
"Besok aku tanya sama Kak Dimas kalau dia berkunjung. Kalau Kak Dimas emang mau mangakhiri hubungan ini, yaudah aku ikut. Tapi kalau dia masih mau tetap seperti ini, yaudah, aku abaikan aja pesan dari istrinya. Kalau perlu aku blokir aja pertemananku sama dia. Aku juga udah nggak bakalan kirim pesan ke Kak Dimas lagi lewat inbox. Karena aku yakin sih, akun Kak Dimas pasti udah ada di HP istrinya juga. Ya paling aku hubungi Kak Dimas pakai HP pondok. Kan cuma pakai SMS biasa. Jadi, nggak mungkin kan, istrinya bisa nerima pesan yang ku kirim ke Kak Dimas? Kecuali...." Nirmala kembali berpikir, sepertinya masih ada celah istri Dimas mengetahui pesan yang sebenarnya dia kirim ke Dimas.
"Kecuali apa, La?" Rahma menunggu lanjutan ucapan Nirmala.
"Kecuali kalau nomer Kak Dimas juga dipasang di HP istrinya, mereka saling tukeran kartu gitu, ala anak alay. Atau kalau enggak, istrinya diem-diem baca pesanku, karena nggak dihapus sama Kak Dimas. Atau justru dia yang lagi pegang HP Kak Dimas saat aku kirim pesan, jadi otomatis dia yang terima dan baca pesan dariku." Nirmala mendaftar segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Yaudah mending besok kamu pastikan aja kalau pas libur, gimana respon Kak Dimas."
"Iya, Ma. Rencanaku gitu." Nirmala mengangguk. Yang dia inginkan saat ini hanyalah cepat-cepat tiba waktu libur.
***
Saat yang ditunggu Nirmala hampir tiba, tapi dia harus menelan kenyataan pahit. Bulan ini tidak ada libur bulanan seperti biasanya. Alasannya sebentar lagi akan ujian akhir semester, di sekolah maupun di pondok, sebelum liburan semester satu, sekaligus akhir tahun dan awal tahun baru. Mau tidak mau, Nirmala harus bersabar lagi menunggu waktu liburan, selain harus fokus belajar, dia juga tidak bisa meminjam HP pengurus, karena selama belum selesai ujian, para santri tidak boleh berhubungan dengan dunia luar.
Sampai akhirnya rangkaian ujian akhir semester di sekolah dan di pondok selesai juga. Nirmala tersenyum sumringah. Akhirnya dia bisa segera pulang lagi ke rumah. Yang paling membahagiakan, para santri diperbolehkan memakai HP-nya masing-masing pada jam tertentu. Tentu saja untuk memudahkan berkomunikasi dengan orang tua, mengabari tentang liburan dan lain sebagainya. Daripada mengantri lama memakai HP pengurus yang jumlahnya terbatas.
Nirmala segera mengetik pesan untuk ibunya, setelah dia mendapatkan HP-nya kembali.
[Bu, hari Sabtu aku penerimaan raport. Setelah itu liburan semester. Bisa jemput ke pondok, kan?]
Sambil menunggu mendapat balasan dari ibunya, Nirmala mencari riwayat chatnya dengn Dimas. Dia beberapa kali mengetik pesan, kemudian menghapusnya. Dia ragu.
"HP Kak Dimas di pegang sama istrinya apa enggak ya?" Nirmala bergumam sendiri, dia membiarkan HP-nya masih dalam kondisi membuka chatnya dengan Dimas melalui WA.
"Coba aja, deh. Daripada mati penasaran." Nirmalam kembali mengetikkan pesan untuk Dimas yang kebetulan terlihat sedang online.
[Kak.]
Itu saja pesan yang ia tulis, kemudian menunggu balasannya. Kalau Dimas yang membalas, dia akan melanjutkan, tapi kalau istri Dimas yang membalas, dia akan berhenti mengirim pesan ke Dimas.
__ADS_1
Tak lama kemudian, sudah muncul balasan dari Dimas. Dia segera membaca balasannya.
[La? Kamu pegang HP?]
Nirmala tersenyum lega. Berarti Dimas yang membalas pesannya. Mereka pun terlibat dalam pesan yang beruntun.
[Iya, Kak. Tapi cuma dari sepulang sekolah sampai maghrib aja. Nanti dikumpulin lagi.]
[Oh, oke. Minggu terakhir bulan kemarin kok nggak ngabarin, La? Aku nungguin lho.]
[Nggak libur, Kak. Nggak boleh pakai HP pengurus juga. Soalnya mau ujian. Tapi sekarang udah selesai. Jadi sambil nunggu terima rapot, boleh pakai HP sendiri, buat ngabarin orang tua. Besok Sabtu terima rapotnya sih, terus bisa liburan sepuluh hari, Kak.]
[Oh, gitu. Terus kamu udah bilang sama Bapak buat jemput?]
[Belum, aku baru kirim pesan ke Ibu. Tapi belum dibales juga sampai sekarang nih.]
[Yaudah nggak papa. rapotnya diambil sendiri apa harus wali?]
[Iya juga sih. Nanti kamu kabarin, kalau Bapak nggak bisa jemput, aku anterin kamu pulang juga nggak papa. Sekalian pengen ketemu sama temen-temn di kantor yang dulu.]
Nirmala terdiam sejenak. Dimas bersikap seperti biasa, mungkin dia tidak tau apa yang dilakukan istrinya pada Nirmala.
[Tapi aku takut, Kak.]
[Takut kenapa? Aku nggak gigit kok. Emang aku pernah gigit kamu? Nggak pernah, kan?]
[Bukan, aku bukannya takut sama Kak Dimas.]
[Terus?]
__ADS_1
[Aku takut sama istrinya Kak Dimas.]
[Udah, tenang aja. Dia nggak bakalan ngapa-ngapain kok.]
[Tapi bulan kemarin, dia marah-marah sama aku, Kak. Katanya aku mengganggu hubungan dia sama Kak Dimas. Dia minta aku buat jauhin Kak Dimas. Kalau enggak, dia ngancem bakalan kasih tau ke bapak ibuku, tentang kita, Kak. Kak Dimas nggak tau? Itu pesannya pakai akun facebooknya Kak Dimas, lho.]
[Hah? Beneran dia bilang gitu ke kamu? Aku lama nggak buka FB sih, nggak sempat. Jadi nggak tau kalau kamu kirim-kirim pesan sama dia.]
[Iya, Kak. Kayaknya pesannya masih ada deh, kalau belum dihapus sama istri Kak Dimas sih. Coba aja Kakak buka kalau ada waktu.]
[Oke, nanti aku buka. Yaudah, aku lanjut kerja dulu. Nanti kabari aja kalau butuh kuanter pulang ya.]
[Oke, Kak.]
Dimas sudah tidak membalas lagi. Tapi Nirmala tidak mempermasalahkan. Yang penting dia tau, kalau hubungannya dengan Dimas masih baik-baik saja. Meskipun mereka sangat lama tidak berkomunikasi. Nirmala jadi yakin untuk terus berjalan seperti ini, tidak peduli dengan ancaman yang diberikan oleh istri Dimas waktu itu.
Tiba-tiba muncul lagi sebuah pesan, Nirmala segera melihat siapa pengirimnya. Bukan dari Dimas, tapi dari ibunya. Nirmala segera membuka pesan yang sedari tadi sudah dia tunggu itu.
[Oh gitu ya, syukurlah kalau gitu. Kamu bisa pulang sendiri, La? Naik bus atau naik kereta gitu? Berani, nggak?]
Nirmala memicingkan sebelah matanya, memastikan dia tidak salah baca. Tapi ternyata memang benar apa yang dia baca.
[Ya, berani aja, sih, Bu. Emang Bapak nggak bisa jemput ya, Bu? Hari Sabtu kan biasanya pulang setengah hari?]
[Bapak kamu lagi sibuk banget, La. Nggak tau sibuk apa. Pulangnya malem terus. Terus tidurnya juga di kamar kamu, di lantai atas. Nggak pernah tidur di kamar lagi. Ibu sering denger Bapak bertelepon, tapi kalau Ibu panggil, pasti langsung dimatiin teleponnya.]
[Lah? Kok aneh sih, Bu? Kayaknya dulu, sesibuk-sibuknya Bapak, nggak pernah sampai segitunya?]
[Nah itu, La. Ibu curiga kalau Bapak kamu punya selingkuhan, La. Makanya sikapnya berubah drastis seperti itu.]
__ADS_1
Deg!
Nirmala terdiam. Bagaimana kalau ternyata kecurigaan ibunya itu benar? Dia harus berbuat apa? Dia harus berpihak pada siapa?