
"Mau pinjam temannya? Apa mau beli? Kalau mau beli kan masih ada waktu. Hari ini kan masih bebas. Besok udah mulai orientasi soalnya, pasti nggak bisa keluar lagi. Kalau mau beli, di sebelah utara sana ada toko baju lumayan lengkap." Linda memberikan saran pada Nirmala.
"Oke, Kak. Nanti aku pikirkan lagi." Nirmala memilih untuk berpikir sendiri saja, daripada memperlama jalannya pengumuman yang diberikan oleh Linda.
"Oke, kita masih bisa keluar, sampai nanti adzan maghrib. Jadi, kalau mau beli-beli, silahkan aja, sebelum adzan maghrib." Linda mengingatkan Nirmala.
"Siap, Kak." Nirmala mengangguk.
"Oke, lanjut lagi, ya. Besok itu kita acaranya bersamaan, ya. Santri putra dan putri. Meskipun acaranya nggak bareng, tapi kita satu tempat. Jadi, tolong dijaga sikapnya, ya! Jangan sampai buat malu citra diri sendiri, gara-gara centil sama santri putra." Linda mengingatkan teman-temannya, biasanya acara bersama memang sering dijadikan kesempatan untuk curi-curi kesempatan bersama santri putra.
"Oke, Kak!" Semua menjawab kompak. Mereka tersenyum, sudah ketahuan kebiasaan yang mereka lakukan setiap ada acara bersama.
"Oke, itu aja sih pengumumannya. Udah pada sarapan semua kan?" Linda melihat tumpukan nasi kotak yang tadi ada di atas meja, sudah tidak ada lagi.
"Udah, Kak!"
"Ya sudah, sebelum mulai sekolah, kita masih akan pakai nasi kotak ya. Karena kita makananya pesan dari luar pondok. Tapi setelah sekolah, ibu-ibu sudah masak lagi, kita makannya satu nampan untuk satu kamar. Jadi tolong, makan bersama-sama, kalau waktunya makan, ya makan dulu. Jangan buat teman kita nunggu-nunggu. Kan kasian, udah kelaperan." Linda mewanti-wanti perihal makan.
Nirmala bengong. "Jadi gini, cara malan anak pondok? Satu nampan untuk 6 orang? Apa cukup? Aduh! Bisa turun nih, berat badanku." Nirmala membatin. Dia khawatir tidak bisa makan sesuai porsinya saat di rumah.
"Siap, Kak!" Yang lainnya menjawab kompak.
"Oh ya, kecuali makan siang. Silahkan nanti ambil dulu sauurnya, makan pakai piring nggak papa. Karena kita pulangnya nggak barengan. Yang penting, jatah sayur dan lauk temannya jangan dimakan juga." Linda memberi tambahan.
"Oke, Kak!" Nirmala mengangguk. Ternyata dipondok benar-benar luar biasa. Bahkan untuk makan saja ada aturannya.
__ADS_1
***
Setelah berpindah tempat tidur, Nirmala mencatat nomer HP Dimas, kemudian menemui salah satu Ustadzah yang menjadi pendamping santri putri. Dia memilih menghubungi Dimas, karena tidak mungkin meminta uang pada ibunya yang juga kesulitan mendapat uang dari ayahnya.
"Assalamu'alaikum, Ust." Nirmala harus membiasakan diri mengucapkan salam saat bertemu dengan orang lain, hal yang sangat jarang dia lakukan saat ini.
"Wa'alaikumussalam warohmatullah, ada apa ya?"
"Saya mau pinjam HP, Ust. Saya mau bilang sama kakak saya, kalau butuh pakaian olahraga lengan panjang untuk besok outbond. Soalnya saya cuma punya pakaian olahraga pendek semua." Nirmala menjelaskan apa yang dia inginkan.
Ustadzah pendamping melihat gaya berpakaian Nirmala yang memang seperti anak laki-laki. Pantas saja kalau dia mengatakan demikian. Selama di dalam asrama, para santri masih diperbolehkan untuk memakai pakaian bebas asalkan sopan selama di lantai atas, yaitu komplek kamar dan kamar mandi. Tapi saat turun ke kelas atau mushola, maka semua harus mengenakan pakaian lengkap, termasuk rok dan jilbab.
"Oh, ya, sebentar!" Ustadzah pendamping mengambilikan HP dari dalam kamar khusus pendamping. Nirmala berdiri, menunggu dengan tenang.
"Baik, Ust." Nirmala mengangguk.
Dia segera mengetik pesan singkat dan mengirim pada Dimas.
[Kak, aku Lala. Aku pakai nomer pendamping. Tolong telepon secepatnya, penting!]
Nirmala menunggu cukup lama, tak kunjung ada balasan, ataupun telepon masuk dari Dimas.
"Udah belum?" Ustadzah bertanya pada Nirmala yang terlihat gusar, menunggu jawaban dari Dimas.
"Belum, Ust. Belum ada balasan. Susah banget pakai HP beginian, jadi nggak kelihatan kan, pesannya udah dibaca apa belum." Nirmala mengeluh.
__ADS_1
"Sabar, kalau nggak ditinggal aja dulu. Nanti kalau ada balasan, Ustadzah kabari. Disimpan aja namanya, wali dari siapa gitu. Biar kami gampang menggil kamu, kalau udah ada balasan." Ustadzah pendamping memberi masukan pada Nirmala.
"Enggak ah, Ust. Aku tunggu di sini aja. Lagi pula, aku nggak mau ngapa-ngapain, kok." Nirmala menolak dengan halus.
"Ya sudah kalau begitu."
Tak lama kemudian, panggilan masuk dari Dimas. Nirmala senang bukan main. Baru kemarin mereka berpisah, tapi saat ini dia sudah kembali merindukan kakak angkatnya itu.
"Halo, Kak! Kok lama banget sih telfonnya? Aku capek nunggunya, tau!" Nirmala menyapa lebih dulu, meskipun langsung dilanjutkan dengan omelan.
"Maaf, La. Aku nggak ada pulsa biasa. Jadi harus isi pulsa dulu, ada apa?" Dimas menjawab dari seberang sambungan.
"Oh, gitu. Iya, Kak. Soalnya dari sini cuma disediakan HP jadul aja. Jadi nggak bisa buat aplikasi yang pakai kuota internet." Nirmala kembali mengeluh pada Dimas.
"Yaudah, nggak papa. Kamu mau bilang apa? Katanya ada yang penting?" Dimas kembali bertanya, dari tadi pertanyaannya belum dijawab oleh Nirmala.
"Ini, Kak. Nanti pulang kerja bisa ke sini, nggak? Aku besok ada outbond, harus pakai pakaian olahraga panjang. Aku nggak punya, Kak. Kakak tau sendiri, kan? Pakaian olahragaku pendek semua?" Nirmala mengatakan apa yang jadi masalahnya.
"Harus nanti sore, ya?" Dimas bertanya memastikan.
"Iya, Kak. Soalnya cuma hari ini aja yang masih bebas. Besok udah full kegiatan. Aku nggak bisa keluar lagi. Hari ini masih bisa, tapi maksimal cuma sampai sebelum maghrib. Adzan maghrib udah harus masuk gerbang asrama. Kalau nggak, nggak bisa masuk. Soalnya dikunci sih." Nirmala menjelaskan lebih lanjut.
"Aduh, gimana ya. Aku pulang nanti jam 5, La! Perjalanan ke sana butuh waktu sekitar 20 menit. Itu kalau jalannya lancar. Kamu tau sendiri kan? Kalau sore-sore, jalanan pasti macet. Jam pulang kerja. Jadi butuh waktu lebih lama lagi. Belum nanti jemput kamu, belum nanti ke tokonya, belum juga milihnya. Kayaknya waktu sampai maghrib nggak bakalan cukup." Dimas menjelaskan panjang lebar, yang intinya dia tidak bisa datang menemui Nirmala.
"Yah, aku kira pulang jam 4, Kak. Jadi masih ada sekitar dua jam buat ketemu. Ternyata pulang jam 5 ya, yaudah deh kalau gitu. Nggak jadi aja nggak papa, Kak." Nirmala mengungkapkan kekecewaannya. Ternyata kenyataan tak seindah harapan. Dia pikir, kalau berada di pondok yang dekat dengan tempat kerja Dimas, akan membuatnya lebih mudah bertemu dengan Dimas. Tapi ternyata? Nol besar!
__ADS_1