Menantu Kedua Keluarga Lee

Menantu Kedua Keluarga Lee
Diantara Duka dan Kebahagiaan (1)


__ADS_3

Celia masih menangis tersedu dalam dekapan Jae Joong. Masih teringat dengan jelas perbincangan dirinya dengan sang ibu yang berakhir dengan sebuah perdebatan.


Sebenarnya Celia memang tidak marah pada Sang Mi. Hanya saja ia tidak suka dengan cara Sang Mi berkata yang selalu mengungkit masa lalu Mi Ran.


Beberapa jam yang lalu, Celia menghampiri Sang Mi yang sedang membuat kimchi di dapur. Sang Mi memang terbiasa menyiapkan semua makanan di malam hari. Agar saat pagi hari ia tidak terlambat untuk membuka warung.


Celia yang baru saja menidurkan Mi Ran, mendapatkan tatapan kurang menyenangkan dari Sang Mi.


"Eun Chae, ibu tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Kenapa kau malah mengizinkan gadis kaya itu untuk datang lagi kemari? Apa kau tidak lihat bagaimana tatapannya terhadap Kang Joon? Jelas-jelas gadis itu menyukai Kang Joon. Apa kau akan diam saja?"


Celia terdiam sejenak. Sebenarnya ia juga tidak suka dengan sikap Ji Hyo. Tapi, Celia tahu jika Ji Hyo bukanlah gadis yang mudah menyerah. Kebiasaan para gadis kaya adalah mendapatkan apa yang mereka mau.


Celia menghela napas. Ia tahu ibunya khawatir jika hubungannya dengan Joon akan kembali runyam dengan kehadiran Ji Hyo. Ditambah lagi kemarin Hye Ri juga membuat Sang Mi marah.


"Aku percaya pada Kang Joon, Bu. Dan aku rasa Ji Hyo memang gadis kesepian yang butuh teman. Aku bersedia jadi temannya."


Sang Mi menghela napas. "Kau tidak perlu memikirkan orang lain. Sementara kau sendiri belum di terima di keluarga Kang Joon. Eun Chae, dengarkan ibu sekali ini saja."


Sang Mi menghentikan aktifitasnya dan memegangi kedua tangan Celia.


"Katakan saja dengan jujur jika Mi Ran bukanlah anakmu..."


Celia menepis tangan Sang Mi. Bukan bermaksud kasar. Tapi Celia tidak ingin Mi Ran sampai mendengar pembicaraan mereka.


"Bu, tolong jangan bahas ini lagi. Ibu sendiri tahu seperti apa arti Mi Ran bagiku." Celia mulai berkaca-kaca.


Sang Mi memalingkan wajah. Baginya percuma saja bicara dengan Celia. Putrinya itu sangat keras kepala sejak dulu. Sang Mi mencuci tangannya di wastafel kemudian melepas apronnya.


"Ibu mau kemana?" tanya Celia ketika melihat Sang Mi melangkah pergi dari dapur.


"Ibu akan berbelanja! Persediaan untuk warung sudah hampir habis." Sang Mi mengambil dompetnya di dalam kamar.


Celia mengekori Sang Mi. "Kenapa tidak besok saja belanjanya? Ini sudah malam, Bu."


Sang Mi menatap Celia. "Masih pukul sembilan malam. Ibu terbiasa berbelanja jam segini. Kau tidurlah dulu! Jangan menungguku!" Sang Mi langsung keluar rumah tanpa mengindahkan panggilan Celia.


Celia tidak pernah menyangka, jika malam ini adalah malam terakhir dirinya bertemu dengan Sang Mi. Dan yang paling Celia sesali adalah ia masih saja mendebat sang ibu karena masalah Mi Ran, yang jelas-jelas tidak ada hubungan darah dengannya.


Tangis Celia makin keras ketika mengingat semua perdebatan dengan sang Ibu. Jae Joong makin mengeratkan dekapannya pada lengan Celia. Ia mengusap pelan agar Celia lebih tenang.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


Suara seseorang yang cukup keras membuat Celia langsung melepaskan diri dari Jae Joong. Celia sangat mengenal suara itu.


"Kang Joon..." Celia sangat kaget karena Joon telah sampai di rumah sakit.


"Tuan, tolong jangan salah paham dulu!" Jae Joong langsung menyela karena dia tahu jika Joon sedang marah.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Joon dengan wajah bingung. Pasalnya saat tadi di telepon Celia, wanita itu hanya mengatakan jika meminta Joon untuk segera pergi ke rumah sakit tanpa penjelasan apapun. Saat itu Celia terlalu syok, makanya ia hanya bisa menangis tanpa bicara banyak.


"Kang Joon, Ibu..." Celia tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena seorang perawat menghampiri mereka.

__ADS_1


"Maaf, Nona. Silakan urus administrasi untuk pemulangan jenazah Nyonya Ju Sang Mi."


Kata-kata perawat membuat Joon membelalak. Joon menatap Celia yang makin menangis histeris. Tanpa menunggu lagi, Joon langsung memberikan pelukan hangat pada Celia.


"Ada apa ini? Kenapa bisa begini?" tanya Joon sambil memeluk erat Celia. Celia hanya menggeleng tidak tahu harus berkata apa.


"Biar aku saja yang mengurus administrasinya. Tuan, kau jaga Celia saja." Jae Joong segera mengikuti langkah perawat menuju ke tempat administrasi.


Di tempat berbeda, Hye Ri yang masih ketakutan dan gemetar dengan perbuatan yang baru saja ia lakukan, memilih untuk kembali menemui ibunya di rumah. Hye Ri mengetuk pintu rumah itu dengan cukup keras.


"Siapa yang datang malam-malam begini?" gerutu Hye Mi yang baru saja akan memejamkan mata.


"Hye Ri? Kenapa kau kembali lagi?" tanya Hye Mi bingung.


"Ibu..." Wajah Hye Ri pucat. Dan tangannya gemetar.


"Ada apa denganmu? Ayo masuk!" Merasa ada yang aneh dengan putrinya, Hye Mi segera membawa Hye Ri masuk ke dalam rumah.


Hye Ri duduk di kursi ruang tamu yang sederhana. Hye Mi mengambilkan air minum untuk Hye Ri.


"Ada apa? Kenapa kau kembali lagi?" tanya Hye Mi lagi ketika Hye Ri telah menghabiskan air yang diberikannya.


"I-bu..." Hye Ri tak mampu berkata-kata. Ia masih ketakutan dan menangis.


Hye Mi menunggu putrinya tenang agar bisa bercerita. "Sebaiknya kau istirahat di kamar lamamu. Ibu lelah, ibu ingin tidur." Hye Mi berlalu meninggalkan Hye Ri. Setelah tadi Hye Ri memarahi Hye Mi, rasanya hatinya masih kesal dengan sikap putrinya yang tak pernah baik padanya. Terkadang Hye Mi iri dengan Sang Mi yang diperlakukan dengan baik oleh Celia.


"Aku menabrak Bibi Sang Mi..."


"A-apa katamu?" tanya Hye Mi yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hye Ri.


"A-aku sudah membunuh bibi Sang Mi," ucap Hye Ri dengan suara bergetar.


Hye Mi mendekati Hye Ri dan memegangi kedua pundaknya. "Katakan yang jelas! Bagaimana bisa kau menabrak Sang Mi?"


Hye Ri menceritakan semua kronologi kejadian beberapa jam lalu pada Hye Mi dengan suara tergagap. Meski begitu, Hye Ri berhasil menyelesaikan ceritanya.


Hye Mi menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan putrinya. Bagaimana bisa putrinya melakukan hal sebesar ini terhadap Sang Mi. Meski Hye Mi kesal pada Sang Mi, tapi ia tidak menyangka jika Hye Ri akan mengambil langkah ini.


Setelah melihat Hye Ri sedikit tenang, Hye Mi memapah Hye Ri menuju kamarnya. Putrinya ini memang bersalah, tapi Hye Mi tak bisa mengabaikan Hye Ri begitu saja.


Malam ini, meski dengan perasaan berat hati, Hye Mi mencoba untuk memejamkan matanya dan beristirahat.


*


*


*


Kantor Lee Ni Grup.


Kang Moon menghubungi Jae Joong yang lagi-lagi datang terlambat. Sungguh ia mulai muak dengan sikap sekretarisnya yang mulai bertindak sesuka hatinya. Bahkan Jae Joong kerap kali izin tidak masuk kerja dengan alasan yang terkesan aneh.

__ADS_1


"Halo, kau dimana? Kenapa belum tiba di kantor?" kesal Kang Moon.


"Maaf, Tuan. Salah seorang kenalan saya sedang mengalami musibah. Saya izin tidak masuk kerja hari ini."


"Apa? Lagi? Kau ini sebenarnya masih ingin bekerja disini atau tidak?" Kang Moon semakin marah.


"Maafkan saya, Tuan. Saya janji ini adalah yang terakhir. Saya tidak akan mengulanginya lagi."


"Hah! Baiklah. Kali ini aku mengizinkanmu. Tapi jika besok-besok kau melakukan ini lagi, sebaiknya kau angkat kaki dari perusahaan ini," tegas Kang Moon.


"Baik, Tuan. Sekali lagi terima kasih."


Panggilan terputus. Kang Moon merebahkan tubuhnya dengan kasar di kursi kebesarannya. Tak lama setelahnya, pintu ruangan Kang Moon nampak diketuk.


"Masuk!" perintahnya.


"Permisi, Tuan!" Hwan masuk ke ruangan Kang Moon dan memberi hormat.


"Ada apa?" tanya Kang Moon dingin.


"Hari ini saya akan menggantikan tugas sekretaris Moon untuk membantu Anda. Kebetulan hari ini tuan Kang Joon juga sedang cuti," ucap Hwan dengan jelas dan datar.


Kang Moon mengernyitkan dahinya. Tapi ia tak ingin bertanya lebih lanjut. Karena saat ini ia memang butuh bantuan dari sekretarisnya.


Kang Moon mengangguk dan langsung memerintah Hwan untuk segera melakukan tugasnya. Dalam hati, Kang Moon bertanya-tanya. Kenapa bisa Joon dan Jae Joong tidak masuk dalam waktu yang bersamaan.


Sementara itu, Celia dan Joon kini berada di rumah duka. Para pelayat mulai berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Sang Mi. Dengan setia Joon selalu mendampingi Celia yang masih nampak terpukul dengan meninggalnya Sang Mi.


Diantara para pelayat, datanglah Hye Mi untuk mengucap salam perpisahan pada sang adik ipar. Meski hubungan mereka kurang baik, tetap saja Hye Mi tidak bisa mengabaikan kematian Sang Mi. Ditambah lagi, Hye Ri putrinya adalah penyebab meninggalnya Sang Mi.


Meski hatinya ketakutan jika ada yang mengetahui perbuatan putrinya, tapi sebisa mungkin Hye Mi bersikap tenang dan seakan tidak terjadi apapun kemarin malam.


"Aku turut berduka, Eun Chae. Semoga ibumu tenang disana!" ucap Hye Mi saat bertemu Celia.


"Terima kasih, Bibi." Celia hanya menjawab lirih.


Hye Mi melirik pria yang setia mendampingi Celia. "Jadi ini adalah adik ipar Hye Ri? Hmm, tampan juga. Pantas saja Hye Ri sampai mengejar-ngejar dirinya. Sayang sekali ternyata dia lebih memilih Eun Chae."


Hye Mi nampak mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang. Ya, Hye Mi mencari sosok Mi Ran, yang adalah cucunya sendiri. Tapi, sepertinya Mi Ran tidak ada disana.


Setelah tidak melihat Mi Ran dimanapun, Hye Mi memutuskan untuk pergi dari rumah duka. Bertepatan dengan Hye Mi keluar dari dalam rumah duka, Jae Joong turun dari mobil bersama dengan Mi Ran.


Sebenarnya Celia sengaja membiarkan Mi Ran ada di rumah bersama Jae Joong. Celia tidak ingin Mi Ran melihat kesedihan dirinya. Mi Ran masih terlalu kecil untuk memahami semua ini.


Namun ternyata, Mi Ran memaksa Jae Joong agar mengantarkan dirinya ke rumah duka dan berkumpul bersama ibunya. Jae Joong menatap Hye Mi yang terlihat pergi dengan terburu-buru.


"Bukankah itu ... Ibunya Hye Ri? Kenapa dia bisa ada disini? Apa dia mengenal bibi Sang Mi?" batin Jae Joong.


Lamunannya buyar karena Mi Ran menarik tangannya dan meminta untuk masuk ke rumah duka.


"Paman, ayo masuk!" ajak Mi Ran.

__ADS_1


"Iya, mari kita masuk!"


__ADS_2