MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA

MENGUBAH TAKDIR MENANTU BUTA
Part 18. AMUKAN ADELLE


__ADS_3

Pengetahuan ilmu medis dan kondisi tubuh Asgar yang bagus membuat masa pemulihannya cepat. Ketahanan tubuh yang baik membuat ia lebih cepat untuk keluar dari Rumah Sakit.


"Jadi hari ini suami saya bisa segera pulang dok?"


"Tentu saja Nyonya, memangnya saya pernah berbohong. Lagi pula kondisi pasien memang lebih cepat pulih karena ketahanan tubuhnya benar-benar bagus."


"Jarang sekali orang yang mengalami tusukan tersebut bisa secepat ini pulihnya. Akan tetapi Tuan Asgar memiliki kondisi psikis yang bagus maka dari itu saat ini beliau sudah dinyatakan boleh kembali ke rumah."


"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih dokter untuk perawatan yang diberikan pada kami."


"Sama-sama."


Sesampainya di rumah, Asgar tidak berdiam diri. Ia justru lebih banyak menghabiskan waktunya untuk sekali mengolah kemampuan medisnya. Maka dari itu ia pun lebih memilih untuk mulai meracik obat-obatan sendiri agar lukanya cepat mengering.


Asgar juga mengolah dan melatih ilmu batinnya agar semakin dalam. Ia lebih sering melakukan semedi di ruang atas setelah Aurora tidur. Hal itu untuk menyembuhkan kekuatan spiritual di dalam tubuhnya.


Sama seperti malam ini ketika istrinya sudah tidur agar keluar dari kamar dan memilih untuk melatih kekuatan spiritualnya di lantai paling atas. Ia lebih memilih untuk melakukan hal itu agar tidak ada yang curiga dengan ketahanan tubuhnya yang bagus.


Beberapa hari kemudian rupanya Adelle mengalami demam tinggi. Suhu tubuhnya memanas sehingga membuat kedua orang tuanya panik. Padahal, ia baru saja pulang dari outbound bersama teman-temannya. Tidak dak ada yang curiga dengan kondisi Adelle saat datang, tetapi lain lagi dengan Asgar yang bisa melihat dengan mata batinnya.


Seperti malam biasanya setelah minum obat Asgar pun disuruh tidur oleh Aurora. Ia tidak ingin suaminya kembali jatuh sakit. Maka dari itu jam tidur dari Askar pun sudah diatur oleh istrinya tersebut.


Ketika seluruh keluarganya panik rupanya Asgar tidak terpengaruh. Sampai dimana saat ia mendengar teriakan dari ibu mertuanya.


"Jangan diam saja, Pa. Cepat panggil ambulans!" ucapnya setengah berteriak.


Bagaimana ia tidak panik, karena selama ini ada tidak pernah sakit maka dari itu Nyonya Jiang benar-benar saya bisa mengontrol perasaannya.


"Iya, tunggu sebentar."


Tuan Jiang menoleh ke arah putrinya dalam sekejap, ia menanyakan keberadaan Asgar menantu laki-lakinya.

__ADS_1


"Aurora di mana suamimu. Kenapa aku tidak melihatnya?"


"Setelah minum obat tadi aku menyuruh Asgar untuk tidur, Pa. Memangnya kenapa?"


"Bukankah kapan hari akhir yang telah berhasil menyembuhkan diriku. Kenapa kamu tidak mencoba untuk memanggilnya?"


"Namun, kondisinya belum begitu pulih. Takutnya jika istirahatnya terganggu maka kesehatannya akan kembali menurun."


"Baiklah kalau begitu biar Papa saja yang memanggil Asgar."


Saat Tuan Jiang hendak melangkah keluar kamar dari putrinya, ternyata Adelle kembali berteriak. Bahkan tubuhnya melayang di udara, hal itu justru membuat Tuan Jiang semakin tidak tega ketika meninggalkan putrinya.


"Bagaimana ini, Pa. Kenapa kamu diam saja!"


"Sudah, jangan berteriak."


Seketika ingatannya kembali pada saat Asgar mulai merawat dirinya tempo hari. Awalnya ia juga tidak percaya dan justru lebih percaya pada Aiden, hingga membuat Asgar semakin di hina. Andai ada kamera yang merekam mungkin saja semua tidak akan seperti ini.


"Tunggu dulu Bu, kenapa kita tidak meminta bantuan dari Asgar saja?"


Tuan Jiang mengingat jika menantunya bisa mengobati dirinya tempo hari hingga sekarang staminanya cepat pulih.


"Tapi bukankah Asgar yang telah menyembuhkan Ayah sampai seperti ini?"


"Iya, tapi ya sudahlah. Ibu juga tidak tahu apakah itu sebuah kebetulan atau hanya hisapan jempol saja."


"Sudahlah, mau tidak mau biarkan Aurora yang memanggil suaminya."


Keputusan Tuan Jiang sudah bulat. Maka apapun yang ia minta maka harus terjadi. Maka dari itulah Tuan Jiang berniat untuk meminta Asgar mengobati putrinya.


"Kenapa diam saja, Pa? Adelle demamnya semakin tinggi, bahkan ia hampir kejang-kejang saat ini!" ucap Nyonya Jiang tampak cemas.

__ADS_1


"Iya, iya, kamu tunggulah disini. Biar bapak memanggil dokternya."


"Aurora kau temani ibumu."


"Baik, Pa."


Saat ini Aurora justru tidak terlihat cemas, melainkan biasa saja. Apalagi adiknya hanya demam. Kebetulan Asgar yang baru saja meminum obat kini sudah tertidur.


Akan tetapi mendengar teriakan dari kamar adik iparnya terpaksa membuka mata. Lalu Asgar juga tidak menemukan Aurora di sampingnya.


Pikiran Asgar menjadi kebingungan saat ini. Meskipun efek obat masih terasa tetapi rasa khawatirnya pada Aurora jauh melebihi semuanya. Akhirnya Asgar bergegas berkeliling lantai dua.


"Di mana mereka? Kenapa sepi di sini?"


Baru saja Asgar hendak berbelok tiba-tiba saja Asgar mendengar teriakan ibu mertuanya. Sontak saja Asgar segera mencari sumber suara. Ternyata mereka semua berkumpul di kamar Adelle.


Rupanya saat ini tubuh Adelle melayang di langit-langit kamar. Kedua matanya melotot hingga membuat semua anggota keluarganya berteriak ketakutan tetapi tidak dengan Asgar. Ia justru bisa melihat makhluk itu yang sedang mengganggu Adelle dengan sangat jelas.


"Adelle, apa yang kamu lakukan di situ Nak? Turun!" teriak Nyonya Jiang ketakutan.


"Bu, berdiamlah!"


Beberapa saat kemudian ternyata Adelle semakin mengamuk dan melemparkan barang-barang yang langsung diarahkan ke tempat Nyonya Jiang. Tentu saja mereka semakin ketakutan, di tambah lagi kondisi Adelle seperti orang kesurupan.


S


Aurora yang menyadari jika Asgar berdiri di depan pintu segera menariknya untuk bersembunyi agar bisa terbebas dari kemarahan makhluk yang sedang mengganggu Adelle.


"Kenapa kamu kemari? Bukankah baru saja minum obat?"


"Iya, tetapi sesaat kemudian mendengar suara teriakan makanya segera mencarimu."

__ADS_1


Aurora tersenyum karena menyadari jika suaminya masih memperhatikan dirinya.


Sedari tadi Adelle terlihat memaki-maki seluruh anggota Keluarga Jiang. Sampai tepat dimana Asgar masuk. Rupanya hantu itu melihat jika lelaki itu cukup tampan hingga tidak perlu bersembunyi di balik tubuh Adelle.


__ADS_2