
Sopir Maulana memacu mobilnya begitu Melissa kembali ke mobil itu, dan mengantar
mereka ke bandara.
"Apa dia mantan suamimu?" Tanya Maulana.
" Dia masih suamiku secara hukum, dia
belum menceraikanku" Jawab Melissa.
"Sayang sekali " kata Maulana.
Sayang sekali?" Melissa tak mengerti.
"Mendengar ceritamu kemarin, Aku
menjadi kesal padanya. " Kata Maulana karna
dia tidak mungkin mengatakan hal
Sebenarnya kenapa dia mengatakan sayang
sekali.
" Terima kasih atas simpati Bapak". Kata
Melissa tulus.
Sepanjang perjalanan mereka bercerita
banyak hal, ternyata Maulana bukan sosok
pribadi yang patut ditakuti seperti
pikirannya kemarin, dia seorarng yang
ramah, dan juga humoris, sangat berbeda
sekali dengan kepribadiaannya saat di
kantor.
Setelah mereka sampai di Bandung, Melissa
langsung menelfon Alice. Alice langsung
menyerbunya dengan pertanyaan.
"Apa saja yang sudah kau makan?, apa saja
yang sudah kau minum? apa kau tadi
makan makanan dan minuman yang manis-
manis? jangan makan makanan yang
dilarang dalam. program diet mu! ingat,
selama kau tak di sisiku jangan sampai lupa
olah raga"
Melissa hanya diam saja mendengar celoteh
temennya.
" Halo.. kau masih ada di sana?" Tanya
Alice karna dia tak mendapat jawaban dari
seberang.
" Masih. " Jawab Melissa lelah.
"Kenapa kau diam? Apa kau melanggar
sesuatu? "Tanya Alice lagi.
" Belum.. " Jawab Melissa singkat masih
dengan nada lelah.
" Apa? belum Katamu? Jadi kau sudah
berencana ingin melanggar sesuatu? Awas
saja kalau berat badanmu naik lagi meski
satu ons, aku akan memperketat latihan
dan pola makanmu" Kata Alice dengan
suara tinggi, sehingga Melissa harus
menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya
agar telinganya tidak sakit.
Maulana yang melihat ulah Melissa
mengernyitkan keningnya, dia dapat
mengetahui kalau perempuan itu sedang di
marahi.
"Alice... marahnya ntar aja ya! Aku masih di
jalan, Malu sama Pak Maulana, dia melihatku
__ADS_1
dari tadi" Kata Melissa setengah berbisik.
"Kau masih di sebelah Pak Direktur? kenapa
nggak bilang dari tadi, kukira sudah sampai
di hotel" Kata Alice ikutan berbisik, padahal
Maulana tidak akan mendengarnya meski dia
berteriak seperti tadi.
" Ingat... 10 kg pertama memang mudah,
karna itu hanya membuang air dalam
tubuhmu, sekarang yang sangat susah,
yaitu membakar lemakmu, kau tak bisa
menurunkannya 10 kg dalam sebulan lagi,
tapi butuh waktu hampir setahun, kau
masih harus mengurangi berat badanmu 15
kg lagi, baru tubuhmu ideal. " Kata Alice
berceramah, karna dia takut temannya itu
akan melanggar pantangan diet ini.
" Iya... aku paham. jangan marah lagi.. ntar
ku telfon lagi Ya.! " Katanya sambil
menutup ponselnya, lalu memandang malu
pada Maulana, karna dari tadi
memperhatikannya.
Maaf Pak!" Kata Melissa singkat.
"Apa Ibumu memarahi mu?" Tidak, tidak.
bukan ibuku, tapi Alice" Jawabnya.
"Apa katanya? " Kata Maulana lagi.
".Mmmm.. urusan wanita.. maafkan aku
pak.. nggak bisa kasih tau" Katanya dengan
nada memohon dan wajah memelas.
" Ya. baiklah, maaf kalau aku terlalu ikut
" Bukan begitu Pak, tapi aku malu jika harus
menceritakan pada Bapak. " Kata Melissa
menyesal.
" Aku akan memaafkan, dengan satu syarat. " Kata Maulana lagi.
"'Apa itu? jika aku mampu akan aku lakukan. " Jawab Melissa.
"Di luar kantor, jangan panggil aku Bapak,
usiaku hanya dua tahun di atas mu, aku
merasa terlalu tua. cukup panggil namaku,
Maul" Kata Maulana lagi.
Melissa tersenyum canggung mendengar
permintaan bos nya.
Apa kau bisa memenuhi permintaan itu?"
Kata Maulana lagi.
" Aku tidak tau" Jawab Melissa lirih.
"Coba panggil namaku!" Perintah Maul
"Apa? " Kata Melissa kaget.
"Ternyata kau benar-benar harus
memeriksakan telingamu" Kata Maulana lagi.
" Maul.. " Kata Melissa canggung.
" Ya.. " Kata Maulana sambil mendekatkan
wajahnya seraya tersenyum.
"A.. aku hanya mencoba memanggil
namamu Pak!" jawab Melissa gugup, melihat
itu Maulana tertawa.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di
hotel itu, dan pergi ke kamar masing-
__ADS_1
masing, karna besok mereka akan
mengadakan rapat dengan relasinya.
Sesampai di kamar, Melissa kembali menelfon
Alice
" Baiklah.. kau boleh memarahiku sekarang"
Katanya lagi mendengar itu Alice tertawa.
" Aku bukan memarahimu, cuma
mengingatkanmu. Kau tidak boleh
memakan gorengan, seperti tahu, tempe,
bakwan, dan hal - hal yang pernah aku
katakan, apa kau ingat semua?" Tanya Alice
lagi.
"Iya.. "jawab Melissa
" Meski aku merindukan semua itu"
Jawabnya lirih.
"Apa kau juga merindukan tubuh
buntelanmu?" tanya Alice lagi.
" Tidak, tidak"' Nada suaranya terdengar
cemas, sehingga membuat Alice tertawa.
" Ya sudah kalau begitu, hati-hati di sana,
aku juga akan mengunjungi anakmu seperti
biasa dan membawakan mereka sarapan".
Kata Alice lagi.
" Terima kasih banyak" Kata Melissa sangat
senang. dan mengakhiri pembicaraan.
Tak lama kemudian, Maulana menelfonnya.
" Aku tunggu di lobi, kita akan keluar
sebentar" katanya dan langsung menutup
telfon tanpa memberi kesempatan pada
Melissa untuk bertanya.
Akhirnya Melissa turun, dan sudah melihat
Maulana duduk di sana.
Maulana sedikit mengernyitkan keningnya
menatap Melissa, dia ingat, dalam sebulan ini
Melissa telah memakai baju itu beberapa kali
dan dia berencana akan membelikan
beberapa stel baju untuk Melissa.
"Kita akan kemana Pak?" Tanya Melissa.
"Ikut saja jawab Maulana kesal karna Melissa
kembali memanggilnya Bapak.
Melissa dapat merasakan kalau Maulana kesal,
dan ingat kalau seharusnya dia memanggil
namanya, bukan Bapak.
"Maul... " Kata Melissa sedikit takut.
"Ya.." kata Maulana sambil menoleh ke
belakang dan tersenyum.
" Maafkan aku, tadi aku lupa. " katanya lagi.
" Tidak apa-apa, nanti kau pasti akan
terbiasa" jawabnya sambil tersenyum.
Melissa sempat berfikir kalau Bosnya ini
menyukainya, tapi dia langsung membuang
pikiran itu jauh-jauh.. karna tidak akan
mungkin Pemuda tampan dan mapan ini
akan menyukai wanita dengan tiga orang
anak yang dibuang oleh suaminya, dia
__ADS_1
tersenyum kecut mengingat sempat
berfikir seperti itu.