
Cup!
Nirmala mendaratkan bibirnya di pipi kiri Dimas yang masih sibuk mengemudi. Tidak lama, tapi cukup untuk membuat jantung keduanya berdegup kencang. Dimas mengusap pipinya, dia tida berkomentar apa-apa.
"Itu buktinya kalau aku cinta sama Kak Dimas!" Nirmala membetulkan posisi duduknya lagi.
"Oke, oke. Aku percaya." Dimas tidak menyangka kalau Nirmala berani melakukan hal itu.
"Sekarang tinggal Kak Dimas, cinta apa enggak sama aku?" Nirmala berbalik menodong jawaban dari Dimas.
Dimas terdiam, dia ragu harus menjawab apa. Hati dan pikirannya dalam kebingungan. Apa yang dia rasakan tidak sesuai dengan kenyataan.
"Ya, aku sayang sama kamu, La. Kan aku udah bilang dari dulu." Dimas menjawab pada akhirnya.
"Cinta sama sayang itu beda lho, Kak. Kalau cinta itu perasaan yang benar-benar khusus dan spesial. Kalau sayang itu, sama siapa aja ya bisa sayang, sama adik, sayang. Sama orang tua, sayang. Sama teman, sayang. Nah, Kak Dimas sayang sama aku itu sebagai apa? Sebagai adik aja, Kan?" Nirmala tidak serta merta menerima jawaban dari Dimas.
"Dulu awalnya iya, La! Tapi sekarang enggak. Aku sayang sama kau, sebagai seorang laki-laki pada perempuan. Bukan cuma sebagai kakak adik." Dimas menjawab semakin berani, membuat Nirmala kembali berharap pada Dimas.
"Apa buktinya?" Nirmala menuntut bukti juga, seperti halnya yang dilakukan Dimas tadi.
Cup!
Tanpa pikir panjang, Dimas juga melakukan hal yang sama pada Nirmala. Dia meniru apa yang dilakukan Nirmala untuk membuktikan perasaannya. Nirmala terdiam, jantungnya seakan mau copot dari tempatnya.
Nirmala megusap pipi kanannya, dia tidak percaya, dia baru saja dicium oleh Dimas. Pria yang sudah beristri. Perasaannya campur aduk, antara bahagia, juga merasa berdosa.
"Apa aku sudah resmi jadi pelakor?" Batin Nirmala.
"Nggak-nggak! Dia yang merebut Kak Dimas dari aku! Bukan aku yang merebut Kak Dimas darinya. Aku bukan pelakor, tapi istrinya Kak Dimas itu yang pelakor. Dia yang ngrebut Kak Dimas dariku!" Nirmala kembali membatin. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Memantapkan hatinya bahwa dia tida bersalah atas kejadian itu.
"Kamu kenapa, La?" Dimas merasa aneh dengan apa yang Nirmala lakukan.
"Eh, emm, enggak, Kak. Aku cuma lagi bingung aja." Nirmala tersenyum kikuk.
"Bingung kenapa?" Dimas menaikkan sebelah alisnya.
"Bingung aja, Kak Dimas melakukan itu cuma sama aku, atau sama istri Kak Dimas juga seperti itu?" Nirmala sengaja memancing perkara.
__ADS_1
Dimas terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Nirmala yang tiba-tiba itu.
"Pasti udah lebih daripada cuma cium pipi, ya? Kan kalian udah jadi suami istri. Jadi bebas mau melakukan apapun, sesuka kalian. Bodoh banget sih pertanyaanku!" Nirmala menepuk-nepuk jidatnya sendiri.
Dimas tetap tidak bisa menjawab.
"Mampir minimarket sebentar ya, La! Kamu pengen jajan apa? Perjalanan kita masih lumayan jauh ini." Dimas mengalihkan pembicaraan.
"Terserah Kak Dimas aja!" Nirmala menjawab ketus. Dia tau, Dimas sedang mengalihkan pembicaraan. Apa yang dia ucapkan tadi pasti memang benar, sampai Dimas tidak bisa menjawab seperti itu.
"Oke, tunggu di sini, ya!" Dimas turun dari mobil setelah berhasil memarkirnya di halaman minimarket yang cabangnya tersebar di mana-mana itu.
"Hemm." Nirmala hanya menjawab dengan deheman. Dia tidak berselera untuk menjawab.
"Apa aku yang terlalu bodoh? Mencintai suami orang?" Nirmala bergumam sendiri di dalam mobil.
"Apa aku coba lupakan Kak Dimas aja? Tapi aku nggak mau kehilangan Kak Dimas. Aku nggak bakalan mendapatkan semua ini, kalau aku tidak dengan Kak Dimas." Nirmala menimbang-nimbang lagi apa yang ia pikirkan.
"Yaudah deh, nggak papa, sementara seperti ini dulu aja. Selama Kak Dimas memperlakukanku dengan baik, aku akan tetap dengan perasaanku!" Nirmala mantap dengan pilihan yang sebenarnya keliru itu.
Tak lama kemudian, Dimas membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil.
"Makasih, Kak." Nirmala tersenyum. Dia memang gadis yang mudah berubah moodnya, baru saja jengkel-jengkel, sekarang sudah senyam senyum lagi.
"Iya, sama-sama." Dimas meneguk minuman bersoda yang ia beli. Dia tidak membelikan juga untuk Nirmala, mengingat Nirmala rawan asam lambungnya naik. Dia tidak mau ambil resiko, jadi membelikan minuman yang lainnya saja.
"Pantainya masih jauh, Kak?"
"Enggak sih, paling 20 menit lagi sampai."
"Oke. Kak, aku mau tanya sesuatu boleh?" Nirmala ragu-ragu. Dia takut jawaban Dimas akan membuatnya sakit hati.
"Boleh, tanya aja!" Dimas mulai menjalankan mobilnya, kembali ke jalan.
"Istri Kak Dimas udah hamil?"
Dimas melihat ke arah Nirmala yang tetap menatap lurus ke jalan saat menanyakan hal itu.
__ADS_1
"Belum, La." Dimas menjawab singkat.
"Oh, syukurlah." Nirmala tersenyum.
"Emangnya kenapa?" Dimas heran dengan pertanyaan Nirmala yang tiba-tiba.
"Emm, enggak kok, Kak. Nggak papa." Nirmala menggeleng, dia enggan mengatakan apa yang dia pikirkan saat itu.
"Oke." Dimas juga tidak mau memperpanjang pembicaraan itu, dia kembali fokus mengemudi, tanpa banyak bicara lagi.
Seperti perkiraan, dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di gerbang selamat datang di pantai yang ada di pesisir kota itu. Cuaca yang tadinya panas, mendadak jadi mendung.
"Kak, sepertinya mau hujan deh." Nirma melihat ke arah langit.
"Ya nggak papa, tanggung, udah sampai sini." Dimas tetap melajukan mobilnya mencari tempat parkir yang kosong.
"Yuk, turun!" Dimas turun dari mobil terlebih dahulu.
Mereka berdua berjalan, menuju ke kios-kios yang ada di sekitar pantai.
"Ngapain, Kak?"
"Beli baju ganti dulu, katanya pengen basah-basahan? Sana pilih baju yang kamu sukai. Habis ini ke kamar mandi, ganti baju yang baru, yang kamu pakai sekarang, dipakai nanti kalau mau pulang ke pondok lagi." Dimas menjelaskan apa maksudnya mengajak Nirmala ke sana.
"Oh, hehe. Oke." Nirmala jadi paham, dia segera mengambil baju kaos lengkap dengan celananya. Begitu juga dengan Dimas. Kemudian mereka berdua mengganti pakaian mereka di kamar mandi yang disediakan.
"Ayo, cepetan main air, Kak!" Nirmala tersenyum girang. Dia lebih dulu mendekat ke air, merasakan aroma air pantai. Lama sekali dia tidak merasakan hiburan. Satu bulan lebih, kehidupannya hanya antara sekolah dan pondok saja.
Dimas menyusul, ia berdiri di samping Nirmala.
"Bagus banget ya, Kak. Pantainya juga nggak terlalu ramai, jadi bisa bebas lihat pemandangan. Nggak cuma lihat orang aja." Nirmala bergumam.
"Iya, cuaca juga mendung, jadi nggak terlalu panas."
Nirmala mengangguk. Dia kemudian duduk di atas pasir, yang mepet dengan garis pantai. Dia ingin merasakan guyuran ombak yang datang menghampiri.
"Ayo, Kak. Duduk sini!" Nirmala mendongak, melihat wajah Dimas yang masih berdiri. Dimas juga melihat ke arah wajah Nirmala. Mereka tidak memperhatikan bahwa ada ombak besar yang akan segera sampai.
__ADS_1
Byur!
"Kak, toloong!"