
Seorang pria berjas rapi memakai masker dan kacamata yang menutupi wajah tampannya terlihat berjalan menyusuri taman kota yang kini sedang dipakai sebagai lokasi syutinv sebuah drama yang akan tayang di TV. Pria itu berjalan dengan mengepalkan tangan karena melihat adegan yang menurutnya sudah terlalu berlebihan.
Tanpa diduga, pria itu menghentikan proses pengambilan gambar adegan romantis itu.
"Berhenti!" Serunya dengan lantang.
Sontak semua orang menoleh kearahnya. Pria berjas itu menghampiri Celia yang masih bingung dengan situasi yang ada.
"Ayo ikut!" Tanpa bisa menolak, Celia mengikuti langkah kaki si pria misterius itu.
Tangan Celia digenggam erat oleh pria itu. Bahkan pria itu tidak menggubris panggilan sang sutradara yang mempertanyakan siapa pria itu.
Jimmy hanya bisa menyilangkan tangan ketika melihat adegan yang tidak diduga itu.
Pria itu membawa Celia menuju sebuah mobil sedan mewah yang entah milik siapa itu.
"Masuk!" Perintahnya.
Celia menurut dan masuk ke dalam mobil.
"Siapa dia sebenarnya?" batin Celia bertanya-tanya.
Pria itu masuk ke dalam mobil dan membuka kacamata serta maskernya.
"Seok Joon?" Celia terperangah.
"Apa yang kau lakukan, hah?" tanya Joon dengan sedikit kesal.
"Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan disini? Dan kau ... Mengacaukan proses syuting!" Celia tak kalah kesal
"Apa kau lupa statusmu sekarang? Kau ini wanita bersuami, kenapa beradegan mesra dengan pria lain?"
"Tapi itu hanya akting!" Bela Celia.
"Tetap saja! Kau akan dinilai buruk oleh penggemarmu jika kau tetap melakukan adegan itu! Apa itu tadi? Kau mau berciuman dengan pria asing itu!" Joon berusaha mengemukakan alasan yang masuk akal. Meski sebenarnya itu hanya alibi saja.
Celia mengernyit heran dengan penjelasan Joon. Tapi apa yang dikatakan Joon memang benar adanya.
Celia mendengus kasar. "Lalu apa yang harus kulakukan? Aku sudah menandatangani kontrak. Dan aku tidak bisa mundur!"
Kini Joon yang terdiam. Tentunya ia tahu pekerjaan macam apa yang dilakoni Celia. Joon merasa menyesal karena membiarkan Celia harus bekerja dengan cara seperti ini. Joon ingin melindungi wanita yang penting di hatinya ini.
"Baiklah! Aku akan bicara dengan sutradara itu!" cetus Joon.
__ADS_1
"Eh?!" Celia terkejut dengan pernyataan Joon.
"Ayo, kita temui sutradaranya. Aku adalah suamimu. Dan mulai sekarang aku akan melindungimu dari adegan yang tidak pantas. Apa jadinya jika Mi Ran tahu ibunya melakoni hal seperti ini untuk mencari uang?"
Celia mendelik ingin protes. Kata-kata Joon dinilai terlalu kasar. Terlebih lagi Joon melibatkan Mi Ran. Tentu saja Celia kalah jika sudah menyangkut putri semata wayangnya itu.
"Baiklah. Aku akan mengikuti saranmu," Putus Celia.
Joon dan Celia keluar dari mobil. Tak lupa Joon kembali memakai masker dan kacamata hitam agar wajahnya tidak dikenali.
Joon menghadap sang sutradara yang nampak kesal melihat kedatangan Joon dan Celia.
"Perkenalkan, aku adalah suami Celia." Joon mengulurkan tangan ke arah sutradara.
Sutradara bernama Ji Seok Jin ini menatap remeh tangan Joon. Namun karena ia memghormati Celia, akhirnya ia menyambut uluran tangan Joon.
"Katakan apa maumu?" Tanya Seok Jin.
"Aku ingin kau memperbaiki adegan yang tadi. Aku tidak suka Celia beradegan mesra dengan pria yang tidak aku kenal. Jika tidak, aku tidak mengizinkan Celia untuk bermain drama ini!" Tegas Joon.
Tentu saja Henry melotot kesal pada Joon. Siapa sih yang tidak mengenal Henry Lau? Mungkin hanya Joon saja yang meremehkan dirinya. Sang megabintang yang tampan dan penuh pesona.
"Dengar! Istrimu sudah menandatangani kontrak denganku. Jika dia keluar dari drama ini, maka dia harus membayar pinalti pada kami." Seok Jin menyilangkan kedua tangannya.
Ancaman Joon membuat Seok Jin galau.
"Satu milyar Won!" Ucap Seok Jin.
Joon tersenyum remeh. "Baik! Aku akan membayarnya! Kau yakin akan melepaskan Celia?" Joon merasa tertantang dengan Seok Jin.
Celia melotot tak percaya dengan ucapan Joon. Uang dari mana untuk membayar pinalti sebesar itu? Celia sendiri juga bingung.
Seok Jin berpikir sejenak. Kontrak drama kali ini sangatlah penting. Apalagi Celia kini sudah menjadi selebriti kelas internasional. Jika kontrak batal, maka berimbas pada drama yang akan ia produksi lainnya.
"Baiklah! Aku akan mengubah adegannya. Tapi izinkan Celia tetap mengikuti proses syuting hingga usai."
Joon tersenyum penuh kemenangan. "Terima kasih. Ganti adegannya dengan berpelukan saja," Usul Joon.
Henry terlihat kecewa karena tak jadi merasakan manisnya bibir Celia. Sebenarnya kesempatan ini ingin ia manfaatkan untuk mendekati Celia. Tapi ternyata rumor tentang pernikahan Celia itu benar adanya. Celia telah memiliki suami yang sepertinya sangat posesif.
Proses syuting dilanjutkan kembali. Dan adegan 'kissing scene' telah diganti dengan berpelukan saja. Joon yang mengikuti proses syuting hingga selesai merasa puas, karena telah berhasil menjaga Celia agar tidak melakukan adegan intim lagi.
...***...
__ADS_1
Pukul delapan malam, Celia dan Joon kembali ke apartemen. Celia merebahkan diri di sofa karena merasa sangat lelah.
Joon yang terus mengembangkan senyum langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Apa kau tidak lelah? Kita pesan makanan saja!" ucap Celia.
"Tidak! Aku sama sekali tidak lelah. Kau bersihkan diri saja dulu. Nanti kita makan bersama."
Celia mengangguk lalu menuju kamarnya.
Dua puluh menit kemudian, Celia datang ke meja makan memakai piyamanya. Aroma makanan tercium jelas di hidungnya.
"Hmm, sepertinya enak. Aku benar-benar tidak menyangka kau pintar memasak." Celia tanpa malu-malu mengambil makanan yang dimasak oleh Joon.
"Makanlah yang banyak. Tubuhmu terlalu kurus!" celetuk Joon.
"Aku hanya menjaga penampilanku saja. Aku seorang publik figur. Tentu saja harus jaga imej."
"Kau cantik dilihat dari sisi manapun."
Kalimat Joon membuat Celia tertegun sejenak.
"Apa maksudmu kau akan membayar pinalti sebesar satu milyar Won? Kau pikir aku punya uang sebanyak itu?" Dengus Celia.
Joon seketika juga terdiam. Ia baru sadar jika kalimatnya yang menantang Seok Jin akan membuat Celia curiga.
Joon tertawa renyah untuk mencairkan suasana. "Aku hanya asal bicara saja! Bukankah tadi aku terlihat sangat meyakinkan? Hahahaha." Joon kembali tertawa.
Celia mencebikkan bibirnya. "Kenapa kau melakukan itu? Bukankah kita hanya menikah kontrak? Kenapa kau harus melindungiku?"
Kini suasana mulai sunyi. Hening tak terdengar suara dari mereka berdua selama beberapa saat.
"Aku tahu kau sudah tidak nyaman beradegan mesra seperti itu. Meski kita menikah sebatas kontrak... Tetap saja kita berjanji di hadapan Tuhan. Kita tidak bisa mempermainkan pernikahan begitu saja."
Celia terdiam. Kini ia sadar jika dirinya hanya sedang bermain-main dengan janji kepada Tuhan.
"Aku minta maaf. Aku sangat egois saat memintamu menikah denganku. Padahal setelah itu, pastinya banyak masalah yang muncul. Kau adalah pria yang baik. Dan aku merasa ... Aku sudah bersikap jahat padamu."
Celia menundukkan wajahnya.
"Bagaimana kalau kita ... menikah resmi saja? Tidak ada lagi kontrak dan perjanjian. Aku bersedia jadi suamimu hingga akhir hayatku!" ujar Joon penuh keyakinan.
Kalimat Joon membuat Celia tertegun tak percaya.
__ADS_1