
Tak lama kemudian, pelayan restoran itu
datang, mereka saling memberikan isyarat
melalui Mata, tanpa sengaja Melissa
memperhatikan mereka, perempuan itu
menjadi takut untuk menyentuh makanan
ataupun minuman itu, dia merasa ada
sesuatu yang mereka rencanakan.
"Kevin.. maaf aku pergi dulu, anak-anak
telah lama menungguku di rumah." Kata
Melissa hendak berdiri.
Kevin kembali memegang tangannya.
"Sejak kapan kau tidak memanggilku Mas
lagi? Lantas.. kenapa kau tidak jadi makan?" Tanya Kevin lagi, tangannya masih
menggenggan tangan Melissa.
"Maafkan aku. aku masih kenyang.. lagi
pula sekarang aku sedang mengatur pola
makanku" Jawab Melissa, padahal Soup yang di pesannya boleh dikonsumsi malam hari.
Tapi dia takut untuk menyentuh makanan
mau pun minuman itu.
"Bisa tolong lepaskan tanganku?" Kata Melissa
sambil mencoba menarik tangannya.
"Baiklah.. aku juga tak akan makan. Apa kau
ingin pulang? aku akan mengantarmu" Kata
Kevin sambil memberi isyarat pada pelayan
tadi untuk membawakan bil nya.
"Aku bisa pulang sendiri" Jawab Melissa,
Kevin langsung membayarnya dan
mengikuti Melissa keluar, begitu sampai di
luar, Kevin langsung menutup mulut Melissa
dengan sapu tangan yang telah disediakannya itu, Melissa pingsan, Kevin dengan segera menangkapnya agar tak jatuh, dia tersenyum puas Maulana kaget, dia langsung keluar
mendekati mereka.
"Lepaskan dia!" Kata Maulana geram.
"Siapa kau. apa hak mu?" Tanya Kevin
kesal.
"Apa yang akan kau lakukan?" Kata Maulana
berusaha mengambil Melissa.
Kevin meletakkan Melissa di pondok itu lagi
dan menyerang Maul, Maul bukanlah
Maul yang dulu lagi, jika dulu dia begitu
lemah, sekarang tidak lagi.
Maul sempat mendapat pukulan di pipinya,
dia merasakan darah segar di sudut
bibirnya, setelah itu, Maulana bisa
menghindari semua serangan Kevin, begitu
dia melihat kesempatan, dia mendaratkan
pukulannya ke pipi dan ulu hati Kevin,
sehingga laki-laki itu terdiam menahan
sakit, sementara bibirnya mengeluarkan
darah.
Maul langsung mengemas tas Melissa dan
menggendong wanita itu ke mobilnya dan
meninggalkan Kevin yang masih terdiam,
__ADS_1
karna ulu hatinya masih terasa sakit.
Begitu sakitnya hilang dia langsung berdiri,
perasaannya amat kesal, dan langsung
membuntuti mobil Maulana.
Maulana membawa Melissa ke IGD, dia cemas jika obat yang di berikan Melissa berbahaya,
melihat mobil itu memasuki Rumah Sakit itu Kevin semakin kesal, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
•••
Sesampai di rumahnya Kevin mendapat
kejutan lain, dia melihat orang tua Melissa
yang akan meninggalkan rumah itu, wajah
mereka sangat marah.
Begitu melihat Kevin Ayah Melissa langsung
memberikan pukulan ke wajah laki-laki itu
dan berkata.
"Kau berjanji akan menjaga putriku sampai
akhir hidupmu.. sekarang.. aku bisa
melihatnya, kau benar-benar pria yang
menepati janji" Kata Ayah Melissa sambil memarahi Kevin.
"Dimana Melissa sekarang? kenapa nomornya
tak bisa di hubungi? " Tanya Ibunya lagi.
" Maaf ibu.. Ayah.. aku khilaf.. aku akan
memperbaiki semuanya. " jawab Kevin.
"Khilaf kok berbulan-bulan. Wanita itu
telah menjadi istrimu selama lima bulan"
Kata Ayah Melissa.
"Sekarang... dimana putri dan cucu -cucu
kami?" Tanya Ibu Melissa, emosinya hampir
memuncak.
alamat Melissa, kedua orang tua Melissa
meninggalkan rumah itu.
"Lihat kan? Akibat kau memaksa untuk
tinggal di sini, semua jadi kacau, padahal
aku sudah membelikan sebuah rumah
untukmu, tapi kau juga malah ingin di sini.
Dasar wanita tamak.. Apa kau benar-benar
hamil? jika tidak.. kita akhiri hubungan kita"
Kata Kevin marah-marah pada Diana.
"Aku tak mau kau campakkan begitu saja
setelah kau puas " Kata Diana tak kalah
marah.
" Puas katamu? bahkan aku tidak
mendapatkan kau masih perawan saat
pertama kali berhubungan" Kata Kevin
semakin kesal, dia masuk ke ruang kerjanya
dan membanting pintu.
Melihat itu, Diana tau laki-laki itu tak akan
keluar sampai pagi, dia pun pergi keluar
malam itu juga.
•••
Maul membawa Melissa yang masih belum
sadarkan diri kembali ke Apartemen nya
meski dokter mnemintanya agar Melissa sadar
__ADS_1
terlebih dahulu, tapi mengingat putra-
putra Melissa yang akan menjadi khawatir,
akhirnya dia memutuskan untuk membawanya pulang.
Di parkiran apartemen ini, Maulana terdiam,
dia memandang wajah polos Melissa,
perempuan ini terlihat seperti sedang
tertidur lelap. sangat damai, wajahnya
sangat tenang.. Maulana menatap bibir
mungil Melissa, menyentuhnya dengan jarinya
rasanya dia ingin mencium bibir indah itu,
tapi dia sadar.. Melissa belum menjadi haknya,
bahkan sekarang dia masih berstatus
seorang istri. Maul menggaruk kepala yang
tak gatal karna fikiran kotornya tadi.
Maul menggendong Melissa memasuki
apartemen itu, penjaga apartemen amat
kaget melihat keadaan Melissa, lalu Maulana
memintanya untuk mengikuti mereka
sampai ke tempat Melissa.
Penjaga Apartemen itu memencet bel,
karna tangan Maulana penuh.. Begitu pintu di
buka Ibu Ria sangat kaget melihat Melissa
yang di gendong Maulana. Wanita paruh baya
itu sempat berdiri terpaku di depan pintu
sebelum akhirnya dia tersadar. Dia melihat
wajah tuannya yang terluka dan baju
tuannya yang berantakan karna berkelahi
tadi.
"Tuan muda.. ada apa ini" Tanya Ibu itu.
Ibu Ria adalah salah seorang pelayan
kepercayaan di rumahnya, dia meminta ibu
Ria untuk menjaga anak-anak Melissa, orang
tuanya pun tidak keberatan.
"Suaminya mencoba menculiknya Bi" Jawab Maulana.
Evan yang mendengar itu amat kaget.
"Ibu nggak papa kan Om.?" Tanya bocah itu
cemas. Maulana kaget, dia lupa kalau Evan
sudah paham apa yang terjadi.
"Tidak apa-apa.. Ibumu baik-baik saja,
jangan khawatir" kata Maulana sambil
mengusap kepala Evan.
"Om berkelahi dengan Ayah? "Tanya Evan,
karna melihat luka di sujur bibir Maulana.
"Maafkan Om. Om terpaksa" Jawab Maulana
menyesal.
"Jika tak takut dosa.. aku juga ingin
menghajar ayahku" Katanya sedih.
Maulana kaget mendengar itu dan berkata...
"Kau tidak boleh berfikiran begitu, walau
bagaimanapun. dia adalah ayahmu... kau
tidak boleh durhaka padanya" Kata Maul
lagi.
__ADS_1
"Ibu juga mengatakan hal yang sama" Kata
Evan sedih.