Mencintai Kakak Angkat

Mencintai Kakak Angkat
Bab 22


__ADS_3

"Besok coba aku tanyain deh, Kak. Yang penting sekarang aku fokus ujian dulu, biar dapat nilai bagus jadi bisa milih di sekolah manapun yang aku inginkan." Nirmala mengambil jalan tengah atas permasalahannya.


"Oke deh kalau begitu. Kamu istirahat dulu, gih! Besok harus ujian, jadi butuh tenaga yang prima. Jangan sampai sakit! Nanti malah bisa kacau semuanya." Dimas tersenyum.


"Oke deh, Kak." Nirmala berpikir ada benarnya juga ucapan Dimas, jadi dia memilih untuk mengikuti saja apa yang diucapkan oleh Dimas.


"Met bobo, ya!" Ucap Dimas sebelum menutup panggilan videonya.


"Sama-sama, Kak!" Nirmala tersenyum, dia masih malu untuk mengucapkan hal manis seperti yang diucapkan oleh Dimas barusan.


Nirmala menutup panggilan videonya, dia senyum-senyum sendiri mengingat apa yang diucapkan oleh Dimas tadi. Dia akan mimpi indah malam ini.


***


Hari berikutnya, Nirmala menjalani ujian kelulusan SMP. Dia mengerjakan soal, sesuai dengan apa yang sudah dipelajari selama ini. Beruntung, masalah yang menimpanya kemarin, tidak membuatnya kehilangan fokus. Dia justru semakin bersemangat untuk mendapatkan nilai yang tinggi.


Setiap malam, Nirmala selalu berkirim pesan dengan Dimas. Membicarakan banyak hal, meskipun lebih banyak menceritakan apa yang dialami Nirmala hari itu. Sampai akhirnya Nirmala selesai menjalani semua rangkaian ujian yang diadakan di sekolahnya. Ia kembali memikirkan rencananya untuk sekolah di luar kota. Dia masih bingung, bagaimana meminta ijin pada orang tuanya.


"Kak, aku sekolah di mana, ya? Ada pandangan nggak? Yang letaknya nggak jauh dari tempat kerja Kakak." Nirmala bertanya pada Dimas, saat mereka melakukan panggilan video di suatu malam.


"Nanti coba aku cari infonya. Kamu mau sekolah apa? SMA? SMK? MA?" Dimas memberi berbagai macam pilihan sekolah tingkat atas.


"Yang kira-kira bisa meyakinkan Ayah Ibu, biar kasih ijin aku sekolah di sana, sekolah yang apa ya? Aku bingung banget, Kak. Kalau cuma cari yang favorit, sebenarnya di sini juga ada sekolah favorit. Trus ngapain harus jauh-jauh ke luar kota? Kalau Ayah Ibu bilang gitu, gimana dong? Aku kasih alasan apa? Trus aku nginep di mana? Tambah biaya lagi kan nanti akhirnya? Duh, bingung banget aku, Kak!"


"Atau mending kamu masuk pondok pesantren aja." Dimas mengusulkan saran yang tak terduga.


"Hah? Mondok?" Nirmala kaget mendengar usul Dimas.

__ADS_1


"Iya, mondok. Jadi kan di sana udah sekalian tempat tinggal dan sekolah. Kamu juga bisa belajar ilmu agama. Aku yakin sih, Bapak sama Ibu pasti setuju, kalau kamu mau mondok. Bilang aja kalau kamu sekalian pengen belajar mandiri. Kalau mondok dekat rumah, takutnya malah sering pulang tanpa ijin. Kalau mondok di tempat yang jauh sekalian kan mau kabur juga repot. Apalagi kalau nggak punya uang. Iya, kan?" Dimas menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya.


"Iya juga sih, tapi apa aku bakalan diterima di pondok? Sedangkan penampilanku aja masih kaya gini. Aku bahkan nggak bisa ngaji." Nirmala mengusap wajahnya kasar. Dia menganggap usul Dimas cukup bagus, tapi ia juga berkaca pada kemampuan dirinya.


"Kalau kamu setuju, besok aku carikan pondok yang mau mengajari dari nol. Yang tidak perlu kemampuan khusus bawaan dari rumah."


"Yaudah deh kalau gitu, nggak papa, Kak. Coba aja dicarikan dulu. Jadi besok kalau aku minta ijin, aku udah punya gambaran, mau mondok le mana, pertimbangannya apa." Nirmala akhirnya setuju dengan saran Dimas. Apapun dia lakukan, asalkan bisa lebih dekat dengan Dimas.


***


Dimas mengirim beberapa rekomendasi tempat mondok pada Nirmala. Memang tidak semuanya dekat dengan kantor Dimas yang baru, tapi tetap masih bisa dijangkau, tidak membutuhkan banyak waktu.


Dimas juga memberikan foto brosur pendaftaran pada Nirmala, kalau memang dia berminat untuk mendaftar di salah satu pondok yang dia usulkan. Giliran Nirmala yang bertugas meminta ijin pada kedua orang tuanya.


"Bu, kalau aku mondok, gimana?" Nirmala bertanya dengan hati-hati. Dia ingin tau bagaimana respon dari ibunya.


"Iya, Bu. Aku pengen sekolah di pondok. Mumpung masih sekolah, jadi masih gampang berubah, gampang belajar ilmu agama juga." Nirmala memberikan alasannya asal saja.


"Kalau emang itu tujuanmu, ya nggak masalah. Bagus juga, biar kamu jadi orang yang lebih baik lagi. Ibu sama Ayah nggak bisa mengajari kamu ilmu agama, jadi ya kalau kamu pengen mondok, atas keinginan kamu sendiri, Ayah sama Ibu akan mendukung sepenuhnya."


"Beneran, Bu? Jadi, Nirmala boleh sekolah sambil belajar di pondok?" Nirmala girang bukan kepalang.


"Iya, boleh aja."


"Ayah sama Ibu nggak malu, kan? Anaknya sekolah di pondok? Bukan sekolah di sekolah favorit?" Nirmala meyakinkan kembali ibunya, dia tidak mau orang tuanya menyesal dikemudian hari.


"Ngapain malu? Sekolah di pondok kan bagus juga?" Sukma meyakinkan putrinya.

__ADS_1


"Iya juga sih, Bu."


"Yaudah, besok biar Ibu carikan pondok yang mungkin akan kamu sukai. Yang dekat-dekat sini aja, jadi kalau mau berkunjung, nggak terlalu repot. Nggak perlu nunggu Ayah selo juga."


"Eh, nggak perlu, Bu. Aku udah punya pandangan, pondok mana yang mau aku daftarin." Nirmala menolak tawaran ibunya.


"Di mana?"


"Sebentar!" Nirmala menyalakan ponselnya, kemudian menunjukkan foto brosur yang dikirim oleh Dimas kemarin.


"Lah? Jauh banget, La?" Sukma kaget, putrinya memilih tempat mondok di luar kota. Harus ditempuh sekitar lima jam perjalanan, dari rumah mereka.


"Ya, nggak papa, Bu. Katanya, kalau mau mondok yang jauh sekalian. Jadi kalau nggak betah, terpaksa harus dibetah-betahin. Soalnya nggak bisa pulang sendiri. Trus kalau ada masalah juga nggak dikit-dikit kabur, apalagi kalau nggak punya uang. Jadi nggak bisa pergi-pergi deh." Nirmala memberikan alasannya, kenapa memilih mondok di tempat yang jauh.


"Tapi, kalau Ayah dan Ibu nggak selalu bisa berkunjung gimana? Kamu tau sendiri, kan? Ayahmu nggak mesti punya waktu senggang?" Sukma masih keberatan, meskipun alasan yang diberikan Nirmala masuk akal.


"Ya nggak masalah, Bu. Yang penting dikirimi uang saku aja, hehe." Nirmala nyengir.


"Yaudah deh kalau gitu. Besok Ibu minta tolong sama Dimas, biar dia aja yang berkunjung ke pondok, kalau kamu perlu sesuatu. Jadi Ibu sama Ayah paling ke sana cuma kalau dapat undangan dari pondok aja."


Nirmala tersenyum sumringah. Tanpa dia minta, ternyata ibunya sudah menyebut nama Dimas lebih dulu. Bahkan memberikan kepercayaan pada Dimas, untuk menjadi wakil, mengunjungi Nirmala setiap ada jadwal kunjungan.


"Yaudah, nggak papa, Bu. Sekalian Lala belajar mandiri, kan. Biar nggak nempel sama Ibu terus." Nirmala tersenyum, menggoda ibunya.


"Yang penting kamu persiapkan diri aja, hidup di pondok berbeda jauh dengan di rumah. Kamu harus mau mengikuti aturan apapun di dalamnya. Termasuk tidak memakai HP. Sepertinya setiap pondok punya kebijakan, santrinya tidak boleh bawa alat komunikasi." Sukma mengingatkan, mungkin saja Nirmala belum tau hal itu. Benar saja, Nirmala hanya diam tanpa kata.


"Hah? Nggak boleh bawa HP? Trus, gimana aku bisa menghubungi Kak Dimas?" Nirmala membatin.

__ADS_1


__ADS_2