Mencintai Kakak Angkat

Mencintai Kakak Angkat
Bab 16


__ADS_3

Rosa memandang wajah Nirmala yang masih terdiam, belum memberi tanggapan. Dia memutuskan untuk menjadi perwakilan Nirmala, mewawancarai Sukma.


"Trus, Kak Dimas jawab apa, Tan?"


"Katanya sih nunggu jodoh, gitu aja." Sukma menjawab santai.


"Kalau ternyata jodohnya Nirmala gimana, Tan? Tante setuju nggak?"


Nirmala melotot. Rosa memang tidak bisa jaga rahasia.


"Apa sih kamu itu, Ros. Lala masih kecil, nggak usah mikirin jodoh dulu, belajar dulu yang bener. Urusan jodoh pikir besok kalau udah besar!"


"Hehe, iya, Tan." Rosa tersenyum kikuk, niatnya mengerjai Nirmala, tapi justru dia sendiri yang jadi tidak enak hati pada ibunya Nirmala.


***


Hari-hari berikutnya Nirmala masih tetap berkomunikasi dengan Dimas. Mereka berkirim pesan, kadang juga melakukan panggilan. Nirmala kadang tidak ingat waktu, mereka bercerita bisa sampai larut malam, membuat Nirmala abai dengan pelajarannya. Padahal ujian sudah semakin dekat.


"Kak Dimas kok tumben belum WA aku sih?"


Pagi itu Nirmala mengecek HP-nya, sebelum berangkat sekolah. Biasanya Dimas sudah mengirim ucapan selamat pagi, tapi hari itu nihil. Belum ada pesan masuk dari Dimas.


"Apa jangan-jangan Kak Dimas sakit?" Nirmala bergumam sendiri.


"Coba aku tanyain deh, semalem juga chatingan cuma bentar banget." Nirmala langsung saja mengirim pesan pada Dimas. Ia menunggu balasan beberapa menit. Tapi tetap tidak ada balasan.


"La! Buruan turun! Sarapan! Udah jam segini, lho!" Sukma berteriak memanggil Nirmala dari bawah tangga.


"Ya, Bu! Bentar!"


Nirmala menyimpan HP-nya di laci meja, kemudian mengunci dan membawa kuncinya ke sekolah. Aturan sekolah yang tidak memperbolehkan siswanya membawa HP, membuatnya terpaksa meninggalkan HP-nya.


Setelah itu, Nirmala turun untuk sarapan dan berangkat ke sekolah. Dia melamun disepanjang perjalanan. Kebetulan dia tidak berangkat bersama Rosa. Entah, anak itu sudah berangkat duluan, atau justru belum berangkat.


Nirmala berjalan dengan lesu menuju mejanya, ternyata Rosa sudah duduk di sana, asyik dengan novelnya.

__ADS_1


"La? Kamu kenapa? Kok tumben loyo gitu? Kamu belum sarapan?" Rosa memandang Nirmala heran.


"Kak Dimas nggak ada kabar pagi ini. Aku khawatir kalau dia kenapa-kenapa, Ros." Nirmala duduk di kursinya, kemudian meletakkan kepalanya di atas meja.


"Udah, nggak usah berpikiran buruk. Mudah-mudahan Kak Dimas nggak kenapa-kenapa. Kamu udah coba hubungi dia?" Rosa mencoba menenangkan Nirmala.


"Udah, tapi nggak dibales. Nggak biasanya dia seperti ini."


"Yaudah, nanti sepulang sekolah, coba kamu cek lagi. Mudah-mudahan udah kasih kabar." Rosa menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.


"Semoga aja, deh."


Hari itu, Nirmala benar-benar tidak bersemangat. Pikirannya hanya tertuju pada Dimas. Berbagai pikiran buruk tetap saja melintas, tanpa bisa dibendung. Nirmala tidak fokus mengikuti pelajaran, dia hanya ingin cepat pulang.


***


Sepulang sekolah, buru-buru Nirmala mengecek HP-nya.


"Syukurlah, Kak Dimas bales!" Nirmala segera membuka pesan dari Dimas.


[Met pagi juga, La. Maaf ya, aku sedikit sibuk. Jadi nggak sempat kasih kabar ke kamu. Kamu nggak perlu khawatir, aku baik-baik aja.]


Nirmala menunggu dan terus menunggu. Setiap ada pesan yang masuk, dia berharap itu dari Dimas. Tapi ternyata bukan.


"Mungkin Kak Dimas emang beneran sibuk, dia kan udah naik jabatan. Jadi nggak sempat kirim pesan ke aku." Nirmala murung, tapi dia berusaha untuk memahaminya. Mungkin juga Dimas memberi waktu padanya untuk belajar.


Hari-hari berikutnya, selalu Nirmala yang mengirim pesan terlebih dahulu. Dimas hanya beberapa kali saja membalas, dalam setiap harinya. Nirmala selalu menganggap Dimas benar-benar sibuk karena urusan pekerjaan. Gaya pesan Dimas juga masih tetap sama, tidak ada tanda-tanda kalau Dimas telah berubah.


Sampai akhirnya Nirmala terbiasa dengan pola yang seperti itu. Dia selalu berpikir positif, toh Dimas tetap memberikan apapun yang dia minta. Meskipun mereka tidak lagi brrada di rumah yang sama. Seperti suatu ketika, Nirmala ulang tahun, Dimas memberi kejutan. Dia mengirimkan kue ulang tahun, juga boneka besar untuk Nirmala.


[Gimana, La? Kamu suka hadiahnya?]


Dimas hanya mengirim pesan, dia tidak datang untuk menemui Nirmala.


[Aku suka, Kak!]

__ADS_1


Begitu jawaban Nirmala, sebenarnya dia tidak suka boneka ataupun bunga. Dia lebih suka bola basket. Tapi berhubung hadiah itu dari Dimas, dia tetap menyukainya. Nirmala selalu memeluk boneka itu setiap malam, berharap boneka itu berubah menjadi Dimas. Meskipun mustahil.


Selain memberikan hadiah, Dimas juga sering mengirim uang kepada Nirmala. Jatah beli buku, juga makan seperti saat dia masih berada di rumah Nirmala dulu. Dimas benar-benar masih perhatian dengan Nirmala, meskipun komunikasi mereka tidak seintens saat awal mereka saling mengungkapkan perasaan.


***


"La, besok Ayah, Ibu sama Claudia mau ke rumah Kak Dimas, kamu mau ikut enggak?" Sukma mengajak berbicara Nirmala saat makan malam.


"Berapa hari di sana, Bu?"


"Paling dua hari, Minggu malam sampai rumah lagi. Kamu mau ikut nggak? Eh, tapi Senin kamu ujian ya?" Sukma baru ingat jadwal ujian putrinya.


"Iya, Bu. Senin aku udah ujian. Jadi aku masih harus terus belajar." Nirmala menolak tawaran ibunya.


"La, kan kamu udah belajar dari kemarin-kemarin. Kalau udah mendekati hari ujian itu, harusnya nghak usah belajar lagi. Mending dipakai buat refreshing. Jadi nggak stress." Ayah Nirmala memberi saran. Hal yang sangat jarang dilakukan. Mengingat ayahnya itu sangat jarang berbicara.


"Tapi, Yah, kalau aku nggak belajar, yang ada aku malah lupa sama apa yang udah dipelajari kemarin-kemarin. Kan sekarang cuma ngulang-ngulang aja, jadi nggak bakalan stress kok, Ayah tenang aja!" Nirmala kembali menolak.


"Yaudah deh kalau gitu, besok kamu nginap di rumah Rosa lagi, atau Rosa yang kamu minga tolong nginep di sini." Sukma tidak bisa memaksa Nirmala untuk ikut.


"Siap, Bu. Yang penting aku ditinggali uang. Isi kulkas aman kan, Bu?" Nirmala hanya kepikiran tentang makanan saja.


"Aman. Tadi pagi udah Ibu isi, kok."


"Oke, Bu. Nggak masalah, aku di rumah aja." Nirmala berkata mantap.


"Yaudah kalau gitu, padahal sayang ya, Yah? Jadi nggak bisa kenalan sama orang tuanya Dimas." Sukma meminta dukungan dari suaminya.


"Yaudah nggak papa, Bu. Yang penting kita udah dateng ke acaranya Dimas. Itu aja udah cukup pastinya."


"Iya sih, Yah. Cuma kan rasanya kurang gitu, padahal di sini Dimas udah kita anggap sebagai keluarga, anak kita, juga kakak Lala dan Diyak. Tapi pas Dimas ada acara penting, malah salah satu dari kita nggak hadir, kan cukup mengecewakan." Sukma berkata memelas, berharap Nirmala akan berubah pikiran.


"Emangnya Kak Dimas ada acara penting apa sih, Bu?" Nirmala bertanya penasaran.


"Hari Minggu Dimas menikah, La."

__ADS_1


Nirmala diam tak mampu berkata apa-apa. Hatinya bagaikan tersambar petir di siang bolong.


"Kak Dimas menikah, Bu?"


__ADS_2