Mencintai Kakak Angkat

Mencintai Kakak Angkat
Bab 14


__ADS_3

Nirmala mencubit lengannya sendiri.


"Aduh! Sakit!"


"Kamu ngapain, La?" Dimas heran dengan tingkah Nirmala.


"Memastikan, Kak. Apa aku lagi mimpi? Atau aku salah denger?"


"Enggak, kamu nggak lagi mimpi, juga nggak salah dengar, kok. Aku emang bener-bener sayang sama kamu, lebih dari sayang seorang kakak pada adiknya, La!" Dimas mengulangi perkataannya.


"Aku juga, Kak. Aku sayang, aku cinta sama Kak Dimas!" Nirmala akhirnya berani mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam.


Dimas tersenyum, dia memeluk Nirmala sekali lagi berberapa saat. Sebelum akhirnya melepaskan lagi.


"Jadi, apa kita pacaran?" Nirmala bertanya dengan polosnya.


Dimas menggeleng.


"Kita tetap seperti ini saja, La! Kamu masih belia, masih banyak hal yang akan berubah, seiring berjalannya waktu. Aku nggak mau membuat kamu jadi merasa terbatasi. Aku janji, aku akan tetap sayang sama kamu, seperti ini. Dimanapun aku berada." Dimas menegaskan status mereka berdua.


"Tapi, Kak? Kalau ternyata kita memang jodoh, bagaimana?"


"Kalau memang jodoh, berarti tidak ada yang bisa menolak, kan?"


"Oke, Kak. Aku juga akan tetap seperti ini, aku akan tetap mencintai Kak Dimas, di manapun kita berada. Meskipun saling berjauhan, tidak akan membuat rasa cintaku hilang. Aku juga akan terus berdoa, semoga saja kita berdua berjodoh. Aku janji, Kak!" Nirmala mantap dengan apa yang ia ucapkan. Dimas mengangguk.


"Kamu udah makan belum? Kita makan, yuk? Aku beli nasi goreng tadi sebelum sampai rumah." Dimas mengajak Nirmala masuk ke dalam rumah. Kemudian mereka berdua menikmati nasi goreng yang dibungkus kertas minyak itu.


Makan malam kali ini benar-benar berbeda bagi Nirmala. Perasaannya berbunga-bunga. Cintanya ternyata bersambut, meskipun status mereka tidak pasti. Setidaknya Nirmala tau bahwa Dimas juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


***


Hari-hari berikutnya, Nirmala jadi lebih sering ngobrol dengan Dimas. Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu kebersamaan mereka yang tersisa beberapa hari lagi.


[Kamu pengen makan apa, La? Kita makan di luar, yuk?]

__ADS_1


Nirmala membaca pesan dari Dimas. Meskipun mereka berada di bawah atap yang sama. Melalui pesan, mereka bebas mengekspresikan perasaan mereka, tanpa diketahui kedua orang tua Nirmala.


[Kak Dimas mau ngajak aku makan di mana?]


Nirmala tersenyum saat membalas pesan dari Dimas.


[Ke tempat kesukaanku, yuk? Di sana makanannya enak, tempatnya juga bagus. Tapi kamu doyan nggak, ya?]


[Aku sih apa-apa doyan, Kak!]


[Yaudah, sana siap-siap! Kita berangkat sebentar lagi, keburu malem. Kamu juga harus belajar, kan?]


[Oke, aku siap-siap dulu. Kakak yang ijin sama Ayah Ibu, ya!]


[Siap!]


Dimas dan Nirmala pergi ke tempat makan yang direncanakan oleh Dimas. Mereka berdua makan dengan suasana yang romantis, layaknya pasangan kekasih.


"Kita foto yuk, Kak! Buat kenang-kenangan!" Nirmala mengeluarkan ponselnya. Kemudian memasang kamera depan, mengajak Dimas untuk berfoto berdua.


"Enggak ah, Kak. Udah cukup di sini aja! Nggak penting di mana tempatnya, yang penting aku bisa foto sama Kak Dimas, udah itu aja!" Nirmala tersenyum.


"Ah, kamu. Kecil-kecil udah pinter gombal, ya!" Dimas mencubit kedua pipi Nirmala gemas.


"Ye, aku udah bukan anak kecil lagi, Kak! Aku udah kelas 3 SMP kok! Kalau yang anak kecil itu si Diyak!" Nirmala tidak terima dianggap anak kecil oleh Dimas.


"Hahaha, iya deh, iya! Aku juga mana mungkin suka sama anak kecil, ya! Yang ada malah aneh, dikira pedofil, malah repot!" Dimas mengajak Nirmala bergurau.


"Nah itu, makanya. Jangan anggep aku anak kecil, Kak! Nanti dikira pedofil, hahaha." Nirmala ikut tertawa.


Mereka menikmati malam itu dengan canda tawa. Membuat kenangan terbaik untuk keduanya.


***


Malam-malam berikutnya, Nirmala dan Dimas menghabiskan waktu bersama di balkon samping kamar Nirmala. Tentu saja tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya Nirmala. Mereka mengecilkan suara mereka, supaya tidak terdengar dari bawah. Nirmala juga memutar musik lumayan keras, untuk menyamarkan suara mereka berdua mengobrol.

__ADS_1


"Kita baru kenal berapa bulan ya, Kak. Tapi kok rasanya kaya udah kenal lama banget. Sampai aku bener-bener jatuh cinta sama Kakak!" Nirmala menyenderkan kepalanya di pundak Dimas yang duduk di sampingnya.


"Karena cinta nggak memandang waktu, La! Cinta bisa datang kapan saja, semaunya. Tanpa aba-aba, tanpa permisi." Dimas merangkulkan tangannya di pundak Nirmala.


"Iya bener, Kak. Dan sebentar lagi kita harus berpisah. Apa bisa kita tetap seperti ini, suatu saat kalau Kakak ke sini lagi?"


"Entahlah, kamu nggak perlu memikirkan bagaimana masa depan, La! Lebih baik kita nikmati, waktu yang ada sekarang ini." Dimas menenangkan Nirmala, yang hanya memjawab dengan anggukan tanda setuju.


***


Tiba saat Dimas harus pergi, Nirmala merasakan kesedihan yang mendalam. Dia mengantarkan Dimas sampai depan rumah, sedangkan ayah dan ibunya mengantarkan Dimas, pertama ke rumah orang tua kandung Dimas terlebih dahulu, baru kemudian ke kantor tempat Dimas akan bekerja nantinya. Nirmala menolak ikut serta.


"Jaga diri baik-baik ya, La! Kapan-kapan aku main ke sini lagi. Kamu belajar yang rajin, biar bisa mengerjakan soal ujian dengan lancar, hasilnya juga memuaskan." Dimas berpesan sebelum masuk ke dalam mobil.


"Apa mau ikut juga, La? Nggak usah belajar sehari juga nggak papa." Sukma melongokkan kepalanya dari jendela mobil bagian depan.


"Enggak ah, Bu. Aku di rumah aja." Nirmala hanya ingin menangis sepuasnya setelah ini.


"Nanti malam tidur di rumah Rosa aja! Kalau nggak ya Rosa yang suruh tidur sini." Sukma berpesan pada putri sulungnya itu.


"Iya, Bu. Tenang aja! Nggak usah khawatirin aku!" Nirmala tersenyum, meskipun dipaksakan.


"Yuk, Dim!" Ayah Nirmala memberi kode agar Dimas segera masuk.


"Ayo, Kak Dimas!" Claudia yang duduk di kursi belakang juga ikut mangajak Dimas. Dia sudah tidak sabar untuk ikut jalan-jalan ke luar kota. Tempat yang belum pernah ia datangi selama ini.


"Jaga diri baik-baik ya, La!" Dimas mengacak rambut Nirmala.


"Iya, Kak. Jangan lupa kabar-kabar, ya!"


"Pasti! Aku berangkat dulu!" Dimas segera masuk ke dalam mobil, dia tidak mau membuat ayah angkatnya menunggu terlalu lama. Setelah Dimas masuk, mobil mulai melaju pelan, meninggalkan Nirmala yang sendirian di rumah itu.


Nirmala melambaikan tangan, sampai akhirnya mobil tidak terlihat lagi. Dadanya terasa penuh sesak. Air mata yang ia tahan sedari tadi, kini luruh tak terbendung.


Nirmala segera masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya. Dia menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala perasaannya di kamar. Dia berharap setelah menangis, perasaannya bisa menjadi lebih lega.

__ADS_1


***


__ADS_2