
Seperti sekolah lainnya, di sekolah Nirmala juga ada pelajaran TIK, para siswa boleh menggunakan komputer sekolah, lengkap dengan fasilitas internet. Hal ini tidak disia-siakan oleh semua siswa, mereka mencuri-curi waktu untuk membuka facebook atau twitter. Begitu juga dengan Nirmala. Dia langsung membuka aplikasi, saat ada kesempatan.
Nirmala segera mengetikkan nama facebook Dimas yang sudah berteman dengannya. Setelah itu, dia mulai menginbox Dimas.
[Kak, lagi sibuk nggak?]
Nirmala menutup jendela facebook sambil menunggu balasan dari Dimas, dia kembali mengerjakan tugas dari gurunya. Materi pertama yang mereka dapatkan adalah materi tentang microsoft word. Para siswa diminta untuk mengetik apa yang diperintahkan guru, lengkap dengan format lainnya.
Saat sedang asyik mengetik dan mengatur tulisan sesuai contoh yang diberikan guru, tiba-tiba muncul tanda merah di bagian bawah layar. Tanda sebuah pesan masuk. Nirmala melihat sekeliling, berharap guru tidak sedang mengawasinya. Setelah memastikan semua aman, Nirmala membuka inboxnya. Ia tersenyum, ternyata dari Dimas.
[Nggak terlalu. Kamu kok bisa buka fb?]
Dengan cepat Nirmala mengetik lagi balasan.
[Lagi pelajaran TIK, jadi bisa buka fb, Kak. Setiap hari Selasa ada pelajaran TIK, jadi mungkin aku bisa inbox setiap hari itu.]
Tak butuh waktu lama, Dimas sudah membalas lagi.
[Oke, bagus deh kalau gitu. Jadi bisa komunikasi, meskipun sebentar.]
[Iya, Kak. Hehehe.]
Mulai dari saat itu, hari Selasa selalu menjadi hari istimewa bagi Nirmala maupun teman lainnya, karena mereka bisa berinteraksi dengan dunia luar yang terasa sangat menyenangkan bagi mereka yang terkekang dengan aturan pondok. Tidak hanya berkomunikasi dengan Dimas, Nirmala juga mulai berkomunikasi dengan teman di facebook lainnya.
[Kak, hari Minggu jadwalnya kunjungan. Dikasih waktu bebas dadi jam 9 sampai magrib, bisa jemput aku nggak?]
Nirmala mengirim pesan pada Dimas melalui inbox seperti biasa, sambil mengerjakan tugas dari gurunya.
[Ya bisa, bisa jalan?]
Nirmala tersenyum membaca balasan dari Dimas. Dia girang, membayangkan hari Minggu akan jalan-jalan dengan orang yang selalu ia impikan.
[Bisa, Kak. Yang penting maghrib udah di pondok lagi.]
[Oke, jam stengah 10 aku jemput.]
[Siap, Kak.]
***
Hari Minggu, seperti yang dijadwalkan, para santri boleh libur satu hari. Waktu ini bisa digunakan untuk istirahat, bebas dadi tugas, atau bisa untuk kunjungan keluarga, maupun jalan-jalan bersama teman-teman.
Pagi-pagi, setelah jadwal sarapan dan kebersihan, Nirmala mengambil HP yang dititipkan pada pendamping santri putri, kemudian kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"La, nanti kami mau jalan-jalan ke pasar. Kamu mau ikut nggak?" Linda si ketua kamar mengajak Nirmala.
"Eh, emm. Enggak ah, Kak. Aku nanti ada kunjungan. Jadi paling nanti pergi sama kakakku." Nirmala menolak tawaran dari Linda.
"Oh, gitu ya. Oke deh kalau gitu. Berarti kamu nggak ikut, kan?" Linda masih memastikan, dia takut kalau salah paham.
"Iya, Kak. Aku nggak ikut. Mungkin lain kali." Nirmala tersenyum.
"Oke, deh. Wajar sih, anak baru, pasti lebih seneng kalau dapat kunjungan. Masih bau-bau rumah sih." Linda tertawa, ia hanya ingin bercanda.
"Hehe, ya gitu deh, Kak." Nirmala tersenyum makin lebar. Bukan bau-bau rumah sebenarnya, hanya rindu pengen ketemu sama kakak angkatnya saja.
Nirmala memainkan ponselnya. Dia berbalas pesan dengan ibunya, Dimas dan juga Rosa sambil menunggu Dimas menjemputnya.
Seperti yang dijanjikan Dimas, jam setengah 10 dia sudah datang menjemput Nirmala.
"Halo, Kak!" Nirmala tersenyum, dia memasuki mobil Dimas dengan riangnya.
"Hay, La. Gimana kabarmu? Kayaknya kamu kurusan, ya?" Dimas juga ikut tersenyum.
"Apa iya, Kak? Kayaknya sama aje deh." Nirmala melihat sekilas ke tubuhnya.
"Iya, apa karena bajumu yang longgar? Jadi kelihatan kurusan?"
"Bisa juga sih, habisnya di sini kan nggak boleh pakai pakaian ketat. Jadi ya, gini deh penampilanku sekarang." Nirmala bangga dengan penampilannya saat ini.
Nirmala tersipu malu, wajahnya memanas, pipinya merona.
"Apaan sih, Kak." Nirmala tersipu malu, tapi dia senang mendapat pujian itu.
"Beneran, aku nggak bohong. Aku suka melihat kamu seperti ini." Dimas menegaskan ucapannya tadi.
"Udah ah, Kak. Aku jadi malu, nih! Jalan aja deh!" Nirmala memilih untuk mengakhiri pembahasan itu.
"Oke, oke. Kita mau ke mana?"
"Terserah Kakak aja, deh. Aku kemanapun bahagia, asalkan sama Kakak." Nirmala memasang sabuk pengamannya.
"Mau makan? Udah makan apa belum?"
"Udah, Kak. Makannya nanti aja, sekarang jalan-jalan dulu, ke mana terserah Kakak aja, deh!"
"Mmm, oke." Dimas mulai menyalakan mobilnya, keluar dari area parkir yang tidak terlalu luas itu. Jalan yang sempit dan padat juga membuat mobil Dimas kesulitan untuk kembali ke jalan.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, istri Kak Dimas gimana? Tau nggak kalau Kak Dimas ke sini?" Nirmala bertanya, meskipun di hati terasa menyakitkan. Harus mengingat lagi bahwa Dimas ternyata sudah beristri.
"Iya, dia tau, kok. Kamu nggak usah khawatir ketahuan sama dia." Dimas menenangkan Nirmala.
"Apa dia nggak marah, Kak?"
"Ya enggak, kan aku bilang kalau mau mengunjungi kamu, anak dari Bapak yang udah kuanggap seperti bapak sendiri. Berarti kamu kan adikku? Jadi ya, dia nggak marah. Toh emang Bapak Ibu udah pasrah sama aku, kan? Buat ngunjungi kamu kalau lagi libur?" Dimas menjelaskan alasan Nirmala tidak perlu khawatir, meskipun kata-kata Dimas berhasil membuat harapan Nirmala kembali pupus. Dia terdiam.
"Jadi, Kak Dimas emang cuma nganggep aku sebagai adik aja." Nirmala membatin.
"Kamu nggak papa, La?"
"Eh, iya. Nggak papa, Kak. Yaudah kita mau ke mana ini jadinya?" Nirmala mengalihkan pembicaraan.
"Ke toko buku mau? Kamu lama nggak beli komik, kan?"
"Iya, Kak. Yaudah kita ke toko buku aja!"
"Oke."
Mereka berdua akhirnya ke toko buku yang tidak terlalu jauh dari pondok Nirmala. Sesampainya di sana, Nirmala segera menuju ke deretan buku komik.
"Kak, aku boleh ambil berapa?" Nirmala menujukkan deretan giginya.
"Terserah kamu aja, buat hiburan sebulan. Bulan depan bisa beli yang baru lagi." Dimas mensedekapkan kedua tangannya.
"Wah, kalau sehari habis satu, berarti boleh ambil 30 dong?" Canda Nirmala.
"Ya, nggak segitunya juga." Dimas menggaruk-garuk kepalanya.
Nirmala tertawa mendengar tanggapan dari Dimas yang menganggap ucapannya serius.
"Aku ambil 5 boleh, Kak? Soalnya di pondok nggak punya hiburan. Di perpus adanya buku agama semua. Pusing aku bacanya!"
"Boleh aja, 10 juga boleh."
"Beneran, Kak?" Nirmala bertanya memastikan.
Dimas mengangguk, sambil tetap menyunggingkan senyuman.
"Yeee, makasih, Kak!" Nirmala girang bukan main, sampai tanpa sadar, Nirmala memeluk Dimas di tempat umum itu. Seperti biasa, Dimas tidak menolaknya. Mereka berdua menikmati waktu yang sangat mendebarkan itu.
"Nirmala?"
__ADS_1
Nirmala terlonjak dan melepaskan pelukannya.
"Mati, aku! Ini sih namanya ketangkep basah!" Nirmala membatin, sambil menengok ke belakang, melihat siapa yang memanggilnya barusan.