membuat orang-orang di ruangan tersebut mengalihkan pandangannya kepada Mika.
"Kok lo teriak?". Tanya Zafran.
"Ngegetin". Balas Mika.
"Ooo..". Balas Zafran ia meninggalkan Mika yang masih jantungan.
__ADS_1
"Aduh apa apaan sih bikin senam jantung aja pagi-pagi". Mika mengelus dadanya untuk menetralisir detakan jantungnya yang berlebihan.
Mika kembali melirik Zafran yang duduk di kursi belakang, saat melirik Zafran mata Mika tak sengaja bertemu dengan Mata milik Zafran. Mika dengan cepat mengalihkan pandangannya.
Tak berapa lama Dosen yang mengajar di kelas mereka masuk, dan semua mahasiswa mengikuti proses perkuliahan dengan tenang.
Akhirnya perkuliahan untuk pagi hari ini berakhir. Mika segera menghubungi Alanda untuk menanyakan dimana kebaradaanya.
To Alanda:
"Kamu dimana Al?".
Dan tak berapa lama Alanda membalas pesan Mika.
Alanda :
"Mika gue mau nemenin Gebetan gue ni, milih kado untuk adiknya".
Mika yang mendapat balasan dari Alanda hanya mampu mengeluhkan nafasnya, bahwa temannya saat ini dalam tahap kebucinan.
Mika juga tidak terlalu lapar, dan ini masih jam 10 terlalu cepat untuk Mika kembali kerumahnya.
Mika ingat ruang musik dimana ia melihat Zafran memainkan piano, Mika tertarik untuk mendatangi ruangan tersebut dan mencoba untuk menggunakan Piano itu untuk lirik-lirik yang telah ia buat.
Mika bergegas membereskan buku-bukunya dan ia dengan cepat pergi keruangan musik itu.
Mika melihat kearah kursi Zafran dan ia dapat melihat bahwa Zafran saat ini sedang tertidur.
Mika menyusuri lorong yang membawanya menuju keruangan musik itu.
"Kok ruang musik di pojokan ya?". Mika bertanya dalam hatinya kenapa kampus ini membuat ruangan musik di ujung lorong yang sunyi.
Akhirnya Mika sampai di ruangan musik tersebut, Ia meletakkan tas nya, dan mengambil buku yang berisi lirik-lirik lagunya.
"Aduh kok deg degan ya". Mika merasa gerogi saat ingin memainkan piano di ruangan tersebut.
sebelum memainkan piano tersebut Mika berdiri depan Piano dan ia juga melirik kesetiap sudut ruangan apakah ada orang lain atau tidak.
Setelah merasa aman, Mika akhirnya memulai permainannya.
Ting...
Ting...
Ting...
*Uraian rasa ini..
Membuat ku hanyut dalam keraguan..
silih berganti ungkapan datang..
Jantungku berdetak seakan..
kau hadir untuk ku...
Rasa....
Sungguh aneh tapi kau ada..
kau mampu membuat..
hatiku..
seakan berada..
pada ujung yang penuh bunga..
hampar terasa tak ada disisiku..
namun ku ragu jika itu dirimu...
__ADS_1
cinta...
sungguh aneh tapi kau ada..
kau mampu membuat..
hatiku..
seakan berada..
pada ujung yang penuh bunga*...
ting...ting..ting..
Mika mengakhri permainannya dengan membukukan badannya.
Mika di kagetkan dengan suara tepuk tangan orang lain, Mika membalikkan badan dan ingin melihat siapa orang tersebut.
Mika kaget saat melihat Zafran lah orang yang memberikan tepuk tangan tersebut.
"Ka ka Kamu sejak kapan disini". Tanya Mika dengan gagap.
"Sejak lo membuka acara konser lo tadi". Balas Zafran sambil tersenyum.
Mika tak tau lagi harus berkata apa ia terlalu malu untuk melihat wajah Zafran.
Zafran mendakati Mika, dan Mika dengan perlahan mundur untuk menghindari tubuh Zafran.
"eh eh kamu mau ngapain". Tanya Mika saat Zafran terus melangkahkan kakinya untuk mendekati Mika.
"Lo suka musik ya?". Tanya Zafran.
"i i iya aku suka musik". Balas Mika.
Mika yang terus melangkah mundur hingga ia tak memperhatikan tangga yang berada di belakangnya.
Mika hampir saja terjatuh namun dengan cepat Zafran menangkap tubuh Mika.
"Lo lo gak papa kan". Tanya Zafran
"Aku aku aku ". Mika bingung untuk menjawab apa karena jarak wajah ia dengan Zafran yang begitu dekat.
Mika mendorong tubuh Zafran untuk menjauh darinya. Zafran tertawa saat ia mendapat penolakan dari diri Mika.
"Lo mau main piano bareng gue?". Tanya Zafran.
"Aku ...". Mika masih tak bisa berbicara jantung Mika yang berdetak tak karuan membuat ia sulit untuk mengucapkan kata-kata.
Zafran menarik tangan Mika untuk duduk di sampingnya, Kini Mika dan Zafran sudah duduk bersampingan di balik piano tersebut.
Mika yang masih jantungan bingung ingin melakukan apa, Zafran yang melihat tingkah laku Mika langsung menarik tangan Mika dan meletakkan tangannya di atas tuts piano tersebut.
"udah mainkan aja bagaimana bisa lo bawain lagu, gue bakalan ngikutin nada lo". Perintah Zafran.
Mika segera memainkan piano tersebut dan Zafran , mulai mengikuti setiap nada yang dimainkan oleh Mika.
Tanpa mereka sadari kini jarak antara mereka berdua sangat dekat, Zafran dengan lihai memainkan tangannya di atas tuts piano tersebut dan sesekali ia melirik wajah Mika yang tampak serius dengan nada yang ia keluar kan melalui tuts tuts piano tersebut.
Zafran yang terus memperhatikan Mika, sehingga membuat Mika membalikan pandangannya untuk melihat Zafran dan untuk kesekian kalinya mata mereka kembali bertemu.
Di bawah kendali tubuh Zafran, Zafran mengatakan perasaannya saat ini.
"Gue deg degan dekat lo". Ucap Zafran.
Mika yang mendengar suara Zafran tersebut segera bangkit dari kursi itu.
"Aku.. aku harus balik". Ucap Mika.
Ia pergi dan meninggalkan Zafran sendirian di ruangan tersebut.
"Mika gue merasa lo ada rasa juga sama gue". Ucap Zafran saat melihat tubuh Mika yang hilang di balik pintu.
__ADS_1
Zafran mengambil tasnya ia juga meninggalkan ruangan tersebut, Zafran melirik piano tersebut dan ia tersenyum.
Setelah sekian lama akhirnya jantung Zafran kembali berdetak.