
"Eh, Rahma! Kamu ke sini juga?" Nirmala menarik nafas lega, untungnya Rahma yang memergokinya. Bukan teman sekamar, atau pembimbingnya.
"Kamu sama siapa itu? Pacarmu ya? Pantes dilirik Dony nggak respon sama sekali, ternyata udah punya pacar!" Rahma menggoda Nirmala.
"Hehe, bukan kok. Ini bukan pacarku." Nirmala tersenyum kikuk.
"Bukan pacar tapi kok peluk-peluk gitu? Di tempat umum lagi!" Rahma tidak serta merta mempercayai ucapan Nirmala.
Nirmala berjalan mendekati Rahma dan berbisik padanya.
"Sstt, nanti aku ceritain kalau lagi berdua. Ini rahasia."
"Ooh, oke!" Rahma mengangguk setuju.
"Kamu sendirian aja?" Nirmala mengalihkan pembicaraan.
"Enggak, itu sama temen sekamar. Tapi mereka ada si sebelah sana." Rahma menunjuk ke arah rak-rak novel remaja, memang banyak santri yang sedang membaca buku di sana.
"Oh, gitu. Kamu mau beli novel?"
"Rencananya sih gitu, buat hiburan. Kamu beli apa sih?" Rahma melihat sampul buku yang dipegang Nirmala.
"Aku beli komik aja, nih. Buat hiburan." Nirmala menunjukkan lima komik yang dia bawa.
"Yah! Kok kaya anak kecil sih? Bacanya buku yang banyak gambarnya!" Rahma tertawa kecil.
"Ya nggak papa, kan selera. Besok aku pinjem novelmu ya? Kalau kamu udah selesai."
"Ya, boleh aja! Yang penting dijaga, jangan sampai terlipat, sobek, apalagi hilang!"
"Ya ampun, gitu banget aturannya? Nggak jadi deh! Aku kalau baca novel suka ketiduran, kadang malah keileran jug sih." Nirmala tertawa, mengingat kebiasaannya sendiri.
"Ih, jorok banget!" Rahma bergidik ngeri.
"Hehe, ya gitu deh. Emang paling aman kalau punya buku sendiri sih, mau diperlakukan seperti apapun, terserah kita."
"Terserah sih terserah, tapi ya harusnya dijaga dengan baik lah. Jangan seenaknya sama buku. Kan sayang?" Rahma masih betah menasehati Nirmala.
__ADS_1
"Iya deh, iya. Eh, ngomong-ngomong, temen-temen kamarmu tadi ada yang lihat aku juga nggak ya?" Nirmala jadi was-was. Kalau diadukan sama pengurus, bisa dapat hukuman berat.
"Enggak kok, mereka kan tadi asyik baca novel masing-masing. Akuny aja yang lagi keliling, cari buku yang pengen dibeli. Makanya lihat kamu di sini." Rahma menenangkan Nirmala.
"Oke, syukurlah. Jangan bilang sama pembimbing atau pengurus ya, Ma! Please!" Nirmala menangkupkan kedua tangannya yang terhalang komik, memohon pada Rahma.
"Iya, iya. Tenang aja! Lagian nggak ada untungnya buat aku."
"Hehe, makasih banyak ya, Ma!" Nirmala menunjukkan deretan giginya.
"Iya, sama-sama. Yaudah aku ke sana dulu deh. Dilanjutin lagi seneng-senengnya! Jangan lupa, nanti cerita!" Rahma tersenyum menggoda Nirmala, membuat Nirmala refleks menabok lengan Rahma.
"Aduh, sakit! Kuat banget sih kamu! Tenaga udah kaya laki aja!" Rahma meringis sambil memegangi lengannya yang terasa sakit.
"Hehe, sorry, sorry. Kelepasan pakai tenaga dalam." Nirmala nyengir tanpa merasa bersalah.
"Yaudah deh, aku pergi aja. Daripada jadi sasaranmu lagi!" Rahma melenggang pergi.
"Jangan bilang-bilang ya, Ma!" Nirmala sedikit berteriak.
"Iya, santai aja!" Rahma membalas teriakan Nirmala, tanpa menengok ke arah Nirmala.
"Oh, itu. Temen sebangku, Kak. Untung aja dia yang mergoki aku, coba kalau yang lain. Bisa gawat! kalau diaduin sama pengurus, bisa repot!"
"Kan mereka udah tau kalau aku kakak kamu?"
"Ya, tapi kan bukan kakak kandung, Kak. Tetep aja harusnya nggak boleh seperti ini." Nirmala sebenarnya sudah mulai sadar kalau apa yang dilakukan adalah hal yang salah, tapi rasa cintanya membuatnya lupa akan hal itu.
"Yaudah, kita pindah tempat aja, yuk! Di sini nggak bebas, temen-temenmu pada di sini, sih!" Dimas memutuskan untuk menghindari jangkauan teman-teman Nirmala.
"Kita mau ke mana, Kak?"
"Ke tempat wisata mau? Kayaknya temenmu nggak bakalan sampai ke tempat yang jauh-jauh, kan?"
"Ya, boleh aja sih. Tapi ya tetep harus hati-hati aja, soalnya sekarang kan udah ada ojek online dan lain-lain. Jadi mereka mau ke manapun juga bisa. Apalagi rata-rata temanku itu anak orang kaya, jadi ya pasti mudah aja bagi mereka buat pergi ke manapun mereka mau." Nirmala mengingatkan.
"Yaudah, nggak papa deh. Kita hati-hati aja. Kamu mau ke mana?"
__ADS_1
"Aku nggak tau tempat di sini, Kak. Ikut aja deh, mau ke mana." Nirmala pasrah.
"Yaudah, ke pantai aja ya?"
"Lah? Panas-panas begini ke pantai? Aku nggak bawa baju ganti juga, Kak. Kalau ke pantai nggak main air ya nggak afdol."
"Udah tenang aja! Ayo, cepetan!" Dimas menarik tangan Nirmala, menjauh dari tempat mereka semula.
Mereka membayar buku komik yang diambil Nirmala, kemudian pergi meninggalkan toko buku itu. Tujuan mereka sekarang adalah pantai. Dimas dan Nirmala mengobrol selama dalam perjalanan.
"Gimana sekolah kamu, La?"
"Ya nggak gimana-gimana, Kak. Biasa aja. Cuma agak kesulitan kalau pelajaran agama, itu aja sih." Nirmala mengingat-ingat, sepertinya memang itu kesulitan yang dia alami.
"Yaudah nggak papa, lama-lama juga bisa."
Nirmala mengangguk.
"Katanya di sekolah udah ada yang naksir kamu?" Dimas bertanya hal lain.
Nirmala terdiam, dia memandang ke arah Dimas yang masih tetap fokus mengemudi. Raut wajahnya datar saja, sepertinya dia tidak suka kalau Nirmala punya hubungan dengan cowok laon.
"Tau darimana, Kak?" Nirmala masih terus memandangi wajah Dimas.
"Ya, tadi teman kamu itu kan bilang? Udah ada yang lirik kamu?"
"Yah, nggak cuma nglirik, Kak. Yang lihat juga banyak, orang di sekolah cewek dan cowok bareng. Di kelas juga banyak cowoknya. Jadi ya mana mungkin kalau nggak lihat, kan?" Nirmala berusaha bercanda, meskipun Dimas tidak tertarik untuk bercanda saat ini.
"Bukan itu maksudku, tapi ada yang suka sama kamu apa enggak?" Dimas meninggikan nada suaranya, membuat Nirmala sedikit kaget. Belum pernah Dimas meninggikan suaranya seperti itu.
"Ya nggak tau, Kak. Suka atau nggak suka kan ada di hati dan pikiran masing-masing. Aku kan nggak bisa baca isi hati dan pikiran orang lain. Jadi ya nggak tau, ada yang suka sama aku atau enggak!" Nirmala mensedekapkan kedua lengannya, dia jengkel.
"Ya kan kalau ada yang suka, pasti kasih kode-kode, perhatia, atau apa lah. Atau bahkan ngomong langsung sama kamu. Masa yang kaya gitu kamu nggak tau?" Dimas masih terus menodong jawaban dari Nirmala.
"Nggak tau, Kak. Karena aku nggak peduli! Dia mau suka atau enggak, aku nggak peduli! Karena aku cintanya sama Kak Dimas aja. Nggak ada yang lain! Hati dan pikiranku cuma buat Kak Dimas! Masa kaya gitu aja Kakak nggak tau?" Nirmala membalik perkataan dari Dimas.
"Yang bener? Emang apa buktinya?" Dimas masih memancing emosi Nirmala. Hal yang paling menyebalkan memang, diragukan perasaannya oleh orang yang dia cintai.
__ADS_1
Nirmala diam sejenak, dia berpikir, apa yang bisa membuktikan kalau dia benar-benar mencintai Dimas?