
"Iya, emang aku mau ngajak kamu ke sini." Dimas melepas helmnya. Nirmala masih melongo, belum bisa mencerna apa maksud Dimas membawanya ke sini.
"Ayo! Kamu nggak mau ikut masuk?" Dimas sudah berjalan terlebih dahulu.
"Eh, iya. Tunggu, Kak!" Nirmala segera melepas helmnya, kemudian berjalan cepat, menyusul Dimas.
"Ayo, buruan! Di dalam adem, kamu betah lama-lama di luar? Panas-panasan?" Dimas menyipitkan matanya yang terasa silau.
"Hehe, mau ngapain ke sini, Kak?" Nirmala sudah berhasil menyusul Dimas.
"Ya baca buku, beli buku, terserah kamu nanti mau ngapain di dalam!" Dimas mengajak Nirmala untuk berjalan cepat, meninggalkan area parkir di depan toko buku yang besar itu.
"Kakak mau beli buku? Buku apaan?" Nirmala masih terus bertanya, meskipun tidak mendapat jawaban dari Dimas.
Mereka berdua masuk ke toko buku, ada berbagai macam jenis buku ditata di sana. Ada yang dipajang di rak-rak, juga ada yang ditata di meja-meja pendek.
"Sana, pilih buku yang kamu sukai! Nanti aku bayarin!" Dimas mempersilahkan Nirmala.
"Hah? Beneran, Kak?" Nirmala tidak percaya, kesempatan seperti hari ini, ternyata datang juga.
"Iya! Terserah, mau beli komik, buku pelajaran, atau buku apapun, terserah kamu, pilih sesukamu!" Dimas menegaskan ucapannya.
"Aaaa... Makasih, Kak!" Tanpa sadar, Nirmala memeluk Dimas, karena terlalu bahagia.
Dimas tidak menolak, juga tidak menanggapi. Dia membiarkan Nirmala seperti itu. Sampai akhirnya dia sadae sendiri.
"Maaf, Kak!" Nirmala tersenyum kikuk.
"Iya, nggak papa. Udah, sana milih bukunya!" Dimas mengenyahkan ketidaknyamanan Nirmala.
Nirmala langsung mencari rak deretan komik-komik. Dia membaca komik yang sudah dibuka pembungkusnya, untuk sampel.
"Mau yang itu? Ambil aja nggak papa. Bulan ini aku kasih kamu jatah beli 4 buku. Terserah buku apa aja. Yang penting dibaca!" Dimas memberi batasan, supaya Nirmala tidak bingung, tapi juga tidak kalap.
"Oke, siap!" Nirmala segera memilih komik yang dia sukai, dadi beberapa pengarang yang berbeda.
__ADS_1
Sedangkan Dimas nampak asyik membaca contoh novel yang bebas dibaca oleh pengunjung. Nirmala yang memperhatikan itu, langsunh ikut nimbrung, ikut membaca novel yang dibuka oleh Dimas.
"Bagus ya, Kak!"
"Eh, iya! Kamu mau beli ini?" Dimas menawarkan.
"Mmm, aku udah ambil 4 komik. Bulan depan aku masih dapat jatah beli buku, kan?"
"Iya. Boleh."
"Kalau gitu, jatah bulan depan aja, aku beli novel itu." Nirmala nyengir tanpa malu-malu.
"Oke, bisa. Pokoknya kamu kalau butuh sesuatu, nggak berani minta sama ayahmu, kamu bilang aja sama Kakak. Kalau Kalak bisa.beliin, bakalan Kakak beliin, kok."
"Oke, Kak." Nirmala tersenyum senang.
"Udah kan? Kita mau makan dulu? Apa langsung pulang?" Dimas memberi dua pilihan.
"Terserah Kakak aja, deh!" Nirmala tidak berani memutuskan. Dia jelas pilih makan, tapi tidak enak juga kalau terkesan memaksa. Dia sadar diri, dia tidak punya uang, dan pasti Dimas yang harus membayarkan makanannya.
"Oke, Kak!" Nirmala tersenyum bahagia. Dimas seperti tau saja, apa isi hatinya.
Akhirnya mereka berdua makan terlebih dahulu di food court yang tersedia di toko buku itu sebelum pulang.
"Gimana, La? Temen kamu yang naksir kamu itu? Masih gangguin enggak?" Dimas bertanya sambil menunggu pesanan mereka diantar.
"Tadi sih dia ngajak pulang bareng lagi. Tapi trus aku bilang kalau aku udah punya pacar, ya udah. Dia nggak gimana-gimana, dia cuma bilang kalau udah lama suka sama aku, tapi kalau nggak dapat balasan juga nggak masalah. Jadi, dia udah pasrah." Nirmala menjawab santai.
"Oke, bagus deh kalau gitu." Dimas manggut-manggut.
"Kak Dimas sendiri gimana?" Nirmala balik bertanya.
"Gimana apanya?"
"Kabar hatinya Kak Dimas, udah dapat gantinya apa belum?" Nirmala memancing-mancing, ingin tau perasaan Dimas yang sebenarnya.
__ADS_1
"Oh, itu. Aku baik-baik aja kok, La. Aku bahagia dengan kita seperti sekarang ini. Jadi aku udah nggak mikirin dia lagi."
"Bagus deh kalau gitu." Nirmala tersenyum. Ternyata dia bisa jadi obat sakit hati Dimas. Meskipun Dimas tidak mengatakannya secara langsung.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Nirmala dan Dimas segera menyantap makan siang mereka yang tertunda. Setelah itu, mereka berdua memutuskan untuk pulang.
***
Sejak saat itu, Nirmala jadi tambah sayang pada Dimas. Mereka berdua semakin dekat, lebih dari sekedar kakak adik, tapi juga tidak sampai terikat pada hubungan pacaran. Saat Nirmala membutuhkan sesuatu, ia lebih nyaman untuk minta kepada Dimas, daripada meminta pada ayahnya. Karena jelas, Dimas akan langsung menuruti apa kemauan Nirmala, tidak seperti ayahnya yang sangat ketat dalam masalah keuangan.
"La! Bentar lagi kamu ujian, kan? Kamu butuh buku apa? Buat menunjang belajarmu?" Dimas menawari Nirmala, saat mereka kembali mengunjungi toko buku yang sama, tiga bulan berikutnya.
"Buku latihan soal kayaknya butuh banget, Kak. Biar bisa dipakai untuk latihan ngerjain soal ujian." Nirmala teringat dengan buku yang disarankan oleh gurunya di sekolah, sebagai bahan untuk latihan.
"Yaudah, bulan ini, kamu beli buku latihan soal aja. Komik dan lain-lain yang sifatnya hiburan, beli lain kali aja." Dimas memutuskan.
"Oke deh, Kak. Ini lebih penting sih." Nirmala setuju. Ia langsung menuju deretan buku latihan soal untuk kelas sembilan. Dia memilih buku seperti yang dianjurkan gurunya. Katanya itu jenis soalnya hampir 90% akan keluar di ujian tahun ini.
"Ini aja, Kak!" Nirmala mengambil satu buku yang besar dan tebal itu.
"Udah, itu aja?" Dimas ingat, dia memberi jatah 4 buku setiap bulan, dia heran saat Nirmala hanya mengambil satu buku saja.
"Enggak, Kak. Ini aja dulu. Takut klenger." Nirmala terasenyum, ia menutupi alasan sebenarnya. Buku itu mahal, susah sebanding dengan ia yang biasanya mengambil 4 buah buku komik.
"Yaudah kalau gitu. Kita makan dulu, yuk?" Dimas mengajak Nirmala makan, seperti biasa.
"Kita langsung pulang aja ya, Kak. Aku mau langsung belajar. Hehe." Nirmala nyengir.
"Oke deh kalau gitu." Dimas menurut, mereka akhirnya pulang.
***
Semester dua kelas sembilan memang waktu yang sangat berat. Anak-anak harus banyak berlatih di rumah juga di sekolah. Nirmala dan teman seangkatannya harus mengikuti les tambahan yang diadakan pihak sekolah. Mereka belajar reguler sampai jam 2 siang dan ditambah les sampai jam 4 sore. Benar-benar menguras tenaga dan pikiran.
Sepulang sekolah, Nirmala hanya akan membersihkan badan, makan secukupnya, kemudian kembali lagi ke kamar untuk belajar. Dia jadi jarang ngobrol dengan orang tuanya, juga dengan Dimas. Membuatnya tidak mengetahui kabar terbaru dari Dimas.
__ADS_1