Mencintai Kakak Angkat

Mencintai Kakak Angkat
Bab 9


__ADS_3

"Loh, Kak Dimas? Kok udah di rumah?" Nirmala balik bertanya, tidak biasanya Dimas sudah pulang. Padahal ini belum jam pulang kerja.


"Iya, ambil barang ketinggalan, nih." Dimas menggerakkan bahu, menunjukkan tasnya.


"Oh, jadi mau ke bengkel lagi?"


"Iya. Tadi kamu mau bahas apa sama Rosa?" Dimas menagih jawaban Nirmala.


"Eh, emm, itu urusan sekolah, Kak. Hehe." Nirmala mencoba menutupi hal yang sebenarnya, tapi sayang, ekspresinya terlihat jelas kalau sedang berbohong.


"Urusan cowok pasti, ya kan?" Dimas menyelidik.


"Hehe, gitu deh, Kak."


"Ada apa sih?" Dimas bertanya lebih lanjut.


"Kak Dimas mau tau, apa mau tau banget?" Nirmala tersnyum meledek Dimas yang memasang wajah serius.


"Mau tau banget! Nanti kamu harus cerita! Tapi nanti aja! Aku mau berangkat dulu. Pulang kerja nanti aku tagih. Awas, jangan coba-coba kabur!"


"Idih, Kak Dimas kok maksa gitu sih?"


"Pokoknya harus cerita! Titik, nggak pake koma! Aku berangkat dulu. Byee!" Dimas berpamitan, dia segera menuju motornya dan berlalu meninggalkan Nirmala yang masih bengong.


"Kenapa sih Kak Dimas? Kok jadi aneh gitu? Heran deh. Atau, jangan-jangan?" Nirmala bergumam sendiri, kemudian tersenyum, berharap apa yang dia pikirkan memang benar-benar terjadi.


***


Sore harinya, Nirmala menunggu Dimas pulang kerja di teras depan rumah. Tapi sampai jam lima sore, tetap saja belum ada tanda-tanda Dimas pulang. Bukan hanya Dimas, ayahnya juga belum pulang.


"Bu, Ayah kok tumben belum pulang?" Nirmala mendekati ibunya yang sedang memasak di dapur.


"Lagi ngawasi anak-anak bengkel lembur. Paling nanti jam 7 baru pulang." Sukma menjawab, sambil terus memotong sayuran.


"Oh, Kak Dimas juga?"


"Ya iya dong, La! Kan dia termasuk anak bengkel yang diawasi ayahmu. Gimana sih kamu itu?" Sukma geleng-geleng kepala, anak sulungnya itu memang kadang suka telat mikir.

__ADS_1


"Hehe, ya kan memastikan, Bu." Nirmala nyengir saja.


"Kamu lagi sibuk apa?"


"Nggak sibuk sih, Bu. Mau ke rumah Rosa, tapi nanggung. Udah mau maghrib." Nirmala baru ingat dengan janjinya pada Rosa siang tadi.


"Yaudah, sini bantuin Ibu masak! Biar kamu bisa masak sendiri, nggak cuma bisa masak mie sama air doang." Sukma meledek anak sulungnya itu.


"Eh, enggak ya, Bu! Aku bisa goreng telur, kok!" Nirmala protes.


"Iya, itu doang. Masa iya, besok suamimu cuma mau dikasih makan mie sama telur aja?"


"Ya, kan bisa beli, Bu." Nirmala ngeles.


"Kamu itu, ngeles aja! Udah, sini buruan! Kupasin bawang, trus dicuci, diiris!" Sukma memberi perintah lanjutan.


"Iya, deh!"


***


Setelah semua selesai makan, seperti biasa, Nirmala bertugas mencuci peralatan makan yang selesai digunakan. Saat sedang asyik menyabuni piring, tiba-tiba saja Dimas sudah ada di belakangnya.


"La! Jangan lupa! Nanti cerita yang tadi!" Dimas pura-pura mengambil gelas yang ada di rak piring samping wastafel tempat cuci piring.


"Ya, nanti di balkon atas aja, ya! Takut kalau Ayah denger, nanti bisa kena marah aku!"


"Oke, nanti aku ke atas." Dimas segera pergi dari dapur, kembali ke ruang tengah.


Setelah selesai mencuci piring, Nirmala kembali ke ruang tengah. Tapi ternyata Dimas sedang asyik ngobrol dengan ayah dan ibunya. Sambil sesekali menggoda Claudia.


"Gimana sih, Kak Dimas? Katanya mau dengerin ceritaku, tapi malah asyik cerita sama Ayah Ibu." Nirmala menggerutu kesal. Dia terpaksa ikut duduk di ruang tengah beberapa saat, memberi tanda pada Dimas, bahwa dia sudah selesai cuci piring. Tak lama kemudian, dia memutuskan untuk ke kamarnya yang ada di atas garasi.


Nirmala memutuskan untuk membuka buku pelajarannya saja, meskipun ternyata sulit konsentrasi. Saat ini pikirannya bercabang banyak sekali.


Tok tok tok!


"La! Buka pintunya!" Terdengar suara Dimas dari luar. Nirmala tersenyum lebar. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.

__ADS_1


"Bentar, Kak!" Nirmala tergopoh-gopoh membukakan pintu kamarnya.


"Aku bawa minuman sama cemilan nih, buat nemenin ngobrol. Kamu bisa minum dan makan kaya ginian kan? Nggak bikin asam lambung naik?" Dimas menunjukkan isi kresek yang dia bawa.


"Aman, Kak! Tenang aja!" Nirmala tersenyum senang.


Mereka berdua berjalan menuju balkon, melewati bagian samping kamar. Nirmala tidak mungkin membawa Dimas ke balkon, melewati dalam kamarnya. Mereka berdua duduk saja di atas keramik, karena tidak ada kursi khusus yang disediakan di sana.


"Jadi gimana, La? Kamu mau cerita apa?" Dimas bertanya langsung pada intinya.


"Lhoh, kok kesannya kaya aku yang ngemis pengen cerita ya?"


"Hehe, jadi aku harusnya tanya gimana dong?" Dimas menyadari kesalahan kata yang dia gunakan.


"Hehe, ya udah. Nggak usah dibahas lagi!" Nirmala tidak enak sendiri pada Dimas.


"Oke, jadi gimana?"


"Jadi gini, Kak. Tadi pagi aku dapat surat, tapi nggak tau dari siapa. Dia cuma nulis inisial R kelas 9E gitu. Nah tadi pas pulang sekolah, teman ekskul basketku nawarin buat pulang bareng. Namanya Reno. Dia kelas 9E. Jadi aku sama Rosa mikir, mungkin yang ngirim surat ke aku tadi pagi itu si Reno. Kalau emang bener iya, bisa gawat!" Nirmala bercerita dengan antusias.


"Emangnya kenapa? Kok gawat?" Dimas memperlihatkan wajah tidak sukanya.


"Ya, soalnya dia itu ketua tim basket cowok, Kak. Jadi udah otomatis banyak anak-anak yang naksir sama dia. Nggak cuma seangkatan aja, tapi adik-adik kelas juga banyak yang naksir sama dia. Nah, kalau mereka tau, Reno kirim surat dan ngajakin aku pulang bareng, bisa-bisa aku dapat teror dari penggemarnya Reno yang nggak kehitung jumlahnya! Astaga! Aku nggak bakalan bisa tenang!" Nirmala memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Dia pusing memikirkan kemungkinan yang terjadi.


"Mana si Reno maksa banget, mau ngajak aku pulang bareng. Tadi pas aku cari-cari alesan aja, dia tetep kekeuh mau ngajak aku pulang bareng lain kali. Aku harus gimana dong, Kak?" Nirmala melanjutkan sesi curhatnya.


"Kamu sendiri suka sama si Reno apa enggak?" Dimas menyelidik.


"Ya, dia sih emang keren, pinter juga, baik. Emang idaman cewek-cewek lah. Tapi aku takut sama resikonya kalau suka sama dia, jadi mending nggak usah aja deh, daripada ribet di belakangnya. Tapi kalau Reno terus ngejar-ngejar aku gimana?" Nirmala melihat sorot kecemburuan di mata Dimas. Dalam hati dia bersorak kegirangan. Jawabannya itu punya makna tersirat, dia ingin meyakinkan Dimas kalau dia tidak mungkin bersama Reno.


"Yaudah, kamu bilang aja sama Reno, kalau kamu udah punya pacar! Dia pasti bakalan mundur." Dimas memberi solusi.


"Kalau dia tanya siapa pacarku gimana, Kak? Dan aku nggak bisa kasih bukti? Bisa-bisa dia mikir kalau aku tukang ngibul!"


"Bilang aja kalau kamu itu pacarku!" Dimas berkata tanpa beban. Sedangkan Nirmala merasa dirinya sudah hampir pingsan. Dia terdiam.


"Ya ampun, Kak. Kalau aja kamu ngajak aku jadi pacarmu beneran! Aku pasti mau!" Nirmala hanya bisa membatin.

__ADS_1


__ADS_2