
Setelah selesai sembahyang malam, para santri diajak untuk berdoa bersama. Tak lupa para pendamping mengabsen santri, yang terlambat atau yang tidak ikut karena sedang mendapat tamu bulanan, sakit, atau karena malas.
"Siapa yang terlambat ikut sholat?" Ustadzah Yumi, ketua pendamping putri bertanya pada semua yang hadir. Di sinilah kejujuran para santri diuji. Mereka mau jujur dan bersedia mendapat konsekuensi saat itu juga, atau memilih untuk berbohong dan akan mendapat konsekuensi di akhirat.
Nirmala termasuk santri yang mengangkat tangan. Ternyata dia tidak sendiri. Ada banyak santri lain yang datang terlambat.
"Satu, dua, tiga, empat, lima." Ustadzah Yumi memandang berkeliling, menghitung santri yang mengangkat tangannya karena datang terlambat.
"Lumayan banyak ya, nggak papa. Ini baru hari pertama, tidak ada hukuman kali ini. Tapi, mulai besok akan ada hukuman. Jadi, jangan diulangi lagi, ya!" Ustadzah Yumi berpesan pada santrinya.
"Baik, Ustadzah!" Santri yang mengangkat tangan menjawab dengan semangat. Termasuk Nirmala. Dia menarik nafas lega, untung masih dapat toleransi.
Jarak antara sholat malam dan sholat subuh masih lumayan lama. Para santri dibebaskan untuk kembali ke kamar dulu, atau menunggu adzan subuh di mushola sambil bertadarus, atau belajar yang lainnya.
"Kamu mau balik ke kamar? Apa mau nunggu di sini?" Nirmala bertanya pada teman yang ada di sebelahnya.
"Aku nunggu di sini aja, deh. Daripada nanti telat sholat subuhnya." Teman baru Nirmala menjawab.
"Aku juga deh, tadi aja udah telat. Oh ya, nama kamu siapa? Aku Nirmala. Di kamar nomer 12." Nirmala memperkenalkan dirinya, meskipun tanpa berjabat tangan.
"Aku Rahma, dari kamar 15." Rahma tersenyum.
"Kamu santri baru apa santri lama?"
"Aku santri baru, kalau kamu?"
"Aku baru juga. Kamu sekolah di mana?" Nirmala terus bertanya pada teman baru yang gaya bicaranya kalem itu.
"Aku di SMA-nya. Kalau kamu?"
__ADS_1
"Sama! Aku juga pilih SMA. Jurusan IPA." Nirmala antusias, merasa akan punya teman dekat di sekolah besok.
"Wah, sama juga! Aku juga di IPA, katanya itu masih sekolah baru, ya. Jadi kelasnya cuma satu-satu? Beda sama yang MA-nya. Berarti kita bakalan satu kelas, dong?" Rahma tak kalah antusias.
"Wah, syukur deh kalau gitu. Kamu udah ada teman yang satu meja belum?" Nirmala berniat menjadikan Rahma teman satu mejanya.
"Belum sih, teman sekamarku nggak ada yang sekolah di SMA. Masih pada MTs, atau di MA, kamu mau jadi teman semejaku?" Rahma seperti tau apa maksud dari Nirmala.
"Mau! Oke, besok kita satu meja, ya!" Nirmala bersemangat. Dia sudah mulai melupakan kesedihannya karena meninggalkan rumah, Rosa, juga karena tidak berhubungan dengan Dimas.
***
Pagi harinya, belum ada kegiatan apa-apa di pondok. Para santri memang sudah harus berkumpul, untuk melakukan orientasi di pondok, sebelum masa orientasi di sekolah masing-masing. Saat itulah, Nirmala jadi teringat lagi dengan rumah, juga dengan Dimas. Dia membayangkan saat-saat terakhir kebersamaan mereka terakhir kali.
"Kak Dimas pasti udah berangkat kerja. Kapan ya, aku bisa ketemu dia lagi?" Nirmala memandang langit-langit kamarnya. Dia belum jadi pindah di ranjang bawah.
"Ayo! Ayo! Kumpul dulu sebentar!" Tiba-tiba terdengar suara Linda, si ketua kamar memberi komando pada teman-teman sekamarnya.
Mau tidak mau, Nirmala menyudahi bayangan indahnya. Dia turun dari ranjangnya yang berderit saat diinjak anak tangganya.
"Duduk melingkar ya semuanya!" Linda memberi contoh pada teman-temannya, duduk di tengah-tengah kamar yang cukup luas itu. Kamar dengan 3 buah ranjang bertingkat, juga dengan lemari yang cukup untuk semua santri di kamar itu. Ada meja kecil juga di dalam sana, untuk meletakkan makanan atau minuman.
Setelah anggota kamar lengkap, Linda mulai membuka acara berkumpul mereka pagi itu.
"Tadi pagi, aku dapat info dari Ustadzah ya, untuk sedikit merombak tempat tidur. Tadi pagi, Kak Nirmala agak sulit dibangunin, jadi Ustadzah meminta supaya dia ranjangnya di bawah aja. Nah yang di bawah sementara ini Kak Laila, Dek Meri, dan Dek Fajri. Siapa yang mau tukeran tempat sama Kak Nirmala?" Linda memberi kesempatan pada anggota kamarnya yang suka rela berpindah tempat tidur.
"Aku aja, nggak papa, Kak." Fajri mengangkat tangannya.
"Beneran, nggak papa?" Linda bertanya memastikan. Dia tidak mau kalau terpaksa.
__ADS_1
"Beneran nggak papa, Kak. Udah bosen di bawah terus, aku mau lah, sekali-sekali pengen juga tidur di ranjang atas." Fajri berkata dengan mantap.
"Oke deh kalau kamu emang beneran mau, nanti segera tukeran tempat tidur sama Kak Nirmala, ya! Mumpung masih belum ada kegiatan di pondok. Barang-barangnya yang di ranjang dibawa sekalian." Linda memberi instruksi lebih lanjut.
"Baik, Kak." Nirmala dan Fajri menjawab dengan kompak.
"Oh ya, yang santri baru, ada Kak Nirmala dan Dek Laras, besok pagi sudah mulai orientasi di pondok, ya. Jadi siap-siap aja, ikut semua kegiatan selama orientasi." Linda memberi arahan tambahan.
"Baik, Kak." Nirmala mengangguk. Ternyata di kamar itu, hanya dirinya dan Laras yang santri baru, sedangkan yang lainnya sudah santri lama. Pantas saja, dia sendiri yang sulit bangun tadi pagi. Sedangkan yang lainnya, sudah terbiasa dengan berbagai macam aturan yang diterapkan di pondok.
"Kalau orientasi biasanya ngapain aja, Kak?" Nirmala bertanya takut-takut.
"Ya pengenalan, sama pengurus, pembimbing atau pendamping, terus ruangan-ruangan yang ada digedung, kegiatan apa yang akan dilakukan selama dipondok. Udah sih, gitu-gitu aja." Linda menjawab secara garis besarnya saja.
"Nggak disuruh pakai pakaian aneh-aneh, atau bawa barang-barang apa gitu, Kak?" Nirmala ingat dengan masa orientasinya di SMP dulu. Para siswa harus menggunakan atribut yang aneh-aneh, juga membawa barang yang berbeda setiap hari, sesuai permintaan panitia.
"Enggak lah, kita nggak memberatkan kok. Kan yang penting materinya, bukan atribut-atribut yang merepotkan itu. Juga kalau harus bawa barang-barang, kita juga repot. Uang kita terbatas, kebebasan kita juga terbatas. Jadi, ya sudah, yang penting ikut aja, dengan pakaian yang rapi dan sopan." Linda menenangkan Nirmala yang terlihat sedikit khawatir.
"Syukurlah kalau gitu. Kalau di sekolah, kaya gitu juga nggak, Kak?" Nirmala kembali bertanya.
"Kamu di SMA atau di MA?" Linda balik bertanya, karena dua sekolah yang berbeda, pasti juga punya kebijakan yang berbeda.
"SMA, Kak."
"Kalau tahun sebelumnya sih, seingatku ada pakai atribut-atribut gitu. Tapi aku kurang paham juga, apa aja. Besok kan pasti ada penjelasan teknisnya gimana, jadi nggak usah khawatir. Kalau ada urusan mendadak karena kebutuhan sekolah, bisa juga kok minta pinjam HP sama Ustadzah, buat ngabari orang rumah. Minta kiriman tambahan uang atau bagaimana. Nggak perlu khawatir." Linda menjelaskan dengan sabar.
"Oke, Kak." Nirmala mengangguk, dia tersenyum. Beruntung teman kamarnya baik-baik.
"Oh ya, jangan lupa. Besok hari kamis, kita semua akan ada outbond perkenalan ya, semua santri. Pakai pakaian olah raga, sepunyanya. Yang penting panjang-panjang, dan tetap berkerudung." Linda mengingatkan.
__ADS_1
"Aduh! Pakaian olah ragaku pendek semua, Kak!" Nirmala mulai bingung, harus bagaima.
"Apa minta sama Dimas saja? Kesempatan, bisa ketemu dia lagi, kan?" Nirmala membatin, dia punya ide brilian.