Mencintai Kakak Angkat

Mencintai Kakak Angkat
Bab 35 (Tamat)


__ADS_3

Tiba saat liburan sekolah, Nirmala memilih untuk pulang naik bus. Dia tidak menghubungi Dimas lagi untuk mengantarkannya pulang. Dia ingin tau bagaimana sikap ayahnya sekarang, apakah sama seperti yang dikatakan ibunya atau tidak. Karena kalau ia pulang dengan Dimas, bisa saja sikap ayahnya berubah menjadi lebih baik dan ramah seketika.


Nirmala sengaja tidak membawa terlalu banyak barang, supaya tidak terlalu repot membawanya. Juga kalau mau berpindah transportasi, tidak khawatir ada barang bawaannya yang tertinggal.


"Assalamu'alaikum...." Nirmala mengucap salam sesampainya di rumah.


"Wa'alaikumussalam." Terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak lama kemudian pintu garasi dibuka oleh ibunya.


"Bu!" Nirmala menyalami dan mencium punggung tangan ibunya. 


Untuk beberapa saat, Nirmala terdiam memandang tubuh ibunya yang berbeda dari saat terakhir dia melihatnya. Ibunya terlihat sedikit kurus, matanya juga cekung, terlihat banyak pikiran. Nirmala meneteskan air mata, merasakan rindu sekaligus keprihatinan dengan kondisi ibunya. Sadar daritadi Nirmala hanya melihatnya tanpa berkomentar apapun, Sukma seketika memeluk Nirmala. Dia juga merasakan kerinduan pada putri sulungnya itu, banyak hal yang ingin ia ceritakan padanya.


"Gimana perjalanannya? Lancar? Tadi jadinya naik apa?" ucap Sukma setelah memeluk putri sulungnya itu.


"Tadi naik bus, Bu. Trus dari terminal pakai Bus Trans yang biasanya aku pakai kalau pulang pergi sekolah."


"Syukurlah, untungnya kamu nggak nyasar ya. Maaf ya, La. Ibu nggak jemput kamu."

__ADS_1


"Iya, nggak papa kok, Bu." Nirmala tersenyum. Dia bisa memahami kondisi ibunya.


"Yaudah, ayo masuk dulu. Kamu pasti capek. Ayo istirahat dulu! Kamarmu pindah di kamarnya Dimas dulu. Barang-barangmu udah ada di sana." Sukma mengajak Nirmala untuk masuk rumah.


"Loh? Kok dipindah ke sana, Bu?" Nirmala menghentikan langkahnya.


"Iya, kamarmu dipakai Ayah, jadi ruang kerja katanya. Tapi nyatanya ayahmu jadi lebih banyak menghabiskan waktu di sana. Tidur pun di sana. Udah nggak pernah tidur bareng sama Ibu lagi." Sukma mencoba tersenyum, meskipun tetap terlihat dipaksakan.


"Sebenernya ada apa sih, Bu? Kok Ayah jadi tiba-tiba berubah gitu? Lagipula kalau memang cuma butuh ruang buat kerja, kan bisa di bekas kamar Kak Dimas yang jelas nggak bakalan dipakai lagi? Kenapa malah pakai kamar Nirmala yang baru ditinggal beberapa bulan aja? Kan aku juga pasti bakalan pulang lagi?" Nirmala ingin protes, tapi mungkin akan percuma, mengingat selama ini ayahnyalah yang paling berkuasa di rumah itu.


"Sstt! Jangan keras-keras! Nanti ayahmu denger. Ayahmu udah ada di kamarnya dari tadi. Ayo masuk ke dalam dulu, Ibu ceritakan lengkapnya di dalam." Sukma menggandeng lengan putrinya untuk mengikutinya masuk ke rumah. Mereka segera menuju ke ruang tengah. Di sana Nirmala meletakkan ranselnya. Tanpa menunggu lama lagi, Nirmala menagih cerita lengkap pada ibunya.


"Kemungkinan enggak. Kamu sendiri gimana? Kalau lagi di kamar atas, suka denger pembicaraan dari ruangan ini apa enggak?" Sukma ikut duduk di samping Nirmala.


"Ya, kalau aku kan suka mode tuli, Bu. Kalau udah di atas asyik sama dunia sendiri. Hehe. Lagipula kan nggak tau, lagi ada orang di ruang tengah atau enggak." Nirmala nyengir.


"Iya juga sih. Yaudah, kamu hadap sana! Jaga-jaga kalau ayahmu ke kamar mandi. Jadi kamu bisa lihat kalau ada pergerakan dari arah dapur." Sukma menunjuk arah pintu yang menghubungkan antara dapur, kamar mandi dan ruang tengah.

__ADS_1


"Oke, Bu." Nirmala berpindah tempat duduk, dia siap mendengar cerita ibunya.


"Sebenarnya, akhir-akhir ini ayahmu berubah, La. Ibu tau kalau ayahmu berselingkuh dari Ibu. Tapi Ibu nggak bisa apa-apa. Mau protes juga Ibu nggak bisa. Kamu tau sendiri kan, bagaimana sifat ayahmu? Dia pasti marah besar kalau Ibu memprotes apa yang dilakukannya. Ibu nggak mau itu terjadi, La. Nanti bisa-bisa Ibu nggak dikasih uang belanja, uang saku buat kamu dan adikmu, buat bayar sekolah kalian dan lain-lain. Jadi selama ini Ibu cuma memendam perasaan sakit ini sendiri, La." Sukma menangis, akhirnya dia bisa mengeluarkan uneg-unegnya.


"Kok Ibu bisa tau kalau Ayah berselingkuh, Bu?"


"Iya, La. Kalau malam-malam, Ayahmu suka telfon dengan perempuan, panggil sayang-sayang. Ibu sering dengar, La. Padahal Ibu niatnya cuma mau antar makanan untuk ayahmu yang katanya sibuk bekerja. Tapi ternyata, itu yang Ibu dengar, La. Pernah sekali, Ibu langsung membuka pintu kamar, mau memprotes dan bertanya, apa yang terjadi sebenarnya. Tapi ayahmu mengelak, La! Dia bilang kalau cuma telfon urusan kerja. Tapi ngapain panggil sayang-sayang kalau cuma sama teman kerja, kan? Jadi sejak saat itu, setiap malam Ibu menguping kalau ayahmu lagi telfon sama selingkuhannya itu, La. Meskipun semakin Ibu tau, rasanya jadi semakin sakit." Sukma menangis semakin terisak.


Nirmala memeluk ibunya, berharap bisa membuatnya sedikit lebih tenang.


"Ibu sakit hati, La! Katanya perempuan itu lebih cantik, bugar dan pintar cari uang sendiri. Nggak cuma tau minta aja sama suami, La. Itu kan sama aja ngatain Ibu? Padahal dulu ayahmu sendiri yang nyuruh Ibu berhenti kerja, biar bisa fokus ngurus kamu dan ngurus rumah. Jadi apa salah, kalau Ibu cuma bisa minta uang buat kebutuhan hidup sama ayahmu? Lagipula, Ibu nggak pernah minta apa-apa, La!" Sukma melanjutkan cerita, mengeluarkan semua yang dia rasakan.


"Ibu juga nggak pernah boros-boros, minta uang untuk kesenangan Ibu sendiri. Nggak pernah, La! Ibu cuma minta kalau ada kebutuhan mendesak, untuk bayar tagihan, bayar sekolah dan lain-lain. Mana pernah Ibu minta uang untuk beli kosmetik? Beli baju baru? Nggak pernah, La! Jadi, apa ini salah Ibu kalau Ibu nggak terlihat cantik lagi di mata ayahmu? Ayahmu sendiri yang nggak pernah kasih uang buat Ibu merawat diri, La! Tapi, apa keputusan untuk berselingkuh itu solusi dari masalah ini? Enggak kan, La? Semakin lama rasanya semakin tertekan. Tapi kalau Ibu minta pisah dari ayahmu, kalian berdua yang akan jadi korbannya, La. Ibu nggak mau itu terjadi. Jadi mungkin memang lebih baik Ibu bertahan, menahan semua sakit hati ini sendiri, bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Meskipun tetap menangis setiap ingat pengkhianatan ayahmu." Sukma masih tetap terisak dalam pelukan putri sulungnya itu. 


Nirmala diam tanpa berkomentar apapun. Pikirannya melayang kemana-mana. Memikirkan nasib keluarganya, juga memikirkan apa yang selama ini dia lakukan.


"Mungkin saja istri Kak Dimas juga merasakan sakit hati, sama seperti yang Ibuku rasakan saat ini. Apa aku sama jahatnya seperti perempuan selingkuhan ayahku? Merebut cinta dan menyakiti perempuan yang seharusnya mendapatkan cinta yang utuh dari suaminya?" batin Nirmala sambil terus mengusap punggung ibunya berusaha membuatnya tenang, karena dia sendiri juga tidak akan bisa merubah keadaan ini. Dia hanya berharap dan berdoa agar ayahnya bisa segera berubah dan keluarganya bisa kembali seperti dulu.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, Nirmala bertekad untuk berhenti mencintai Dimas, tanpa pemberitahuan. Dia juga memblokir semua akses komunikasi dengan Dimas maupun istrinya. Dia ingin memulai hidup yang baru.


"Nggak papa, La. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Kamu pasti bisa tanpa Kak Dimas!" Nirmala memantapkan hatinya, bersiap menyambut hati yang baru.


__ADS_2