Melliflous

Melliflous
Queen


__ADS_3


Disparitas,


Disanalah aku pernah berdiri,di salah satu sisi dunia yang membuatku terasing. Aku tidak benar benar baik dalam menyikapi apa itu sebuah perbedaan pada awalnya. Hingga butuh waktu juga proses yang panjang hingga akhirnya aku mengerti kenapa Tuhan menciptakan hal semacam itu diantara kami,manusia.


Perbedaan warna kulit; Ras; Suku; Bangsa; Agama; Hirarki yang berujung pada hal lainnya seperti Stratifikasi Sosial; Dominasi mayoritas; maupun Kesenjangan minoritas,dan masih banyak bentuk lainnya. Sebut saja,2 hal yang saling bertolak belakang semacam itu sebagai sebuah Dikotomi Kehidupan, dan kalian akan memahami bawasnya 2 hal yang berbeda terkadang di fungsikan untuk menjadi sesuatu yang lain hingga tidak dapat dipisahkan. Anologi paling dekat adalah diri kita yang terbagi menjadi 2 aspek penting berupa jiwa dan raga.


Bukankah ke 2 nya berbeda?? Raga yang kasad mata dengan Jiwa yang tidak kasad mata... Raga yang memiliki bentuk dan jiwa yang tidak memiliknya.


Dulu sekali,saat umurku baru menginjak angka 15 tahun aku selalu berfikir kenapa seseorang yang memiliki segala sesuatunya selalu di identikan dengan sesuatu semacam kekayaan dan mereka yang tidak memilikinya selalu identik dengan kemiskinan. Kenapa orang yang memiliki uang selalu disebut dengan orang yang besar sementara yang tidak selalu disebut dengan orang kecil??? Benarkah materi selalu menjadi parameter utama dalam sistem antara si kaya dan si miskin??


Itulah sedikit bentuk pikiranku saat umurku 15,dan sekarang saat aku sudah dewasa,perihal kaya dan miskin,juga kecil dan besar hal hal semacam itu hanyalah tentang  masalah siapa yang sedang memandangnya. Kaya dan Miskin hanya dapat  terjadi pada kualitas kepribadian seorang manusia. Aku memahami itu dengan sangat baik hanya saja aku tidak sebaik itu dalam implementasinya dalam kehidupan. Tetap saja aku mengalaminya,sesuatu semacam mental blocking.


Aku menarik napas perlahan sambil menengadahkan kepalaku,memandang langit yang terlihat begitu suram dengan minimnya kerlip bintang di atas sana. Lalu kembali berjalan menelusuri bahu jalan yang terasa begitu lenggang. Sesekali aku melirik kakiku yang telanjang tanpa sepatu yang kini tertenteng di genggaman tanganku,aku tersenyum miring. Bagaimana tidak,aku menggumpatnya sekali dan dia langsung membalas ku dengan hak nya yang tiba tiba saja patah.


Aku mendudukkan diriku di sebuah kursi halte yang sepi. Sesekali melihat jam pada pergelangan tanganku untuk memastikan bahwa bus terakhir akan lewat beberapa menit kemudian. Aku lelah sungguh,perjalanan sejauh 3 kilometer yang membuat betisku terasa begitu pegal. Malam ini dingin ditambah angin yang sesekali lewat juga baju yang melekat di tubuhku. Aku tersenyum pada diri sendiri,apakah malam ini aku benar benar menjelma menjadi seorang Cinderella?? Ahh.. dia juga salah satu Puteri Disney bukan,


Puteri Disney?? Cckk... Yang benar saja,


Aku melipat ke 2 lenganku di depan dada,menghalau dingin angin malam yang serasa menembus hingga ke dalam tulangku.   Dan berjenggit kaget bukan main saat sebuah suara yang begitu nyaring menggapai rungguku. Aku bangkit,mencari sumber suara itu berasal dan menemukan sebuah motor yang berserakan di jalan dengan seseorang yang tergeletaj tak jauh darinya. Dengan teegopoh gopoh aku berlari menghampiri orang itu.


"Astaga ya Tuhan!!" Pekik ku sambil membekap mulutku saat melihat dengan jelas seseorang yang tergeletak bersimbah darah,dengan helm yang masih terpasang di kepalanya. Aku bergegas menghampiri orang itu,memeriksa tanda vital pertama.


"Tuan bisa mendengarku?!! Tuan?!!!" Seruku yang sama sekali tidak mendapatkan atensi darinya




Sial!!


Aku memukul kemudi mobil dengan emosi tertahan yang entah mengapa terasa begitu menyiksa. Aku tidak menemukanya di manapun,gadis itu.


Anne,


Aku merasa begitu buruk,dan juga begitu bodoh. Bagaimana bisa,aku juga ikut menyakitinya dengan kata kata juga kelakuanku??


Park Jimin,kau benar benar manusia sialan!!


"Kenapa aku harus berhenti?!! Kenapa kau membuatku juga terlihat sama menyedihkannya denganmu Ann?!!! Kenapa??!!!!"


Memori itu terlihat dengan begitu jelasnya,kalimat kalimat  frustasi dengan nada yang begitu tinggi dari mulutku itu nyatanya membuatku sakit sekarang. Bagaimana bisa,dengan mulut brengsek ku ini aku mengatakan hal brengsek itu padanya!!!


"Kenapa kau diam saja saat orang lain memperlakukanmu dengan begitu buruk?!! Kenapa Ann?!!!"


"Lalu menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan??"


"Menjelaskan semuanya??? Menjelaskan tentang kebenarannya???!!"


"Apa kau pikir mereka akan mendengarnya,- Sesuatu yang kau pikir sebagai kebenaran itu??" 


Seumur hidup aku tidak akan pernah lupa pada mata dingin yang menatapku dengan begitu lurus itu.


"... Many people don't have privilege to be born into rich families like you. Dan aku adalah salah satunya. Kau tau sekarang kenapa aku memilih diam?? Karna,sebaik apapun diriku,sebaik apapun usahaku,dan kebenaran semacam apa yang ada didalam diriku,dirimu ataupun  mereka. Kalian tidak akan pernah peduli tentang hal semacam itu. Bukankah kalian memang terbiasa memandang rendah orang orang sepertiku?? Kalian menyebutnya sebagai aturan,dan aku menyebutnya sebagai  takdir"


Juga pada punggung yang nampak bergetar dihadapanku yang seakan dalam sekejap saja membuat jarak yang begitu jauh antara aku dan juga dirinya. Dia memberitahuku dengan sangat jelas tentang sebuah jarak yang ada diantara kami,juga tentang sekat yang seolah tak akan bisa ditembus. Gadis itu menarik garis yang jelas dimana tempatnya berpijak adalah titik terjauh yang tak mungkin bisa aku gapai.


Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang??


Menarik napas begitu berat,dibarengi sebuah dering dari atas dashboard yang menarik atensiku untuk seaaat. Aku memutuskan untuk  mengangkat telefon yang menyusup masuk tiba tiba itu dengan sedikit minat


"...."

__ADS_1


"Dirumah sakit?? A-aapa??? Kecelakaan??!!"


Aku tergagap,dengan isi kepala yang terasa menguap. Aku bahkan tidak bisa memahami serta mencerna dengan benar tiapa kata yang berdengung di telingaku. Yang benar saja___


Park Jimin,jika sesuatu yang buruk terjadi padanya,maka itu semua adalah kesalahanmu!! Sialan!!


Aku mematikan sambungan telfon itu sepihak,dan memutar arah mobilku menuju rumah sakit.



Aku berlarian di koridor rumah sakit tanpa peduli pada seseorang yang ikut berlarian di belakangku. Pikiranku kacau dan satu satunya hal yang ada di dalam sana hanyalah gadis itu....


Anne


"Tuan Park, dia ada di sebelah sini!" Seru nya sambil berjalan menuntunku ke sebuah ruangan yang berada di ujung koridor.


Aku melangkah tergesa,dan berhenti saat melihat presensi seseorang yang amat ku kenali. Tengah terduduk di sebuah kursi di depan sebuah ruangan.


"Tuan Park_"


"Kau boleh pergi," lirihku pada Jung Ji Sung,yang kemudian pamit undur diri


Apa apaan ini??


Aku hanya bisa terpaku disini,menatap nanar presensi itu dengan hati yang terasa begitu ngilu. Dia yang terduduk dengan kepalanya yang bersandar pada tembok rumah sakit dengan ke dua matanya yang terpejam. Aku melangkahkan kakiku perlahan dengan terus menelisik presensi dihadapanku. Gaun putihnya yang beberpa jam lalu terlihat begitu indah,kini terlihat begitu lusuh dengan banyak noda darah juga robekan di bagian tertentu. Dan lihat saja kaki telanjang yang terbalut perban itu. Aku merasa begitu sesak. Menyaksikan hal semacam itu dengan mata kepala sendiri.


Seperti inikah rasanya saat kau marah pada dirimu sendiri???


Aku melangkahkan kakiku dengan begitu perlahan,dan menatap sejenak wajah itu yang mungkin saja tengah terlelap. Aku setengah berjongkok menatap lekat ke 2 telapak kaki telanjang yang terlihat beberapa luka juga perban diatasnya.


Setidak becus inikah dirimu Park Jimin?!!!! Menjaga seorang gadis saja kau tidak mampu!!!


"Maafkan aku" ucapku lirih




"Astaga aku terlambat!!!" Seruku sambil meremas rambutku sendiri kemudian segera beranjak dari atas kasur. Bermaksud mencari letak kamar mandiku yang membuatku tiba tiba saja merasa asing dengan apa yang ada di sekelilingku. Dan benar saja, butuh setidaknya 5 detik untuk menyadarinya jika ini memang bukan apartemenku.


"Assshhhh!!" Erangku sambil mengacak acak rambutku frustasi kemudian bergegas menuju pintu kamar yang tertutup. Namun pergerakan ku terhenti saat dengan tiba tiba saja sebuah presensi menyembul dari sana.


"Sudah bangun ya" ucapnya ringan dengan senyum diwajahnya,berbanding terbalik dengan wajahku yang seketika mengeras begitu melihat serat wajah yang kini ada dihadapanku


"Kenapa aku bisa disini?!"


"Aku yang membawamu,bagaimana tidurmu,nyenyak??" Lagi... Senyum itu tersunggi dengan begitu jelasnya dan membuat kepalaku pening bukan main


"Apa kau pikir aku punya waktu untuk menjawab pertanyaan konyol semacam itu?! " ku menggelapkan tanganku,menahan perasaan dongkol bukan main yang merambatiku. Kemudian bergegas pergi,


"Ann,mau kemana?!" Seruan itu menggema di belakangku yang kini sudah berada di ruang tengah hendak menuju pintu keluar yang ada di ruang tamu.


"Anne!"


Cekalan tangan di lenganku itu membuatku terhenti dan membuat ku harus melihat kembali sosok yang kini menatapku lurus


"Mau kemana?" Tanyanya untuk ke 2 kali yang terdengar lebih lembut dari sebelumnya saat dia memanggil nama untuk menghentikan ku


"Bukan urusanmu!"


"Ann!"


"Lepaskan aku Park Jimin,aku harus ke rumah sakit!!" Seruku marah saat tangan itu lagi lagi menahan lenganku

__ADS_1


"Tidak sekarang" ucapnya yang di ikuti sebuah gerakan super cepat,dimana aku kini sudah berada di dalam gendongannya.


"Hyyyyyaaaaaaaa!!!!! Turunkan aku Jimin!!!!! Aku harus ke rumah sakit!!!!! Jiminnnn!!!!!"



"Don't **** around with me!! Hands off!!!!"...


Teriakku kesetanan saat dia menggendongku menuju kamarnya,


"Berhenti berteriak atau aku akan menyentuhmu dimanapun yang aku mau Ann,"


Sialan!!! Si brengsek ini!!!!!!


Dia menurunkan ku di atas ranjangnya,dan kemudian duduk ditepi ranjang. Mengambil sebuah kotak yang tadi sempat di bawanya kemari


"Kau terluka" ucapnya lalu mengangkat sebelah kakiku bertumpu di atas pahanya dan tenggelam dengan kasa juga beberapa hal lainnya.


"Aku harus ke rumah sakit Jimin,aku sedang magang sekarang!"


"Kau mendapat 2 hari dispensasi,aku memintanya dari Jung Ji Sung semalam" mataku membelalak,apa??? Apa yang dia katakan barusan??!!! Tuan Jung??? Jung Ji Dung??? Wakil Direktur rumah sakit???? Yang benar saja!!!! Se sinting inikah Park Jimin itu???!!!!!!


"Kau gila!!! Mana ada dokter magang mendapatkan dispend hanya karena luka kecil semacam ini?!!!" Aku hendak beranjak lagi untuk kesekian kalinya,namun lagi lagi pria itu menahannya


"Jimin!" Seruku


"Ya sayang?? Aku akan menciummu nanti,saat aku selesai dengan ini" ucapnya riang tanpa beban sambil mengganti perban di telapak kakiku


Oh God!!!! Save me!!!




Aku melonggokkan kepalaku saat derit pintu  itu terbuka. Menunggu dengan jantung berdebar siapa yang akan muncul dari sana


"Selamat pagi Tuan Jeon Jungkook" sapa nya ramah yang aku balas dengan jawaban seadanya dengan seutas senyum diwajahku


Sejujurnya aku kecewa bukan main saat melihat bahwa sosok yang saat ini ada dihadapanku bukanlah seseorang yang sedang aku tunggu tunggu. Bagaimana tidak,aku bahkan sudah senang bukan main saat aku tau bahwa gadis itu adalah salah satu dokter yang bekerja di sini. Dia dokter yang menolongku semalam.


"Ada keluhan lainnya Tuan Jeon??" Tanya dokter bernama Lee Eun Tak itu ramah


"Emm... Tidak dokter,hanya saja bolehkah aku bertanya 1 hal??"


"Ya tentu saja,silahkan" jawabnya ramah yang membuatku sontak tersenyum


"Emmm... Dokter semalam yang menolongku,dimana dia sekarang? Aku ingin mengucapkan terima kasih"


"Aaa... Anne, dia tidak masuk hari ini. Dia mendapatkan dispensasi karna terluka saat membawa anda kemari" terluka??? Saat membawaku kemari??? Gadis itu??


"Dia baik baik saja Tuan Jeon,tenang saja" aku memaksakan senyumku saat Dokter Lee mengatakan hal itu padaku. Aku rasa dia tau bahwa aku menjadi tidak nyaman saat tau bahwa gadis itu ikut terluka saat mencoba menolongku.


"Anda bisa menggucapkan terima kasih saat dia berangkat besok. Jadi beristirahtlah dengan baik. Kalau begitu saya permisi Tuan Jeon" aku menggucapkan terima kasih pada Dokter Lee dengan kepala menunduk juga seutas senyum di wajahmu.


Aku menatap ke luar jendela,melihat gambaran langit yang terlihat begitu cerahnya.


Anne...


Jadi namanya Anne,


Nama yang cantik,


__ADS_1


__ADS_2