
Hari ini ulang tahun yang di tunggu-tunggu Alya. Yudi juga sudah datang dari tadi siang ke rumah Alya. Membantunya bersiap-siap. Karena ini hanya acara keluarga jadinya tidak akan ada pesta-pesta meriah seperti pesta ulang tahun umumnya.
Audi mendekati Alya yang sedang sibuk di dapur, membantu mamanya dan saudara-saudaranya yang sedang emmasak makan malam untuk acara ulang tahun Alya.
"Ada yang bisa gue bantu gak?" Tanya Audi yang sudah berdiri disamping Alya.
Alya melirik sekilas Audi, lalu tersenyum simpul. "Gak usah Di, lo duduk aja. Nanti ngerepotin lagi" Ujarnya yang kini sibuk mending bawang.
"Lah jadi gunanya gue di sini ngapain?" Celutuk Audi tidak terima, kalau dia hanya di suruh duduk diam sambil terus menontoni orang-orang yang sedang sibuk. Mending tadi dia tiduran aja di rumah, datangnya nanti saja saat acara akan di mulai. Huh, Alya pasti bakalan berfikir kalau Audi akan mengacaukan dapur.
"Yaudah sini lo ikutan gue ngerjain cabe!" Alya menatap malas Audi.
"Ok" Audi dengan semangat mengambil pisau lalu duduk di samping Alya, mulai merajang cabai.
"Jadi lo emang beneran mau tunangan sama Dino?" Tanya Audi berbisik pelan. Takut kedengaran orang lain.
"Iya" Jawab Alya yang ikut-ikutan berbisik pada Audi.
"Lo yakin Al? Masa kita kan masih SMA jugak, masak udah main tunangan aja" Audi tampaknya kurang setuju dengan rencana Alya. Hello, masa depan masih panjang, kenapa cobak harus cepat-cepat tunangan. Yang pastinya kalau udah tunangan mereka gak lama lagi bakalan nikah kan? Memikirkannnya saja membuat Audi pusing. Mereka masih muda tapi sudah harus berkeluarga. Menikah muda itu tidak ada dalam kamusnya Audi.
"Yakin gak yakin sih" Kan, Alyanya saja tidak begitu yakin. "Tapi gue udah buat kesepakatan juga sama Dino, kami gak bakalan nikah dulu sebelum tamat kuliah" Alya menjelaskan panjang lebar.
"Mmmmm, gitu. Bagus lah kalau gitu, gue jadinya masih punya temen main" Audi terkekeh pelan. "Takutnya kan kalau lo nikah cepet-cepet lo jadi bakalan lupain gue, karena sibuk ngurus anak" Audi tidak bisa menahan tawanya, dan akhirnya tertawa keras.
Alya hanya membrengut kesana mendengar ucapan Audi, memang ada benar nya juga sih.
"Wah asyik banget kayaknya cerita kalian" Ujar seseorang yang baru saja datang dan duduk di hadapan Audi.
Audi mengarahkan pandangan pada orang yang baru datang itu. Sedikit terkejut, Audi tidak menyangka akan berjumpa di sini lagi dengannya, siapa lagi orang itu kalau bukan Fardhan.
"Loh kok lo bisa ada di sin" Tanya Audi tak percaya, ini beneran yang di lihatnya adalah Fardhan? Dia gak salah lihat kan?
__ADS_1
"Loh kalian udah saling kenal ya? padahal gue baru mau ngenalin tadi" Ujar Alya.
"Loh lo kenal sama dia Al?" Audi balik menatap Alya.
Alya mengangguk mantap. "Ini kakak sepupu gue Di" Jawaban Alya membuat Audi sedikit syok.
"Iya gue saudara Alya, lo terkejut ya Di" Sambung Fardhan.
Audi hanya mengangguk pelan, jelas ia terkejut. "Sedikit"
"Kalian kok bisa saling kenal sih?" Tanya Alya yang memang penasaran dengan Audi dan Fardhan.
"Kan satu sekolah, gue gak sengaja jumpa Audi kemarin itu yaudah kenalan" Jawab Fardhan.
Audi menyipitkan matanya, sebenernya kan bukan begitu cerita aslinya. Fardhan lah yang tiba-tiba mendatanginya, terus berlagak seperti orang yang sudah saling berkenalan. Tapi yasudahlah, tih sekarang mereka juga sudah berteman.
"Wah iya, gue lupa kalau lo satu sekolah sama kita" Ujar Alya.
Fardhan menoyor pelan kening Alya. "Woy gak sopan banget sih lo, panggil gue kakak" Yah, sepertinya Fardhan ini tipe manusia yang sangat tidak suka dengan orang yang kurang sopan.
"Yah lo sih udah di bilangin berulang kali" Balas Fardhan.
Oke, fakta baru yag Audi ketahui, ternyata Alya dan sepupu nya, siapa lagi kalah bujan Fardhan itu sama saja. Sama-sama cerewet gak menentu arah.
"Udah-udah jangan ribut!" Tegur mama nya Alya. "Kalian ini kan udah besar" Alya dan Fardhan cuman cengengesan minta di tabok.
"Yaudah sana aja kalian! Di sini malah nyemak-nyemak in" Celutuk mamanya Alya.
"Tapi ma, kan Al mau bantuin" Balas Alya dengan wajah yang memelas.
"Udah ah" Mama menarik tangan Alya dan Audi, lalu mendorong mereka agar pergi menjauhi dapur.
__ADS_1
"Yaudah deh" Alya mebrengut kesal, kalau beradu mulut dengan mamanya, dia tidak akan pernah menang. Tunggu datang ke ajaiban duku mungkin, baru dia akan menang.
"Kamu juga Fardhan, buat desa nafas aja" Mama Alya juga mendorong Fardhan.
"Mmmm, iya lah terserah tante" Ujarnya malas.
"Yaudah kita ke kamar aja, ada film yang mau gue tonton juga nih" Usul Alya sambil melihat ke arah Audi, meminta pendapatnya. Kalau Audi sih hanya mengangguk ikut-ikutan aja. Karena juga dia gak tau mau ngpain juga. Rencananya sih mau bantu masak, eh apalah daya dirinya juga tidak pintar masak, tapi ia kan juga ingin melihat dan belajar memasak. Dan lagi, karena ulah Fardhan dan Alya mereka jadi di usir dari dapur. Menyebalkan.
"Lo mau ikut gak?" Tanya Alya pada Fardhan. Fardhan mengangkat bahunya acuh. "Oh Yaudah kalau gak mau" Alya mengajak Audi menuju ke lantai atas, menuju kamarnya.
"Lo mau ajak gur nonton apa lagi ni?" Audi berjalan mengikuti Alya dari belakang, menaiki tangga menuju kamar Alya.
"Biasa, drakor" Alya tersenyum manis pada Audi. Audi menghela nafas pelan, bukannya ia tidak suka dengan drakor. Tapi ia akan sangat terganggu dengan reaksi Alya yang seperti orang gila saat menonton drama-drama itu. Kembali memikirkannya saja Audi sudah ingin sekali menutup telinganya rapat-rapat.
"Awas ya lo kalau jerit-jerit gak jelas lagi!" Audi memperingati.
"Tenang-tenang" Sahut Alya.
Audi baru saja akan menutup pintu kamar Alya, tapi langsung ia utungkan saat melihat Fardhan yang tengah tersenyum manis padanya, membuat Audi juga ikutan tersenyum. Entahlah, melihat Fardhan seperti itu, perasaan Audi menjadi menghangat.
"Siapa Di?" Teriak Alya saat melihat orang yang baru saja masuk ke kamarnya tanpa permisi.
"Gue" Fardhan yang menjawab, tersenyum songong pada Alya.
"Tadi lo bilang gak mau ikutan" Sindir Alya, melirik sinis Fardhan.
Setelah menutup pintu Audi mengikuti Alya yang sudah duduk kesehatan di lantai sambil membuka laptop nya.
"Pasti lo mau nonton drama-drama itu lagi kan" Tebak Fardhan.
"Hmm" Gumam Alya sedikit keras.
__ADS_1
Audi sedari tadi tak berhenti memperhatikan Alya dan Fardhan. Seperti nya mereka cukup dekat dan akrab, sampai-sampai Fardhan bisa meneng dengan benar apa yang akan di lakukan Alya.
Audi ber-puh pelan, andai dia juga punya saudara seperti Farhan pasti akan sangat menyenangkan. Tapi, ia tidak punya siapa-siapa selain ayahnya itu. Eh ada deng, Audi baru ingat. Kalau tidak salah dulu ayahnya pernah beberapa kali mengajaknya mengunjungi sanak saudara, tapi itu dulu sudah lama sekali. Sampai-sampai Audi juga sudah lupa seperti apa rupa mereka. Walaupun dia memiliki saudara, tapi tidak lah sama seperti Alya dan Fardhan. Mereka berdua tampak seperti benar-benar dekat.