
Melihat jika hadiah yang diberikan oleh lelaki tersebut sangatlah mewah, Asgar pun berniat untuk menolak hadiah tersebut. Asgar mengatakan jika dirinya tidak boleh menerima hadiah semewah ini.
“Maaf Tuan hadiah ini terlalu mewah. Sepertinya Anda terlalu berlebihan jika memberikan hadiah ini kepada saya.”
Namun, sesuai dengan janjinya suami wanita cantik tersebut bersikeras untuk memberikan hadiah itu pada Asgar.
“Tuan hadiah ini tidak seberapa dibandingkan dengan cacian yang selama ini orang-orang berikan kepada kami.”
Mereka mengatakan jika sudah sering disindir orang karena masalah anak, bahkan hampir cerai.
“Justru karena pertolongan dari Tuan maka telah menyelamatkan pernikahan kami. Hal ini jauh lebih penting daripada hadiah yang akan saya berikan kepada Anda.”
"Tapi, ini terlalu berlebihan ...."
"Tidak, ini justru tidak seberapa dengan pertolongan yang Tuan Asgar berikan pada kami.
Akhirnya mau tidak mau Asgar pun menerima hadiah tersebut. Ia juga menerima kartu nama dari lelaki itu.
"Ini untuk Tuan," ucap lelaki itu sambil memberikan sebuah kartu nama pada Asgar.
"Tuan Kim Hyung Joon."
Lelaki itu tersenyum lalu mengangguk. Ia bahkan menjabat tangan Asgar sambil berpamitan.
“Pertolongan dari Tuan tidak akan pernah kami lupakan. Jika ada sesuatu masalah yang menghinggapi Anda, maka jangan sungkan untuk menghubungi kami. Maka dengan senang hati kami akan membantu Tuan.”
"Iya, terima kasih banyak, Tuan Kim."
"Kalau begitu, kami permisi. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa, Tuan Kim."
Setelah menyelesaikan hal tersebut, Asgar segera kembali pulang ke hotel. Namun, Aurora sudah tidak ada disana. Matanya menyisir ke sekelilingnya, tetapi ia tetap tidak bisa menemukan istrinya.
“Apakah Aurora sudah pergi untuk menjenguk ayah?”
Karena rasa penasaran yang begitu tinggi akhirnya Asgar duduk di tempat tidur dan membuka kotak emas tersebut.
"Alangkah lebih baiknya, sambil menunggu Aurora kembali untuk melihat hadiah ini."
Dengan segera Asgar segera membuka kotak berwarna emas itu untuk memeriksa isinya. Ternyata di dalamnya adalah dua buah obat yang berwarna emas.
"Apakah ini obat?"
__ADS_1
Asgar mulai mencium baunya untuk memastikan apakah ini obat jenis apa. Anehnya setelah mencium obat tersebut Asgar menjadi langsung jadi bersemangat.
"Efek obat ini sungguh luar biasa," gumamnya.
Asgar pun memuji hadiah itu. “Barang ini adalah barang bagus.”
Sesaat kemudian ingatan Asgar kembali kepada beberapa tahun yang lalu, saat kakek Surya mulai mengenalkan beberapa jenis obat-obatan kepada dirinya.
Asgar akhirnya mengenali barang ini. Rupanya itu adalah obat yang dapat buat orang bangkit dari kematian, tidak mau tahu penyakit apa yang dijangkit dan seberapa parah penyakitnya, asal waktu kematian dalam setengah jam, maka obat ini dapat menyelamatkan orang tersebut.
“Benar-benar barang yang bagus. Rasanya tidak pernah menyangka jika lelaki itu bisa memiliki barang sebagus ini.”
"Bahan pembuatan obat ini sangat langka dan mahal, walaupun puluhan ribu orang yang mencari obat tersebut, tapi hanya ada 10 butir di dunia."
Karena hadiah yang diberikan oleh lelaki tersebut adalah sebuah barang yang sangat berharga, maka Asgar pun menyimpan
baik-baik obat terharga itu.
"Barang sebagus ini harus disimpan baik-baik. Mungkin suatu saat bisa dipergunakan sebaik-baiknya."
Beberapa saat kemudian terdengar derap langkah kaki seorang wanita yang masuk ke ruang kamar.
"Apakah itu Aurora?"
Benar saja, sesaat kemudian rupanya istrinya sudah kembali. Akan tetapi wajahnya tidak terlalu senang.
Tanpa ragu, Asgar mendekati istrinya itu untuk segera menanyakan apa yang sedang terjadi di sana.
“Kenapa wajahmu ditekuk murung seperti itu? Apakah ada sesuatu hal yang membuat perasaanmu tidak nyaman?" tanya Asgar secara langsung pada Aurora.
Rupanya Auora langsung mengatakan jika sebentar lagi akan ada rapat besar keluarga. Di dalam rapat tersebut akan membahas perusahaan cabang akan ditangani siapa.
“Intinya mau tidak mau, semua anggota Keluarga Jiang harus hadir di dalam rapat tersebut, dan siapapun yang dipilih oleh Nenek maka orang itulah yang akan memimpin perusahaan cabang nanti.”
"Benarkah begitu?"
“Bukankah itu sebuah hal yang baik, kenapa kamu justru terlihat tidak senang?”
Aurora mendudukkan dirinya di atas tempat tidur dengan wajah masih terlihat sendu dan terbebani oleh beberapa masalah sehingga senyuman miliknya memudar. Asgar menyusul istrinya dan duduk di sampingnya.
“Kamu juga tahu jika kinerjaku lebih unggul dari sepupu laki-lakiku.”
“Maksud kamu sepupu dari anak kakak laki-laki ayahmu?” tanya Asgar sambil menoleh ke arah istrinya.
__ADS_1
Aurora tampak mengangguk.
“Lalu?”
“Seberapa keras kami bekerja, di mata Nenek, tidak akan pernah ada harganya. Hingga satu hal yang harus digaris bawahi, kami tidak bisa mengungguli dia.”
Aurora juga mengatakan jika dirinya adalah perempuan, maka dari itu neneknya selalu menampilkan rasa tidak suka padanya.
“Jadi perusahaan cabang ini kemungkinan besar akan diurus oleh kakak sepupu kamu?”
Aurora lagi-lagi mengangguk.
Asgar berpikiran rupanya istrinya sangat menginginkan posisi pimpinan cabang, akan tetapi keinginannya terhalang karena ada saudara laki-lakinya yang sudah pasti menduduki posisi itu nanti.
Asgar pun lalu bertanya lagi pada istrinya tentang bagaimana nenek memilih siapa yang jadi penanggung jawab. Aurora pun menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
“Sebentar lagi, Nenek akan merayakan ulang tahunnya yang ke 70, hadiah siapa yang paling bagus, maka beliau akan memberikan perusahaan cabang padanya.”
Seketika pikiran Asgar menjadi terbelah. Ia pun
Memandang obat yang baru didapatnya tadi, lalu bertanya apakah istrinya sangat ingin mengurus perusahaan cabang.
“Apakah kamu sangat menginginkan posisi tersebut?”
Aurora menganggukkan kepala dengan kuat. Ia mengatakan jika dia sangat membutuhkan satu kesempatan untuk membuktikan kemampuan dirinya. Melihat hal itu, Asgar pun menepuk pundak Aurora dan berkata dia akan mengurus hal ini.
"Percayalah, ada sebuah solusi untuk masalah ini?"
"Kamu serius?" tanya Aurora memastikan.
Asgar lalu meyakinkan jika istrinya pasti akan mendapatkan hak pengurusan perusahaan cabang.
“Tidak usah khawatir tentang hal ini, posisi kepengurusan pimpinan cabang tersebut akan menjadi milikmu setelah ini.”
Sontak Aurora menoleh ke arah suaminya.
“Bagaimana kamu bisa begitu yakin akan hal ini? Bukankah kamu juga tahu seberapa keras sifat nenek?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya tersebut, Asgar hanya tersenyum.
"Tunggulah di sini, jangan pergi kemana-mana."
Lalu dengan segera Asgar meninggalkan istrinya untuk melakukan rencananya kembali. Dalam pikirannya Aurora bertanya-tanya tentang apa yang akan dilakukan suaminya setelah ini.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang akan ia lakukan? Kenapa begitu percaya diri?"
Aurora juga mempertanyakan kenapa Asgar begitu yakin jika posisi kepemimpinan cabang tersebut akan menjadi miliknya. Padahal ia tidak mempunyai barang berharga untuk dijadikan hadiah kepada sang nenek.