
"La! Kok bengong sih? Ini, buat kamu!" Dimas kembali mengulurkan coklat itu pada Nirmala.
"Eh, iya. Makasih, Kak." Nirmala tersenyum canggung, sedikit salah tingkah.
"Jangan lupa dimakan, ya! Aku beli khusus buat kamu!" Dimas tersenyum, membuat ketampanannya paripurna.
"Dalam rangka apa ini, Kak? Aku nggak lagi ulang tahun, juga bukan valentine, atau...." Nirmala menggantung kalimatnya.
"Atau apa?" Dimas menaikkan sebelah alisnya, mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Nirmala.
"Atau Kak Dimas yang lagi ulang tahun?" Nirmala melanjutkan kalimatnya.
"Enggak. Juga kalau aku yang ulang tahun, ngapain beliin kamu coklat? Harusnya kan kamu yang kasih kado ke aku? Aneh-aneh aja kamu itu."
"Hehe, ya kan aku nggak tau. Trus ini dalam rangka apa, dong?" Nirmala terus mendesak Dimas untuk mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Nggak ada maksud apa-apa. Cuma mau kasih kamu aja, udah, titik, nggak pake koma." Dimas kembali menegaskan. Padahal dalam hati, Nirmala mengharapkan kalau Dimas punya maksud spesial.
"Oh, yaudah. Makasih deh, Kak." Tanpa disadari, Nirmala memasang wajah kecewanya.
"Udah, sana dimakan. Katanya coklat bagus buat mengembalikan mood. Mudah-mudahan mood kamu jadi bagus lagi, nggak cemberut gitu." Dimas justru menggoda Nirmala dengan raut wajahnya yang cemberut itu.
"Kita makan sama-sama ya, Kak?" Nirmala membuka bungkus coklat itu.
"Enggak ah, aku nggak suka coklat. Lagipula, aku beliin buat kamu. Masa aku ikut makan juga? Ntar kalau jadi gondok gimana? Nggak mau ah!" Dimas menolak dengan halus.
"Hehe, iya juga sih. Emang serius, kaya gitu bisa bikin gondok?" Nirmala memotong satu blok coklat, kemudian memakannya.
"Ya nggak tau, kan itu kata orang-orang dulu." Dimas nyengir.
"Udah ah, sana belajar!" Dimas tidak mau melanjutkan obrolan tadi.
"Ya ampun, Kak. Malem Minggu ya waktunya istirahat, santai. Capek belajar terus." Nirmala kembali menikmati coklatnya. Dia bahkan memperbaiki posisi duduknya, mencari posisi nyaman.
"Yaudah deh, temeni aku di sini aja!" Dimas ikut memperbaiki posisi duduknya. Dia mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
"Kasian banget yang habis putus cinta, jadinya kesepian!" Nirmala tertawa meledek Dimas.
"Enak aja! Aku nggak bakal kesepian, kok. Kan ada kamu!" Dimas tersenyum, membalas ledekan Nirmala. Jantung Nirmala berdegup lebih cepat. Dia berhenti mengunyah coklatnya.
"Apaan sih, Kak!" Nirmala tidak mau terlihat salah tingkah.
__ADS_1
"Beneran! Aku nggak bohong, semenjak di sini, aku nggak pernah merasa kesepian." Dimas menegaskan.
"Emangnya kenapa Kak Dimas putus sama pacarnya?" Nirmala tiba-tiba saja ingin tau lebih dalam.
"Dia selingkuhin aku, La! Padahal kami pacaran udah lama banget. Udah sejak kami masih SMA. Bahkan aku udah berniat mau nikahin dia tahun depan. Eh, ternyata dia malah selingkuh. Untung aja ketahuan, sebelum kami jadi nikah. Kalau ketahuan setelah kami nikah, pasti rasanya lebih sakit lagi. Dia itu cinta pertamaku, dan aku berniat membuatnya jadi cinta terakhirku. Tapi ternyata kenyataan tidak sesuai harapan. Jadi yaudah deh, mencoba ikhlas aja. Mungkin emang seperti ini jalannya." Dimas menceritakan kisah pilunya.
Tiba-tiba saja Nirmala merasakan sesak di dada. Nirmala tidak memberikan komentar apa-apa. Dia tidak kuat untuk berkata-kata. Dadanya terlalu sesak. Ia memegangi dadanya, sambil memukul-mukul dengan kepalan tangannya, berusaha mengurangi rasa sesak.
"La! Kamu kenapa?" Dimas panik melihat Nirmala tiba-tiba kesakitan.
"Bu! Bu!" Dimas memanggil-manggil Sukma. Dia tidak tau harus berbuat apa.
"Ada apa?" Sukma dan suaminya keluar dari kamar.
"Nggak tau, Nirmala tiba-tiba seperti itu!" Dimas kembali mendekati Nirmala yang mulai pucat.
Sukma segera memeriksa kondisi anaknya. Dia mengecek suhu tubuh Nirmala, memang terasa panas.
"Apa yang dirasakan? Mual? Pusing?" Sukma mencoba bertanya pada Nirmala.
"Dadaku sesak banget, Bu. Perutku mual." Nirmala menjawab lirih.
"Mungkin asam lambungnya naik lagi, Bu!" Ayah Nirmala ikut berkomentar.
"Kamu habis makan apa sih? Kan tadi udah makan nasi, harusnya nggak masalah makan mie." Sukma menganalisis.
"Bu, bantu ke kamar mandi, pengen muntah!" Nirmala masih berusaha menahan, dia tidak mau kalau membuat ruang tengah menjadi kotor karena muntahannya.
"Kuat jalan?" Sukma tidak yakin, kondisi putrinya sudah mengkhawatirkan. Nirmala mengangguk.
"Biar aku bantu!" Dimas dengan sigap membantu Nirmala berdiri.
Sukma dan Dimas memapah Nirmala, menuju kamar mandi. Dimas menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. Dia bahkan menemani Nirmala mengeluarkan isi perutnya.
"Udah, kamu nunggu di luar aja, Dim! Nanti malah ikut muntah!" Sukma yang tidak tega dengan Dimas, apalagi bau muntahan memang sangat menyengat, rentan menular bagi yang tidak kuat.
"Nggak papa kok, Bu!" Dimas bersikeras tetap di dalam kamar mandi. Dia membantu Nirmala, memijit-mijit tengkuknya, supaya Nirmala lebih mudah memuntahkan isi perutnya.
Setelah semua isi perut keluar, barulah Nirmala merasa lega.
"Udah, Bu!" Nirmala berkumur, juga mengguyur bekas muntahannya.
__ADS_1
"Kamu tidur di bawah aja, sama Claudia. Atau biar dia yang tidur di atas. Ibu khawatir kalau kamu malah kesulitan, naik turun tangga. Salah-salah malah jatuh dari tangga. Juga biar Ibu gampang mantau kamu." Sukma berpesan, sambil memapah Nirmala kembali ke ruang tengah.
"Iya, Bu." Nirmala tidak bisa menolak, itu juga demi kebaikannya.
"Mau di kerik?" Sukma menawari pengobatan alternatif untuk putri sulungnya yang sangat takut dengan klinik atau yang sejenisnya.
"Boleh, Bu. Yang penting nggak di suntik aja deh." Nirmala menerima tawaran ibunya.
"Yak!" Sukma memanggil putri bungsunya.
"Hmmm!" Claudia menjawab dari dalam kamar, tanda kalau dia belum tidur.
Sukma segera membuka pintu kamar Claudia.
"Yak! Kak Lala tidur di kamar kamu, ya! Dia lagi sakit, kasian kalau tidur di atas. Kamu mau tidur di kamar Kak Lala apa di sini nemani kakakmu?" Sukma membantu Nirmala berbaring.
"Tidur sini aja lah, Bu. Takut di atas sendirian." Claudia menentukan pilihannya.
"Yaudah, sekalian temani kakakmu ya!" Sukma berpesan.
"Siap, Bu!" Claudia memasang pose hormat di kepalanya.
"Sip. Tolong kamu ambilin minum hangat buat kakakmu, ya!" Sukma memberi perintah pada Claudia.
"Oke, Bu!" Claudia berisiap bangkit dari duduknya.
"Biar aku aja yang ambilin!" Dimas yang masih berdiri dari tadi, dengan sigap keluar kamar Claudia, mengambilkan minum untuk Nirmala.
"Yaudah, aku bebas tugas kan, Bu?" Claudia tersenyum senang.
"Tugas kamu jagain kakakmu nanti!" Sukma tersenyum.
"Kakak kenapa sih? Tadi baik-baik aja, kok toba-tiba jadi sakit?" Claudia bertanya polos.
"Nggak tau ini. Asam lambungnya naik paling. Kamu tadi makan apa sih, La?" Sukma bertanya pada Nirmala yang terlihat sudah lebih baik.
"Makan mie, trus makan coklat, Bu!" Nirmala menjawab apa adanya.
"Pantes aja asam lambung jadi naik! Lain kali, jangan makan mie dan coklat dalam waktu yang berdekatan, La!" Sukma menasehati Nirmala, yang tanpa sengaja didengar oleh Dimas.
Dimas tertunduk, dia merasa bersalah, karena dia penyebab Nirmala jadi seperti itu.
__ADS_1