Mencintai Kakak Angkat

Mencintai Kakak Angkat
Bab 7


__ADS_3

"Ya aku kan nggak tau, Ma!" Nirmala tidak mau disalahkan.


"Buat pelajaran aja, biar kamu ingat-ingat. Kalau perut udah mulai nggak enak, jangan makan mie, coklat, kue yang sangat manis, makanan dan minuman yang asem, pedes, berminyak, bersantan, kopi, teh. Nanti malah bikin keadaan tambah parah. Lebih baik minum air putih, hangat." Sukma berpesan pada Nirmala.


"Kok banyak banget yang dilarang sih, Bu? Trus aku makan apa dong? Kalau semuanya dilarang gitu?" Nirmala protes, kondisinya sudah lebih baik.


"Makan ubi! Aman buat lambung."


"Yah! Kok makan ubi sih, Bu?"


"Ya emang itu yang aman buat asam lambung, La! Besok kamu kalau udah sehat, cari-cari info di internet. Apa yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan oleh penderita asam lambung. Kamu itu perempuan, lho! Kamu harus serba bisa! Mulai sekarang, minimal kamu harus mengenali penyakitmu sendiri. Apa yang bikin kambuh, apa yang harus dijadikan obat dan lain sebagainya." Sukma menasehati Nirmala lebih banyak lagi.


"Iya, iya. Katanya mau ngerikin aku, Bu? Jadi kan?" Nirmala bosan diceramahi, dia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.


"Bentar, ibu ambil minyak sama koin dulu!"


"Bu, ini minum hangatnya." Dimas memberanikan diri untuk muncul, setelah cukup lama berdiri saja di depan pintu, mendengar percakapan Nirmala dan ibunya.


"Ya, itu. Nirmala suruh minum!"


"Baik, Bu." Dimas masuk kamar Claudia. Sukma berlalu, dia harus segera mengambil minyak dan koin untuk kerikan.


"La! Minum dulu ini, biar enakan." Dimas memberikan minuman pada Nirmala, dia bahkan berniat untuk membantu meminumkannya.


"Nggak usah, Kak! Aku bisa sendiri, kok." Nirmala mengambil gelas dari tangan Dimas, dia segera meminum air hangat, lebih ke panas, yang diambilkan oleh Dimas tadi. Kemudian memberikan gelasnya lagi pada Dimas.


"Gimana, enakan?" Dimas menunggu respon Nirmala selanjutnya.


"Udah, Kak. Makasih banyak ya!" Nirmala memang terlihat lebih baik, dia sudah tidak sepucat tadi.


"Sama-sama. Maaf ya, La! Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini." Dimas menunduk.


"Nggak papa, Kak. Lagian Kak Dimas nggak sengaja, aku juga nggak tau kalau ternyata akan jadi seperti ini." Nirmala menenangkan kakak angkatnya itu.


"Sekali lagi aku minta maaf ga, La! Kamu pengen apa? Biar aku beliin." Dimas menawari hal lain pada Nirmala, dia ingin menebus kesalahannya.


"Nggak ah, Kak! Nggak usah! Aku takut ngrepotin Kakak." Nirmala menolak tawaran Dimas.

__ADS_1


"Nggak repot, kok! Atau kamu takut kalau malah nanti muntah lagi?" Dimas menerka apa yang dirasakan oleh Nirmala.


"Enggak kok, Kak! Aku cuma belum pengen apa-apa." Nirmala kembali memberi alasan, tidak mau membuat Dimas terbebani.


"Oke deh kalau gitu."


"Dim, boleh minta tolong, nggak?" Sukma tiba-tiba masuk lagi ke kamar Claudia, membawa alat tempurnya.


"Tolong apa, Bu?" Dimas langsung berdiri tegap, siap melaksanakan apa yang diinginkan oleh ibu, yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


"Tolong beliin obat buat Nirmala, ini nama obatnya." Sukma memberikan secarik kertas, bertuliskan nama obat yang biasa dikonsumsi, jika terjadi hal seperti itu. Juga uang untuk membelinya.


"Oke siap, Bu." Dimas segera pergi dari kamar Claudia.


"Sini, dikerik dulu!"


Nirmala segera mengatur posisi, sedangkan Sukma mengunci pintu. Tidak mau kalau Dimas tiba-tiba membuka pintu.


***


"Yak! Kamu di dalam?" Suara Dimas terdengar dari luar.


"Ya, Kak. Gimana?" Claudia dengan sigap membuka pintu, meninggalkan game di tabletnya.


"Kak Lala udah makan belum? Obatnya udah diminum belum? Dia masih sakit, apa udah mendingan?" Dimas memberondong bocah kecil itu dengan banyak pertanyaan.


"Kak Dimas! Tanyanya satu-satu dong! Aku bingung nih, harus jawab yang mana dulu." Claudia bersungut kesal.


"Hehe, oke oke. Kakakmu udah mendingan belum?" Dimas mengulangi pertanyaannya.


"Udah kok, udah nggak panas. Tapi nggak tau itu, dari tadi tutupan selimut terus kaya gitu!" Claudia menunjuk Nirmala yang masih tidur berbalut selimut. Bahkan wajahnya sekarang sudah tidak terlihat lagi. Dimas mengikuti arah tangan Claudia.


"Udah minum obat belum tadi?"


"Udah, Kak. Tenang aja!"


"Yaudah nggak papa, biarin istirahat dulu. Kalau butuh apa-apa, kamu bilang sama Kakak, ya!" Dimas berpesan sebelum pergi.

__ADS_1


"Oke siap, Kak!" Claudia menunjukkan tangan kanannya membentuk simbol 'OK'.


Dimas pergi dari kamar Claudia.


"Kak Dimas udah pergi, ya?" Nirmala langsung memunculkan lagi kepalanya yang dari tadi tertutup selimut.


"Eh, copot. Eh, copot." Claudia latah, dia kaget, tiba-tiba Nirmala bersuara. Seingat Claudia, kakaknya tadi masih tidur.


"Udah pergi, kan?" Nirmala mengulangi pertanyaannya.


"Udah kok, Kak. Kenapa sih?" Claudia bertanya heran.


"Hehe, nggak papa kok. Anak kecil nggak perlu tau!" Nirmala kembali menutup kepalanya dengan selimut. Saat ini yang dia inginkan hanya menenangkan diri dari berbagai macam perasaan yang berkecamuk di hatinya.


"Seperti inikah rasanya jatuh cinta? Diberi harapan tanpa kepastian?"


***


Hari Senin, Nirmala kembali masuk sekolah.


"La! Waktumu tinggal seminggu lagi, loh! Kak Dimas udah nembak kamu belum?" Rosa langsung mengingatkan Nirmala, saat dia baru saja sampai di mejanya.


"Belum, Ros." Nirmala menggeleng pelan.


"Wah, aku masih punya harapan makan bakso gratis selama seminggu, nih!" Rosa tersenyum lebar.


"Hhh. Nggak papa deh, aku udah mulai nabung buat nraktir kamu bakso selama seminggu." Nirmala menjawab dengan lesu.


"Eh, kok jadi gini sih? Jadi kurang seru, kalau kamu nggak semangat gini!" Rosa heran dengan perilaku temannya yang tak biasa.


"Aku bingung, Ros. Rasanya aku bakalan kalah. Aku udah pesimis. Aku udah hilang harapan deh." Nirmala tak sesemangat biasanya, saat membahas Dimas.


"Emangnya kenapa? Sejauh ini kan kalian semakin dekat?" Rosa heran dengan perubahan keyakinan Nirmala.


"Dia baru aja putus dari pacarnya, aku nggak tau kapan tepatnya. Katanya dia cinta pertamanya Kak Dimas, dan akan dijadikan cinta terakhirnya. Tapi ternyata ceweknya selingkuh, jadi terpaksa mereka putus deh. Apa masih ada kesempatan aku buat jadi penggantinya? Kalau dia aja secinta itu sama mantan pacarnya?" Nirmala duduk, dia menopang dagunya di atas meja.


"Kalau aku ya, ini kalau aku. Kalau aku, sekali udah ditinggal selingkuh, nggak bakalan ada kesempatan lagi untuk kembali. Mending cari yang lain, soalnya selingkuh itu penyakit, nggak bakalan sembuh, sampai kapanpun. Kalaupun berhenti, pasti suatu saat bakal diulangi lagi. Jadi bye bye deh. Nggak ada maaf lagi." Rosa mencoba menenangkan Nirmala.

__ADS_1


__ADS_2