Mencintai Kakak Angkat

Mencintai Kakak Angkat
Bab 20


__ADS_3

Nirmala harap-harap cemas menunggu balasan dari Dimas. Dia ingin tau, bagaimana keinginan Dimas yang sebenarnya. Beberapa saat kemudian, pesan dari Dimas muncul.


[Kita tetap seperti ini, La. Nggak ada yang berubah. Cuma statusku aja yang berubah, tapi hatiku tetap milikmu.]


Membaca pesan itu, membuat Nirmala kembali bersemangat. Dia bangkit dari kasurnya, memeluk dan mencium boneka pemberian Dimas berkali-kali.


"Makasih, Kak! Makasih! Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun. Kutunggu dudamu, atau jadi yang kedua juga tidak masalah!" Nirmala bersorak seorang diri.


Jalan pikiran Nirmala yang belum dewasa, membuatnya tidak bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak. Ditambah dengan keputusan Dimas yang seolah-olah masih memberi hati pada Nirmala. Nirmala jadi tidak peduli status Dimas, yang penting, Dimas tetap mempertahankan hubungan mereka berdua. Karena itu artinya, Nirmala akan mendapat semua fasilitas dari Dimas, seperti biasanya.


Suasana hati Nirmala jadi lebih baik, setelah mengetahui bagaimana tanggapan Dimas. Dia kembali berselera makan, juga semangat belajar lagi. Dia ingat ucapan Rosa waktu itu, kalau dia mau dekat dengan Dimas, dia harus mencari sekolah yang dekat dengan kantor Dimas. Kalau mau seperti itu, berarti dia harus mendapat nilai yang bagus yang hanya bisa dicapai dengan giat belajar.


Nirmala tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa, ia mengambil buku latihan soal, juga alat tulisnya. Kemudian duduk di atas karpet, ia kembali mengulang soal-soal yang sudah ia pelajari sebelumnya sambil menikmati makanan ringan yang dibawakan Rosa tadi.


***


"La! Aku udah balik nih! Kamu nggak aneh-aneh, kan?" Rosa kembali berteriak saat sudah berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Nirmala.


"Hmmm!" Nirmala mengeraskan suaranya supaya didengar oleh Rosa. Dia masih fokus dengan buku dan pensilnya.


Rosa mempercepat langkahnya menaiki anak tangga. Kemudian langsung membuka pintu kamar Nirmala sesampainya di sana.


"La! Kamu belajar?" Rosa bertanya heran. Saat ditinggal tadi kondisi Nirmala masih tidak semangat, kenapa bisa berubah dengan cepat?


"Kamu lihat sendiri, kan? Katanya aku harus belajar? Ini aku lagi belajar, malah kamu yang heran?" Nirmala menjawab tanpa melihat ke arah Rosa.

__ADS_1


"Ya, enggak. Aku cuma heran, perubahan moodmu cepet banget. Tapi nggak masalah sih, malah bagus." Rosa tersenyum, ia masuk ke kamar Nirmala dan meletakkan tas di karpet.


"Lah? Cemilannya kemana, La?" Rosa heran melihat kresek yang dia bawa tadi sudah kosong.


"Hehe, udah pindah ke perutku." Nirmala nyengir, melihat Rosa yang berdiri di depannya.


"Yah? Kok aku nggak di sisain sih?" Rosa menggerutu sebal.


"Ya, kan nggak baik kalau ngasih sisa. Jadi mendingan aku habisin aja!" Nirmala kembali unjuk gigi, tanpa merasa bersalah.


"Tapi aku kan juga mau, La!" Rosa mengambil buku dari dalam tasnya, ia bergabung duduk di karpet, belajar bersama Nirmala.


"Hehe, maaf deh. Aku ambilin cemilan ke bawah, sekalian mau ke kamar mandi. Bentar ya!" Nirmala segera beranjak, dia keluar kamar dan berlari menuruni anak tangga.


Rosa geleng-geleng kepala.


Tak lama kemudian, Nirmala sudah kembali ke kamar lagi. Ia membawa makanan ringan juga minuman dingin dalam botol.


"Nih, aku bawain lebih banyak dari yang tadi." Nirmala meletakkan cemilan juga minuman dingin di hadapan Rosa.


"Makasih." Rosa tersenyum.


"Oh, ya. Ini kembalian uang yang di atas kulkas tadi, aku ambil seratus ribu, buat beli makanan yang tadi itu." Rosa mengambil uang dari dalam saku celananya.


"Oke, taruh di situ aja! Nanti buat beli makan lagi." Nirmala menunjuk pojokan karpet.

__ADS_1


"Oke, ngomong-ngomong, La. Kamu kok bisa jadi semangat lagi sih? Kamu dapat ilham dari mana?" Rosa tidak bisa menahan pertanyaan yang mengganjal di hatinya.


"Mmm, kasih tau nggak ya?" Nirmala sengaja meledek Rosa. Meskipun matanya masih sembab gara-gara menangis terlalu lama, tapi dia sudah bisa tersenyum seperti biasanya. Bedanya matanya jadi lebih sipit, saat kedua bibirnya tertarik.


"Ih, ngeledek ya! Cepetan dong, kasih tau!" Rosa pura-pura sebal. Dia ikut bahagia, kalau sahabatnya sudah menemukan semangatnya kembali.


"Hehe, aku masih semangat mengejar cinta Kak Dimas, Ros. Aku pengen bisa dekat sama dia. Jadi aku harus belajar, biar bisa sekolah di dekat tempat kerjanya dia." Nirmala tersenyum lebar, membayangkan dirinya sebentar lagi akan dekat lagi dengan Dimas.


"Hah? Kamu udah gila apa? Kak Dimas udah mau punya istri lho! Nggak mungkin bisa sama kamu, La! Coba kamu pikir dengan akal sehat!" Rosa tercengang mendengar pernyataan Nirmala yang terdengar tidak wajar.


"Ya nggak masalah! Yang penting Kak Dimas sayang sama aku, aku juga sayang sama dia. Aku yakin, suatu saat kalau aku udah dewasa, bakalan bisa jadi istri Kak Dimas. Entah itu dapat dudanya Kak Dimas, atau jadi istri kedua juga nggak masalah!" Nirmala kekeuh dengan pendapatnya.


"Astaga, La! Sadar! Sadar! Emangnya kamu mau, dianggap sebagai pelakor? Perusak rumah tangga orang lain?" Rosa mencoba membuka pemikiran Nirmala lagi. Dia merasa temannya benar-benar sudah gila.


"Ya nggak masalah!" Nirmala kembali menyunggingkan senyumnya, tanpa merasa bersalah.


"Bener-bener gila kamu, La!" Rosa geleng-geleng kepala.


"Kalaupun nggak memiliki juga nggak masalah kok, yang penting aku cinta sama Kak Dimas, Kak Dimas juga cinta sama aku. Yaudah, nggak ada yang salah, kan?"


"Tapi Kak Dimas udah punya istri, La! Cinta sama orang yang bukan istrinya itu jelas cinta yang salah! Biar gimanapun, istri itu berhak penuh atas cinta suaminya. Nggak boleh terbagi sedikitpun sama orang lain. Dan kamu itu orang lain bagi keluarga kecil Kak Dimas dan istrinya!" Rosa kesal dengan cara berpikir temannya yang keliru itu. Meskipun di sini Dimas juga berperan penting, karena dia memberi harapan lagi pada Nirmala. Tapi, tidak mungkin kan, Rosa memarahi Dimas? Bagaimana caranya?


"Udah lah, Ros. Nggak usah dibahas! Ini biar jadi urusanku aja, kamu nggak perlu ikut campur. Apapun resikonya, biar aku tanggung sendiri." Nirmala tau sahabatnya terbawa emosi.


"Hhh, sekarang coba kamu pikir, La! Misalnya kamu di posisi istri Kak Dimas, gimana perasaanmu?" Rosa masih terus berusaha menyadarkan Nirmala.

__ADS_1


"Ya nggak masalah, toh aku sekarang juga cuma dapat sebagian kecil cintanya Kak Dimas, dan aku masih bertahan, karena aku emang beneran cinta sama dia." Nirmala menjawab dengan entengnya.


Rosa menepuk jidat. Harus dengan cara apa lagi dia menyadarkan pikiran Nirmala yang salah?


__ADS_2