
Sudah tiga hari Celia dan Joon tinggal di rumah keluarga Celia yang sederhana. Kini Joon bisa melihat sisi lain dari seorang Cerelia Park, selebriti papan atas yang di gandrungi banyak kalangan.
Ternyata tidak melulu gaya hidup selebriti itu glamor. Celia membuktikannya dengan menjadi orang biasa ketika berkumpul dengan ibu dan putrinya.
Sebenarnya Joon penasaran dengan kehidupan Celia di masa lalu. Siapa ayah Mi Ran, itulah yang selalu dipikirkannya. Tapi karena mereka tidak sedekat itu untuk saling bertukar cerita, makanya Joon hanya diam dan hanya akan berkomentar jika Celia sendiri yang bercerita.
"Mi Ran, kau mau kemana?" tanya Joon yang melihat gadis kecil itu akan keluar rumah.
"Aku ingin bermain bola di taman, Paman. Ini kan hari libur, Ibu dan nenek mengizinkanku untuk bermain," jawab Mi Ran.
"Apa paman boleh ikut?" Joon sepertinya tertarik untuk menyegarkan pikirannya.
Mi Ran mengangguk. Mereka berdua pergi bersama dengan bergandengan tangan. Kedekatan mereka seakan memperlihatkan layaknya ayah dan anak. Mungkin itu yang ada dipikiran orang-orang jika melihat mereka.
Ditambah lagi, setelah Celia memutuskan pindah ke area ini, tetangga sekitar tidak pernah bertemu dengan ayah Mi Ran yang dikabarkan telah meninggal dunia.
Celia yang baru keluar dari kamar melihat jika rumah terlihat sepi. Hanya ada Sang Mi yang sedang memasak untuk di bawa ke warung makan kecil-kecilan miliknya.
"Bu, kemana semua orang?" tanya Celia.
"Mi Ran keluar bersama Seok Joon. Hari ini hari libur. Pasti mereka ada di taman."
"Baiklah. Aku akan menyusul mereka."
"Eum Chae, bantu Ibu untuk membawa barang-barang ke warung." Sang Mi meminta bantuan Celia.
"Ibu! Jangan memanggilku dengan nama asliku!" dengus Celia.
Sang Mi tertawa. "Kenapa? Kau takut Seok Joon mengetahui nama aslimu?" goda Sang Mi.
"Ish, Ibu!" Celia melengos pergi dengan membawa barang-barang di kedua tangannya.
Ketika Celia melintasi taman bersama Sang Mi, ada kelegaan di hati Celia saat melihat kebersamaan Joon dan Mi Ran. Mereka benar-benar seperti ayah dan anak sungguhan.
"Lihatlah mereka! Mereka seperti ayah dan anak, bukan? Ibu lihat Seok Joon adalah pria yang baik. Apa kau tidak ingin menjadikan dia sebagai ayah Mi Ran?" celetuk Sang Mi.
"Ibu! Jangan bicara sembarangan! Kami hanya menikah selama 6 bulan. Setelah itu kami berpisah," jawab Celia.
Sang Mi menghela napas panjang. Ia sendiri tidak mengerti dengan jalan pikiran putrinya. Ketika memutuskan untuk menjadi ibu tunggal, Sang Mi pun tidak bisa mencegahnya.
Padahal cibiran selalu Celia terima dari orang-orang sekitar. Hingga mereka harus pindah dari rumah lama mereka karena tidak ingin orang-orang mencibir Mi Ran juga.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin memberikan Mi Ran keluarga yang utuh? Dia butuh sosok seorang ayah, Nak. Apa kau pernah memikirkan perasaan Mi Ran ketika ia melihat teman-temannya bersama dengan ayah dan ibu mereka. Apa pernah kau memikirkan itu?"
Pertanyaan Sang Mi membuat Celia terdiam. Sang Mi kembali melangkah untuk menuju warungnya dan meninggalkan Celia.
Celia mengulas senyum ketika mendengar tawa Mi Ran saat bermain dengan Joon. Sungguh Joon adalah sosok pria yang baik. Celia tidak menampik itu.
"Aduh!"
Permainan Joon dan Mi Ran terhenti karena tak sengaja Mi Ran melempar bola hingga terkena kepala Joon. Pria itu memegangi kepalanya.
"Akh!" rintih Joon.
"Paman! Paman baik-baik saja? Maafkan aku, Paman. Aku tidak sengaja!" Mi Ran panik melihat Joon kesakitan.
"Akh! Mi Ran..." Joon terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Paman! Bangun, Paman!" Mi Ran memanggil nama Joon.
"Ibu! Tolong!"
Celia yang melamun seketika tersadar karena mendengar teriakan Mi Ran. Celia berlari menghampiri Mi Ran.
"Ibu! Paman Seok Joon pingsan. Bagaimana ini?" Mi Ran menangis karena ketakutan. Ia takut terjadi sesuatu dengan Joon.
Celia tidak punya pilihan lain selain membawa Joon ke klinik terdekat. Ia meminta bantuan orang-orang sekitar.
...***...
Tiba di klinik, Celia menenangkan Mi Ran yang ketakutan.
"Sayang, tidak apa-apa. Jangan takut! Paman Seok Joon tidak akan kenapa-napa."
"Ibu... Maafkan aku... Ini semua karena aku!" Mi Ran menangis sesenggukan.
"Tidak, Nak! Kau tidak bersalah. Sudah jangan menangis." Celia memeluk putrinya.
Sang Mi juga ikut datang ke klinik setelah dihubungi oleh Celia. Celia meminta Sang Mi untuk membawa Mi Ran kembali ke rumah. Mi Ran perlu istirahat.
Sekali lagi Celia meyakinkan Mi Ran jika Joon akan baik-baik saja. Mi Ran menurut dan mengikuti perintah ibunya.
Sepeninggal Mi Ran dan Sang Mi, seorang dokter menghampiri Celia.
__ADS_1
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Celia.
"Maaf, Nona. Sepertinya pasien pernah mengalami trauma berat di bagian kepalanya. Sehingga saat terkena benturan yang cukup keras, kepalanya terasa sakit dan berdengung."
Celia melongo mendengar penjelasan dokter. "Lalu, bagaimana kondisinya sekarang?"
"Untuk saat ini, kondisinya sudah stabil. Tapi sebaiknya kau membawa pasien ke rumah sakit yang lebih besar. Disini hanya klinik kecil, kami tidak bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kalau begitu saya permisi!"
Celia mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Di tengah malam, Joon terbangun karena merasa sudah sangat lama tertidur. Joon melihat Celia yang tidur di samping brankarnya.
"Aku dimana?" gumam Joon.
Kepalanya kembali berdengung. Kilasan-kilasan masa lalu berseliweran di otaknya.
"Akh!" Joon mengeluh sakit. Hingga membuat Celia terbangun.
"Seok Joon! Kau tidak apa-apa?" tanya Celia panik. "Aku akan panggilkan dokter!"
"Jangan! Tidak perlu! Aku baik-baik saja!" Joon memejamkan matanya.
Berbagai potongan memori kembali mengulang di pikirannya. Memori yang sudah sangat lama dia lupakan.
"Ya, aku tahu kenapa aku merasa tidak asing dengan daerah ini. Aku pernah berada disini," batin Joon.
Keesokan harinya, Joon sudah diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah mulai membaik.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Celia, Joon tersenyum penuh kelegaan. Memori yang sudah 20 tahun dilupakannya, kini ia ingat kembali. Kecelakaan di hari itu membuat Joon kehilangan memorinya.
Dan kini karena pukulan bola bocah 6 tahun, Joon berhasil mendapatkan kembali memorinya. Aneh memang. Tapi inilah yang terjadi.
Joon turun dari mobil Celia. Ia menatap sekeliling rumah Celia. Tempat ini bukanlah tempat yang pernah ia kunjungi.
"Ayo masuk! Kau harus banyak istirahat. Itu yang dokter katakan," nasihat Celia.
Joon mengangguk kemudian pergi menuju kamar Celia untuk beristirahat. Joon menatap kamar Celia dengan seksama.
Tiba-tiba saja netranya tertuju pada sebuah foto yang berada di atas meja belajar Celia. Sebuah foto lama terpampang disana.
"Foto ini...? Kenapa aku tidak melihatnya saat kemarin datang kesini?" Joon mengambil foto dua anak remaja laki-laki dan perempuan yang sedang tersenyum. Joon mengenali sosok yang ada di dalam foto itu.
__ADS_1
"Ini kan fotoku dan..." Joon tidak melanjutkan kalimatnya.
"Bagaimana bisa Celia memiliki foto ini? Apakah dia adalah...?"