
Audi melangkah pelan memasuki rumahnya yang lumayan besar. Langkahnya terhenti di depan lemari pendingin, kemudian membukanya. Audi langsung menyusun sayur-sayuran dan cemilan yang baru saja ia beli di minimarket yang tidak jauh dari rumahnya ini.
Saat Audi baru saja tamat SMP, ayah memutuskan untuk pindah ke kota ini. Dan menyekolahkan Audi di SMA paling populer di kota ini.
Audi juga sempat bertanya, kenapa harus pindah rumah? dan kenapa ia juga harus jauh-jauh masuk SMA di kota ini? padahal di tempat tinggal sebelumnya, jarak sekolah dengan rumahnya juga tidak jauh. Audi sempat protes pada ayahnya.
Saat Audi protes, ayahnya hanya tersenyum sambil berkata "Ini udah jadi keputusan ayah, kamu gak boleh bantah" Jawab ayah sambil tersenyum hangat pada Audi.
Ya, mau tidak mau akhirnya Audi juga ikut pindah ke rumah ini. Lagi pula selain ayahnya, Audi tidak punya siapa-siapa lagi. Mamanya, sudah lama meninggal saat melahirkannya dulu, hanya itulah yang Audi tau dari cerita ayahnya.
Ayah bahkan tidak pernah memberitahu seperti apa ciri-ciri mamanya. Ayah bilang nanti ada saatnya Audi tau. Audi hanya meng-iyakan setiap perkataan ayah.
Ayahnya juga memutuskan untuk tidak menikah lagi. Katanya sih, agar lebih fokus merawat Audi.
Ayah Audi ialah seorang pengusaha toko kue. Dan sekarang toko kue mereka juga sudah buka dua puluh cabang di kota-kota besar negara ini. Ayah lebih sering mengurus Audi dari pada tokonya. Tapi tentu saja toko kue nya tidak di biarkan begitu saja. Ayah sudah mempercayakan urusan toko pada orang kepercayaan nya.
Audi mengarahkan pandangannya ke sekeliling rumah, mencari ayahnya. Karena dari ia pergi belanja sampai ia pulang, ayahnya belum juga menampakkan diri.
__ADS_1
"Ayah" Panggil Audi saat tiba di depan pintu kamar ayahnya. Ini sudah jam sembilan, dan kenapa ayahnya belum keluar kamar.
"Ayah bangun!" Jerit Audi dari luar.
"Ayah masih ngantuk di" Sahut ayah dari dalam kamarnya.
"Sementang hari libur ayah suka-suka hati kayak gini" Audi ngomel-ngomel keras sambil masuk tanpa permisi ke kamar ayahnya.
Audi melihat ayahnya yang masih tidur dalam posisi meringkuk seperti udang.
"Ck, ayah bangun dong!" Audi menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya. "Aku gak ada temen ni"
"Ayah" Ujar Audi manja.
"Aduh" Ayah meringis pelan.
"Ayah kenapa yah?" Tanya Audi khawatir.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan Audi, ayah malah berlari cepat menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar.
"Ck, kebiasaan" Celutuk Audi sambil duduk di kasur ayahnya. Sudah jadi kebiasaan memang, kalau setiap pagi ayahnya itu selalu menyetor sisa-sisa makanan.
Beberapa menit kemudian ayah keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya.
"Aduh perut ayah sakit banget di" Keluh ayah. Wajah ayah pun tampak sedikit pucat.
"Masih sakit yah perutnya?" Audi menghampiri ayahnya, lalu menuntun ayah agar berbaring di tempat tidur lagi.
"Gak ah ayah gak apa kok"Ayah tersenyum lembut pada Audi. Sebenarnya alasan ia sakit perut karena insiden tadi malam. Yang mana ayah terpaksa harus makan dua porsi nasi goreng buatan Audi. Sungguh itu membuat perutnya meronta-ronta di pagi hari ini.
"Yakin yah? Ayah gak mau aku beliin obat gitu?" Tanya Audi memastikan.
"Bener" Ujar ayah kesal. "Udah sana kamu keluar!" Ayah memdorong pelan tubuh Audi, secara tak langsung mengusirnya agar keluar dari kamarnya.
"Ok" Ujar Audi kesal. "Kalau ayah ada perlu bantuan panggil aku ya!"
__ADS_1
"Iya sayang" Jawab ayah.