
...
Obsidian yang dulu seperti menyimpan ribuan misteri itu,kini memiliki pendarnya yang berbeda. Bagai sebuah sihir yang anehnya selalu mampu untuk memikat lagi dan lagi. Lengkung senyum itu pula,kini sudah menginvasi hari Park Jimin yang tadinya begitu membosankan menjadi hari yang begitu indah. Akhirnya,setelah sekian lama. Aku bisa memilikinya kembali,hari yang indah....
"Ckk!! Akkhh...berhenti tersenyum seperti itu Park Jimin!!! Astaga!!!" Erangan frustasi itu berasal dari pria jangkung dengan setelan jas formal berwarna gelap yang terlihat seperti ajjushi rasa Oppa yang sering di gunjingkan netizen di forum Pann akhir akhir ini,siapa lagi kalau bukan, Kim Seok Jin.
"Kenapa memangnya?? Terpesona ya??" Kikikku yang malah membuat Jin Hyung nyaris melempar map di tangannya ke arahku
"Kau ini benar benar sinting ya!! Pelajari dengan benar proposalnya,15 menit lagi kita akan meeting!!!"
"Aku bisa tanda tangani ini sekarang juga kok Hyung,katamu proyek ini benar benar menguntungkan kita. Aku benar benar ingin cepat pulang dan bertemu Anne"
Decakan itu terdengar begitu nyaring juga syarat akan kemuakan didalamnya,sambil menatap garang Jin Hyung berkata
"Apa kau bahkan punya sedikit saja hati nurani karena tak henti hentinya memamerkan Lovey Dovey kalian pada pria lajang yang bahkan kau paksa bekerja selama 80 jam seminggu??? Setidaknya Tuan Park,untuk menghargai sedikit saja kerja keras dari pria lajang di depan anda ini,saya mohon dengan sangat...tolong pelajari proposalnya sekarang dan katakan sesuatu yang cukup mengesankan saat meeting nanti"
Ahhh...kenapa semua nya terasa menyenangkan seperti ini ya akhir akhir ini. Bahkan Omelan Jin Hyung yang sangat menyebalkan sekalipun terasa sangat merdu di ke dua gendang telingaku. Serius,seperti inikah rasanya jatuh cinta itu??
Aku mengedarkan pandanganku keseluruh plosok koridor,meneliti dengan cermat pada sosok sosok yang terlihat hampir sama dengan jas putih juga masker medis yang hampir menutupi setengah wajah. Aku melihat kembali arloji di tangan kiri ku,dan mengangguk kecil serayah berkata pada diri sendiri bahwa ini waktu yang tepat.
Ini pukul 5 sore,dan aku sedang berada di rumah sakit untuk menjemput Anne yang hingga kini belum terlihat presensinya di manapun. Anne bilang dia mendapat shift pagi,dan harus lembur karna alasan tertentu. Ya...bagaimanapun,aku sekarang menjadi sedikit paham konsekuensi menjadi pacar dari seorang dokter magang. Pacar??? Akkhhhh...entah kenapa rasanya sedikit memalukan,tapi juga...menyenangkan disaat yang bersamaan
"Tuan Park,selamat malam"
Aku memutar badanku saat mendengar suara itu,akh...sosok ini,
"Selamat malam" balasku sambil tersenyum,
"Kim Nam Joon kan,teman Anne" pria itu tersenyum sambil mengangguk
"Apa anda sedang menunggu seseorang? Anda terlihat begitu" apa sangat jelas terlihat?? Akkhh... rasanya benar benar canggung,apa aku benar benar terlihat begitu??
"Aku menunggu Anne,aku datang untuk menjemputnya" aku rasa,wajahku merona begitu saja saat mengatakan hal itu pada Nam Joon yang tersenyum namun merubah ekspresinya seketika dan terlihat kebingungan,
"Kenapa? Ada sesuatu?"
"Emm... Bukankah hari ini,Anne ijin pulang lebih awal?? Dia bilang ada sedikit urusan. Dia sudah pulang sejak jam 3 sore tadi"
Sudah pulang???
Aku tercenung,untuk beberapa saat...lalu kenapa dia tidak mengatakan itu padaku?? Yah,walaupun aku tidak mengatakan padanya juga bahwa hari ini aku berencana untuk menjemputnya. Tapi saat siang tadi,gadis itu pun tidak mengatakan apa pun dichat terakhir kami sebelum aku berangkat meeting,ada apa ya?? Apa terjadi sesuatu?? Tapi kenapa dia tidak menghubungiku??
"Tuan Park?"
Aku sedikit tersentak kaget karna panggilan Nam Joon barusan,namun buru buru mengarahkan pandangan dibarengi senyum
"Panggil Jimin saja,bukankah kita se umuran?? Baiklah Nam Joon,karna pacarku sudah pulang aku rasa aku harus pergi sekarang,lain kali kita bisa minum bersama dan berbicara dengan nyaman satu sama lain. Aku pergi dulu,sampai jumpa lagi" aku sedikit khawatir jujur saja,karna itu aku sedikit terburu buru sekarang. Di chat terakhir kami pun,Anne bahkan masih terlihat seperti biasa. Apakah sesuatu sudah terjadi?? Hingga dia harus pulang lebih awal tanpa mengatakan apapun padaku. Apakah sesuatu yang penting sudah terjadi??
Gelisah setengah mati...
Tepatnya itulah yang aku rasakan saat ini. Bagaimana tidak,saat lagi lagi aku harus merasakan hal sialan ini kembali terjadi untuk yang kedua kalinya. Aku menggigit kecil telunjuk tanganku dengan sedikit gugup,sementara dengan tangan yang lain aku tak henti hentinya mencoba menghubungi seseorang yang kini membuat jantungku kembali bertalu dengan begitu gilanya,karna begitu khawatir.
Dimana kamu Ann??
Aku menatap frustasi layar ponselku yang masih terlihat sama dari beberapa saat lalu,nihil. Dia bahakan tidak mengangkat telfon dariku. Aku mendesah berat...menatap pintu apartemenku sendiri dengan pikiran kacau balau. Sejenak,aku menempelkan telapak tanganku pada pintu dan memejamkan mataku,rasanya seperti sudah tidak lagi bisa berfikir. Anne tidak ada diapartemen miliknya,dia juga tidak kembali ke panti,teman teman nya pun tidak tau kemana gadis itu pergi. Entah itu Kim Taehyung,Kim Nam Joon,Hana atau bahkan Cha Eun Woo. Hampir saja aku melapor ke polisi,jika saja tidak ingat bahwa laporanku tidak akan pernah diproses jika tidak memenuhi kriteria,minimal 1x24 jam
"Kamu dimana Ann..." Erangku frustasi sambil menekan gagang pintu,berjalan seperti zombie dengan kepala yang berdenyut denyut,nyeri sekali.
__ADS_1
"Owhh...sudah pulang??"
Astaga??! Suara siapa itu tadi??
"Maaf,apa aku mengagetkanmu Jim??" Aku mengedipakan mataku,mengerjap lagi untuk sekedar memastikan apa yang kini terukir di rentina mataku. Astaga!
"Ann!!!" Pekikku,entah mengapa rasanya sungguh campur aduk tak karu karuan. Hanya dengan melihatnya,aku merasa begitu lega namun juga tak bisa menampik deraan rasa gelisah,kesal juga khawatir yang beberapa detik lalu mendominasi diri sendiri. Aku bergegas menghampiri sosoknya yang kini tengah berada di kitchen set apartemenku,merengkuhnya se erat yang bisa aku lakukan
"Aku mencarimu seperti pesakitan,dan kau ternyata disini?! Astaga,kau membuatku takut setengah mati!" Gerutuku sambil merengkuh kuat,Anne yang kini terbenam di antara Kungkungan lenganku
"Aa-apa??"
"Jangan seperti ini lagi,kumohon. Kau membuatku takut"
"Ma-maafkan a-akku Jim"
Entah mengapa,di titik ini...aku mulai menyadari bahwa aku tak akan lagi sanggup jika harus kehilangan kehangatan dari presensi ini.
Aku pikir aku akan memilih moment ini sebagai salah satu moment terbaik dalam hidup. Aroma sup yang masih saja menguar,seperti tak ingin bergegas pergi dari ruanganan padahal sudah tandas nyaris sejak setengah jam yang lalu, begitu memukau tak ubahnya gadis dengan surai pirang yang menggulung rambutnya tinggi yang kini tengah sibuk dengan peralatan makan dikedua tangannya.
Lihat,gadis manis yang sudah bekerja keras untuk semua hidangan luar biasa ini. Bagaimana bisa ya dia berpikir untuk melakukan hal se manis ini hanya untuk mengucapkan terima kasih?? Rasanya senyumku bahkan tak Sudi untuk menyingkir dari sini walau hanya untuk 1 sekon saja. Betapa dengan begitu mudahnya presensi ini membuatku,gila!!
"Ingin sesuatu? Aku akan membuatkannya sebelum pulang Jim" tanya Anne yang kini berdiri di hadapanku yang tengah terduduk di sofa ruang tengah yang berhadapan langsung dengan ruang makan dan juga dapur. Mendengar kalimat itu digaungkan ,senyum yang sedari tadi menghiasi wajahku luntur seketika. Pulang katanya?? Secepat ini???
"Kopi atau coklat panas?" Tanyanya terlihat begitu serius,
Aku menatap tepat ke manik mata itu menguncinya untuk beberapa detik,lalu meraih telapak tangan Anne yang kini sudah berada di genggaman tanganku
"Menginap semalam..."
"Apa?? Tapi Jim,"
"Ini sudah malam Anne sayang,lihat...sudah jam 11,menginap disini saja ya" kataku berusaha membujuk Anne yang terlihat sangat gelisah,entah mengapa ekspresi nya kali ini malah membuatku bisa mati karna terlalu gemas.
"Hana tidak jadi menginap tuh" ucapku sambil tersenyum,sementara Anne terlihat mengganga dengan tangan yang menutupi mulutnya saat membaca layar ponselku yang ada dihadapannya.
"Menginap saja ya..." Bujukku sambil meremas telapak tangan Anne yang seolah masih tak percaya dengan apa yang dibacanya barusan.
"Tidak tidak,aku akan tetap pulang" Anne melepaskan tautan tangan kami serayah meninggalkanku,untuk kemudian dengan terburu meyerobot tas juga jaketnya yang ada sofa. Bukankah sudah jelas,bahwa ini tak akan berjalan dengan mudah. Maka,aku segera berdiri,mengikuti langkahnya dan meraih tangan itu lagi. Menghentikannya,hingga kini berdiri berhadapan
"Kenapa? Apa kau takut aku melakukan sesuatu??" Bola mata itu terlihat begitu bergetar menandakan bahwa ada keraguan juga ketakuatan nyata yang terbersit disana. Aku bukanya tidak paham tentang apa yang sedang dipikirkan Anne saat ini,tentang rasa cemas dan juga kewaspadaannya terhadapku. Entah bagaimana aku merasa bahwa,hal semacam itu semestinya tidak ada diantara kami yang notabene sekarang adalah sepasang kekasih.
"Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak melakukan apa pun tanpa izin darimu??" Ya,aku rasa janji itu memang benar benar sudah merasuk ke dalam diri seorang Park Jimin.
"Setidaknya,beri aku kesempatan untuk membuktikan janji itu padamu,kita tidak akan pernah tau Ann kalau kita tidak mencobanya lebih dulu" ini memang tidak jauh berbeda seperti rayuan maut Don Juan,tapi sungguh...aku benar benar ingin terlihat layak di mata Anne sebagai seorang laki laki. Aku ingin mengikis jarak dengannya,membuatnya merasa nyaman dan aman saat bersama denganku. Aku ingin dia bergantung padaku dan mengandalkanku seperti aku yang menginginkannya untuk menjadi bagian dari diriku dan juga hidupku,
Selamanya.
Aku berusaha mengatur nafasku yang terasa begitu memburu. Rasanya aneh namun juga mendebarkan,saat merasakan kepala Jimin bersandar dikedua lututku. Aku harap dia tidak menyadarinya,wajah merah merona yang pasti kini tercetak dengan begitu gamblangnya. Rasanya asing namun juga menyenangkan saat aku mendengar suara tawa Jimin yang kini sibuk menonton layar televisi.
"Sayang..." Aku sedikit kaget mendengar panggilan Jimin yang kini terkekeh,ahh...sudah pasti itu karna wajahku yang terlihat luar biasa buruk karna terkejut. Sudah bisa dipastikan
"Kamu kenapa?? Kenapa tegang begitu??"
Benarkan,ketahuan... Iissshhhhh!!!
"Sini lihat!"
__ADS_1
Aku bahkan belum sempat menghindar tapi kini Jimin sudah terduduk disebalahku dengan ke 2 telapak tangan yang menangkup wajahku,kenapa dia bisa bergerak segesit ini sih!!
"Astaga! Lihat ini,ada apa dengan wajah memerah ini!"
"Jimin hentikan!!" Teriakku sambil mencoba menutupi bagian wajahku
"Merah sekali sih Ann,astaga imutnya!!"
"Jimin!!!" Aku berteriak,bergegas menyerebot bantal sofa yang kini menutupi sebagian wajahku.
"Astaga,kenapa kamu bisa semenggemaskan ini sih!!"
"Hentikan Jim! Park Jimin!!!"
Sama hal nya dengan aku yang tidak akan pernah tau tentang kebenaran dari lelucon Jimin barusan. Mungkin seperti itu pulalah aku yang tidak pernah tau jika senyum dan tawa dari seorang Park Jimin bisa membuat jantungku berdebar hingga segila ini. Sepasang mata sabit yang memukau itu terbit bersama gelak tawa yang terasa luar biasa renyah di kedua runggu. Membuat siapa saja yang mendengar dan melihatnya akan ikut tertawa bersamanya.
Aku masih sangat malu,aku juga masih merasakan jika wajahku masih merona dengan begitu sempurna,maka aku memilih untuk membenamkan wajahku kedalam bantal sofa yang kini berada di dekapan ke 2 tanganku. Dan Jimin,tentu saja dia masih menggodaku dengan telunjuknya yang menyodok-nyodok sisi samping perutku. Rasanya geli,tapi aku sungguh malu dan benar benar ingin menyembunyikan diriku seandainya bisa.
"Berhenti memeluk bantal itu Ann,aku benar-benar iri padanya"
"Aku tidak mau"
"Ckk,yang benar saja?? Aku ini tipe lelaki pencemburu buta loh,aku bahkan bisa sangat cemburu walau itu hanya sebuah bantal sofa"
Yang benar saja,Park Jimin. Astaga!
"Tidak mendengarkan aku ya?" aku tersenyum dibalik bantal mendengar gerutuan Jimin,apakah dia benar- benar kesal sekarang?? Dari suaranya dia terdengar kesal namun juga menggemaskan
Tapi sungguh sial,disaat aku menurunkan tingkat kewaspadaan ku. Jimin dengan begitu sigapnya mengangkat tubuhku dengan ke 2 tangannya. Dia mengangkat ku dengan ke 2 tangannya yang kini melingkari pinggangku. Dia mengangkat ku dengan begitu mudahnya,seolah aku hanyalah sesuatu yang seringan bulu. Aku berteriak memanggil namanya,dan bungkam saat wajah itu berada tepat di hadapanku. Hanya berselisih inchi yang tidak seberapa. Aku membelalakkan mataku saat aku menyadari bahwa aku sudah berada diatas pangkuannya. Tapi,Jimin hanya tersenyum hingga bulan sabit itu lagi-lagi muncul,membuatku ikut tersenyum
"Jangan buat aku cemburu,aku paling tidak suka itu" ucapnya sambil menempelkan hidungnya pada hidungku
"Itu hanya bantal Jim,"
"Tapi itu tetap membuatku cemburu. Sekarang,bagaimana ini Nona Kim. Kamu harus bertanggung jawab"
Terdengar konyol memang,bagaimana dia bisa dia merenggek tentang hal semacam itu. Tapi mendengar dan melihatnya merengek seperti ini dihadapanku itu membuatku merasa sangat gemas padanya.Suaranya dan ekspresi diwajahnya itu,
Terlalu menggemaskan untukku,
"Dengan apa aku harus bertanggung jawab padamu Tuan Park? Emmm,haruskah aku memberikan kompensasi??" Tanyaku dengan kedua telapak tangan yang menangkup wajah Jimin,aku membingkai wajah yang masih mempertahankan ekspresi sinis yang sangat dibuat-buatnya itu. Ahh...kenapa dia se-menggemaskan ini
"Itu tidak buruk,bagaimana dengan sebuah ciuman?? Good night Kiss??" Ucap Jimin menggoda serayah memainakan alisnya,naik turun
"Tidak,tidak mau"
"Owwwhhhh,ayolah! Good Night Kiss,Anne sayang" renggeknya seperti bayi
Sangat lucu melihat Jimin merengek seperti ini,itu membuatku tak berhenti tersenyum. Pria dewasa menyebalkan yang sangat arogan itu,kini tak ubahnya bayi besar dimataku. Aku memeluknya,merangkumkan ke dua lenganku dilehernya dan bergelanyut padanya yang kini terkekeh
"Jangan meminta sebuah ciuman padaku. Aku terlalu malu untuk memulainya" ucapku didekat telinga Jimin,faktanya aku memang sangat malu jika harus membicarakan 1 hal itu,terlebih jika harus melakukannya.
Tidak...aku tidak bisa
"Benarkah?" tanya Jimin balik yang hanya ku jawab dengan anggukan,sambil tetap memeluknya dengan posisi yang masih sama,aku yang berada di pangkuannya
"Baiklah...pelukan hangat darimu juga bukan hal yang buruk. Ini juga sangat menyenangkan" aku dapat merasakan rengkuhan tangan Jimin yang begitu erat,rasanya sangat nyaman dan juga menyenangkan,seperti yang dia katakan
"Peluk aku seperti ini saat kamu membuatku cemburu,dan aku akan memaafkanmu"
Baiklah...aku akan memelukmu seperti ini. Lebih erat dan juga hangat,bahkan jika aku tidak membuatmu cemburu sekalipun
...
__ADS_1
...