
"Tapi itu kan kamu, La! Kak Dimas bucin banget sama mantan pacarnya. Bayangin aja, mereka udah pacaran sejak jaman SMA, sampai sekarang Kak Dimas udah kerja, udah dapat posisi yang lumayan. Bahkan katanya tahun depan dia bakalan pindah cabang dan naik jabatan. Keren banget kan? Butuh berapa waktu coba, biar bisa seperti itu? Berarti udah lama banget kan?" Nirmala tetap saja pesimis.
"Wah, berat juga ya. Ternyata Kak Dimas setia ya, aku kira, dengan tampangnya yang menawan itu, dia bakalan gampang gonta-ganti pacar. Ternyata justru dia yang diselingkuhin. Jadi penasaran sama mantan pacar Kak Dimas. Kaya apa sih orangnya? Bisa-bisanya mengkhianati Kak Dimas yang hampir sempurna itu!" Rosa justru membuat Nirmala tambah patas semangat.
"Udah ah, nggak usah bahas Kak Dimas lagi! Aku lagi males." Nirmala menelungkupkan kepalanya di atas meja. Dia benar-benar frustasi.
Tak lama kemudian, jam pelajaran akan segera dimulai. Seperti biasa, anak-anak harus memasukkan tas ke dalam laci masing-masing. Aturan dalam kelas Nirmala cukup ketat, semua tidak boleh meletakkan tas di sandaran kursi. Semuanya harus dimasukkan dalam laci.
Saat memasukkan tas ke dalam laci, tiba-tiba tangan Nirmala memegang sesuatu.
"Eh, apaan nih?" Nirmala mengambil sesuatu yang teraba oleh tangannya.
"Ada apa, La?" Rosa penasaran, apa yang dipegang Nirmala.
"Nggak tau, nih!" Nirmala membolak-balikkan sebuah amplop kecil.
"Wah, kayaknya surat tuh! Coba dibuka! Cepet!" Rosa girang, justru dia yang sangat semangat.
"Hmmm, wangi, Ros!" Nirmala mencium amplop itu.
"Ya ampun, klasik banget sih. Kaya orang-orang jaman dulu aja!" Rosa tertawa.
"Penasaran deh!" Nirmala segera membuka amplop berwarna pink, dengan aroma harum itu.
"Apa isinya?" Rosa melongok apa yang tertulis di sana.
"Aku baca ya. Dear Nirmala Putri Cantika, apa kabar kamu hari ini? Semoga kamu baik-baik saja, ya! From R 9E." Nirmala membaca pesan yang sangat singkat itu.
"R? 9E? Siapa ya?" Rosa mencoba menebak, siapa yang ada dibalik tulisan itu.
"Nggak tau, aku nggak terlalu kenal sama anak 9E. Mereka kan ada di lantai atas. Gimana dia bisa tau mejaku di sini, ya? Aneh!" Nirmala mengingat-ingat kemungkinan anak 9E yang berinisial E.
"Coba kamu tanya sama anak basket. Ada kan yang dari 9E?" Rosa mencoba memberi saran.
__ADS_1
"Iya juga ya, tapi aku malu. Gimana kalau ini cuma ngerjain aku doang? Lagian, kenapa dia sampai ngirim surat gini sama aku? Siapa aku, sih?" Nirmala mencoba mengenyahkan ke-PD-annya.
"Kamu itu, kayak baru sekali dapet kaya ginian. Kamu kan anak basket, sering main di lapangan. Jadi ya wajar kan, kalau punya penggemar rahasia?"
"Iya juga, sih. Tapi biasanya kan orangnya datang langsung, ini cuma tulisannya doang. Jadi kan bikin penasaran." Nirmala memasukkan lagi surat ke dalam amplop.
"Kamu mau cari tau?" Rosa penasaran dengan langkah Nirmala selanjutnya.
"Tunggu besok aja, deh. Kalau emang ada surat lagi dan lagi, mungkin bakalan aku cari orangnya. Tapi kalau enggak, yaudah, biarin aja." Nirmala memasukkan amplop beserta isinya ke dalam tasnya.
***
Sepulang sekolah, Nirmala dan Rosa bersama-sama menunggu bus trans di halte depan sekolah mereka.
"La! Pulang bareng aku aja, yuk!" Tiba-tiba saja ada motor yang berhenti di depan Rosa dan Nirmala.
"Eh, enggak ah, Ren. Makasih. Aku naik bus aja! Lagian kan aku sama Rosa, masa kita bonceng tiga? Nggak mau ah, kayak cabe-cabean aja!" Nirmala menolak ajakan Reno.
"Nggak usah deh, makasih. Beneran. Tapi aku lebih nyaman naik bus. Adem. Kalau pakai motor, panas banget. Nanti kalau aku jadi pusing gara-gara kepanasan gimana?" Nirmala mencoba mencari-cari alasan untuk menolak ajakan Reno. Padahal dia anak basket, sudah pasti sering kepanasan. Dan buktinya selama ini dia baik-baik saja.
"Yaudah deh kalau gitu. Besok kalau aku dijemput mamang pakai mobil, aku ajak kamu pulang bareng. Biar kamu nggak kepanasan lagi!" Reno akhirnya menyerah.
"Mmm, oke deh. Tapi tetep sama Rosa, ya! Kasian dia, pacarnya dari sekolah lain, jadinya nggak ada yang kasih tebengan." Nirmala tertawa, meledek Rosa.
"Siap, nggak masalah! Yang penting kamu mau pulang bareng sama aku!" Reno tersenyum senang, dia seperti punya harapan. Nirmala hanya mengangguk.
"Hati-hati ya, La! Aku balik duluan! Dadaahh!" Reno kembali mengulas senyuman, sebelum akhirnya menancap gas lagi.
"La! Kayaknya Reno suka sama kamu, deh!" Rosa menyenggol pundak bagian belakang Nirmala.
"Mana mungkin, dia kan ketua tim basket sekolah, yang udah pasti punya banyak fans. Ngapain juga dia suka sama aku yang cuma remahan peyek gini?" Nirmala tiba-tiba ingat sesuatu.
"Eh, btw. Dia Reno, inisialnya R, anak kelas 9E. Jangan-jangan?" Nirmala bergelut dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Jangan-jangan, dia yang kasih surat di laci meja kamu tadi?" Rosa menebak isi kepala Nirmala.
"Kamu juga mikir gitu?"
"Iya! Wah, keren sih kamu, La!" Rosa bertepuk tangan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Waduh! Kalau emang bener, dan fans Reno tau, bisa kacau!" Nirmala menepuk jidatnya.
"Sabar ya, La! Hidup kamu mungkin nggak akan tenang!" Rosa menepuk-nepuk pundak Nirmala.
"Bantuin aku dong! Buat menghindar dari dia! Astaga! Aku panik ini!" Kepala Nirmala mendadak pening.
"Sabar, La! Sabar! Busnya udah dateng tuh! Kita ngadem dulu di bus!" Rosa menunjuk ke arah bus berwarna merah yang sudah mendekati halte.
Nirmala dan Rosa segera naik bus, saat bus berhenti dan membukakan pintu secara otomatis.
"Selamat siang, Pak!" Nirmala dan Rosa menyapa sopir bus yang tengah menempelkan kartu, khusus untuk pelajar. Karena pelajar dapat fasilitas naik bus trans secara gratis.
"Selamat siang, silahkan ke belakang, satu-satu ya!" Seperti biasa, Pak Sopir menyapa berkata dengan ramah. Mungkin memang sudah menjadi kebijakan perusahaan, dalam melayani penumpang.
"Nirmala dan Rosa ke barisan belakang, sayangnya bus lumayan penuh, jadi mereka tidak mendapatkan kursi. Terpaksa mereka berdiri di tengah-tengah, antara kursi penumpang yang ditata di bagian pinggir dan belakang saja.
Mereka berdua sudah biasa seperti itu, memang tidak nyaman, masih lebih baik daripada harus menunggu bus berikutnya. Toh jarak sekolah dan rumah Nirmala dan Rosa tidak terlalu jauh.
Sekitar 20 menit kemudian, Nirmala dan Rosa turun dari pintu belakang bus. Mereka tinggal berjalan masuk ke dalam gang saja.
"Dah, Lala! Nanti main ke rumahku, ya!" Rosa berpesan sebelum melanjutkan perjalanan.
"Oke! Kita bahas yang tadi, ya!" Nirmala melambaikan tangannya ke arah Rosa yang berjalan semakin menjauh.
"Bahas apa, La?"
Nirmala menengok ke belakang, dia kaget melihat siapa yang ada di belakangnya.
__ADS_1