Mencintai Kakak Angkat

Mencintai Kakak Angkat
Bab 24


__ADS_3

"Aku juga pamit ya, La! Jangan lupa, nomer-nomer penting dicatat dulu, sebelum HP-nya dikumpulkan ke pengurus!" Dimas menatap Nirmala lekat.


"Iya, Kak. Tenang aja, udah aku catat, kok." Nirmala tersenyum, dia sudah tidak sedih karena ditinggal keluarganya lagi.


"Bagus deh kalau gitu. Kalau kamu butuh sesuatu, kabari aja, ya! Kalau misalnya belum sampai jadwalnya kunjungan atau jadwalnya libur, kamu bisa pinjem HP pengurus. Pokoknya, kalau ada apa-apa, kamu harus ngabari! Oke!" Dimas memegang kedua pundak Nirmala, berbicara penuh dengan penekanan.


"Siap, Kak. Trimakasih ya, Kak!" Nirmala memeluk Dimas erat-erat, tidak peduli dengan keramaian yang ada di lingkungan pondok itu, juga tidak peduli kalau Dimas sudah berstatus sebagai suami orang. Toh tadi di depan pengurus pondok, Nirmala memperkenalkan Dimas sebagai kakaknya. Jadi, pasti tidak akan masalah, mereka berpelukan seperti itu.


Setelah merasa cukup, Nirmala melepaskan pelukannya.


"Maaf ya, Kak. Aku kelepasan. Rindu banget sama Kakak, lama nggak ketemu."


"Iya, aku juga begitu." Dimas tersenyum. "Yaudah, sana masuk! Habis ini, Kakak pergi." Lanjut Dimas.


"Oke, Kak." Nirmala mengikuti perintah Dimas, dia bersalaman dan mencium punggung tangan Dimas, kemudian masuk ke gedung khusus santri putri. Barang-barangnya sudah masuk asrama tadi saat dia pertama datang ke pondok. Sedangkan Dimas memastikan Nirmala masuk dulu, baru kemudian pergi meninggalkan pondok.


Hari itu, Nirmala resmi menjadi santri di sebuah pondok yang dia pilih sendiri. Dia siap menghadapi apapun yang akan terjadi di pondok nanti. Suasana yang benar-benar baru baginya.


***


Sampai sore hari, santri masih diperbolehkan untuk memakai alat komunikasi masing-masing. Belum ada tanda-tanda pengumpulan HP ke pengurus. Nirmala menggunakan waktu itu sebaik mungkin, untuk berkirim kabar pada Dimas, ibunya, maupun Rosa yang memilih untuk sekolah di dekat rumah saja.


Sampai setelah selesai sembahyang isya, semua santri diminta untuk berkumpul di aula yang ada di gedung itu juga. Ternyata ada banyak santri, tidak hanya santri baru, tapi santri lama juga berkumpul di aula yang sama, meskipun dengan barisan yang berbeda.


Nirmala berkenalan dengan santri yang duduk di sampingnya, dia cepat akrab dengan teman baru. Mereka mengobrol, sembari menunggu pengurus yang akan mengisi acara.


Sampai tiba saatnya, pembawa acara membuka acara penyambutan santri baru di asrama putri tersebut. Nirmala mendengarkan dengan seksama. Pengurus membagi kamar untuk santri baru, juga menjelaskan peraturan-peraturan yang berlaku di pondok itu. Mereka diberi waktu sampai jam 9 malam, untuk memberi kabar pada orang tuanya, tentang peraturan di pondok. Setelah itu, HP sudah harus dikumpulkan dan fokus untuk mengikuti pembelajaran di pondok.


Sekembalinya dari berkumpul, Nirmala juga santri baru yang lain, langsung menuju ke kamarnya masing-masinh dengan membawa barang bawaan yang tadi hanya diletakkan di ruang kelas saja.

__ADS_1


"Halo!" Nirmala menyapa teman-teman yang ada di dalam kamarnya.


"Halo juga, kamu Nirmala ya?"


"Iya, Kak. Kok tau?" Nirmala bingung, kenapa tebakan orang itu benar sekali.


"Ini, daftar santri kamar ini. Semua udah masuk kamar, kecuali kamu. Jadi kamu pasti Nirmala. Kenalkan, aku Linda, ketua kamar ini." Linda mengulurkan tangan pada Nirmala.


"Nirmala. Bisa dipanggi Lala." Nirmala memperkenalkan dirinya.


"Oke, nanti kenalan juga sama teman lainnya. Itu ranjanh kamu dan itu lemari kamu." Linda menunjukkan ranjang di tingkat atas, juga menunjuk lemari plastik berwarna pink di sudut ruangan.


"Oke, Kak. Makasih." Nirmala hanya bisa menurut, karena dia yang terakhir datang, jadi dia harus menerima apa yang jadi jatahnya.


Nirmala melihat jam dinding di kamar itu, sebentar lagi jam 9, ia segera mengabari ibunya juga Dimas, sebelum HP harus dikumpulkan.


***


Anak-anak yang sudah terbiasa bangun pagi, akan langsung bangun dan beranjak dari tidurnya. Tapi tidak bagi Nirmala yang terbiasa bengun siang, sembahyang juga jarang. Dia tetap saja tidur nyenyak, meskipun teman-teman di sekitarnya sudah ribut.


Ketua kamar sudah berusaha membangunkan Nirmala. Tapi hasilnya nihil. Nirmala tidak bergerak sedikitpun. Akhirnya ketua kamar mengadukan pada pembimbing santri putri, yang kemudian masuk ke kamar Nirmala.


"Dek! Dek! Bangun!" Pendamping santri putri sampai menggoyang-goyangkan badan Nirmala yang tidak kunjung bangun.


Posisinya yang berada di ranjang tingkat atas, membuat pengurus putri kesulitan membangunkan Nirmala. Dia sampai harus naik ke tangga ranjang, supaya bisa menggoyang-goyangkan badan Nirmala.


"Dek! Bangun! Waktunya qiyamul lail!" Pendamping santri putri kembali membangunkan Nirmala.


Nirmala menggeliat. Dia mengerjapkan matanya yang masih mengantuk. Kemudian dia duduk.

__ADS_1


"Qiyamul lail, apaan itu?" Nirmala bertanya, dia masih asing dengan istilah itu.


"Sholat malam! Ayo, cepetan! Bangun dan berwudhu! Ditunggu di tempat sholat! Kita sholat berjamaah." Pendamping santri harus banyak-banyak bersabar, saat menghadapi santri baru seperti saat ini. Tidak hanya Nirmala saja yang seperti itu, kebanyakan santri baru memang sulit untuk bangun malam. Kecuali mereka yanh sudah terbiasa dari rumah rutin melakukan hal itu.


"Oh, ya." Nirmala menguap lebar, tanpa menutupinya.


"Kalau menguap, mulutnya ditutup, Dek!" Pembimbing kembali menegur Nirmala.


"Eh, iya, Kak. Maaf!" Nirmala menutup mulutnya, meskipun telat. Dia sudah selesai menguap.


"Buruan, bangun, turun!" Pembimbing masih bersabar, menunggui Nirmala yang terpaksa menuruti. Dia bangun dan menuruni anak tangga yang terasa menyeramkan, mengingat badannya yang tinggi besar, membuat ranjang bergoyang-goyang saat Nirmala menginjak anak tangganya. Sangat berbeda dengan tangga di rumahnya.


"Besok kamu tidur di ranjang bawah aja! Gantian sama teman kamarnya." Pembimbing yang melihat Nirmala juga merasa ngeri, apalagi Nirmala susah dibangunkan. Mungkin dia lebih baik di ranjang bawah saja. Biar bisa dibangunkan dengan mudah.


"Emangnya bisa ya, Kak? Kalau nggak ada yang mau tukeran gimana?"


"Nanti biar saya yang bilang sama ketua kamar."


"Baik, Kak."


"Oh, ya. Ingat peraturan di sini, ya! Panggil pembimbing dengan sebutan Ustadzah, Kak untuk memanggil sesama santri yang lebih tua dan Dek untuk memanggil sesama santri yang lebih muda. Kalau memanggil pengurus atau pengajar utama, sebut Bu Nyai. Paham ya?" Pembimbing kembali mengingatkan Nirmala yang sepertinya lupa dengan peraturan yang sudah diberitahukan tadi malam.


"Eh, iya. Maaf, Ust. Saya belum hafal mana yang pembimbing, mana yang santri. Jadi tadi asal memanggil saja. Saya kira Ustadzah ini sesama santri. Hehe." Nirmala mengeles.


"Ya sudah nggak papa, besok lama-lama hafal dan biasa." Pendamping memaklumi, mengingat Nirmala belum ada sehari berada di pondok.


"Iya, Ust."


Nirmala mengikuti santri yang lain. Dia berwudhu dan mengenakan mukenanya. Kamarnya sudah kosong, hanya tinggal dia sendiri yang tertinggal.

__ADS_1


Nirmala segera turun dan bergabung dengan yang lainnya. Ternyata dia sudah telat. Sholat malam sudah dimulai.


"Aduh! Mati aku!" Dalam hati Nirmala ketar-ketir, takut kalau nanti kena hukuman. Baru juga pertama kali ikut kegiatan, masa iya, sudah harus dihukum? Kan nggak lucu?


__ADS_2