
"Bu, beberapa hari ini kok kayaknya aku nggak liat Kak Dimas? Apa emang lagi nggak ketemu aja? Tapi motornya kok ada di garasi?" Nirmala bertanya pada Ibunya, di suatu pagi.
"Oh, kamu nggak tau? Dimas kan udah mau pindah ke Cabang Semarang. Jadi dia sibuk mempersiapkan segala sesuatunya." Sukma menjawab santai.
"Hah? Kapan dia pindah, Bu? Kok jahat banget sih, Kak Dimas. Aku nggak dikasih tau?" Nirmala terkejut bukan main. Dia memang sudah pernah dengar, kalau Dimas akan dipindahkan ke cabang lain, juga naik jabatan, tapi kenapa Dimas tidak bilang apa-apa sebelumnya?
"Minggu depan baru resmi pindah, sekarang masih menyiapkan tempat tinggal dan lain sebagainya. Besok masih ke sini lagi, kok."
"Beneran kan, Bu?"
"Iya, beneran. Emangnya kenapa sih? Kok kayaknya kamu heboh banget gitu?" Sukma bertanya menyelidik.
"Ya, nggak papa, Bu. Tapi rasanya pasti ada yang kurang aja. Biasanya ada Kak Dimas, tiba-tiba jadi nggak ada lagi. Kan rasanya kehilangan, Bu! Apalagi Lala biasa ngobrol sama Kak Dimas. Bakalan kesepian banget aku pastinya."
"Yaudah nggak papa, namanya juga tugas. Apalagi itu demi kemajuan Dimas juga, kan? Sebagai keluarga, kita cuma bisa mendukung, dan ikut bangga, karena dia mendapat posisi yang lebih baik. Bahkan kalau mau, mungkin besok lama-lama jabatannya akan lebih tinggi dari pada ayahmu." Sukma mentransfer pemikiran positifnya pada Nirmala.
"Iya juga sih, Bu." Nirmala mengangguk.
"Yaudah, sana berangkat sekolah! Nanti kamu telat. Jam segini busnya udah lewat apa belum?" Sukma mengingatkan Nirmala.
"Eh, iya Bu. Aku berangkat dulu, ya!" Nirmala bersalaman dan mencium punggung tangan ibunya. Kemudian bergegas berjalan ke halte bus di jalan depan rumahnya. Pikirannya saat ini kembali kacau.
"Kalau Kak Dimas pergi gimana? Apa dia bakal tetep bersikap sama? Apa dia bakalan ketemu sama perempuan lain yang bakalan menarik hatinya? Trus aku gimana dong? Ya Tuhan! Tolong aku!" Nirmala membatin, pandangannya lurus ke depan, entah memandang apa.
***
Sore hari, sepulang les, Nirmala langsung ke ruang tengah. Dia mencari ibunya, biasanya ibunya akan ada di ruang tengah, dapur, atau kamar. Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa, membuatnya lebih banyak berada di rumah saja.
"Bu!" Nirmala memanggil ibunya.
"Ya, La! Kamu udah pulang? Kok tumben nggak pakai salam?" Sukma menjawab, dia keluar dari kamar Claudia.
__ADS_1
"Hehe, maaf, Bu. Lagi ngapain di situ, Bu?" Nirmala berbasa-basi.
"Masukin bajunya Diyak ke lemari." Sukma menutup kembali pintu kamar Claudia.
"Oh, gitu. Diyak kemana?" Nirmala pura-pura bertanya, padahal dia sudah tau, sore-sore seperti ini jadwalnya Claudia ke masjid, mengaji bersama teman-teman sebayanya.
"Ke TPQ, kenapa sih? Tumben kamu tanya-tanya? Biasanya juga bodo amat?"
"Hehe, nggak papa, Bu. Cuma pengen tanya aja. Ayah belum pulang?"
"Belum, kamu nggak lihat, garasi tadi masih kosong?"
"Hehe, lupa, Bu." Nirmala cengar cengir saja. Semua pertanyaannya memang terkesan basa-basi saja.
"Kak Dimas belum pulang juga, Bu?" Sebenarnya ini yang ingin ditanyakan Nirmala dari tadi. Tapi dia menutupinya, jadi terkesan muter-muter.
"Belum, mungkin nanti malam sampainya. Katanya sore ini berangkat dari Semarang."
"Kenapa emangnya? Sok penting banget kamu?" Sukma menyelidik.
Nirmala terdiam sejenak, mencari alasan yang tepat. Karena tidak mungkin dia mengatakan kalau kangen dengan kakak angkatnya itu.
"Mmm, mau minta oleh-oleh dong, Bu!" Nirmala menunjukkan deretan giginya yang bersih dan rapi itu.
"Ya ampun, jangan suka gitu ih! Ngrepotin! Iya kalau Dimas bawa oleh-oleh, kalau enggak? Kan kasian dia, jadi ngerasa nggak enak hati?"
"Nggak lah, Bu. Kak Dimas pasti bawa oleh-oleh. Dia kan baik, selalu ingat sama yang di rumah. Nggak seperti Ayah, kalau pergi-pergi, nggak pernah tuh, yang namanya dapat oleh-oleh?"
"Hush! Nggak baik ngomongin ayahmu seperti itu! Udah, sana ganti baju dulu! Bau!" Sukma mengibaskan tangannya di depan hidung.
"Hehe, oke, Bu." Nirmala bergegas ke kamarnya.
__ADS_1
***
Malam harinya, Dimas sampai juga di rumah. Nirmala yang sedari tadi menunggu di balkon depan kamarnya, segera turun. Dia berjalan dengan riang, sampai hampir terjatuh di tangga, saking girangnya, jadi tidak memperhatikan jalan.
"Kak Dimas!" Nirmala berlari ke arah Dimas yang belum sempat masuk rumah.
"Lala!" Dimas tersenyum, dia meletakkan tas besarnya di tanah yang sudah dicor itu.
"Kakak jahat banget sih? Pergi nggak bilang-bilang aku!" Nirmala memeluk Dimas dengan erat.
"Habisnya kamu sibuk banget belajar. Sampai nggak pernah keliatan. Kan aku nggak mau ganggu kamu." Dimas membiarkan Nirmala memeluknya, meskipun tidak membalas pelukan Nirmala. Dia merasa tidak enak, kalau sampai orang tua Nirmala melihat kejadian ini. Bisa gawat urusannya!
"Ya, kan bisa minta waktu sebentar. Atau kirim pesan sama aku. Nah ini, sama sekali nggak ada kabar. Nyebelin!" Nirmala memanyunkan bibirnya.
"Udah, udah. Kan yang penting sekarang aku ada di sini. Aku janji, lain kali, aku bakalan kasih kabar ke kamu setiap hari. Aku bakalan kirim pesan, kalau perlu video call sama kamu." Dimas melepaskan pelukan Nirmala.
"Udah, ya! Nggak enak kalau ada Bapak sama Ibu yang lihat."
"Mereka lagi pergi ke luar, sama Claudia juga. Aku di rumah sendiri, Kak. Kakak tenang aja!" Nirmala masih enggan melepaskan pelukannya.
Setelah mendengar itu, Dimas baru berani membalas pelukan Nirmala. Dia menepuk-nepuk punggung gadis remaja itu.
"Kak Dimas udah mau pindah, ya? Jujur, aku seneng karena Kak Dimas bisa dapat jabatan yang lebih tinggi. Tapi aku juga sedih." Nirmala mengungkapkan perasaannya.
"Sedih kenapa?"
"Sedih, karena Kak Dimas nggak tinggal di sini lagi. Semenjak Kakak di sini, suasana rumah jadi hangat. Ayah yang biasanya dingin dan jarang bicara juga jadi sering ngobrol dengan Kak Dimas. Meskipun aku hanya jadi pendengar, tapi aku seneng, Kak. Meskipun aku juga tidak tau apa yang kalian obrolkan, tapi aku merasa bener-bener ada kehidupan di rumah ini. Tidak sepi, seperti kuburan, karena orang-orang di dalamnya jarang berkomunikasi satu sama lain." Nirmala terus mengoceh, di dalam pelukannya Dimas. Badannya yang tinggi besar, sudah seimbang dengan tubuh Dimas. Mereka sudah seperti pasangan kekasih.
"Aku janji, aku bakalan sering-sering main ke sini. Kalau sedang ditugaskan di cabang sini, aku juga masih bakalan nginep di sini. Kamu tenang aja, ya!" Dimas kembali menenangkan Nirmala. Ia melepaskan pelukan Nirmala, berganti menatapnya wajahnya dengan lembut.
"Aku juga senang berada di sini, aku senang karena bertemu kamu, La! Jujur, aku menyayangi kamu, lebih dari sekedar sayang seorang kakak pada adiknya!"
__ADS_1
Nirmala terdiam, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apakah dia salah dengar? Apa dia sedang bermimpi?