
"Maaf ya, La. Buat kamu kecewa." Dimas bisa merasakan kekecewaan Nirmala dari nada bicaranya.
"Emangnya nggak bisa pulang jam 4, Kak? Ijin gitu, hari inii, aja. Lagipula, kayaknya dulu di kantor yang dulu kan biasanya kerja sampai jam 4 aja? Kecuali kalau lagi lembur? Kok sekarang aturannya jadi beda sih?" Nirmala masih berusaha bernego berharap Dimas mau mengutamakan dia daripada pekerjaannya.
"Nggak bisa, La. Kerjaanku yang dulu sama yang sekarang kan beda. Dulu aku masih jadi mekanik biasa, sekarang udah masuk ke kantornya. Nggak di bagian bengkel seperti dulu. Jadi jam kerjanya juga beda, lebih lama. Juga aku nggak enak kan, kalau baru sebentar pindah kerja di sini kok udah berani ijin-ijin pulang cepet. Sekali lagi maaf ya, La, aku nggak bisa nemani kamu beli baju olahraganya. Kamu beli sendiri nggak papa? Nanti aku kirim uang ke rekeningmu buat beli." Dimas kembali menegaskan tapi tetap memberikan jalan keluar.
"Yaudah deh nggak papa, Kak. Padahal aku pengen banget ketemu sama Kak Dimas. Ternyata nggak bisa. Yaudah deh, besok lain kali aja. Aku beli baju sendiri nggak masalah. Katanya sih ada toko pakaian dekat sini, nanti aku jalan aja ke sana." Nirmala mengalah, dia tidak bisa memaksa, karena ini terkait pekerjaan Dimas. Daripada Dimas terkena masalah, kan? Lebih baik dia menelan kekecewaan karena tidak bisa bertemu dengan Dimas. Toh kemarin mereka baru saja bertemu, jadi tidak apa-apa lah, pikirnya.
"Kamu masih bisa pakai ATM kan di sana? Nggak ikut dikumpulkan ke pengurus?" Dimas memastikan.
"Ada kok, Kak. Masih yang biasanya. Anak-anak masih boleh bawa ATM, kok. Yang penting dijaga sendiri, dan kalau hilang, pengurus nggak mau ikut tanggung jawab." Nirmala menjelaskan aturan di pondoknya.
"Oke, habis ini aku tranfer, ya." Dimas memutuskan.
"Oke, Kak. Aku tunggu. Makasih, ya!" Nirmala berkata datar, tidak seceria tadi. Karena tujuannya bukan hanya uang semata, tapi bertemu Dimas yang jadi prioritasnya.
"Oke, aku transfer setelah ini dimatikan." Dimas menegaskan.
"Oke, Kak. Yaudah aku matikan dulu, takut mengganggu kerjaan, kalau telfon terlalu lama." Nirmala memutuskan untuk mengakhiri panggilannya saja, daripada dia semakin kecewa
"Oke, La. Ma...." Nirmala mengakhiri panggilannya, sebelum Dimas menyelesaikan kata penutupnya.
Tanpa terasa, butir bening mengalir dari sudut mata Nirmala.
"Baru hari pertama saja sudah seperti ini, bagaimana selanjutnya? Kak Dimas tetap saja memprioritaskan pekerjaannya. Padahal kan kalau jabatan lebih tinggi, harusnya bisa lebih mudah ijin-ijin. Apa salahnya sih, pulang satu jam lebih awal? Toh tidak setiap hari, kan? Hhh. Ya sudahlah. Aku emang bukan prioritas Kak Dimas." Nirmala bergumam sendiri. Meskipun banyak santri berlalu lalang, dia tidak peduli.
__ADS_1
Tak lama setelah panggilan terputus, satu pesan masuk ke HP yang masih Nirmala pegang dengan erat.
[Udah aku tranfer ya, La. Maaf nggak bisa nemani kamu beli pakaian olah raganya.]
Nirmala segera membalas meskipun dia jengkel, tapi dia tidak mau membuat Dimas kepikiran.
[Oke, Kak. Nggak papa. Trimakasih banyak. Jangan dibalas lagi, HP-nya mau ku kasih ke Ustadzah.]
Setelah mengirim pesan itu, Nirmala segera menghapus pesan yang dia kirim dan dia terima. Dia tidak mau pesannya dengan Dimas dibaca Ustadzah ataupun santri lain.
"Ust, ini HP-nya udah. Trimakasih banyak, ya." Nirmala mengembalikan HP pada Ustadzah, kemudian kembali ke kamar.
Setelah itu, Nirmala ijin pada ketua kamar untuk ke ATM dan membeli pakaian olah raga. Meskipun rasanya lemas karena tidak jadi bertemu Dimas, tapi dia harus tetap berjalan ke ATM juga ke toko baju. Sayangnya kedua tempat itu berlawanan arah, membuat jarak yang dekat menjadi terasa jauh. Setelah mendapat apa yang dibutuhkan, Nirmala kembali ke kamar. Dia memantapkan diri, dia harus siap mengikuti kegiatan di pondok maupun di sekolahnya nanti
Hari-hari berikutnya, Nirmala mengikuti kegiatan di pondok maupun di sekolah dengan baik. Meskipun kadang juga terkena hukuman, tapi tidak ada hukuman yang menyakiti, hukumannya hanya menghafal dan menyetor hafalan saja, sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan.
Di sekolah, ternyata seperti sekolah pada umumnya. Ada siswa laki-laki dan perempuan di kelas yang sama. Tidak dibedakan, seperti halnya di pondok. Jadi, santri putra dan putri masih bisa bertemu di sekolah, jika berada di sekolah yang sama.
"La! Lihat deh, si Dony dari tadi lihatin kamu terus!" Rahma yang jadi teman sebangku Nirmala berbisik pada Nirmala.
"Yaudah, biarin aja!" Nirmala cuek. Dia masih asyik membaca komik yang dia bawa dari rumah. Komik pemberian Dimas dulu.
"Kayaknya dia suka deh sama kamu." Rahma masih belum menyerah.
"Yaudah, trus aku harus ngapain?" Nirmala masih saja tidak peduli dengan ucapan Rahma.
__ADS_1
"Ya, nggak harus ngapa-ngapain, sih. Cuma agak aneh aja, kamu ditaksir cowok seganteng dan sepinter Dony kok nggak mau gitu. Apa kamu udah punya pacar? Kok kamu nggak pernah cerita sih?" Rahma gemas dengan sikap Nirmala yang dia anggap terlalu cuek itu.
"Enggak, aku nggak punya pacar, kok." Nirmala akhirnya hilang fokus, dia menutup buku komiknya.
"Lah trus? Kenapa nggak tertarik sama Dony?" Rahma masih penasaran.
"Atau kamu emang nggak mau pacaran? Takut dosa? Wahh, keren sih kamu, La!" Rahma bertepuk tangan pelan sambil menggelengkan kepalanya, meniru gaya orang-orang yang sering muncul di acara TV.
"Ya ampun, aku nggak se-alim itu, Ma! Ya gila aja, aku berubah langsung drastis. Sholat lengkap aja baru setelah di sini, nutup aurat juga semenjak di sini, jadi nggak kebayang kan? Seberapa banyak dosaku?" Nirmala tidak terima dianggap seperti itu.
"Oh, kirain. Hehe. Kenapa nggak kamu tanggepin aja si Dony itu?" Rahma kembali ke topik tentang Dony.
"Aku harus nanggepin gimana? Orang dia nggak ngapa-ngapain. Bilang juga enggak, aku nggak mau lah caper-caper duluan. Ntar dikira ke-PD-an. Ih, malu-maluin!" Nirmala memberikan alasannya.
"Iya juga sih, yaudah besok tunggu waktunya aja. Kali aja dia lama-lama kasih kode lebih gitu." Rahma tersenyum menggoda Nirmala.
"Udah ah, nggak usah mikirin yang belum terjadi. Jangan berharap sesuatu yang belum pasti, takutnya malah sakit hati. Kecewa karena harapan sendiri." Nirmala berkata sok bijak.
"Weh, kok dalem banget, La! Kayaknya bener-bener dari hati deh." Rahma tertawa, mendengar kata mutiara Nirmala.
"Ketawa aja terus!" Nirmala justru sewot.
"Haha, iya deh, maaf, maaf." Rahma nyengir, tanpa merasa bersalah.
Dalam hati Nirmala membatin, "Kamu nggak tau aja, Ma. Aku belum bisa membuka hati untuk orang lain. Sebaik apapun dia, bagiku tetap kalah dibandingkan dengan orang yang kusukai saat ini. Cuma masalahnya dia sudah beristri, dan bodonnya aku masih terus berharap kalau suatu saat aku bisa bersama dia. Meskipun terkadang aku harus menelan kekecewaan. Sudah menjadi resiko pilihan ku."
__ADS_1