
•••
Sesampai di rumahnya, Kevin
melampiaskan kemarahannya, dia
membanting semua perabotan rumah yang
bisa di bantingnya, Diana hanya berdiri
ketakutan di sudut ruangan, dia tak
menyangka, pria yang dulu begitu lemah
lembut dan mau menuruti semua
kehendaknya bisa menjadi hewan buas
seperti ini. Kevin masuk ke ruang kerjanya,
dia membenamkan diri di atas kasur yang
terletak di ruangan itu, hatinya benar -
benar pedih saat ini, entah kenapa dia
merasa saat ini dia benar - benar merasa
kehilangan.
Perempuan yang selalu ada di sisinya
selama sepuluh tahun ini ternyata tak
mampu lagi bertahan, semua karna
ulahnya.
Kevin kembali keluar setelah puas
menangisi nasibnya, dia melihat Diana
yang duduk di ruang keluarga, sementara
pembantunya sedang membersihkan
kekacauan yang di buatnya tadi.
"Kau juga ku bebaskan, kau boleh
mengambil rumah yang telah ku belikan
untukmu dulu, dan bisa hidup bersama pria
pilihanmu, aku sudah tau semua
permainanmu. " Kata Kevin.
"Tapi mas... aku benar-benar mencintaimu "
ucap Diana, dia masih ingin tinggal di
rumah mewah ini, rumah yang di belikan oleh
Kevin jauh lebih kecil dari pada rumah ini.
"Jika masih bersamaku, kau tak akan
mendapatkan apa - apa. Apa kau mau aku
menjual rumah itu kembali?" Tanya Kevin
mengancam.
"Baiklah" Kata perempuan itu.
"Besok aku akan pergi, kau bisa mengurus
perceraian kita." Jawabnya santai. Dari pada
tak mendapat apapun, rumah kecil itu
lumayan juga, jauh lebih bagus dan lebih
besar dari pada tempat kumuhnya dulu.
Kevin tersenyum sinis.. 'ternyata
perempuan ini lebih memilih hartanya' batinnya.
Dia kembali teringat Melissa yang lebih
memilih dirinya dan meninggalkan
kekayaan keluarganya, jika Melissa tetap
menikah dengan dirinya sepuluh tahun
yang lalu.
•••
Sementara itu di tempat Nisa.
Ketika dia sampai di apartemen nya, dia
melihat Maul tengah bermain dengan
ketiga putranya. mereka tampak akrab,
begitu melihat Melissa datang, ketiga putranya
berlari menyalaminya.
Maul melihat wajah Melissa yang lelah, dan
memberi isyarat pada bik Ria untuk
membawa ketiga putra Melissa ke kamarnya.
"Baiklah.. anak - anak.. sudah waktunya
tidur.. " Kata Ibu itu.
" Bentar lagi nek... " keluh Evan.
"Evan.. dengar kata nenek.. " kata Melissa.
"Baiklah.. " Jawab Evan sedih. Melihat itu
Melissa tau kalau mereka ingin bermain
bersamanya.
" Sini.. Ibu peluk dulu. " ucap Melissa
kepada ketiga putranya itu.
Mendengar itu,
ketiga putranya berlari menghampirinya
dan memeluk Ibu mereka.
__ADS_1
Setelah ketiga anak Melissa pergi ke kamar,
Maul memulai percakapan nya.
"Bagaimana keputusan nya? kapan sidang
ke dua? " Tanya Maul.
" Tidak ada, wanita itu datang dan berteriak
di tengah persidangan " Kata Melissa.
Melissa menceritakan semua kejadian di
persidangan itu pada Maul.
"Apa kamu sedih?" Tanya Maul, dia
terlihat kecewa mengetahui perasaan Melissa
yang sedih bercerai dengan suaminya.
"Apa itu salah? apa aku ini bodoh? jika aku
memang sedih berpisah darinya maka aku masih
mengharapkannya.'' Perkataan Melissa itu benar -
benar menusuk perasaannya.
"Aku malah lebih bodoh, menantimu tanpa
kepastian, sehingga tuhan kasihan padaku
dan membawamu kembali ke sisiku. " Jawab
Maul.
Melissa terdiam.
"Melissa... mungkin ini terlalu cepat, tapi aku
ingin kau menjadi istriku " Kata Maul tanpa
ragu.
Melissa masih terdiam. dia tak menyangka
Maul akan mengatakan hal ini dalam
waktu yang amat singkat, setelah
perceraian nya dalam beberapa jam yang lalu.
"Aku akan menunggu sampai kamu
bersedia."' kata Maul.
Maul tetap sabar menunggu keputusan
Melissa.
•••
Setahun Kemudian...
Akhirnya Melissa menerima lamaran Maul,
pria itu sangat bahagia, ternyata, Orang tua
mereka juga saling mengenal dan sangat akrab,
hanya saja sejak dulu mereka tak pernah tau
dengan anak relasinya itu masing - masing.
karna pernikahan pertama Melissa dulunya
tidak mereka rayakan.
Melissa tak mungkin akan mengundang Kevin
dalam pestanya, tapi Maul menemui pria
itu dan bertanya apa dia mau menghadiri
pesta pernikahan mereka?.
Kevin mengatakan kalau dia akan datang,
ternyata benar, pria itu datang, meski di
wajahnya tergurat kekecewaan.
•••
Dua tahun kemudian.
Pagi itu, Melissa bersiap - siap seperti biasa,
mulai dari mempersiapkan anak - anaknya,
Suaminya, dan dirinya... lalu sarapan mereka,
Karena melisa tak ingin terlalu membebani Ibu Ria,
untuk mengurus anaknya setiap pagi
adalah tugasnya, karna walau
bagaimana pun, Melissa tetap akan
memperhatikan ke tiga putranya, jadi
mereka tak merasa terabaikan oleh ibu
mereka meskipun ibunya sibuk dengan
pekerjaannya.. dan apalagi sekarang.. calon
adik mereka sudah ada di dalam perut Melissa.
Usia kandungannya sudah hampir 5 bulan
Evan saat ini sudah kelas 6 Sekolah Dasar,
Usianya hampir dua belas tahun, Umar
duduk di kelas 3, sementara Anwar telah
duduk di taman kanak - kanak, tak terasa,
waktu begitu cepat berlalu..
Semenjak Melissa telah bisa menerima Mauk
di hatinya, dan dia tidak merasakan
kebencian lagi pada Kevin, mungkin karna
telah ada Maul yang mengobati luka
hatinya itu.
__ADS_1
Ketiga anaknya pun tidak keberatan
dengan hubungan Ibu mereka, karna Maul
mengasihi mereka dengan tulus.
Melissa masih belum menerima tawaran
ayahnya untuk memimpin perusahaan
mereka, dia masih butuh waktu, meskipun
Maul telah berjanji untuk membimbingnya,
tapi tak apa.. usia ayahnya belum genap 60 tahun.
Sementara itu, Orang tua Kevin juga sering
berkunjung ke sana. Mereka tidak
membenci Melissa, meskipun telah bercerai
dari putra mereka, dan telah menikah
dengan pria lain.
Melissa juga tidak melarang Kevin jika dia
ingin menemui anak - anak mereka, Melissa
tetap ingin anak - anaknya tidak kehilangan
kasih sayang dari seorang Ayah, meskipun mereka
mendapatkannya dari Maul, tapi dia tetap
ingin ketiga putranya tidak melupakan
Ayah kandung mereka.! Apalagi saat ini
Kevin benar-benar telah berubah, dia
bahkan tak menikah lagi setelah bercerai
dengan ke dua istrinya itu, meskipun
perceraian itu sudah hampir tiga tahun
lamanya.
"Boleh kah aku membawa mereka pergi
bermain? "Tanya Kevin.
"Apa kamu bisa membawa mereka
sekaligus?" Tanya Melissa, Kevin sedikit
berfikir, dia memang agak khawatir jika
membawa ketiga putra nya, takut akan
kurang terawasi, melihat itu, Alice yang
kebetulan juga ada di sana merasa
kasihan dan berkata..
" Baiklah, kami akan ikut" Katanya, soalnya
dia yakin Melissa tak akan mau ikut dengan
Kevin, sementara.. Kevin sangat ingin
bersama putra-putranya. Lagi pula Alice
juga sering menemani mereka bepergian,
karna Melissa tak mau temannya hanya berdua saja
dengan Kevin ia pun ikut bersamanya.
Dan Alice pun tidak keberatan
Melissa ikut menemani mereka,
akhirnya Melissa dan Alice ikut bersama-sama,
ketiga putranya amat gembira,
begitu juga dengan Kevin, dia tersenyum
seolah mengucapkan terima kasih pada Alice.
Mereka pergi ke sebuah pantai, ketiga anak
- anak itu langsung berhamburan mengejar
air, Kevin buru - buru mengejar mereka,
khawatir anak - anak itu akan terseret
gelombang.
Alice dan Melissa tak bisa berlari secepat
mereka, jadi mereka berdua tertinggal di
belakang, mereka memperhatikan Kevin
yang tengah sibuk dengan ketiga anaknya.
"Dia telah jauh berubah bukan?" Tanya
Alice.
" Iya, sangat jauh, mudah - mudahan istrinya
yang berikutnya tak akan mengalami nasib
yang sama denganku. " kata Melissa.
"Apa kamu tak keberatan jika dia menikah
lagi? " Tanya Alice sedikit gugup.
"Jika aku tak berjumpa Maul, mungkin bisa
saja aku kembali, karna dia benar - benar
telah berubah. Tapi ketulusan Maul
meluluhkanku, sekarang aku mencintainya,
dan tak ada rasa lagi untuk Kevin" Jawab
Melissa.
Wajah Alice seketika memerah, entah
kenapa dia terlihat malu. Melissa
memperhatikan wajah sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Apa kamu menyukainya?"
Tanya Melissa hanya menebak.