
Jae Joong menunggu di depan ruang IGD dengan harap-harap cemas. Meski ia membenci Hye Ri, tapi ia tidak ingin hidup Hye Ri berakhir begitu saja.
Jae Joong akhirnya mendapatkan bukti keterlibatan Hye Ri dalam kecelakaan Sang Mi. Jae Joong ingin memberikan bukti itu kepada Celia. Tapi waktunya masih kurang pas karena Celia masih mengurus Mi Ran. Ia akan menunggu hingga Mi Ran mendapatkan donor. Atau setidaknya sampai Hye Ri bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Mi Ran.
Seorang perawat menghampiri Jae Joong.
"Pasien sudah dalam kondisi stabil. Beruntung lukanya tidak terlalu parah. Anda bisa menjenguknya di ruang rawat."
Jae Joong menghembuskan napas lega. Kini ia harus menata hati untuk bicara dengan Kang Joon dan Celia.
Satu minggu kemudian,
Byung Man sudah melewati masa kritisnya. Ae Gyo sangat bersyukur suaminya selamat usai melakukan pemasangan ring untuk jantungnya.
"Setelah ini kau harus pensiun, Suamiku. Kau jangan terlalu lelah. Serahkan perusahaan kepada Kang Moon dan Kang Joon."
Byung Man tersenyum. "Apa sudah ada kabar tentang Kang Moon?"
Ae Gyo menggeleng. "Sepertinya dia memang ingin menenangkan diri lebih dulu. Aku dengar dia mengirim pengacara untuk mengurus gugatan cerainya pada Hye Ri. Aku sedih melihat Kang Moon menderita. Tapi akan lebih baik jika dia berpisah dengan wanita itu. Aku harap dia akan menemukan wanita baik seperti Celia."
Byung Man mengangguk. Ia baru teringat dengan Mi Ran.
"Bagaimana kondisi Mi Ran?"
"Mi Ran masih menunggu donor yang cocok."
Byung Man menghela napas. "Semoga saja Mi Ran cepat mendapatkan donor. Kasihan gadis kecil itu."
Ae Gyo hanya tersenyum. Rasanya ia masih belum sanggup memberitahu Byung Man jika sebenarnya Hye Ri adalah ibu kandung Mi Ran. Kondisi suaminya baru saja membaik, ia tidak akan membebani pikiran Byung Man dengan hal yang berat.
Hye Ri masih dirawat di rumah sakit, tapi statusnya kini menjadi tersangka dari beberapa kasus kejahatan yang ia lakukan. Tubuh lemahnya terborgol dengan brankar. Di hadapannya ada Jae Joong, Kang Joon dan Celia yang menunggu satu patah kata terucap dari bibirnya.
"Kenapa kakak melakukan semua ini padaku? Apa salahku pada kakak hingga kakak tega menabrak ibuku?" tangis Celia pecah ketika ingin mendengar sendiri pengakuan Hye Ri.
Wajah pucat Hye Ri menatap Celia. "Kau benar! Akulah yang sudah menabrak ibumu! Jika saja dia tidak mengancamku, maka semua ini tidak akan terjadi."
Kang Joon begitu marah dengan Hye Ri. Wanita ular itu sudah menyakiti keluarganya dan juga Celia. Namun sebisa mungkin Kang Joon menahan emosinya.
"Sekarang hidupku juga sudah berakhir, Eun Chae. Tidak ada lagi yang bisa aku harapkan."
Jae Joong menatap Hye Ri. "Kau masih punya Mi Ran. Bagaimanapun juga, dia adalah anakmu!"
Hye Ri tersenyum getir. "Ya, baiklah. Aku akan mendonorkan sumsum tulang belakangku untuk Mi Ran. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuknya." Untuk pertama kalinya Jae Joong melihat air mata Hye Ri menetes.
Masa kejayaan Hye Ri sudah berakhir. Kang Moon juga sudah menggugat cerai dirinya. Ibunya juga kini dipenjara karena sudah membantu menutupi semua kejahatan Hye Ri.
"Maafkan aku, Eun Chae. Maafkan aku, Jae Joong..."
Celia tak kuasa menahan kesedihannya. Ia memilih meninggalkan Hye Ri di kamar rawatnya. Dengan setia Kang Joon selalu menemani Celia.
Tiga bulan kemudian,
Celia sedang memasak di dapur untuk bekal Mi Ran yang akan mengunjungi Jae Joong di kampung halamannya. Sejak semua hal sudah kembali normal, Jae Joong memilih untuk kembali ke kampung ibunya dan tinggal disana.
__ADS_1
Tiap liburan Mi Ran selalu berkunjung kesana. Mi Ran sudah menerima semua takdirnya. Ia juga menerima Jae Joong sebagai ayah kandungnya.
"Mi Ran, jangan merepotkan ayah Jae Joong ketika disana. Kau mengerti?!"
"Iya, Bu."
Celia mengusap puncak kepala Mi Ran.
"Mi Ran, ayo!" Kang Joon sudah siap untuk mengantar Mi Ran ke tempat Jae Joong.
"Pamit dulu pada kakek dan nenek."
Mi Ran menemui Byung Man dan Ae Gyo yang sedang bercengkerama di ruang keluarga. Mereka lega karena kini kehidupan keluarga Lee sudah normal seperti biasanya.
"Bagaimana kabar Kang Moon?" tanya Byung Man yang kini kondisinya sudah pulih.
"Dia baik-baik saja disana. Dia menjadi bos perkebunan milik ibuku," jawab Ae Gyo dengan senyum merekah.
Mereka tidak lagi memaksa Kang Moon untuk kembali ke rumah. Biarlah putra sulungnya itu memilih jalan hidupnya sendiri asalkan ia bahagia.
Kini Lee Ni Grup dipimpin oleh Kang Joon, putra keduanya. Dan yayasan Lee Ni kini dipegang oleh Celia, si menantu kedua.
"Kita bisa menikmati masa tua kita dengan tenang." Byung Man memeluk sang istri dengan penuh cinta.
"Kau benar, Suamiku. Ternyata menantu kedua kita banyak memberikan pelajaran untuk kita. Semua kesakitan dan perjuangan hidupnya, mengajarkan kita untuk tidak memandang rendah terhadap orang lain."
"Hahaha, kau benar. Dia adalah menantu terbaik. Semoga saja mereka segera memberi kita cucu ya!"
Mi Ran berseru gembira ketika melihat Jae Joong sedang berada di kebun miliknya.
"Ayah!" seru Mi Ran.
"Hai, anak ayah!" Jae Joong menggendong Mi Ran.
"Terima kasih karena sudah mengantar Mi Ran," ucap Jae Joong pada Kang Joon.
"Tidak masalah. Kalau begitu aku langsung pamit ya. Akhir-akhir ini kondisi Celia agak aneh. Dia suka meminta hal yang aneh dan harus selalu aku turuti."
Jae Joong mengangguk. "Kalau begitu biarkan Mi Ran liburan dulu disini. Jangan khawatir, aku akan mengurusnya dengan baik."
Kang Joon menepuk bahu Jae Joong kemudian berlalu. Kang Joon mendapat panggilan dari Celia yang memintanya untuk membeli camilan. Dan harus di beli di toko B.
Kang Joon memutar bola mata malas. "Ada apa sih dengannya? Suka meminta hal yang aneh. Padahal di rumah juga banyak camilan."
Celia sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga Lee. Tiba-tiba ia merasakan mual yang membuatnya harus pergi ke kamar mandi.
"Celia! Kau tidak apa-apa?" tanya Ae Gyo yang ikut cemas dengan kondisi sang menantu.
"Iya, Bu. Aku tidak apa."
"Wajahmu pucat. Sebaiknya kau istirahat saja. Aku akan menghubungi dokter."
"Tapi, aku baik-baik saja, Bu."
__ADS_1
"Sudahlah, kau istirahat saja di kamar."
Tak lama setelahnya, seorang dokter keluarga datang untuk memeriksa kondisi Celia. Akhir-akhir ini dirinya memang mengeluh sering lelah dan mengantuk.
Dokter wanita itu tersenyum ke arah Kang Joon, Byung Man dan Ae Gyo.
"Selamat ya! Nona Celia sedang mengandung."
Tentu saja kabar itu membuat Kang Joon sangat gembira. "Sayang, kau hamil. Sebentar lagi kita akan jadi orang tua." Kang Joon memeluk Celia dengan penuh cinta.
Byung Man dan Ae Gyo juga tak kalah bahagia. Mereka sangat senang karena sebentar lagi akan menjadi nenek dan kakek.
Celia mengucap syukur yang teramat banyak. Di saat dirinya kehilangan banyak hal di dalam hidup, kini kebahagiaan silih berganti datang dan melengkapi hidupnya. Selama ini ia tidak merasakan hangatnya sebuah keluarga yang utuh. Tapi setelah datang sebagai menantu kedua di keluarga Lee, Celia mendapat banyak cinta dan kehangatan sebuah keluarga.
Di sebuah rumah tahanan wanita, Hye Ri menatap dinding kokoh yang akan menjadi rumahnya selama beberapa tahun ke depan.
"Shin Hye Ri, ada yang mencarimu!" ucap seorang penjaga wanita.
Dengan langkah gontai Hye Ri berjalan menemui orang yang mencarinya. Sudah enam bulan ia mendekam disini dan tidak ada satu orang pun menjenguknya. Lalu kenapa tiba-tiba ada yang datang?
"Mi Ran? Eun Chae?" Mata Hye Ri membola menatap putri yang sudah ia buang itu.
"Ibu..." Mata Mi Ran berkaca-kaca menatap ibu kandungnya.
"Untuk apa kalian datang kemari?" Hye Ri memalingkan wajahnya. Rasanya ia tak mampu menatap Celia dan Mi Ran. Orang yang banyak ia sakiti selama ini.
"Syukurlah jika kakak baik-baik saja. Tebuslah semua kesalahan kakak disini. Dan setelahnya kakak harus hidup dengan baik. Aku tidak akan menjauhkan kakak dari Mi Ran. Karena bagaimanapun juga, Mi Ran adalah putri kandung kakak."
Kata-kata Celia membuat Hye Ri menangis pilu. Ternyata orang yang selama ia sakiti bersedia memaafkan dirinya.
"Terima kasih, Eun Chae. Terima kasih."
Mi Ran dan Celia keluar dari rumah tahanan dan disambut Kang Joon yang menunggu di luar.
"Aduh!" Tiba-tiba saja Celia mengaduh kesakitan.
"Ibu, ibu kenapa?" tanya Mi Ran panik. Terlebih Kang Joon.
Celia meringis lalu tersenyum. "Sepertinya adikmu sudah mulai pandai menendang."
Mi Ran dan Kang Joon saling pandang.
"Mungkin dia laki-laki!" seru Kang Joon.
"Tidak, Ayah. Dia perempuan. Dia cantik seperti ibu!"
"Tidak, dia laki-laki!"
"Ish, Ayah. Dia perempuan!"
Dan begitulah perdebatan ayah dan anak yang menantikan bayi mungil lahir ke dunia. Celia hanya memutar bola mata malas melihat perdebatan itu.
...E N D...
__ADS_1