Melliflous

Melliflous
SWEATHER WEATHER Pt2


__ADS_3


Gadis kecil itu bernama Oh Min Ji. Dia baru berumur 6 tahun. Pertemuan pertama kami adalah 1,5 bulan yang lalu saat aku menjadi dokter di Unit Gawat Darurat. Seorang gadis datang dengan kedua tangan yang memegangi erat kepalanya. Meminta pertolongan karna kepalanya yang terasa sakit luar biasa. Disampingnya ayah dan ibunya tak kuasa menahan tangis melihat sang buah hati yang terlihat kesakitan bukan kepalang.


Saat itu aku melakukan tindakan yang biasanya akan dilakukan oleh seorang dokter yang bertugas di unit gawat darurat. Memeriksa tanda vital,dan berakhir memberikan tindakan agar kondisi gadis kecil itu kembali stabil. Namun,entah mengapa saat melihat kondisi Min Ji,dikepalaku saat itu seperti terlintas sesuatu yang membuatku memutuskan bahwa gadis itu harus melakukan opname untuk pemeriksaan yang lebih lanjut. Entahlah,hanya saja melihat dari prognosis nya,ini jelas tidak terlalu baik.


Aku pikir,itu akan menj6adi pertemuan pertama dan terakhirku dengan gadis yang tersenyum dengan begitu lebarnya hanya untuk mengucapkan terima kasihnya padaku sesaat sebelum perawat membawa brankarnya meninggalkan UGD. Tapi nyatanya tidak,beberapa minggu kemudian aku kembali bertemu dengan gadis kecil itu saat rotasi magang. Juga menemukan bahwa 1 kata yang terlintas di kepalaku saat pertemuan pertama kami adalah realitas yang harus kami hadapi sekarang


Medulloblastoma,


Sebuah jenis tumor otak ganas yang paling umum di temukan pada anak anak.


Entah bagaimana aku merasa sangat terhubung dengan Min Ji. Mungkin,karna kami yang bertemu hampir setiap saat. Atau mungkin karna kami yang selalu menghabiskan waktu luang untuk sekedar bercerita dan menjadi pendengar yang baik untuk cerita masing masing. Atau karna kami memiliki sebuah kemiripan yang bahkan tak bisa dikatakan walau kami ingin. Entahlah,hanya saja...aku selalu berusaha  meluangkan sedikit waktu ku untuk duduk di samping ranjangnya setelah jam kerja usai. Anak anak adalah mahluk yang memiliki hati yang besar,mereka adalah mahluk yang tidak pernah memiliki prasangka. Mungkin itulah alasan yang membuatku melakukan hal ini. Atau karna aku menganggap Oh Min Ji adalah pasien pertama bagiku. Entah untuk alasan yang mana,namun aku sangat memperhatikan dengan seksama semua detail tindakan medis yang diambil untuknya. Aku selalu menanyakan banyak hal pada dokter senior yang menangani Min Ji. Kondisi Min Ji memang tidak bisa dibilang baik baik saja. Namun untuk kasus Min Ji,operasi pengangkatan total adalah jalan keluar yang akan menyelesaikan segalanya.


Tapi kehidupan tidak pernah semudah itu berjalan. Terlebih jenis kehiduapan yang ada di sekelilingku. Keluarga Min Ji tidak lagi mampu membayar biaya operasi yang diajukan pihak rumah sakit yang menyebabkan kondisi Min Ji menjadi semakin buruk disetiap harinya.


Sebenarnya,jenis realitas semacam apakah kehidupan ini??


Aku tidak benar benar mempersiapkan diriku dengan baik pada sesuatu yang kemudian ku kenali sebagai management rumah sakit atau bahkan politik rumah sakit. Dan ini membuatku gila!! Benar benar gila!!! Bagaimana bisa sebuah nyawa yang suci dikalkusikan dengan sejumlah uang??


Beginikah dunia medis yang ber etika dan bermoral itu??


Seperti inikah ketika kemajuan Scientifik  meninggalkan kemajuan Humanistik??


Meninggalkan moralitas yang jauh tertinggal di belakang,


Sebagai seorang dokter yang ku ingat dengan begitu jelasnya hingga saat ini adalah sebuah prinsip fundamental yang ku terima di saat pendidikan kedokeranku di semester awal


Primum  Non Nocere,


First,do no harm... adalah sebuah prinsip dasar bagi seorang dokter untuk menempatkan kepentingan pasien diatas kepentingan yang lainnya. Itulah mengapa seorang dokter haruslah seorang profesional yang benar benar mengerti tentang nilai nilai etis. Menempatkan keselamatan pasien sebagai hukum tertinggi,


Aegroti Salus Lex Suprema


Namun agaknya aku baru menyadarinya sekarang,bahwa segala sesuatunya tidak bisa berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Termasuk untuk Min Ji.




Aku begitu terkejut saat melihat Anne yang tengah sibuk di kitchen set miliku tepat saat jarum jam menunjuk pukul 6 pagi. Aku menghampiri Anne yang belum menyadari keberadaan ku di belakangnya.

__ADS_1


"Good morning Hummingbird" sapaku setengah berbisik tepat di daun telinganya.


"Oww... Astaga!" Aku terkekeh mendapati Anne yang sangat terkejut dengan kehadiranku disekitarnya.


"Maafkan aku,terkejut ya??" ucapku sambil tersenyum,


"Kenapa sudah bangun sih?? Aku kan jadi tidak bisa membuat sarapan untukmu" gerutuku sambil mengikuti Anne yang kini sibuk menata meja makan dengan hasil masakannya.


"Memangnya kamu bisa?"


"Eeeuuuuummmmm,hanya memanggang roti dan membuat segelas susu kan tidak sulit" jawabku begitu enteng,membuat Anne mengembangkan senyum di wajahnya yang masih terlihat sembab. Ah...senang sekali rasanya melihat senyum itu hadir lagi walau hanya sesaat


"Duduklah,kita sarapan" ucapnya sambil bergegas melepas apron dan menaruhnya tak jauh dari meja makan. Untuk sesaat aku terpaku melihat bagaimana betapa sembab mata itu dari jarak yang lebih dekat


"Boleh aku bertanya?" Kataku yang membuat Anne heran namun segera menganggukkan kepalanya sesaat kemudian


"Kamu mau pergi kemana setelah ini? Bukankah hari ini kamu mengajukan cuti?" Mungkin ini sedikit kurang ajar,tapi aku memang sengaja mencari tahu jadwal Anne agar aku bisa menyesuaikan jadwalku dengannya. Setidaknya setelah kejadian semalam,bukankah sudah cukup untuk menjadi alasan untuk ku tetap bersamanya


"Pergi ke pemakaman Min Ji" aku sudah dapat menebak jawaban Anne,namun masih saja. Saat mendengar itu langsung darinya,membuat hatiku mencelos nyeri


"Baiklah,kalau begitu kamu akan punya supir pribadi hari ini. Supir pribadi yang sangat tampan yang akan mengantarkan kamu kemanapun kamu ingin pergi,jadi jangan menolak dan manfaatkan saja si tampan itu hari ini,okay?"



"Tuan" suara lirih itu membuatku membalikan tubuhku dan menemukan seorang pria dengan setelan hitam dengan wajah kuyu nya,berdiri dengan senyum yang coba dipaksakan


"Bolehkan saya merepotkan Anda dengan beberapa permintaan? Hanya saja,karna anda yang datang bersama Dokter Kim. Saya rasa saya harus meminta itu pada anda"


"Ahh,ya... Tentu saja,anda bisa melakukannya"


"Bisakah anda menjaga Dokter Kim,kami sangat mengawatirkan keadaannya. Sekalipun dia mencoba untuk tidak menunjukannya,tapi kami dapat merasakanya. Seperti kami yang sudah merelakan kepergian puteri kami tolong yakinkan Dokter Kim bahwa ini bukanlah kesalahan siapapun. Dia bahkan sudah melakukan segala hal untuk Min Ji kami,lebih dari pada apa yang kami sebagai orang tuanya bisa lakukan. Juga,tolong jangan biarkan dia bersedih terlalu lama untuk anak kami,karna bagi puteri  kami,Dokter Kim adalah sosok kakak yang sangat dia sayangi. Kami ssungguh sangat berterima kasih untuk segala hal yang sudah Dokter Kim lakukan juga berikan untuk Min Ji. Jadi Tuan,mohon tolong sampaikan rasa terima kasih dari kami yang sebesar besarnya untuknya,kami sangat menghargainya" aku hanya terpaku saat kalimat kalimat itu melantun di udara,rasanya sangat pedih. Mungkin,itulah salah 1 alasan kenapa Ayah Min Ji tidak sanggup mengatakan hal tersebut pada Anne. Dia yang berusaha tegar namun begitu rapuh itu,tidak akan mampu menerima deret kalimat ini dengan telinga sendiri. Itulah alasan kenapa dia memilih pergi tanpa banyak kalimat yang terucap. Dan selama sisa hari yang terasa lambat itu,aku dapat melihat betapa gadis itu telah terluka dengan begitu dalamnya.




Sejauh yang bisa ku ingat, Algea adalah sekelompok dewa yang melambangkan rasa sakit dan penderitaan pada jiwa maupun tubuh manusia. Aku membacanya dalam salah satu buku tentang mitologi Yunani,saat umurku beranjak 15 tahun. Saat itu,walaupun aku baru mengenalnya,namun aku rasa kami  telah  beteman akrab satu sama lain jauh sebelum hari itu atau bahkan hingga hari ini. Sekalipun aku tidak pernah melihatnya,namun rasa sakit dan penderitaan pada jiwa dan juga tubuh manusia adalah perwujudan paling nyata atas eksistensi dirinya, Algea.


Namun, bukankah rasa sakit dan ketidaknyamanan ada di kehidupan setiap orang, dan penderitaan adalah sebuah  pilihan.


Dan bagi manusia,pilihan adalah hal sulit lainnya.

__ADS_1


"Bukankah disini terlalu dingin?" suara lembut itu membuatku sedikit terhenyak,dan ku dapati sebuah senyum yang kini terasa kian begitu akrab serta sebuah mantel yang kini membungkus tubuhku,di tengah deru angin pantai yang berhembus dengan begitu dinginya.


"Lalu bagaimana denganmu,bukankah disini terlalu dingin?" Ucapku,setengah melirik pada mantel di pundaku dan juga pada Jimin yang lagi lagi tersenyum


"Kenapa susah sekali untuk terlihat keren di depanmu" mau tidak mau aku terkekeh mendengar gerutuan itu,


Astaga...yang benar saja!


"Jimin,terima kasih..." Aku menghadap pria bersurai terang yang kini menatapku,aku tau aku harus mengucapkan terima kasih padanya dengan benar kali ini. Ucapan terima kasih yang tulus,


"Apa hanya itu yang aku dapat?? Aku mau yang lebih?"


Oww...aku lupa,jika pria ini punya kepribadian yang cukup buruk. Maka aku hanya menaikan alisku sambil menatapnya yang juga sama menatap ke arahku


"Anggap saja,ini bayaran untukku"


Aku masih dalam mode linglung saat dengan tiba tiba Jimin merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya. Merengkuhnya dengan begitu erat. Dan untuk sesaat aku merasa bahwa pelukan ini terlalu hangat,terlalu nyaman hingga untuk kali pertama dalam hidupku aku merasa dapat bersandar pada seseorang.


"Jangan pernah lagi menahan perasaanmu,karna aku akan memelukmu seperti ini saat kamu ingin menangis" Kalimat itu terdengar begitu hangat,hingga hatiku terasa begitu nyaman. Pelukan ini terasa begitu hangatnya,hingga aku membalas pelukan Jimin.


"Tapi aku tidak ingin menangis sekarang,"


"Benarkah?? Padahal aku sudah bersiap untuk memelukmu dengan erat"


"Kamu sudah memelukku dengan erat" kami berdua sama sama terkekeh didalam dekapan yang masih tertaut. Hanya,entahlah...untuk alasan yang mana kami tidak ingin mengurai dekapan ini.


"Kamu juga memelukku dengan erat" bisikan di telinga itu membuatku sedikit geli dan juga malu,namun tetap saja tidak juga membuatku mau melepaskan diri dari pelukan Jimin


"Bukankah ini sangat nyaman??"tanya Jimin,yang aku jawab dengan anggukan.


"Peluk aku seperti ini mulai dari sekarang,karna aku akan menjadi jaket segala musimmu. Entah itu terik matahari,hujan,salju,atau bahkan badai sekalipun. Aku akan melindungimu"


Rasanya sungguh hangat,dan nyaman.


Berada di dalam pelukan seseorang seperti ini,bersandar dan menunjukan segala kelemahan dan juga kelelahan yang ada di dalam diriku. Tapi benarkah ini akan baik baik saja??


Melabuhkan hatiku padanya



...

__ADS_1


...


__ADS_2