Melliflous

Melliflous
GIRL FRIEND Pt 2


__ADS_3


Lupakan Scene dalam kabin pesawat itu karena aku akan menjelaskan dengan detail dimana aku kini berada. Terjebak lebih jauh bersama Park Jimin.


Maldives Island,


Tepatnya Vaadhoo Island,merupakan sebuah pulau di Raa Atoll, Maladewa yang hanya memiliki 500 jiwa penduduk sebagai penghuninya. Hanya butuh setidaknya 15 menit dengan speed boat menuju pulau ini dari Bandara Internasional Male. Dan Adaaran Prestige Vadoo adalah vila yang dipilih Tuan muda Park Jimin sebagai tempat dimana kami akan menginap selama seminggu berada di sini. Merupakan salah satu vila terbaik yang ada di pulau ini yang memiliki fasilitas andalan berupa Private Pool dan juga Personal Butler.


Dalam pikiranku yang kacau,aku sempat berpikir jika membawaku kemari sudah barang pasti hanyalah akal akalan dari seorang Park Jimin. Mengingat perilakunya selama ini bukan tak mungkin jika dia hanya sedang menjadikan perjalan bisnis sebagai alibinya. Lagipula,manusia kelewat sinting mana yang datang ke tempat se indah ini untuk lebih memilih bekerja daripada untuk berlibur??? Tapi prasangka itu lenyap begitu saja saat aku benar benar melihat dengan mata kepala sendiri jika Jimin memang datang ke Pulau eksotis ini untuk bekerja. Membuntuti nya selama 4 hari membuatku dapat melihat dengan jelas hal hal apa yang dia lakukan. Dan anehnya,dia nampak seperti pribadi yang 180 derajat berbeda saat dia sedang bekerja. Dia tipe yang sangat gila kerja,itu terlihat dari banyak waktu yang dia habiskan hanya untuk meeting atau bahkan memandangi iPad yang ada di tangannya. Benda persegi itu bahkan seolah sudah melekat dengan tangan Jimin selama dia berada disini.


Aku meletakan beberapa butir multivitamin sebelum akhirnya duduk di hadapannya yang masih saja fokus pada layar iPad yang ada di genggaman tangannya. Mengabaikan kehadiranku dan memakan asal asalan sandwich yang ada di hadapannya. Jangan berpikir yang tidak tidak,aku hanya sedang bekerja sekarang.


"Jimin..." Panggilku bersamaan dengan dia yang menyuapkan sepotong sandwich ke dalam mulutnya dengan fokus yang masih tertuju pada iPad. Dia tidak mendengarnya? Atau dia memang mengabaikan ku sekarang?? Maka untuk memastikannya aku memutuskan untuk memanggil nama itu sekali lagi


"Jimin... Park Jimin!" ucapku dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya,yang hanya mendapat lirikan singkat darinya


"Hmmm..??" Dehemnya yang seolah bertanya,namun masih dengan fokus yang tak teralihkan dari layar didepannya.


"Minum vitaminmu"


"Aaaa.." ingin rasanya melemparkan sepatuku ke mulut Jimin yang terbuka itu daripada harus menyuapinya multivitamin seperti yang dia titahkan tanpa tersirat. Tapi aku masih punya sedikit saja urat malu untuk berbuat hal tidak kondusif di pagi hari yang cerah ini,dimana terdapat beberapa gelintir orang yang tengah melakukan hal yang sama dengan apa yang kami lakukan sekarang,breakfast. Yakin lah bawasanya terkadang mengalah itu perlu untuk membuat kita tetap menjadi mahluk dengan otak yang waras,daripada harus menuruti ego yang berakhir dianggap sebagai manusia sinting.


Setelah aksi menyuapi Jimin aku dengan tekun mulai menikmati sarapanku. Kami berdua duduk berhadapan dalam hening terlarut pada kegiatan kami masing masing. Setidaknya butuh 10 hingga 15 menit untuk ku menghabiskan sesi sarapan pagi ku dan memutuskan beranjak lebih dulu dari pada Jimin yang masih setia di tempatnya.


"Mau kemana?" Tanyanya tiba tiba saat aku hendak beranjak di ikuti tanganya yang menggenggam lenganku


"Kembali ke kamar ku tentu saja" Jimin meletakan iPad nya di meja lalu bangkit,menghadap ke arahku lalu mendudukan tubuhku persis di samping tempat duduknya


"Temani aku sebentar" aku hanya diam,tak bergeming dengan apa yang dia katakan barusan. Aku lebih memilih membuat diriku nyaman dengan kondisi ini dengan menyandarkan tubuhku pada punggung kursi sambil menyilangkan kaki kanan pada kaki kiriku,bersenandung kecil sambil memainkan anak rambutku,sementara Jimin. Dia sudah kembali sibuk menyelami iPad nya.


"Anne" panggil Jimin saat beberpa menit berlalu diantara kami ber2 dalam hening

__ADS_1


"Hmmm?"


"Lain kali,jangan pernah gunakan baju seterbuka ini saat bersama orang lain selain diriku" ucapnya yang sontak membuatku terpaku seketika. Namun kalimat itu nyatanya masih berlanjut dengan kalimat yang lain yang membuatku semakin terduduk kaku di tempatku. Kalimat yang membuat kewarasan di dalam diriku seolah menguap entah kemana. Menampar dengan begitu keras sesuatu yang ada di dalam diriku


"Sulit untuk mengatasinya,asal kau tau"




Selesai juga,akhirnya...


Aku meletakkan iPad yang terasa panas itu di meja saat aku sudah selesai memeriksa berkas terakhir untuk proyek kali ini. Setelah 5 hari yang melelahkan berjibaku dengan dokumen dokumen dan juga kesana kemari memeriksa secara langsung proyek yang sedang berjalan akhirnya,aku bisa bernafas lega.


Lelah sekali rasanya,


Aku menutup rapat mataku menikmati sensasi khas setelah menatap layar iPad selama seharian penuh. Memijat kepalaku yang terasa sedikit pening. Proyek ini harus berhasil karena ini merupakan salah 1 proyek dengan nilai investasi yang cukup fantastis yang aku impikan sejak dahulu. Itu lah sebabnya kenapa aku sendiri yang harus repot repot turun langsung dan bukan orang lain. Aku membuka mataku serayah membetulkan posisi dudukku di sofa,untuk kemudian melirik jam yang ada di pergelangan tanganku. Pukul 1 dini hari. Aku mengusap wajahku dengan ke 2 telapak tangan. Mengerang frustasi,merutuki diri sendiri.


Sudah selarut ini,pasti dia sudah tidur bukan??


Tapi entah mengapa saat aku menoleh pada pintu kamarku tiba tiba saja aku berdiri dari dudukku dan memutuskan beranjak dari dalam kamar. Seketika saja,aku ingin mengucapkan selamat malam pada Anne walau harus melakukan itu pada pintu kamarnya. Namun saat aku menutup pintu kamarku dan hendak melangkahkan kakiku,netraku justru menangkap sosok yang ku cari juga sedang melakukan hal yang sama. Hanya beberapa detik kami hanya saling bertukar pandang,hingga akhirnya aku memutuskan untuk tersenyum kemudian menghampirinya.


"Belum tidur?" Tanyaku basa basi yang hanya dijawab anggukan seadaanya dari Anne


"Mau kemana?" Tanyaku saat kami berdiri dalam posisi sejajar


"Melihat laut" jawabnya singkat,lalu mulai beranjak pergi diikuti aku yang kini berjalan tepat disampingnya. Selanjutnya kami hanya berjalan dengan hening yang masih melingkupi hingga tak seberapa lama tiba di tepian pantai yang terlihat tidak seperti biasanya. Walaupun aku tau tentang ini saat aku memutuskan untuk membeli pulau ini beberapa tahun lalu,namun nyatanya aku masih saja takjub begitu melihatnya dengan mata kepala sendiri seperti ini. Hal yang membuat netra ku terpana pada kali pertama melihatnya. Pernah dengar tentang fenomena laut bercahaya??? Dimana seolah laut memancarkan cahaya berwarna biru terang. The Sea of Star, begitulah fenomena itu di sebut.



Bibir pantai yang terlihat terang dengan warna biru yang di padukan dengan cahaya bintang di langit sungguh merupakan kombinasi lain dari fantasi yang seolah di sajikan di depan netra. Ditambah dengan belaian angin malam yang menembus hingga ke tulang,memaksaku untuk merapatkan kembali sweater yang melekat pada tubuhku.

__ADS_1


"Bukankah ini reaksi kimia terbaik yang pernah ada,bioluminescane. Akhirnya aku bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri" aku mendengar jelas gumaman Anne pada dirinya sendiri. Gadis itu tengah berdiri di dekat bibir pantai beberapa langkah jaraknya dariku. Jadi dia memang sengaja pergi di malam hari seperti ini hanya untuk melihat ini??


"Tau darimana kalau ada hal seperti ini di sini?" Tanya ku pada akhirnya


"Film... Life of Pi. Aku melihat laut yang bersinar biru terang di film itu,ternyata jauh lebih indah saat melihatnya dengan netra sendiri seperti ini" gadis itu melepas alas kakinya kemudian melangkah ke depan,memainkan kakinya pada air pasang yang kini bercahaya jauh lebih terang dari sebelumnya.


"Jangan salahkan aku karna menggangu kalian,salah sendiri kenapa pertahanan diri kalian secantik ini" ucapnya sedikit membungkuk sambil terus menggerak gerakkan kakinya pada air.


"Apa tidak berbahaya menyentuh mereka seperti itu?" Aku tau kalau cahaya biru ini disebabkan oleh Dinoflagellata,sejenis mikroorganisme laut yang memang menghasilkan kilauan cahaya sebagai reaksi bila mereka merasa terganggu,tapi tidak dengan hal lain yang berkaitan dengan mereka.


"Tidak tentu saja. Kemarilah,mereka sangat cantik" mendengar itu dan juga melihat senyum indah di wajah Anne membuatku ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan sekarang. Aku melepaskan alas kakiku untuk kemudian menghampiri Anne yang konsisten menggerak gerakan kakinya membentuk gerakan gerakan unik dengan senyum yang tak surut dari wajahnya. Ini dingin jujur saja. Tapi juga menyenangkan dalam waktu yang sama,terlebih dengan adanya presensi ini di hadapanku dengan senyum nya yang membuatku seolah sulit untuk bernafas. Untuk kali pertama dalam hidupku,aku merasa sangat tergila gila pada presensi seseorang.


Jatuh cinta itu balistik,


Dan aku baru menyadarinya sekarang, jika selama ini aku hanya fokus pada nilai seksual dan melupakan bahwa yang terpenting adalah kontemplasi pada cinta itu sendiri. Menemukan nilai dari orang lain dan memahaminya. Itulah yang disebut dengan jatuh cinta. Dan sosok inilah yang menyadarkan ku tentang hal itu.


"Ann.." panggilku padanya yang kini duduk diatas pasir bermainkan dengan air yang berwarna biru terang


"Ehmm," jawabnya sambil menegakkan kepalanya menghadapku yang terduduk di sebelahnya


"Aku tau reaksi kimia terbaik di banding ini" Alis itu terangkat dengan matanya yang menatapku dengan kuriositas yang tak terbantahkan


"Mau ku tunjukan? I'll show you " sungguh kalimat tadi bukan salah 1 bentuk dari sebuah penawaran tapi sebuah pemaksaan terselubung


Tapi toh siapa yang peduli,seperti otakku yang tiba tiba saja menemukan AHA moment dan memutuskan untuk mewujudkannya dalam sebuah tindakan nyata. Dengan ke 2 tanganku aku meraih wajah yang masih dipenuhi tanda tanya itu. Membingkai wajah cantik itu dalam rengkuhan tanganku dan membawanya mendekat untuk mengikis jarak diantara kami. Berakhir dengan menautkan bibir ku pada bibirnya yang dalam beberapa detik dapat kurasakan membuat euforia super gila yang meledak dalam diriku karena rasa manis yang tengah ku cecap dari bibir Cherry miliknya. Dan seolah tidak cukup hanya dengan itu,pada akhirnya tautan bibir kami berubah menjadi sebuah ******* ringan  yang gilanya dengan seiring waktu berjalan ******* yang tadinya tidak terlalu intens itu kini serasa meningkat dan terus menerus semakin menuntut. Mungkin karena aku tidak menerima sebuah respon penolakan maka aku bisa sampai sejauh ini mencium bibir  yang kini sudah menjadi candu tersendiri untukku. Aku seolah tidak lagi membutuhkan oksigen selama aku dapat mencumbu bibir manis ini. Hal gila ini... Rasa panas juga degub yang bertalu gila gila an di dalam diri ini. Untuk kali pertama aku merasakan hal ini ketika mencium bibir seseorang.


Lengan ringkih itu lah yang pada akhirnya menyadarkan ku untuk segera berhenti. Pukulan ringan di dadaku membuatku kembali ke Dunai nyata dan mendapati Anne yang terengah engah. Napasnya naik turun dengan wajah yang memerah padam. Namun seolah tak ingin menyudahi ini hanya sampai disini,maka aku menangkap wajah itu sekali lagi. Menatap netra itu,menyelam sedalam mungkin


"Cupid tidak pernah menembak hati manusia,untuk membuat mereka jatuh cinta. Cupid hanya menembak otak manusia dengan oksitosis,untuk membuat reaksi kimia yang kemudian disebut dengan jatuh cinta. Apa kau merasaknya Ann,reaksi kimia itu kini ada diantara kita?"


__ADS_1


__ADS_2