Melliflous

Melliflous
WHAT IF I TOLD YOU,


__ADS_3


Aku rasa,aku benar benar melupakan bawasanya sesuatu yang disebut dengan Skinship itu selalu akan menimbulkan apa yang disebut dengan konsekuensi emosional. Dan hal semacam ini lah yang kini sedang berputar putar di sekililingku tanpa mau sejenak saja berhenti. Selain itu,aku rasa mungkin saja saat ini si biang keladi Neurochemical Oxytocin sudah melepaskan dirinya dan telah menyebar ke seluruh jaringan tubuhku hingga aku merasakan jenis gelenyar aneh yang saat ini mendominasi tanpa kenal  ampun. Astaga!! Benar benar hormon cinta sialan!!!


Aku menarik diriku menjauh saat aku mulai kehabisan stok oksigen yang kini ku raup dengan begitu rakus. Namun nyatanya pria ini bahkan hanya memberikan beberapa sekon saja hingga akhirnya kembali memagut bibirku,merengkuh lagi tubuhku yang terasa begitu panas dan tak lagi menyisakan inchi yang bisa di hitung diantara permukaan kulit kami masing masing. Rengkuhan yang syarat dengan rasa posesif ini semakin membuat nalarku tak dapat lagi bekerja. Terlebih...******* ******* kecil di antara kami yang semakin lama semakin menuntut. Entah sejak kapan,aku menikmatinya. Hingga aku berani membalas setiap ******* yang Jimin berikan. Langit sore yang berlentarakan warna jingga yang   begitu semarak diatas sana kini berganti dengan petang yang berselimut angin dingin yang sesekali datang menerpa tubuh kami


"Eeeuuggghh.." sesekali erangan itu terdengar, entah aku atau Jimin. Kami bahkan tidak benar benar sadar tentang hal itu. Bahkan kini aku tengah mengalungkan ke dua lengan di leher nya dan hal yang lebih sinting dari itu adalah aku yang kini tengah terkukung pasrah dibawah kendali Park Jimin. Kami saling memagut tanpa ingin benar benar berhenti. Aku tidak yakin,hanya saja ini sungguh memabukkan dalam satu waktu yang juga membuat diriku mendamba hingga setengah mati. Well,tentu tidak ada yang bisa memungkiri fakta bahwa Park Jimin adalah seorang PRO dalam hal ini.Walau terkesan menuntut namun Jimin selalu melakukanya segala sesuatunya dengan begitu lembut dan juga perlahan. Setiap sentuhan hingga ******* yang dia berikan begitu memabukkan dan seolah menjadi candu tersendiri bagiku yang sangat asing dengan segalanya.Inilah saat dimana logika tak lagi bisa mengendalikan apa yang manusia sebut dengan hasrat.


"Ann..." Ucapnya lirih,saat kami menjeda aktifitas yang  begitu menggelora diantara aku dan juga dirinya. Dan saat iris kami bertemu aku bisa melihat betapa mata itu terlihat begitu teduh dan juga menakjubkan. Aku hanya terdiam sambil memandangi wajah Jimin yang hanya berjarak beberapa inchi dari wajahku.


"Katakan sesuatu,kumohon...aku sulit untuk mengakhiri ini" aku mencerna kalimat yang terdengar  bak puisi yang syarat dengan keputus asaan itu dengan jantung yang masih berdebar dengan begitu gilanya. Kami yang masih sama sama terengah,berkeringat dan kacau disana sini.


"A-aapaaa yang harus ku katakan Jim?" Tanyaku gugup


"Sesuatu yang bisa menghentikanku...apapun itu"


Aku menundukkan kepalaku sambil menggigit bibir bawah ku dengan begitu gugup. Apa yang bisa aku lakukan disini?? Aku bahkan tidak benar benar memahami segalanya yang terjadi diantara aku dan juga dirinya


"Hey...jangan gigit bibirmu seperti itu,kau mau membangunkan sesuatu yang tidak seharusnya bangun memang?" Jimin menangkup wajahku dengan ke dua tanganya,menatap gemas padaku yang masih sibuk meraba raba tentang apa yang seharusnya aku lakukan


"Aku membencimu" ucapku spontan sambil menatap iris kehitaman di hadapanku dengan begitu lurus,yang justru membuat Jimin terkekeh seketika


"You are a bad liar" ejeknya sambil terkikik

__ADS_1


"Kau sendiri yang memintaku untuk menghentikanmu!"


"Aahh... benar juga,tapi sebelum benar benar berakhir bisakah aku dengar jawabanmu?? Tentang...pernyataanku" Aku merasakan seluruh tubuhku menegang juga memanas dalam waktu yang bersamaan saat mendengar kalimat yang Jimin ucapkan,kegilaan ini...kapan akan segera berakhir??


"Jimin,itu...aku,aku.."


"Harusakah aku memberimu sedikit lagi waktu?" Senyuman itu terlihat begitu indah dan juga tulus,berbanding terbalik denganku yang masih sibuk mencari mencari kewarasan juga fungsi otak ku yang entah bercecer dimana. Seolah mengerti bahwa aku belum bisa mencerna semuanya dengan jernih,Jimin terlihat seperti sedang menyamakan posisinya di sampingku


"Jawaban darimu... Aku akan menunggunya,tak peduli seberapa lama itu,aku akan tetap menunggu.  Karna setidaknya kini aku tau 1 yang pasti,bahwa diantara kita telah hadir rasa yang sama. Aku akan menunggu moment itu Ann,dimana kita akan saling mengucapkan kata yang sama tentang kita dan juga tentang cinta" dan bersama kata yang menguap ke udara,pagutan itu kembali menyatu menyulam benang saliva juga debaran debaran di dalam dada yang entah mengapa terasa begitu luar biasa membahana.




Presensi ini,


Demi apapun aku sungguh menginginkan gadis ini sekarang,memilikinya...menjadikanya miliku seutuhnya. Dan ketika aku melihat sorot mata dengan pendar sayu yang diliputi kegugupan nyata di hadapanku ini,aku semakin menyadari fakta bahwa aku benar benar sudah tidak akan bisa lari dari apapun tentangnya. Aku selamanya akan terjebak di sini,bersamanya tak peduli bumi harus berputar atau semesta akan menghilang.


"Jimin," dan suara ini,suara yang nyaris terdengar bagai bisikan ini,entah mengapa membuatku semakin tak bisa menahan segala gelenyar aneh  yang ada di dalam diriku. Kegilaan yang ada didalam diriku seolah meletup dan membakar segalanya yang ada. Dan pada sekon selanjutnya aku sudah membalik tubuh ringkih itu hingga kini aku yang mengkungkungnya.


"Jangan katakan tidak Ann,sungguh... 1 kata itu akan semakin membuatku gila" aku tau,ini bukanlah kalimat yang benar untuk seorang gadis dengan situasi seperti yang Anne hadapi. Tapi aku benar benar sudah sampai dibatasku sekarang. Penolakan darinya hanya akan membuat semua ini semakin kacau pada akhirnya. Bagaimanapun aku masih seorang Park Jimin yang tidak mengenal apa itu sebuah penolakan.Aku adalah seorang pria dengan ego yang tak terbendung dan tidak menerima apa itu kekalahan.


Namun,diantara pemikiran pemikiran tentang prinsip itu,otakku entah di bagian yang mana malah  sekarang sedang berusaha mati matian untuk bicara pada diriku sendiri bahwa,keinginan gilaku pada nya kali ini tidak seharusnya dilakukan dengan cara seperti ini. Dia menyakinkan ku untuk berhenti. Karna ini jelas bukanlah hal yang benar untuk dilakukan. Dan seketika aku mukai menyadari fakta bahwa bahkan hingga detik ini aku belum memiliki hatinya dan bagaimana mungkin aku melakukan ini??

__ADS_1


Aku ingin menjadi seorang pria yang benar kali ini. Aku ingin memilikinya dengan cara yang benar sekalipun situasi brengsek ini benar benar membuat sirkuit di kepalaku berantakan.Tapi,ini sulit...sungguh,ini sangat teramat sulit


"Aku rasa,aku sudah berubah menjadi sinting karna benar benar menginginkanmu. Aku sudah kehilangan kewarasanku,jadi ku mohon...tolong aku,aku benar benar tidak ingin menyakitimu" kalimat itu meluncur di antara rasa frustasi juga banyak hal yang sedang berusaha aku tahan dengan mati matian. Ini sulit...Aku terlilit pada rasa frustasi karena ingin memiliki juga hasrat yang nyaris saja meledak di ujung kepala.Ini kali pertama bagiku benar benar mengingikan seseorang yang ingin ku genggam dan ku rengkuh selamanya di dalam pelukan. Dan rasa ini sungguh begitu asing hingga membuatku kebingungan. Namun ditengah ketersesatanku dan diantara penghujung kelimbunganku aku seoalah di tarik kembali manakala kurasakan ke dua telapak tangan itu kini menangkup wajahku,mengunci netraku pada netranya yang berpendar bagai bintang Sirius yang bersinar dengan begitu terangnya.


Kedua iris yang menatapku dengan begitu tenangnya,seoalah sedang berkata bahwa semuanya baik baik saja. Lalu usapan usapan kecil ke 2 tangan yang terasa begitu hangat diantara udara dingin Maldives yang kini bertiup melewati cakrawala yang tergores dengan begitu apiknya.Moment ini berlangsung cukup lama dalam keheningan,karna kami hanya saling menatap tanpa ada sepatah katapun yang terucap diantara kami. Seperti tengah mencoba mengembalikan segala sesuatunya pada tempatnya.


"Apa kau merasa lebih baik sekarang?"  Ucap Anne yang sontak membuat pipiku kembali menghangat,disana sekarang pastilah sedang terukir dengan sangat nyata rona kemerahannya. Maka aku sedikit menunduk setengah menahan malu juga berdehem juga mengangguk kecil sebagai jawaban


"Terima kasih karena sudah mengatakannya padaku,tentang apa yang kau pikirkan Jim,aku sangat menghargainya" mendengar itu aku menggerucutkan bibirku


"Hanya itu?" Tanyaku kemudian yang hanya dijawab dengan seutas senyum darinya yang membuatku kembali harus menggerucutkan bibirku untuk yang ke 2 kali nya


"Tidak ada rencana untuk membahasnya lebih jauh?"


"Mungkin kita bisa membahasnya nanti,saat kita mengubah posisi tidak nyaman ini lebih dulu" aku memandang sekilas posisi kami yang masih seperti beberapa saat lalu dimana aku berada di atas tubuh Anne yang terlentang di pinggiran pool,dan menggeleng kecil serayah berkata


"Aku tidak keberatan dengan posisinya,ini nyaman untukku,sangat teramat nyaman malah" 4


kata terakhir dari mulutku jelas di bumbui penekanan yang tidak biasa hingga berhasil membuat rona merah di ke 2 pipi Anne,yang membuatku terkekeh seketika


"Jimin,"aku menginterupsi perkataan itu dengan sebuah tatapan lurus tepat pada ke dua irisnya yang kembali berpendar redup. Aku membelai anak rambut Anne yang jatuh di sekitar pelipis dan juga dahinya untuk kemudian mengatakan hal yang setengah mati ku tahan sejak aku memahaminya


"Aku mencintaimu Ann,sangat..." Dengan perlahan aku kembali mengecup bibir yang terasa begitu dingin itu. Mengecupnya lembut dengan penuh afeksi

__ADS_1



__ADS_2