Melliflous

Melliflous
Sweather Weather Pt1


__ADS_3


Apa seperti ini rasanya rindu itu??


Huuuffttt,


Aku meratapi ponselku sejak beberapa hari terakhir yang kini telah berganti wallpaper dengan paras cantik yang sangat ingin ku rengkuh presensinya. Ahhh...aku sangat rindu. Serindu inikah,sampai mau mati saja rasanya. Aku memandang malas layar ponsel yang teronggok dengan begitu damainya. Sudah 1 bulan semenjak aku dan Anne kembali dari Maldives,dan selama itu kami berkencan. Tapi,masih saja...Ckk,kenapa ada seorang gadis yang sangat tidak peka dan juga tidak perduli seperti Anne?? Sekali waktu aku masih saja tidak habis pikir tentang itu,tapi juga tidak bisa melakukan hal lain selain merenggek untuk sedikit saja perhatian darinya. Anne sangat sibuk,seperti hal nya diriku. Selama sebulan ini kami hanya bertemu sekali. Dan itu membuatku gila karna amat sangat merindukanya. Aku ingin melakukan sesuatu tentang ini,tentu saja. Tapi mengingat seperti apa Anne akan bereaksi itu sudah cukup membuatku bergidik ngeri. Sama halnya denganku,Anne menempatkan pekerjaan dan juga profesinya sebagai hal yang sangat serius. Dan aku harus menghormati itu.


"Jahat sekali! Apa cuman aku saja yang rindu sampai seperti ini?!!" Aku mengomel pada layar ponsel setelah membuangnya asal di sofa,tapi saat melihat senyum itu di sana aku kembali memungut ponselku kembali.


"Bagaimana aku bisa marah saat kamu tersenyum secantik itu heum?? Ahh...rindu sekali sampai mau mati saja rasanya" Gumamku sambil membelai belai layar ponsel


__ADS_1


Aku hanya sangat terkejut saat melihat wajah itu dengan ekspresi yang baru kali ini diperlihatkan di depan mataku. Aku yang tadinya menunggu dengan senyum yang seolah mustahil untuk luntur kini harus menghadapi realita dimana terkadang6 harapan tidak bisa sejalan lurus dengan apa yang disebut kenyataan. Rasa rinduku yang menumpuk seolah tak lagi penting saat mata itu bersibobrok dengan miliku,pendarnya begitu syarat akan luka dan rasa sakit. Aku bergegas menghampiri Anne yang hanya menatapku dalam diam,terlihat terkejut namun tak tau harus melakukan apa selain hanya menundukkan kepala. Mencoba menghindar sebisanya.


"Hey... kenapa?"  To do point ku,aku sangat khawatir karna dari jarak sedekat ini aku bisa melihat dengan jelas bahwa wajah itu terlihat sangat pucat dan juga kelelahan. Tapi Anne hanya menggelengkan kepalanya,mencoba menyakinkanku bahwa ini tidak seperti yang ada di dalam kepalaku


"Anne sayang... coba katakan sesuatu padaku okay,kamu kenapa? Kenapa wajahmu sepucat ini?? Kamu sakit?? Mana yang sakit heum?? Kamu bisa mengatakannya padaku" ucapku sambil membingkai wajah pucat yang masih saja tak sudi melihatku,aku memperhatikan dengan seksama bagaimana Anne berusaha keras untuk tidak terpengaruh pada apa yang aku katakan juga lakukan. Namun,hanya dengan melihat bola mata yang berkabut dihadapanku ini,aku rasa aku harus benar benar tau,tentang apa ini sebenarnya. Gadis ini terlihat sedang menahan sesuatu


"Hummingbird, Look at me first?? Are you okay??" Aku mendongakkan wajah di dalam tangkupan tanganku itu hingga benar benar membuatnya menatapku,dan hal pertama terjadi saat netra kami bertemu adalah...liquid bening itu tiba tiba saja melesak dengan begitu kurang ajarnya,membasahi wajah Anne yang mulai terisak.


"Hei hei... Ada apa,kenapa menangis??" Aku sangat khawatir saat Anne mulai terisak,hal itu membuatku refleks merengkuhnya ke dalam pelukan.


"Ya aku disini. Tidak apa apa okay,aku disini bersamamu. Apapun itu semuanya akan baik baik saja" detik ini,aku baru saja menyadari bahwa ternyata sebagai manusia kita bisa sesakit ini hanya dengan melihat seseorang yang kita cintai menangis.


__ADS_1


Ini kali pertama dalam hidupku,menjadi pendengar yang baik untuk seseorang. Sebelumnya,aku tidak pernah mau mendengarkan apa yang orang lain katakan,keluhkan atau teriakan padaku. Aku selalu membentengi diriku dari dunia luar,dari membangun sebuah ikatan dengan yang lainnya. Aku sangat percaya diri,bahwa hanya cukup aku seorang diri maka semuanya akan baik baik saja. Aku tidak pernah benar benar membutuhkan orang lain untuk menjalani kehidupan yang terlihat begitu membosankan dimataku. Hingga pada satu titik yang krusial aku menyadari bahwa bukan kehidupan yang berjalan dengan begitu membosankan,tapi aku lah yang menggunci diri sendiri pada kesepian yang menelanku hingga mencapai titik paling dasar.


Aku hanya hidup namun tidak pernah benar benar hidup,dan saat aku melihat Anne yang menangis dihadapanku seperti ini. Aku seperti melihat refleksi diri sendiri. Betapa menyakitkannya disaat kita harus memendam segala sesuatunya sendiri. Mengabaikan rasa sakit yang mendera dengan bertingkah seolah itu bukan apa apa. Mencoba terlihat sekokoh karang dari luar namun tak lagi memiliki pegangan dan terombang ambing di dalam.


Aku masih menggenggam tangan itu erat,sesekali mengelusnya lembut sambil terus menatap lekat wajah yang masih bercucuran air mata walau sudah 2 jam berlalu. Aku beralih duduk di samping Anne,merengkuh gadis itu ke dalam dekapan. Mengelus lembut rambut dengan aroma mawar yang menenangkan,kembali mengatakan beberapa kalimat yang aku harap bisa membuat gadis itu kembali tenang. Sangat menyakitkan melihat Anne menangis,tapi tak ada hal yang bisa ku lakukan selain memeluknya dan mengucapkan hal yang berulang kali ku katakan padanya.


"Jangan menangis lagi,ku mohon" ucapku lembut,berharap dia akan menurut kali ini,tapi lagi lagi seperti angin yang berlalu pergi,Anne malah kembali menangis lebih histeris dari sebelumnya. Membenamkan wajahnya dalam ke dalam dadaku yang terasa nyeri bukan kepalang.


Astaga?!! Bagaimana bisa sesakit ini rasanya


"Berhenti menangis sayang,ku mohon!" Erangku begitu frustasi,tapi juga tak lagi bisa berkutik pada apa yang terjadi. Seandainya saja situasi ini disebabkan karna seseorang yang menyebalkan yang menyakiti Anne,mungkin saja aku akan langsung mendatanginya. Balik melakuakn hal yang sama menyakitkannya seperti yang dia lakukan pada gadisku. Tapi ini bukan hal yang seperti itu. Ini sangat kompleks dan juga sentimentil.


...Ini tentang seorang gadis kecil yang hari ini telah berpulang. Seorang gadis yang menjadi pasien pertama Anne. Kesedihan pertama Anne dan juga  sebuah penyesalan yang tak akan pernah lekang,walau waktu telah berguli

__ADS_1



...


__ADS_2