
Badan Nirmala terguyur ombak, menyisakan bagian kepalanya saja. Tubuhnya ikut terbawa ombak. Melihat kejadian itu, Dimas segera memegangi Nirmala, sekenanya, padahal dirinya juga tengah bertahan dari seretan ombak. Kakinya ikut terbawa pasir yang terasa seperti bergerak ke arah laut. Beruntung dia dapat bertahan, begitu juga dengan Nirmala yang segera berdiri setelah bisa mengendalikan diri. Dimas segera menarik Nirmala menjauh dari bibir pantai, tak hal yang sama terulang lagi.
"Makasih ya, Kak."
"Sama-sama, kita main agak jauh dari air aja, ya. Daripada nanti kebawa ombak lagi." Dimas mengajak Nirmala berjalan lebih jauh lagi dari bibir pantai.
"Kamu pengen makan sesuatu nggak? Aku beli jajan dulu ya. Kamu pengen apa?" Dimas menawarkan, ia benar-benar sosok pria yang perhatian. Itulah yang Nirmala sukai dari Dimas, selalu tau apa yang dia inginkan.
"Boleh, Kak. Aku ikut aja, deh. Daripada nanti diculik orang." Nirmala menunjukkan deretan giginya.
"Yang mau nyulik kamu nggak kuat, La!" Dimas tersenyum lebar, meledek Nirmala.
"Jahat banget sih, Kak! Katanya aku udah kurusan?" Nirmala memonyongkan bibirnya.
"Haha, iya-iya. Kan cuma bercanda. Nggak usah manyun gitu dong, ntar cantiknya nambah, lho!" Dimas tersenyum semakin lebar.
"Tuh, kan! Ngeledek lagi!" Bibir Nirmala semakin manyun, dia mensedekapkan tangannya, pura-pura ngambek.
"Haha, iya deh. Maaf, maaf. Ayo, ke sana! Kamu pengen apa? Cilok? Batagor? Siomay? Jagung bakar? Es krim?" Dimas melihat deretan penjual jajanan yang ada di sekitar sana.
"Aduh! Aku pengen semua, Kak!" Nirmala kembali memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih itu.
"Aduh! Silau, La!" Dimas kembali menggoda Nirmala, membuat Nirmala refleks menabok lengan Nirmala.
Meskipun tidak jadi bermain air, Dimas dan Nirmala tetap menikmati rekreasi mereka yang singkat. Ditemani jajanan yang mereka beli, mereka mengobrol dan bercanda dengan asyik. Duduk di atas hamparan pasir pantai, sampai baju yang tadinya basah jadi kering lagi. Dimas melihat jam tangannya.
"La, udah jam dua nih. Pulang yuk? Kita belum makan siang juga." Dimas menyudahi obrolan mereka berdua.
"Oke, Kak. Tapi aku kenyang banget, makan jajanan. Nggak usah makan siang aja nggak papa, kok." Nirmala mengelus-elus perutnya yang memang terlihat penuh.
"Tetep harus makan, dong. Nanti aku kena marah Bapak sama Ibu. Ngajak jalan-jalan tapi nggak diajak makan."
__ADS_1
"Hmm, yaudah deh. Terserah Kakak aja." Nirmala akhirnya mengalah.
"Oke, deh. Kita ganti baju dulu aja. Habis itu langsung pulang. Cari makan di dekat pondok aja, sambil nunggu waktu liburanmu habis. Mau kan?"
"Mau banget, Kak." Nirmala mengangguk girang. Ia mengira akan segera diantar ke pondok, setelah ini. Tapi ternyata Dimas mengerti perasaannya yang masih ingin berlama-lama dekat dengannya.
Liburan bulan ini terasa benar-benar menyenangkan bagi Nirmala. Dia tak sabar menunggu liburan bulan depan, dia ingin mengulang lagi semua kesenangan yang ia lakukan bersama Dimas hari ini.
***
"La! Katanya mau cerita?" Rahma tiba-tiba saja sudah berada di samping Nirmala, saat menunggu teman lainnya untuk sembahyang maghrib bersama-sama.
"Sttt! Nanti ya, kalau jam belajar, aku bakalan cerita. Tapi di mana ya? Yang nggak bakalan kedengeran sama yang lain? Soalnya ini bener-bener rahasia. Aku bisa mati kalau pada tau." Nirmala berbisik pada Rahma.
"Nanti ikut aku aja! Gampang!" Rahma tersenyum sumringah. Mendapat cerita yang sebenarnya rahasia benar-benar hal yang menyenangkan.
"Oke!" Nirmala mengangkat jempolnya, tanda setuju.
"Kamu yakin nggak bakalan ada yang ke sini?" Nirmala tetap was-was.
"Yakin lah! Nggak bakalan ada yang jemur jam segini. Pasti mereka lagi belajar kan? Kalau mau nyuci dan jemur, nanti kalau selesai jam belajar." Rahma meyakinkan Nirmala.
"Iya juga sih. Yaudah di sini aja kalau gitu." Nirmala duduk di lantai, memilih tempat yang kering. Disusul Rahma yang duduk di sampingnya.
"Oke, jadi, sebenarnya tadi itu siapa?" Rahma bertanya langsung pada intinya, tanpa basa-basi lagi. Mereka harus cepat, sebelum jam 9, karena akan ada presensi kehadiran belajar di ruang kelas nanti.
"Dia itu bisa dikatakan kakak angkatku, tapi aku cinta sama dia, dia juga cinta sama aku. belum terlalu lama sih, belum ada setahun." Nirmala juga menjelaskan langsung pada intinya.
"Jadi kalian pacaran?" Rahma mengambil kesimpulan dari cerita Nirmala.
"Enggak!"
__ADS_1
"Lah trus? Saling cinta, saling mesra gitu, masa nggak pacaran sih?"
"Kak Dimas takut kalau merusak hubungan Kak Dimas sama orang tuaku, karena aku kan masih remaja, jadi Kak Dimas takut kalau dianggap mengganggu belajarku dan lain sebagainya. Meskipun sebenarnya, dengan adanya Kak Dimas, justru membuatku semangat belajar, sih."
"Ooh, gitu. Jadi kalian HTS-an?"
"Ya, begitulah." Nirmala mengedipkan matanya pelan, meskipun ia tidak yakin Rahma akan melihatnya, karena kondisi atap yang minim penerangan.
"Jadi, Kak Dimas mau nungguin sampai kamu lulus, baru mau ngajak kamu ke hubungan yang lebih serius?" Rahma menebak.
Nirmala menarik nafas berat.
"Kenapa? Ada yang salah, La?" Rahma bingung, di mana letak kesalahan pertanyaannya.
"Entahlah, Ma. Aku nggak tau apa yang akan terjadi di masa depan. Aku cuma mikirin apa yang terjadi saat ini aja. Aku nggak mikir terlalu jauh."
"Lah? Hubungan macam apa itu? Harusnya kan kalau emang saling suka, setidaknya punya cita-cita, suatu saat hidup bersama. Ya meskipun banyak juga yang akhirnya berpisah sebelum cita-cita itu terwujud sih." Rahma bertambah heran saat mendengar jawaban Nirmala.
"Aku sih pengennya suatu saat nanti, Kak Dimas yang bakalan jadi suamiku. Tapi aku nggak bisa banyak berharap."
"Loh, kenapa? Kan dia juga cinta sama kamu, kan? Kenapa nggak bisa berharap?"
"Karena dia sekarang udah jadi suami orang, Ma." Nirmala menjawab lemah.
"Hah? Jadi, kamu suka sama suami orang?" Rahma membelalakkan matanya, tidak menyangka hubungan asmara temannya ternyata begitu rumit. Nirmala mengangguk pelan.
"Ya ampun, La! Kaya nggak ada cowok lain aja! Kamu udah tau kalau dia udah punya istri, tapi kenapa masih kamu gebet juga? Kamu nggak takut dianggap sebagai pelakor?" Rahma geleng-geleng kepala.
"Kak Dimas nikah karena terpaksa, Ma. Lagi pula, aku yang suka duluan sama Kak Dimas. Sebelum Kak Dimas nikah, kamu berdua emang udah mesra, sering menghabiskan waktu bersama. Jadi, dia yang ngerebut Kak Dimas dariku, bukan aku yang ngerebut Kak Dimas!" Nirmala mulai kambuh keras kepalanya.
"Tapi tetep aja, dia udah sah di mata agama dan negara, La! Jadi tetep kamu yang bakalan dicap jelek! Nggak peduli gimana awal kejadiannya." Rahma berusaha menasehati Nirmala, membuat Nirmala terdiam.
__ADS_1