
Pagi ini Saga memulai harinya dengan hati senang. Terbukti dari tadi ia sibuk membantu mamanya yang sedang memasak di dapur.
"Tumben banget kamu bangun pagi-pagi gini, terus bantuin mama?" Mama melirik heran pada Saga yang tidak berhenti senyum dari tadi. "Biasanya kan kamu mama bangunin dulu baru mau bangun" Sambung mama lagi.
"Saga kan udah berubah jadi anak baik ma" Jawab Saga dengan senyuman manisnya.
"Aaa" Mama mencubit geram pipi Saga. "Kok kamu makin imut aja"
"Kalau itu jangan di ditanya lagi ma" Saga tersenyum dengan angkuhnya.
"Is, turunan dari siapa sifat sombong kamu ini" Mama menatap tidak suka pada Saga.
"Papa" Jawab Saga sambil tertawa terbahak-bahak. Kalau boleh jujur papanya juga dulu tidak jauh berbeda dengan Saga yang sekarang. Itu yang cerita yag ia dengar dari nenek nya.
"Ada apa ini sebut-sebut papa?" Tanya papa yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu dapur.
"Papa ngapain kemari?" Tanya mama.
"Udah laper banget ma" Jawab papa sambil memeluk mama dari belakang.
Saga menatap tajam ke arah papa dan mamanya. "Kalau mau mesra-mesraan gak usah di sini!" Ujarnya sambil membawa beberapa piring untuk makan mereka.
"Heboh banget sih, ini kan rumah papa. Suka ati papa dong" Jawab papa sambil cekikikan. Mama pun ikut-ikutan tertawa bareng papa.
"Ck, jadi makan bareng gak? Saga masih banyak tugas ni" Teriak Saga dari ruang makan yang bersebelahan dengan dapur.
"Iya bentar" Jawab mama sekenanya.
Kemudian Saga dan keluarganya sarapan pagi bersama seperti biasanya.
"Emangnya kamu ada tugas apa sih? Kayak orang sok sibuk gitu?" Taya papa di sela makannya.
"Urusan anak muda pa" Jawab Saga sambil memainkan sebelah alisnya.
"Ngomong-ngomong mana calon menantu mama?" Mama mulai lagi dengan topik menyebalkan ini.
"Ma, masih pagi lo ini" Saga mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa rupanya kalau pagi-pagi?"
"Ah, mama" Saga menghentikan makannya. "Saga masih mau menjalani hidup kayak remaja lainnya lo, gak mau mikirin nikah-nikah dulu" Bantah Saga.
__ADS_1
"Kamu kan udah janji sama mama semalam, katanya mau" Mata mama mulai berair, tanda-tanda mau nangis.
"Kamu ya Saga mau jadi anak durhaka?" Papa menenangkan mama yag sudah nangjs di pelukan papa.
"Bukan gitu pa" Saga merasa bersalah karna membuat mama nya menangis.
"Jadi?" Tanya papa.
"Iya, iya besok Saga bawa calon menantu buat mama" Jawab Saga sedikit kesal.
"Yang bener?" Mama langsung menatap Saga dengan mata berbinar-binar. Sudah tidak nangis lagi.
'Gue tau, tadi itu cuman akal-akalan mama aja nangis' Batin Saga.
"Iya-iya" Jawab Saga malas. Mungkin memang seperti ini lah kisah hidupnya. Sungguh menyedihkan.
"Yaudah ah Saga mau keluar dulu cari angin. Disini panas banget" Saga langsung keluar rumah.
Ini hari libur. Dino pasti sangat sibuk dengan pacarnya, jadi tidak mungkin ia ngajak Dino nongkrong bareng.
Saga dan Dino memang sudah berteman sejak kecil. Itu yang membuat Saga kurang dekat dengan teman-teman yang lain. Karna sudah nyaman dengan Dino.
Saga merogoh masker yang sempat ia ambil tadi, dan langsung memakainya. Ini hari libur, ia sedang tidak mau di ganggu ciwi-ciwi centil yang urat malunya sudah putus kalau lihat cowok ganteng kayak dia.
Ia memang sangat bersyukur punya wajah ganteng dengan harta orangtuanya yang berlimpah. Tapi yang membuatnya miris tidak ada yang mengerti keadaanya.
Mama lebih sibuk memperhatikan papa daripada dirinya. Teman? hanya Dino yang ia punya. Itupun Dino tidak selalu bisa berada di dekat nya.
Saga mendongakkan kepalanya. Bagaimanapun juga ia harus tetap bersyukur. Akan ada banyak orang yang ingin berada di posisinya sekarang ini. Saga mengusap lembut air matanya yang tiba-tiba jatuh mengalir di pipinya.
'Kenapa lo jadi cengeng kayak gini?' Saga bertanya pada dirinya sendiri.
"Mau coklat?" Tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelah Saga dan menyodorkan sebatang coklat.
Ini masih pagi, pikir Saga. Tapi tak apalah, kata orang coklat bisa mengembalikan mood baik.
"Makasih" Ujar Saga sambil menoleh melihat orang itu.
"Lo lagi?" Saga tak percaya dengan orang yang ia lihat sekarang. Kenapa dunia sesempit ini. Sekarang moodnya makin buruk setiap melihat cewek yang selalu mencari ribut dengannya ini.
"Iya? Kenapa?" Tanya cewek itu santai.
__ADS_1
Saga berpikir sebentar sambil menggennggam coklat yang cewek itu berikan.
"Jangan-jangan lo stalking gue ya selama ini?" Saga kemudian menggeser duduk nya. Mencoba menjaga jarak dengan cewek itu.
"Hahhaha" Cewek itu tertawa lepas. "Ngapain juga gue stalking lo, gak ada guna" Ujar cewek itu sambil membuka bungkusan coklat seperti yang ia berikan pada Saga tadi.
Saga menatap curiga coklat yang ia pegang. Jangan-jangan coklat ini sudah di campur sesuatu sama ni cewek, pikir Saga.
Cewek itu melihat gelagat Saga yang menatap curiga pada coklat yang ia beri.
"Kalau lo gak mau makan ya udah buang aja" Ujar cewek itu sambil menggigit coklat miliknya.
Saga hanya diam, memandangi cewek yang ada di sampingnya. Cewek ini tampak berbeda dengan yang ia temui beberapa hari lalu.
"Mata lo mau gue colok?" Tanya cewek itu saat menyadari bahwa dari tadi Saga terus melihat ke arahnya.
"Apaan sih" Saga langsung memalingkan wajahnya melihat sekitar taman, sungguh ia sangat malu.
"Kata orang coklat bisa buat mood kita jadi lebih baik" Cewek itu menatap coklatnya yang sudah mau habis.
"Tadi gue lihat kayaknya mood lo lagi gak begitu bagus, makannya gue kasih tu coklat. Sumpah gue gak ada maksud apa-apa" Jelas cewek itu sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, mengisyaratkan kalau ia memang benar-benar bersumpah.
Saga tersenyum tipis. "Maaf gue kira.." Saga tidak melanjutkan kata-katanya.
"Gak apa" Jawab cewek itu sambil tersenyum manis.
"Oh iya kita belum kenalan kan?" Tanya cewek itu, ketika pertanyaan itu terlintas di otaknya.
"Lo gak kenal gue?" Tanya Saga tak percaya.
"Ya, kenal gitu-gitu aja" Cewek itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kan belum resmi" Sambungnya lagi.
"Kalau gitu kenalin, nama gue Saga" Saga menyodorkan tangannya.
"Audi" Cewek yang bernama Audi itu menyambut hangat jabatan tangan Saga.
Setelah berkenalan singkat mereka kemudian hanya diam. Tidak ada yang berani berbicara lebih dulu. Entah kenapa suasana jadi canggung seperti ini.
"Mmm, kalau gitu gue luan ya"Audi beranjak dari tempat duduknya sambil membawa sekantong belanjaan yang dari tadi ia letakkan di sampingnya.
"Lo mau pulang?" Tanya Saga basa-basi.
__ADS_1
"Iya" Jawab Audi kemudian dengan langkah cepat pergi meninggalkan Saga.
Saga kembali memandang coklat pemberian Audi tadi. "Audi" Bisiknya pelan.