
Melissa tak menjawab perkataan Kevin, tapi
dia segera menarik tangannya yang di
pegang Kevin. Kevin malah lebih
mengeratkan genggaman tangannya,
merasa tak mampu melawan Melissa berkata.
"Bisa tolong lepaskan tanganku? " Dia
masih berusaha berkata sopan di depan
anak-anaknya.
"Demi anak-anak, kembalilah padaku. "
Katanya dengan nada memohon.
"Kau jangan khawatir, aku akan membawa
mereka, jika kau izinkan, aku akan
membawa mereka sekararng, aku sanggup
membiayai mereka, jangan khawatirkan lagi
tentang makanan mereka, kau lihatkan?
aku bisa membawakan makanan untuk
mereka hampir setiap harinya? " Kata Melissa
ketus, meski semua makanan itu adalah
hasil ngutang sama Alice, tapi dia akan
melunasinya setelah gajian ini.
Melissa pun telah mulai mencari tempat
tinggal baru, namun belum menemukannya, meskipun Alice tak keberatan dia tinggal
di rumahnya yang cukup besar, tapi Melissa
tak ingin terlalu merepotkan sahabatnya
ini.
"Aku tak ingin kau membawa mereka, jika
ingin bersama mereka kembalilah padaku"
Kata Kevin dengan nada memaksa.
"Aku tak bisa, aku tak siap berbagi dengan
siapapun. apapun kesalahanmu bisa ku
maafkan, kecuali yang satu ini, aku tak
bisa." Jawab Melissa. perempuan itu tampak
mulai emosi. Dia menarik tangan nya
sedikit lebih keras lagi, sehingga Kevin
melepaskan genggaman itu.
Dia ingat, apapun kesalahannya, Melissa selalu
memaafkannya. meski dia sering marah-
marah, jarang bantu ngurus anak, bahkan
saat uang jajan sedikit diberikannya,
Melissa pun tidak pernah komplen, Melissa tetap tersenyum dan bersyukur menerima uang
yang tak sebanding dengan yang dia
simpan untuk pribadinya sendiri.
Melissa bahkan tak pernah menuntut untuk
dicarikan pembantu meski dia sangat sibuk
mengurus anak-anak mereka.
" Melissa... aku janji, aku akan berubah, kita
akan seperti dulu lagi. " Bujuk Kevin.
" Tapi saat ini aku ingin bekerja, aku tak
ingin terlalu menggantungkan hidup
dengan orang lain " Jawab Melissa.
"Aku tak akan melarang apapun
keinginanmu" Kata Kevin.
"Tapi aku tak ingin lagi bersamamu, kau
boleh mengurus perceraian kita, jika kau
tak ada waktu, aku yang akan mengurusnya, jadi kau bisa bebas kan? " Kata Melissa sambil berlalu.
Kevin segera menghadang Melissa.
"Aku tak akan menceraikanmu" Katanya
dengan nada sedikit bergetar.
__ADS_1
" Aku akan mengurusnya sendiri" Jawab
Melissa lagi.
"Bagaimana dengan mereka? apa kau akan
membiarkan mereka tumbuh tanpa orang
tua yang lengkap?" tanya Kevin lagi.
"Aku lebih tak ingin melihat mereka
tumbuh dengan orang tua yang berlebih"
kata Melissa lagi, kemudian dia berlalu, Kevin
tidak mengejar nya, karna Melissa kelihatan
sangat marah, dia takut, jika terlalu
memaksa, Melissa malah akan benar-benar
mengurus perceraian mereka.
Jika Melissa tidak mau kembali dengan cara
baik-baik, terpaksa aku akan melakukan
dengan jalan lain' Batin Kevin.
•••
Melissa telah sampai kembali ke rumah Alice.
Gadis itu telah menunggunya di teras depan.
Kau habis menemui anak-anakmu?"
Tanya Alice.
"Iya.. " Jawab Melissa lirih.
"Ada apa? " Alice bingung karna melihat
Melissa tampak lelah, tak seperti biasanya, dia
akan tampak cerah setelah bertemu
dengan ketiga buah hatinya.
" Aku bertemu Kevin " Jawabnya singkat.
"Oo.. pantas" Kata Alice sedikit kesal.
Melissa menceritakan semua kejadian tadi.
Alice tampak kesal mendengarnya lalu
marah-marah sendiri.
memperlakukan wanita semaunya, dipikir
mudah apa, menerima penghinaan seperti
ini?. Kau tak boleh lagi kembali padanya, ''
Melissa hanya terdiam mendengar perkataan
Alice.
Dia memang tak ingin lagi kembali pada
Kevin, tapi dia juga ingin ketiga anaknya
mempunyai orang tua yang lengkap.
" Kau kenapa? apa kau masih ingin
mempertahankan pernikahanmu? " Tanya
Alice sedikit cemas.
" Aku hanya memikirkan ketiga anak-
anakku, mereka pasti butuh kehadiran
seorang ayah. " Jawab Melissa sambil
tertunduk.
" Jangan kau katakan kau ingin kembali, aku
tak mau dengar. " Kata Alice sambil menutup
telinganya.
" Apa selama ini dia peduli padamu? " Tanya
Alice lagi.
" Sebenarnya dia sangat baik dulunya, tapi
hanya dalam satu tahun terakhir dia
berubah. sebenarnya dalam dua tahun
terakhir aku juga sudah merasakan
perubahan itu, tapi tidak begitu setara."
Jawab Melissa lagi.
Tiba-tiba ponsel Melissa berdering, Maulana
menelfonnya.
__ADS_1
" Ya Pak? " kata Melissa, dia tak ingin Alice
mengetahui tentang kedekatan mereka,
takut Maul akan malu.
" Apa kita masih di kantor dan di depan
teman-temanmu? " Tanya Maul.
" Oo... Ya Pak aku sedang bersama Alice. "
Jawab Melissa tak nyambung.
"Bisa kita bertemu? Aku mendapatkan
sebuah apartemen untukmu, tak jauh dari
kantor, kau boleh membawa Alice jika kau
mau, aku akan mengirimkan alamatnya."
Kata Maulana lagi. lalu mengakhiri panggilan,
dan mengirimkan alamatnya pada Melissa.
"Ada apa?" Tanya Alice.
"Pak Maulana menemukan tempat tinggal
untukku. Dia ingin kita ke sana untuk melihat. " Kata Melissa sambil menunjukkan alamatnya.
" Apartemen ini sangat bagus Iho, dekat
dengan kantor. Tapi... Apa kau benar-benar
akan meninggalkanku? " Tanya Alice sedih.
"Aku akan membawa anak-anakku bersamaku, aku tak ingin merepotkanmu. " Kata Melissa.
"Aku benar-benar merasa tak direpotkan"
Jawab Alice.
Melissa hanya memeluk sahabatnya itu.
"Aku tau, terima kasih banyak " Kata Melissa.
"Apa kau mau mengantarkan ku? " Pinta
Melissa.
" Tentu saja aku mau" Jawab Alice.
Mereka segera meluncur ke alamat
tersebut. Melissa tak menyangka Apartemen
itu begitu bagus, 'pasti akan sangat mahal'
Batinnya.
Maulana telah menunggu mereka dan
menunjukkan ruangan untuk Melissa.
" Berapa harga sewanya Pak?" Tanya Melissa
sedikit cemas.
"Jangan khawatir. ini fasilitas kantor, " Kata
Maul sambil menyerahkan kunci Apartemen
dan sebuah kunci lainnya, seperti sebuah
kunci mobil.
"Ini.. apa? " Tanya Melissa tak paham.
"Mobilmu, kau bisa menemukannya di
parkiran bawah ini juga fasilitas kantor."
Jawab Maul.
" Tapi apa tak terlalu berlebihan?" Tanya
Melissa sedikit canggung.
"Kau pantas menerimanya." Jawab Maul lagi.
Melissa tak bisa berkata apa-apa, Dia hanya
memandang Alice.
" Ucapkan terima kasih. " kata Alice sambil
senyum dan menepuk-nepuk bahu Melissa.
"Terima kasih Pak" Jawab Melissa haru.
Maul hanya menjawabnya dengan anggukan
kepala, dia sangat bersyukur Melissa mau
menerima pemberiannya, meskipun dia
mengatas namakan sebagai fasilitas kantor,
jika dia mengatakan itu dari pribadinya, dia
yakin Melissa tak akan mau menerima semua
itu.
__ADS_1