
"Gawat kenapa?" Nirmala menoleh saat mendengar suara Rosa tiba-tiba sudah ada di dekatnya.
"Reno mau nyamperin kamu ke sini!"
"Aduh! Mati aku! Mau ngapain sih dia?" Nirmala menepuk jidatnya.
"Aku harus gimana dong, Ros?" Nirmala bangkit dari duduknya.
"Tetap tenang, hadapi semua yang akan terjadi! Kalau kamu kelihatan panik, nanti bakalan ketahuan kalau bohong!" Rosa memberi saran. Nirmala menarik nafas panjang.
"Oke, oke, tenang." Nirmala menenangkan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Reno dan beberapa orang temannya sudah sampai di kelas Nirmala. Tak ayal, teman-teman sekelas Nirmala yang mengidolakan Reno bersorak kegirangan.
Reno langsung menuju meja Nirmala.
"La! Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Reno langsung berkata saat sudah sampai di depan Nirmala.
"Mau ngomong apa, Ren?" Nirmala berusaha tetap tenang.
"Aku udah lama banget suka sama kamu. Dari mulai kita ikut ekskul basket saat kelas 7 dulu. Tapi aku terlalu takut untuk mengungkapkannya, karena aku tau, yang suka sama kamu juga banyak. Jadi hari ini, aku memberanikan diri untuk mengatakan bahwa aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu." Reno mengungkapkan apa isi hatinya.
"Tapi maaf, Ren. Aku nggak bisa membalas perasaanmu. Hatiku sudah milik orang lain." Nirmala menjawab dengan serta merta.
"Nggak papa, La! Aku cuma mau ngungkapin perasaan yang udah kupendam selama ini aja. Aku nggak memaksa kamu harus memiliki perasaan yang sama denganku. Setidaknya aku udah lega, aku nggak bakalan mati penasaran. Semoga kamu selalu bahagia ya, La! Dimanapun kamu berada. Aku pergi dulu." Reno dan teman-temannya berbalik arah, meninggalkan Nirmala yang masih bengong, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Udah? Gitu doang? Astaga! Nyesel aku tadi panik-panik nggak karuan. Ternyata dia nggak ada perjuangan sama sekali." Nirmala menggerundel sepeninggal Reno.
"Iya, aku juga tadi udah panik. Ku kira dia mau ngkabrak kamu, mana bawa-bawa gengnya gitu. Eh, nggak taunya?"
Rosa dan Nirmala tertawa bersama-sama. Menertawakan diri mereka yang terlalu berpikiran buruk.
***
Malam harinya, Nirmala duduk di balkon kamarnya sendirian. Dia membaca komik doraemon kesukaannya.
"La! Tumben, nggak santai di depan TV??" Dimas mengagetkan Nirmala yang masih asyik dengan komiknya.
"Eh, Kak Dimas? Kok kesini?" Nirmala heran, dia tidak ingat ada janji cerita dengan Dimas.
"Iya, bosen di kamar terus. Trus tadi aku keluar, lihat kamu lagi duduk di balkon. Yaudah, aku ikutan aja ke sini." Dimas ikut duduk di samping Nirmala. Dia meletakkan kresek berisi makanan ringan yang dia beli tadi di tengah-tengah keduanya.
__ADS_1
"Oh, gitu." Nirmala manggut-manggut.
"Kamu baca apa sih?" Dimas melongok komik yang dibaca Nirmala.
"Oh, ini. Komik, Kak. Nggak tau kenapa, nggak bosen-bosennya baca komik ini. Padahal aku beli di pasar loak dulu pas masih SD. Makanya udah kucel gini." Nirmala membolak-balikkan komiknya yang memang terlihat lusuh.
"Enggak beli lagi?"
"Enggak lah, Kak. Nggak kuat beli. Duitnya pilih buat jajan aja kalau di sekolah."
"Kan bisa minta sama Bapak?" Dimas heran dengan jawaban Nirmala. Bukankan bapaknya orang kaya? Masa iya, cuma beli komik saja nggak bisa?
"Nggak mungkin dikasih, Kak. Ayahku itu rewel sama masalah duit. Kalau aku minta buat urusan sekolah sih sebenernya langsung dikasih, tapi di luar itu, amit-amit deh. Susahnya minta ampun! Aku sama adikku itu cuma dikasih uang saku buat sekolah aja. Kalau mau jajan di rumah, ya harus mengurangi jajan di sekolah. Kalau mau punya uang, ya harus nabung. Tapi aku nabung juga kadang buat beli yang lain, jadi ya, meskipun suka komik ini, aku nggak beli seri berikutnya." Nirmala berkeluh kesah.
"Gitu ya?" Dimas manggut-manggut. Ternyata Ayah Nirmala sangat ketat kalau masalah keuangan untuk anak-anaknya. Padahal kalau dengan karyawannya, beliau biasa mentraktir makanan atau yang lainnya. Berbanding terbalik dengan keluhan Nirmala saat ini.
"Ya, gitu deh." Nirmala kembali membaca komiknya.
"Besok Minggu, kita jalan-jalan, yuk!" Dimas tiba-tiba punya ide.
"Kemana, Kak?"
"Udah, pokoknya kamu siap-siap aja! Jam sepuluh pagi kita berangkat."
***
Hari Minggu pagi, Nirmala yang biasanya bangun siang, mendadak jadi bangun pagi-pagi. Dia tidak sabar untuk jalan-jalan bersama Dimas. Nirmala mengenakan pakaian terbaik versinya.
Nirmala mengenakan celana pensil levis, dengan kaos oblong sebagai atasannya. Tak lupa dia memakai kemeja kotak-kotak longgar, tanpa mengancingkan kancingnya. Nirmala berdiri di depan cermin di lemari kayunya, dia merapikan poni, juga rambut lurus sebahunya.
"Dah, cakep kok!" Nirmala tersenyum, memuji dirinya sendiri.
Nirmala mengambil tas kecil yang hanya cukup untuk membawa HP dan dompet saja. Kemudian ia turun. Di garasi, Nirmala melihat ayahnya sedang mengotak-atik mobilnya. Seperti biasa, ayahnya tidak mungkin mau diganggu kalau sedang seperti itu. Nirmala memutuskan untuk langsung ke ruang tengah, ternyata hanya ada ibunya saja.
"Mau kemana, La?" Sukma bertanya, karena Nirmala belum bilang apa-apa sebelumnya.
"Nggak tau, Ma. Kak Dimas katanya mau ngajak aku jalan-jalan. Tapi dia nggak bilang mau kemana, sih. Boleh kan, Bu?"
"Oh, sama Dimas. Yaudah nggak papa. Claudia diajak sekalian apa enggak?"
Nirmala memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Bisa gawat kalau ada Claudia. Nggak seru dong, nggak bisa berduaan sama Kak Dimas." Nirmala membatin.
"Tanya sama Kak Dimas aja, deh!" Nirmala memutuskan untuk duduk di sofa ruang tengah. Dimas belum juga memperlihatkan batang hidungnya.
"Dimas lagi mandi. Bentar, Ibu tanya sama Claudia dulu, dia mau ikut apa enggak." Sukma berjalan ke kamar putri bungsunya.
"Hmm." Nirmala mendadak hilang semangatnya.
Tak lama kemudian, ibunya sudah keluar lagi.
"Masih tidur dia, nggak mempan dibangunin. Yaudah deh, biar dia nanti ikut Ibu sama Ayah ke kondangan aja." Sukma kembali menutup pintu kamar Claudia.
"Syukurlah." Nirmala membatin, dia tersenyum lega.
"Oke, Bu." Nirmala mengambil HP-nya dan memainkannya.
"Udah siap ya, La?" Dimas yang baru selesai mandi, berjalan melewati ruang tengah, menuju kamarnya.
"Iya, katanya jam 10 berangkat. Ini udah jam 10, Kak!" Nirmala bersungut.
"Hehe, iya, maaf-maaf! Tunggu bentar, ya!" Dimas bergegas ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian, Dimas sudah muncul lagi dari balik pintu kamarnya.
"Yuk, La!" Dimas menutup kembali pintu kamarnya.
Nirmala bengong, melihat penampilan Dimas yang menurutnya sangat keren.
"Kak Dimas bener-bener, ya. Udah ganteng, wangi lagi!" Nirmala hanya membatin.
"La! Ayo!" Dimas menyadarkan Nirmala dari lamunannya.
"Eh, iya, Kak. Bu, kami berdua berangkat dulu, ya!" Nirmala berpamitan pada ibunya, bergantian dengan Dimas.
"Ya, hati-hati!"
Nirmala dan Dimas segera berangkat, berboncengan motor.
"La! Pegangan! Nanti kamu jatuh!" Dimas menata tangan Nirmala, melingkar di perutnya. Jantung Nirmala berdegup lebih cepat. Perasaannya campur aduk. Tapi dia menyukainya, Nirmala semakin mengeratkan pegangannya.
Dua pulu menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat yang Dimas inginkan.
__ADS_1
"Loh, Kak? Kok ke sini?"