
Alya sudah mewek saja dari tadi, tak henti-henti mengambil tisu lalu mengelap ingusnya yang keluar bersama an dengan air matanya yang jatuh.
Fardhan menyenggol pelan Audi, membuat Audi menoleh pada Fardhan yang duduk di sampingnya. Iya, Fardhan memang akhurnya ikut bergabung juga pada Audi dan Alya, tapi tidak ikut menonton. Cowok mana yang mau ikutan berkecambung dalam film seperti itu.
"Apa?" Audi menaikkan alisnya.
"Lo gak risih apa lihat dia gitu?" Fardhan menunjuk Alya dengan mulutnya.
"Udah sering juga kak, jadi udah biasa" Audi berbisik pelan. Takut kalau Alya akan mendengar pembicaraannya dengan Fardhan.
"Hahaha, awas lo ketularan juga" Balas Fardhan.
"Jangan gitu dong kak!" Rengek Audi mendorong pelan bahu Fardhan.
"Hahaha" Farhan hanya tertawa. Jujur, ia senang dengan sikap Audi yang seperti ini.
Keributan yang di timbulkan Audi dan Fardhan menarik perhatian Alya yang sedang fokus menonton dramanya. "Ribut banget sih kalian" Tegur nya.
Audi dan Fardhan langsung terdiam, Alya menyipitkan matanya saat melihat wajah Audi yang sudah memerah karena malu. 'Hah apa ini?' Batin Alya.
"Wah Audi wajah lo kok jadi merah gitu?" Alya beralih pada Audi, membiarkan filmnya.
"Hah? Apaan?" Audi menutup pipinya dengan kedua tangannya. Yang benar saja, Alya malah membuat nya semakin malu saja. 'Aaaaa' Teriak Audi dalam hati, entah kenapa juga ia harus malu. Aneh.
"Yaudah ah, gue mau ambil makanan dulu di bawah" Audi bangkit dari duduk nya.
"Bawa yang banyak ya Di" Teriak Alya saat Audi baru saja melangkah keluar dari kamarnya.
"Iya" Sahut Audi.
Saat Audi sudah benar-benar menghilang dari penglihatannya, Alya kini beralih melihat Fardhan yang kembali sibuk dengan HP nya.
"Eh Fardhan" Panggil Alya.
Fardhan menoleh pada Alya sambil berdecak pelan. "Gak sopan banget sih" Cibirnya. Percuma Fardhan, Alya gak bakalan manggil lo kakak walaupun lo udah maksa-maksa dia.
"Kita kan cuma beda setahun" Balas Alya.
"Dua tahun, lo gak usah ngutang-ngurangin" Fardhan membantah ucapan Alya. Ya, sebenarnya memang usia mereka berjuang hanya dua tahun.
"Wah, berarti lo ada tinggal kelas dong, makannya sekarang baru kelas XII, seharusnya kan lo udah tamat terus kuliah" Celoteh Alya, walaupun tadi ia sempat kalah, pokonya sekarang ia tak mau kalah.
"Gue telat masuk sekolah bodoh" Fardhan menoyor kuat kening Alya.
"Nagku aja, lo pasti malu kan"
"Huh" Fardhan menghela nafas pelan, sepupunya ini tidak akan diam kalau dia belum mendapatkan apa yang di inginkannya. "Iya iya, terserah lo aja" Akhirnya Farhan memilih mengalah seperti biasanya.
"Heheheh" Alya tertawa penuh kemenangan.
Keduanya kemudian sama-sama diam untuk sesaat, sampai Alya kembali mengingat hal yang ingin ia tanyakan tadi. "Eh, lo ada hubungan apa sama Audi?" Tanya Alya tiba-tiba membuat Fardhan sedikit terkejut.
__ADS_1
"Maksud lo?" Fardhan bertanya balik.
"Tadi lo sama dia kelihatan deket banget lo" Selidik Alya.
"Heheheh" Fardhan malah cengengesan. "Cuman temen" Jawabnya.
"Awas aja ya lo kalau ada rasa suka sama dia!" Ancam Alya.
Fardhan tampak menautkan alisnya. "Emangnya kenapa?"
"Kok kenapa, lo itu aneh. Gue gak mau temen gue berhubungan sama orang aneh kayak lo" Jelas Alya membuat Fardhan malah tertawa terbahak-bahak. Alya menatap sengit sepupunya itu.
"Suka-suka gue dong" Balas Fardhan dengan nada mengejek Alya.
"Lo ya"
Alya dan Farhan menghentikan perdebatan mereka saat pintu kamar Alya terbuka. Dari sana muncul Audi yang tampak tersenyum sambil membawa makanan-makanan ringan.
"Nih gue bawain banyak" Audi meletakkan makanan itu di hadapan Alya dan Fardhan. Kemudian duduk di tempatnya semula tadi.
"Eh apa kabarnya lo sama Saga Di?" Tanya Alya sengaja dengan suara yang besar untuk memancing Fardhan. Tapi, Fardhan terlihat sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Alya.
Audi menautkan alisnya, mencerna maksud dari peetanyaan yang di lontarkan Alya. "Maksud lo?" Akhirnya ia memilih bertanya balik.
"Lo kan deket sama dia, kalian udah pacaran belum?" Alya menjelaskan sambil sesekali melirik ke arah Fardhan.
Fardhan yang mendengar kata pacaran sedikit tergoda untuk mendengar jawaban dari Audi.
"Emang lo gak tertarik apa sama cowok ganteng kayak dia?" Kini malah Fardhan yang bertanya dengan Audi. Alya memicingkan matanya, menatap tajam Fardhan.
'Apa lo lihat-lihat gue?' Fardhan telepati dengan Alya.
'Sibuk' Balas Alya.
"Kalian kenapa sih? Kayak gak ada topik lain aja" Celutuk Audi beranjak menjauh dari Farhan dan Alya.
"Lo mau kemana Di?" Teriak Alya saat Audi hendak keluar dari kamarnya. "Gue belum siap nanyak lagi"
"Cari angin" Jawab Audi datar. Lalu segera pergi meninggalkan kamar Alya.
"Gara-gara lo ni Audi jadi marah" Alya menunjuk-nunjuk Fardhan.
"Terserah lo lah" Fardhan juga ikutan keluar dari kamar Alya, mungkin hendak menyusul Audi.
Benar, Fardhan memang berencana menyusul Audi. Fardhan berjalan cepat saat melihat Audi yang sedang menuruni tangga menuju lantai satu.
"Audi" Panggil Fardhan saat sudah berdiri di smaling Audi.
Audi menoleh sebentar melihat Fardhan. "Iya kak?"Sahutnya sopan. Entahlah Audi juga tidak tahu, kenapa kalau dengan Fardhan dia berubah menjadi begini.
"Mau kemana?" Tanya Fardhan.
__ADS_1
"Tadi kan udah Audi bilang mau cari angin" Jawab Audi melnajutkan langkahnya.
"Gue ikutan ya" Ujar Farhan sambil terus mengikuti Audi. Audi hanya mengangguk tanda mengiyakan Fardhan.
Mereka kini duduk di bangku dekat belakang rumah Alya. Di belakang rumah Alya ini terdapat taman, tidak luas sih. Tapi cukup lah untuk mencari udara-udara segar di tengah-tengah ke gerakan kota ini.
Farhan duduk di samping Audi. Audi hanya diam, sambil sesekali mengayunkan kaki nya.
"Lo udah lama kenal sama Alya?" Tanya Fardhan tanpa melihat Audi. Sekarang ia sibuk melihat kucing milik Alya yang sedang memanjat pohon.
"Lumayan sih kak, waktu pertama kai masuk SMA" Jawab Audi melihat Fardhan.
"Oooo" Fardhan manggut-manggut. "Kita jadi sering ketemu ya belakang ini" Ujar Fardhan.
"Hhaahha iya kak" Audi tertawa pelan, mereka jadi sering bertemu dengan tidak sengaja belakangan ini. Inikah yang di namakan takdir?
"Kamu manis kalau tertawa" Fardhan tersenyum melihat Audi.
Audi langsung bungkam mendengar penutupan Fardhan. "Eh?" Hanya itu yang keluar dari mulut Audi.
"Heheh" Kini Fardhan yang gantian tertawa sambil mengacak pelan rambut Audi. Gemas melihat wajah imut Audi.
"Kak tangannya" Aud menepis pelan tangan Fardhan, perasaan senang saat Fardhan melakukan itu padanya. Tapi nanti kalau ada orang yang lihat terus salah kira bagaimana.
"Ah maaf" Fardhan menurunkan tangannya.
"Iya gak apa kak" Audi menundukkan kepalanya. Muncul perasaan malu yang tiba-tiba datang entah dari mana.
Meong meong meong.
Audi dan Fardhan secara bersamaan melihat ke arah pohon yang ada di hadapan mereka. Suara kucing itu terdengar dari sana.
"Kak?" Audi menoleh kembali pada Fardhan.
Sepertinya Fardhan mengeri tatapan dari Audi lalu beranak dari duduk nya. Audi mengikuti Fardhan menuju pohon itu. Dari bawah sini terlihat jelas bahwa kucing itu tengah kesulitan untuk turun.
"Kasian kak, bantuin sana!" Audi menyuruh agar Fardhan memanjat pohon itu.
"Oke, lo tunggu di bawah!" Fardhan mulai memanjat, setiap sampai di atas tidak ada perlawanan dari kucing itu. Membuat Fardhan dengan mudah menangkap kucing putih itu.
Audi memperhatikan dari bawah, sesekali tersenyum.
Fardhan turun dengan menggednong kucing putih milik Alya itu, lalu mmeberikannya pada Audi. Audi dengan senang hati menggedong kucing itu.
"Makannya kalau gak bisa turun jangan manjat!" Fardhan mengelus kucing yang berada doa gendong Audi.
Audi merasa hatinya bergetar aneh saat mendengar nasehat Fardhan apda kucing yang ia gendong. 'Kok gue ngerasa pernah ngelakuin ini jugak? Tapi kapan?' Batin Audi. Rasanya ia seperti mengalami dejavu.
"Audi" Fardhan melanda-lambaikan tangannya di depan wajah Audi, menyadarkan Audi dari lamunannya. "Kok ngelamun sih?"
"Enggak apa-apa kak, Audi cuman-" Audi menggantung kata-katanya, melirik sekilas pada Fardhan. "Bukan, bukan apa-apa" Audi kembali duduk di bangku tadi.
__ADS_1
Fardhan tersenyum penuh arti, seperti tahu apa yang sedang di pikirkan Audi, lalu berlari pelan menyusul Audi sambil terus tertawa pelan.