
"Kalau Reno nggak percaya gimana, Kak? Kan nggak ada buktinya? Di sekolah juga aku nggak pernah kelihatan sama cowok sih." Nirmala menyanggah lagi, setelah dia berhasil menata hatinya.
"Ya kamu harus bisa meyakinkan dia!"
"Caranya?" Nirmala menaikkan sebelah alisnya.
"Ya kapan-kapan aku jemput kamu di sekolah, deh. Biar dia percaya. Kalau perlu kita foto-foto bareng, biar jadi bukti valid." Dimas mengeluarkan ponselnya.
"Lihat sini, La!" Dimas memasang kamera depannya, siap mengambil foto bersama.
"Bentar, Kak!" Nirmala menata rambutnya terlebih dahulu.
"Siap? Satu, dua, tii...." Dimas memberi aba-aba. Mereka mengambil foto beberapa kali, dengan pose terbaik mereka.
"Nanti kirim ya, Kak!" Nirmala tersenyum bahagia.
"Aku kirim sekarang, nih." Dimas menunjukkan ponselnya, proses mengirim foto.
"Hehe, oke, makasih, Kak. Udah kasih solusi buat aku." Nirmala tersenyum, hatinya berbunga-bunga .
"Iya, sama-sama. Pokoknya kalau ada cowok yang gangguin kamu, kamu bilang aja sama aku! Oke?"
"Siap, Bos!"
Mereka berdua melanjutkan obrolan, membicarakan banyak hal, bercanda dan lain sebagainya, sampai tak sadar, malam telah larut.
***
"La! Kemarin kok nggak jadi main ke rumahku, sih?" Rosa menepuk pundak Nirmala yang sedang menunggu bus di halte.
"Eh, ngagetin aja!" Nirmala protes.
"Lagi ngalamun pasti, ya?" Rosa menyelidik.
"Hehe, iya! Aku lagi seneng banget hari ini!" Nirmala senyum-senyum sendiri.
"Aneh banget sih nih anak! Kemarin sedih, galau, hari ini seneng lagi. Ada apa sih?"
"Pokoknya seneng banget! Kak Dimas melindungi aku dari gangguan Reno. Katanya, kalau Reno ngajak aku buat pulang bareng lagi, aku bisa nolak, dengan alasan aku udah punya pacar!"
__ADS_1
"Emangnya siapa pacarmu?" Rosa belum paham dengan maksud sahabatnya itu.
"Kak Dimas!" Nirmala nyengir sangat lebar.
"Hah? Jadi kalian udah jadian? Aduh! Aku yang harus traktir kamu bakso dong?" Rosa panik, dia tidak menyangka posisi berubah dengan cepat.
"Enggak. Kami cuma pura-pura aja." Nirmala tersenyum kecut.
"Kok cuma pura-pura? Kenapa nggak sekalian beneran aja? Kayaknya Kak Dimas juga ada rasa sama kamu deh. Kalau aku terawang nih." Rosa membentuk teropong dengan kedua tangannya.
"Ih, sok tau! Jangan bikin aku jadi tambah berharap dong!" Nirmala menyenggol lengan temannya itu.
"Soalnya kalau aku lihat-lihat, Kak Dimas perhatian banget sama kamu. Jarang lho, ada kakak yang mau bantuin adiknya, dalam urusan beginian. Kalau bukan karena suka, trus apa lagi?" Rosa memperkuat alasannya berkata demikian.
"Semoga aja beneran deh. Sekarang jadi pacar pura-pura dulu nggak papa, besok jadi pacarnya beneran." Nirmala tertawa kecil, membayangkan sesuatu yang menurutnya sangat menyenangkan.
***
Sesampainya di sekolah, Nirmala langsung mengecek laci mejanya. Dia ingin tau, apakah ada surat untuknya lagi atau tidak hari ini.
"Ngapain, La? Cari apaan, sih?" Rosa memperhatikan gerak-gerik Nirmala yang dinilai aneh.
"Cie! Nyatanya diharap-harapkan gituu!" Rosa justru menggoda Nirmala.
"Bukannya berharap, cuma pengen tau aja gimana kelanjutannya. Tapi ternyata zonk. Nggak ada kelanjutannya. Yaudah, nggak masalah, emang gue pikirin!" Nirmala meniru gaya bicara anak ibukota.
"Haha, yang bener?" Rosa masih saja menggoda Nirmala.
"Ya iya, lah! Apaan sih, Ros? Nggak lucu deh!" Nirmala bersungut sebal.
"Haha, maaf deh, maaf! Mungkin aja dia datang telat, jadi belum sempat kasih surat ke laci kamu, La!"
"Entahlah, nggak usah dipikirin!" Nirmala memasukkan tas ke dalam lacinya.
"Oke, oke." Rosa mengikuti jejak Nirmala, memasukkan tasnya ke dalam laci juga.
***
Empat jam pelajaran pertama, terasa cepat berlalu. Tiba saatnya murid-murid di SMP Nirmala untuk istirahat pertama.
__ADS_1
"Huh! Capeknya!" Keluh Rosa, dia meregangkan otot-ototnya.
"Kita mau ke mana ini? Jajan di kantin? Apa mau ke luar gerbang? Cari makanan lain?" Nirmala memasukkan buku dan peralatan tulisnya ke dalam tas, untuk kemudian dikembalikan ke laci mejanya.
"Ke kantin aja, yuk? Aku pengen gorengan mendoan, dikasih saos, sambel sama kecap. Uh, mantap!" Rosa menelan ludahnya sendiri, membayangkan enaknya makanan favorit kebanyakan orang di kabupaten ini.
"Oke deh. Aku juga mau! Tapi nggak pake sambel, kecap aja." Nirmala ikut-ikutan, meskipun dalam versi kalem, dia memang takut makan pedas.
"Yuk lah!"
Nirmala dan Rosa berjalan menuju kantin sekolah.
"Astaga! Rame banget! Kebagian apa enggak ya?" Rosa sudah pesimis duluan.
"Kita coba aja, yuk! Ikut berdesakan ke dalem. Kalau di luar terus, udah pasti nggak kebagian!" Nirmala menarik tangan Rosa. Mengajaknya segera masuk ke ruang kantin yang tidak terlalu luas itu.
"La! Kamu jajan di sini juga? Nanti siang jadi pulang bareng aku, ya! Aku dijemput pakai mobil kok! Jadi kamu nggak perlu khawatir kepanasan!" Reno mengejutkan Nirmala, dia bahkan sengaja mendekati Nirmala, meskipun dia sedang dikerubuti penggemarnya.
"Astaga! Kenapa Reno ngomongnya di sini sih? Dia pengen buat aku mati apa?" Nirmala hanya membatin.
"Gimana, La? Kok diem aja sih? Kamu mau kan?" Reno menatap penuh harap.
"Maaf, Ren. Nanti siang aku dijemput sama pacarku. Aku nggak mau buat dia kecewa. Jadi, aku nggak bisa pulang bareng kamu, besok, lusa atau kapanpun. Sekali lagi maaf ya, Ren!" Nirmala menarik tangan Rosa, dia memilih untuk kembali keluar kantin. Meskipun belum mendapatkan jajan apapun. Dia tidak mau mendengar tanggapan Reno.
"Yah, La! Kita belum jadi jajan, nih!" Rosa protes saat sudah sampai di luar kantin.
"Kita jajan di luar aja, yuk!" Nirmala mengusulkan.
"Jauh banget, La! Belum sampai sana, yang ada bel udah bunyi lagi!" Rosa tidak setuju dengan ajakan Nirmala.
"Yaudah, kamu masuk kantin lagi, aku nitip aja, ya! Mendoan 2, pakai kecap aja. Sama minuman satu. Nih uangnya, sekalian bayarin punyamu. Aku ke kelas duluan." Nirmala memasukkan uang sepuluh ribuan ke saku baju osis Rosa.
"Yaudah deh, dengan terpakasa." Rosa memanyunkan bibirnya. Tapi tak masalah karena jajannya jadi ditraktir Nirmala.
"Makasih ya, Ros!" Nirmala tersenyum sekilas, kemudian kembali ke kelasnya. Dia meletakkan kepalanya di atas meja, menghadap ke arah jendela yang ada di sampingnya.
"Gimana kalau Reno nggak percaya sama omonganku? Gimana kalau dia nanti nungguin sampai aku dijemput? Aku harus gimana ini? Minta tolong Kak Dimas juga nggak mungkin, HP-ku di rumah. Dia pasti juga sibuk jam dua nanti. Kan udah bukan jam istirahat kantor. Haduh. Gimana ini?" Nirmala bergumam sendiri. Tak lama kemudian Rosa datang dengan nafas yang terengah-engah, dia langsung menuju ke mejanya yang ada di pojok depan meja guru.
"La! Gawat!"
__ADS_1