
"Ma! Coba lihat ini! Aku bales apa ini?" Nirmala kembali berbisik pada Rahma. Meskipun biasanya Nirmala keras kepala, tapi kalau dihadapkan dengan kondisi tak terduga seperti ini, nyatanya dia bingung juga.
Rahma melihat ke arah layar komputer Nirmala, dia langsung membaca pada kotak inbox di bagian bawah.
"Istrinya Kak Dimas itu?" Rahma bertanya memastikan.
"Ya iyalah, Ma. Emangnya aku ganggu suami siapa lagi? Enak aja!" Nirmala bersungut.
"Hehe, ya kan cuma memastikan. Kali aja salah orang." Rahma nyengir, dia kembali membaca pesan di kotak inbox itu sekali lagi.
"Gimana menurutmu, Ma?" Nirmala tidak sabaran, menunggu pendapat dari Rahma.
"Ya terserah kamu, La. Mau kamu tanggepin, atau kamu diemin. Kamu pura-pura nggak tau, atau mau ngaku dan tetep bersikeras kalau kamu nggak bersalah, seperti biasanya." Rahma menepuk pundak Nirmala pelan. Dia tidak mau membuat keputusan, biar Nirmala sendiri yang menghadapi masalah yang dia buat sendiri. Toh selama ini, dia sudah berusaha menasihati, tapi tidak pernah digubris.
"Oke, aku tanya Kak Dimas aja deh. Siapa tau dia lagi nggak sibuk." Nirmala segera mencari riwayat pesan dengan Dimas, dia mengetikkan pesan untuk kakak angkatnya itu.
[Kak, istrimu chat aku. Katanya aku jangan gangguin Kak Dimas lagi. Emang dia tau kalau kita punya hubungan dekat?]
Nirmala mengeklik tombol enter, pesanpun terkirim pada orang yang dituju. Ia menggigiti ujung kukunya, harap-harap cemas menunggu balasan dari Dimas. Tak lama kemudian, terlihat tulisan "sedang mengetik" di bagian atas kotak chat. Nirmala menunggu dengan gusar. Akhirnya muncul sebuah kalimat yang membuat Nirmala tercengang saat membacanya.
__ADS_1
[Udah kubilang, jangan ganggu suamiku lagi! Kok masih ngeyel aja sih? Dasar bocah nggak tau diri! Kecil-kecil udah jadi pelakor. Besok besar mau jadi apa?]
Nirmala menepuk jidatnya dengan keras, "Mati aku!" ujarnya.
"Gimana, La? Kenapa?" Rahma tetap saja penasaran dengan respon yang diberikan Nirmala.
"Ternyata aku facebooknya Kak Dimas dipegang sama istrinya. Pantesan aja dia kirim pesan kayak gitu ke aku. Mungkin dia udah baca isi chatku sama Kak Dimas deh." Nirmala menyandarkan tubuhknya ke sandaran kursi yang ia duduki. Badannya serasa lemas.
"Yaudah, mungkin udah waktunya kamu buat berhenti dari hubungan yang nggak sehat itu, La. Saatnya kamu cari pengganti Kak Dimas di hatimu." Rahma menghadapkan kursi goyangnya ke arah Nirmala, sehingga dia bisa melihat wajah Nirmala yang tadinya mendung tapi mendadak berapi-api itu.
"Nggak! Ini bukan salahku! Dia yang salah! Aku nggak boleh diem aja disalah-salahin kayak gini!" Nirmala menegakkan tubuhnya. Dia bersiap mengirim balasan terbaik menurutnya. Dengan lihai, Nirmala mulai mengetik pesan untuk istri Dimas, melalui akun Dimas. Biar sekalian Dimas membacanya, kalau tidak keburu dihapus sama istrinya yang nyebelin itu.
Nirmala terengah. Dia mengetik, tapu seperti baru saja lari maraton. Dadanya bergerak naik turun, menahan emosinya. Tak butuh waktu lama, Nirmala sudah mendapatkan balasan.
[Eh, dasar bocah nggak tau malu! Aku sama Dimas udah pacaran sejak SMA. Mana ada ceritanya aku yang ngerebut Dimas dari kamu! Dilihat dari segi manapun, tetep aja kamu yang salah! Enak aja malah nyalahin aku!]
Wajah Nirmala bertambah merah. Jelas dia tidak terima dikatakan demikian.
[Oke, mungkin emang kalian udah pacaran sejak kalian SMA. Tapi hubungan kalian udah berakhir saat Kak Dimas putusin kamu, kan? Dan saat itu, Kak Dimas nyatain cinta ke aku. Jadi, statusnya Kak Dimas milikku sejak saat itu, dan tiba-tiba kamu menikah sama Kak Dimas, sebelum Kak Dimas mengakhiri cintanya sama aku. Jadi, tetep aja, kamu yang ngerebut Kak Dimas dariku, kan? Kamu yang harusnya tau diri! Kamu yang salah! Bukan aku! Lagipula, Kak Dimas juga masih tetep cinta sama aku, kok. Sampai saat ini. Jadi, mendingan kamu yang instropeksi diri!]
__ADS_1
Nirmala menarik nafas dan menghembuskan nafasnya dengan kasar dan kembali menghempaskan tubuhnya disandaran kursi goyang yang ia duduki. Dia masih tetap tidak terima dikatakan sebagai pelakor. Tak lama kemudian, Nirmala kembali menegakkan badannya, matanya melotot membaca balasan yang kembali ia terima.
[Tapi sekarang statusnya Dimas udah jadi suamiku. Dia sudah sah jadi milikku, dimata agama juga negara. Jadi, hubungan aneh kalian itu nggak punya kekuatan hukum apapun! Dilihat dari sisi manapun, tetap kamu yang mengganggu suamiku. Bukan aku yang merebut pacarmu! Tolong segera akhiri hubunganmu dengan suamiku, kalau kamu nggak mau aku kasih tau hal ini ke orang tua kamu. Aku yakin sih, kamu pasti belum kasih tau orang tuamu tentang hal ini kan? Jadi, mari kita lihat. Gimana respon orang tuamu. Apa dia akan mendukung hubungan harammu itu? Atau akan memarahimu habis-habisan karena udah bikin malu keluarga!]
Nirmala bertambah sebal membaca balasan dari istri Dimas kali ini. Berani-beraninya dia ngancam seperti itu! Nirmala membayangkan, istri Dimas pasti sekarang sedang tersenyum penuh kemenangan, bisa membuat Nirmala mati kutu seperti itu.
Sayangnya bel pergantian jam pelajaran sudah berbunyi. Nirmala tidak sempat membalas pesan terakhir dari istri Dimas itu. Dia segera mengeluarkan akunnya dari facebook. Jaga-jaga, supaya tidak dibuka siswa berikutnya yang akan menggunakan komputer yang biasa ia pakai itu. Siswa satu kelas Nirmala berbondong-bondong keluar dari ruang lab komputer.
"Nyebeliin!" Nirmala berteriak saat duduk di depan lab, sambil kembali mengenakan sepatunya. Membuat semua mata tertuju pada Nirmala, meskipun diam tanpa berkomentar apa-apa.
"Kenapa sih, La? Masig yang tadi?" Rahma berbisik pada Nirmala setelah memandang sekeliling, memastikan teman-temannya sudah tidak memperhatikan Nirmala lagi.
"Iya, ternyata dia nyebelin banget! Pakai ngancem mau bilang sama orang tuaku lagi! Dasar! Kekanakan! Beraninya ngadu sama orang tua!" Nirmala bersungut, tangannya mengepal, ia masih ingat setiap kata yang ditulis istri Dimas. Semuanya sangat menyebalkan.
"Ya, namanya juga istri sah, La. Udah pasti dia bakalan melindungi apa yang jadi miliknya. Jadi, ya wajar kalau sikap dan kata-katanya terasa menyebalkan bagimu. Dia pun pasti sama. Menganggap kamu perempuan yang super menyebalkan. Berani-beraninya mengganggu suaminya. Pasti dia mikir gitu ke kamu." Rahma tetap berusaha membuka mata Nirmala. Kali aja Nirmala jadi mau sadar atas kesalahannya.
"Ya iya sih, tapi tetep aja nyebelin!" Nirmala memukul pahanya dengan kepalannya sendiri.
"Trus kamu mau gimana?" Rahma mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1