
Maulana membawa Melissa ke sebuah distro,
dan menyuruh Melissa memilih beberapa
pakaian di sana.
Melissa menolak dengan halus, tapi Maulana
memaksanya dan mengatakan bahwa Melissa
butuh pakaian yang pantas untuk meeting
besok. Akhirnya Melissa menerimanya. Untung
saja berat badan Melissa tak seperti sebulan
yang lalu, jika masih seperti itu, mungkin
tak akan ada pakaian yang cocok
dengannya di distro ini.
memang, pakaian yang di belikan Alice
beberapa waktu yang lalu sudah longgar,
karna berat badan Melissa memang sudah
turun banyak, dan dia masih belum gajian
sampai saat ini, karna belum sebulan
bekerja.
Melisaa mencoba pakaian itu, Maulana
menyuruhnya keluar kamar pas, agar dia
bisa melihatnya.
"Coba lagi yang lain" Kata Maulana setelah
beberapa saat mengamati Melissa memakai
baju itu.
Ini adalah kali kelima dia mengganti
pakaiannya, dia merasa frustrasi, apa segitu
jeleknya tubuhnya, sehingga tak ada satu
pakaian pun yang terlihat pantas saat dia
pakai.
Melissa keluar lagi dengan pakaian yang
lainnya, mukanya tampak di tekuk,"
Bagaimana sekarang? Jika tidak cocok lagi,
mungkin aku tidak pantas memakai pakaian
yang ber merek" katanya sedih.
Maulana mengernyitkan kening melihat Melissa sedih, dia heran, kapan dia mengatakan Melissa tidak pantas memakai pakaian itu, dia hanya ingin Melissa mencoba semuanya, karna dia bermaksud akan membelikan semua pakaian itu.
"Apa kau tidak ingin mencoba yang lainnya?" Tanya Maulana lagi.
"Tidak, aku capek", kata Melissa cemberut.
Melihat itu Maulana tertawa.
"Tolong bungkus semuanya, semua terlihat
bagus di tubuhnya" Kata Maulana sambil
memberikan kartu kreditnya
Melissa kaget, tak percaya dengan apa yang di
dengarnya.
"Apa pak? Bapak ingin membelikan
semuanya? Apa tidak kemahalan?" Tanya
Melissa cemas.
"Setelah kau gajian, kau beli sendiri" kata
Maulana menjawab semua pertanyaan Melissa.
Melissa tampak bingung, dia sedarng
menghitung hutang yang harus dia bayar,
belum lagi hutang pada Alice, hampir
sebulan ini dia hanya numpang hidup sarma
__ADS_1
Alice, ini udah nambah lagi.
" Pak.. berapa aku harus membayar semua
ini nantinya? gajiku nggak cukup membeli
semua pakaian itu Pak, katanya cemas,
karna dia yakin semua baju-baju itu hampir
dua puluh juta rupiah, sementara gajinya
tak sampai segitu.
"Apa aku memintamu untuk menggantinya?" Kata Maulana lagi.
"Ini Pak, terima kasih banyak, Anda suami
yang baik pada istri anda" Kata pelayan
toko itu tersenyum.
Melissa "..."
"Terima kasih banyak " Kata Maulana
tersenyum bahagia, karna pelayan toko itu
mengira dia adalah suami Melissa. Sementara
Melissa melirik wajah Maulana dengan takut, dia takut kalau-kalau bosnya ini akan marah.
Maulana membawa semua pakaian Melissa,
melihat itu Melissa sedikit segan.
"Pak.. biar aku bawa semua, berat" Kata
Melissa.
Maulana memberikan sebuah pada Melissa, dan membawa sisanya.
"Kita akan mencari sepatu mu. " Sambung
Maulana.
"Pak.. cukup ini saja" Melissa benar-benar tak
enak hati dengan bosnya ini.
Maulana terus saja berjalan masuk ke toko
Melissa benar-benar merasa tak enak hati
dengan bos nya ini.
'Aku akan melakukan hal yang sama dengan
yang kau lakukan padaku sepuluh tahun
yang lalu, bahkan lebih' Batin Maulana,
Sepuluh tahun yang lalu, Maulana adalah
senior Melissa saat mereka masih kuliah,
meski dia seorang putra bangsawan, dia
sangat kuper dan kolot, dia sama sekali
tidak bisa mengikuti mode, sehingga dia
tampak culun ditambah lagi tubuhnya amat
kurus dan ceking di tambah kaca mata
bundarnya yang cukup tebal membuat dia
terlihat aneh..
teman-temannya selalu mengolok-oloknya,
dia sering di buli, sehingga masa-masa itu
sangat menakutkan. Saat dia sedang di buli,
Melissa datang membantunya, meski baru
tahun pertama, gadis mungil itu dengan
beraninya memarahi senior pria yang
berbadan jauh lebih besar darinya, dan
membawa Maulana menjauh dari mereka,
sejak hari itu, Melissa selalu ada di samping
Maulana, sehingga tidak ada yang berani
mengganggunya karna takut dengan cewek
__ADS_1
sangar ini.
"Maul. apa kau tak ingin merubah
penampilanmu? Jika ku perhatikan kau
cukup tampan. Sini, coba ku dandanin" kata
Melissa.
Melissa membuka kancing Baju bagian atas
Maulana.
" Nah.. mulai sekarang jangan
mengancingkan bajumu sampai ke atas lagi "
Lalu Melissa menggulung lengan baju Maulana
yang juga di kancingkan sampai ke bawah.
"Nah lengan bajunya juga kayak gini, jangan
sampai bawah lagi" Katanya lembut.
Kemudian...
Melissa kemudian menyisir rambut halus
Maulana dengan jarinya, hambut yang
berponi itu disisirnya menyamping,
sehingga membuat pria ini terlihat tampan
setelah di robahnya.
"Lihat... kau cukup tampan.. hanya saja kau
tak bisa merias dirimu sendiri, andai saja
kaca matamu bisa di lepas.. pasti semua
wanita akan antri di dekatmu.
" Boleh aku melepasnya? " tanya Melissa.
Maulana hanya mengangguk. kemudian Melissa melepas kaca mata Maulana... dan hampir bersorak...
" Ya Tuhan... kau benar-benar tampan" Serunya..
Maulana yang sedari tadi diam saja saat
didandani Melissa layaknya bermain boneka,
menjadi memerah karna pujian Melissa itu.
" Tapi aku tak bisa melihat apa-apa"
Jawabnya.
"oh.. maaf, maaf, " kata Melissa sambil
memasangkan kembali kaca mata Maulana.
"Nah.. mulai besok, coba kayak gi ya. Oh
ya, lebih baik kamu mengobati matamu dari
sekarang, agar sakitnya tidak tambah parah
" kata Melissa menasehati.
Semenjak ada Melissa di sisisnya, hidupnya
terasa lebih indah, dan tampa dia sadari
setiap hari dia semakin mencintai gadis itu,
hanya saja dia tidak berani untuk
mengungkapkannya, sampai akhirnya, Melissa
menikah dengan orang lain membuat dia
sangat terpukul dan memilih melanjutkan
studynya di luar negri. Maulana tidak bisa
mencintai wanita lain, meskipun banyak
gadis-gadis yang menyukainya, terlebih lagi
sekarang, setelah dia jauh merubah
penampilannya gadis-gadis bahkan rela
mati untuknya, tapi dia bahkan rela mati
untuk Melissa.
__ADS_1