
"Nona Celia?"
Celia tertegun mendengar namanya disebut.
"Eh? Kau mengenalku?" tanya Celia bingung.
Jae Joong tersenyum. "Siapa yang tidak mengenal Anda, Nona?"
Celia tersenyum kikuk. Ia bahkan menggaruk tengkuknya.
"Oh iya, Tuan. Kau terluka! Mari ikut ke rumah. Aku akan mengobatimu!"
Dengan senang hati Jae Joong berkunjung ke rumah Celia. Tidak disangka jika Celia memiliki rumah yang sederhana.
"Jadi, Nona memutuskan untuk pensiun dari dunia hiburan dan tinggal disini?" tanya Jae Joong.
Celia sedikit enggan menjawab. Pasalnya, pria ini baru saja ditemuinya. Dan mereka tidak saling kenal.
Paham dengan sikap Celia, Jae Joong akhirnya memperkenalkan diri.
"Saya Moon Jae Joong. Saya adalah sekretaris dari Tuan Lee Kang Moon."
Celia yang sedang mengobati luka di siku Jae Joong mendadak diam.
"Apa? Jadi kau adalah..."
"Benar! Saya sekretaris kakak ipar Anda, Nona."
Celia makin tidak enak hati. "Maaf ya. Mi Ran sudah membuatmu terluka. Ini semua karena salahku. Aku tidak mengawasinya dengan baik." Celia melirik Mi Ran yang kini bersembunyi. Mi Ran tidak berani menampakkan batang hidungnya karena takut ibunya akan marah.
"Terima kasih, Nona," Ucap Jae Joong ketika Celia selesai memasang plester di sikunya.
Tanpa diduga, Jae Joong malah menghampiri Mi Ran yang bersembunyi di balik tembok.
"Halo, anak manis. Siapa namamu?" tanya Jae Joong sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Mi Ran.
"Namaku Park Mi Ran," Jawab Mi Ran tertunduk malu.
"Jangan takut! Paman baik-baik saja. Lain kali kau harus bersama dengan orang dewasa jika ingin menyeberang jalan. Apa kau mengerti?"
__ADS_1
Mi Ran menganggukkan kepala. "Maafkan aku, Paman."
Jae Joong mengacak pelan rambut Mi Ran. Getaran di ponselnya membuat Jae Joong harus menjauh dari Mi Ran. Sebuah panggilan dari Kang Moon yang memintanya segera pergi ke kantor.
"Nona Celia, maaf aku harus pergi. Sekali lagi terima kasih atas obatnya."
"Ah, jangan sungkan. Justru aku yang berterimakasih karena kau sudah menolong Mi Ran. Oh ya, omong-omong apa kau baru pindah kemari?"
Jae Joong mengangguk. "Iya, aku tinggal di rumah seberang sana. Kalau begitu aku permisi!" Jae Joong membungkukkan kepala kemudian berlalu.
Mi Ran melambaikan tangannya saat mobil Jae Joong melaju. Senyum terukir di bibir Jae Joong. Entah kenapa ia merasa jika Mi Ran adalah anak yang menyenangkan.
Namun ada satu hal yang mengganjal di hati Jae Joong. Yaitu mengenai Celia yang ternyata telah memiliki seorang anak.
"Aku tidak menyangka jika Celia sudah memiliki seorang anak. Lalu, siapa ayahnya?" Gumam Jae Joong sambil terus melajukan mobilnya menuju kantor Lee Ni Grup.
Di tempat berbeda, Kang Joon masih melamun mengingat tentang perdebatannya dengan sang ayah. Byung Man mengizinkan Joon untuk membawa ke rumah tapi tanpa Mi Ran.
Joon mengusap wajahnya kasar. Joon tidak mungkin tega membuat Mi Ran kehilangan ibunya lagi. Setelah bertahun-tahun Mi Ran hidup tanpa kehangatan kasih sayang sang ibu, Joon tidak akan membuat Mi Ran sedih dengan mengajaknya pindah ke rumah orang tuanya.
"Hah! Aku harus bagaimana? Jika seperti ini, perseteruanku dengan ayah tidak akan pernah berakhir."
...***...
Wanita itu terlihat kaget saat melihat sosok Jae Joong. Dengan segera ia menghindar. Namun Jae Joong yang masih hapal jika itu adalah ibu Hye Ri, ia pun segera mengejar wanita itu.
"Tunggu! Nyonya! Tunggu!" Jae Joong dengan langkah panjangnya berhasil mencekal lengan Hye Mi.
"Bibi!" Panggil Jae Joong.
"A-ada apa? Siapa kau?" Tanya Hye Mi tanpa melihat ke arah Jae Joong.
"Bibi, ini aku! Moon Jae Joong. Aku adalah teman pria Hye Ri."
Hye Mi tampak gugup. Ia sungguh tidak mengira jika Jae Joong akan datang kembali setelah sekian lama.
"Bibi! Aku tidak akan berbasa basi denganmu. Aku tahu jika Hye Ri pernah hamil dan melahirkan. Dimana anak yang dilahirkan Hye Ri?" tanya Jae Joong tak ingin berbasa basi. Ia tahu jika sifat Hye Mi juga sama dengan Hye Ri yang pandai bersilat lidah.
"Ma-maaf! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Aku harus pergi!" Hye Mi kembali melangkah. Namun Jae Joong tidak akan melepaskannya.
__ADS_1
"Katakan yang sebenarnya atau hidup putrimu akan terancam!"
Mendengar ancaman dari Jae joong, Hye Mi sedikit takut. Tapi ia tidak akan dengan mudah memberitahu kebenarannya.
"Aku benar-benar tidak tahu! Kau tanyakan saja pada Hye Ri!" Sentak Hye Mi kemudian berlalu pergi.
Jae Joong hanya menghela napas kasar. Ia memutuskan akan kembali menemui Hye Ri dan bertanya padanya. Tentunya di bumbui dengan ancaman-ancaman yang akan membuat Hye Ri tak berkutik.
...***...
Jae Joong sengaja menunggu Hye Ri di depan kantor yayasan tempatnya bekerja. Hye Ri terus memghindar. Tapi begitu Jae Joong menunjukkan foto hasil USG dan juga hasil pemeriksaan Hye Ri yang di dapat dari rumah sakit, Hye Ri tak bisa mengelak lagi.
"Dimana anakku?" tanya Jae Joong dengan mata merah menyalang menatap Hye Ri.
"Katakan dimana anakku?!" Jae Joong menggoyangkan tubuh Hye Ri.
Hye Ri tersenyum sinis. "Apa maksudmu dengan anak? Aku tidak pernah hamil dan melahirkan! Jadi, mana mungkin aku mengandung anakmu!"
"Shin Hye Ri!" Teriak Jae Joong dengan geram. "Kenapa kau tidak pernah mengatakan apapun padaku, hah? Aku berhak tahu tentang anakku!"
Hye Ri tersenyum mengejek. Ia menepis tangan Jae Joong dengan kasar.
"Aku tidak sudi memiliki anak dari pria sepertimu! Anak itu adalah penghalang dari semua impianku! Anak itu sudah merenggut semuanya dariku! Anak itu sudah mati!"
Hye Ri mengatur napas usai meluapkan kekesalannya pada Jae Joong.
"A-apa katamu?" Jae Joong meminta kejelasan.
"Anakmu sudah mati! Jadi, jangan pernah menanyakan hal ini lagi padaku! Hubungan kita sudah berakhir. Jadi, jangan mengungkit hal yang sudah lalu. Aku bahkan menyesal pernah mengenal pria pecundang sepertimu!" Hye Ri melangkah masuk ke dalam kantornya dan tidak mempedulikan tentang Jae Joong.
Tubuh lemas Jae Joong menyusuri jalanan ke tempat rumah yang di sewanya. Rasanya hatinya begitu hancur ketika mendengar jika anaknya telah meninggal.
"Tega sekali kau, Hye Ri. Kau sudah membunuh anakku! Darah dagingku!" Jae Joong menangis meraung-raung di rumahnya. Ia tak peduli jika ada orang lain yang mendengar jeritannya. Ia hanya ingin meluapkan kesedihannya.
Di sisi lain, Joon baru saja tiba di rumahnya. Ia disambut oleh Byung Man dan juga Ae Gyo.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ada disini?" tanya Joon bingung.
"Ayah mengalah! Kau ajaklah Celia dan juga anaknya datang kemari. Ayah ingin bertemu dengan mereka!" ucap Byung Man dengan ekspresi datar.
__ADS_1
Meski Joon tahu Ayahnya terpaksa, tapi ia tetap bersyukur. Itu artinya kesempatannya untuk mengambil hati Byung Man semakin besar.
"Baik, Ayah! Akhir pekan ini aku akan membawa Celia dan Mi Ran kemari. Ayah pasti akan menyukai Mi Ran!" Balas Joon dengan wajah sumringah.