
Dengan segenap kesadaran, Aurora terus berterima kasih pada Asgar.
“Asgar!” panggil Aurora ketika melihat suaminya justru melangkah pergi.
“Iya.”
“Terima kasih untuk semua bantuan yang telah kamu berikan pada ayah.”
“Sama-sama,” jawab Asgar singkat.
Aurora bisa merasakan jika suaminya itu sudah mulai berubah. Seketika pikirannya teringat akan aksi heroik yang telah dilakukan oleh Asgar saat menyetir mobil yang mengejutkan tadi.
“Kalau tidak ada yang perlu dikatakan lagi, sebaiknya kamu kembali untuk menunggu ayah.”
“Hm.”
Kini Aurora sepenuhnya yakin kalau penglihatan suaminya sudah memulih kembali. Tentu saja hatinya merasa sangat senang. Ia pun menyusul langkah kaki Asgar sekali lagi.
“Asgar, tunggu! Pembicaraan kita belum selesai.”
Asgar pun membalikkan badannya dan menatap istrinya itu.
“Katakan dengan cepat, ada apa lagi?”
“Selamat karena penglihatan kamu sudah kembali,” ucap Aurora dengan malu-malu.
Asgar terkekeh pelan, dan hatinya merasa sangat terhibur akan tingkah istrinya itu. Akan tetapi sekarang ini ada hal yang lebih darurat lagi untuk dilakukan, yaitu kondisi kesehatan Tuan Jiang yang masih kritis.
“Sudahlah, itu merupakan sebuah kewajiban sebagai suami kamu. Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, sebaiknya kita pergi ke ruang kepala dokter untuk mendiskusikan hasil pemeriksaan ayah tadi.”
Aurora mendongakkan wajahnya, “Baiklah, ayo kita pergi!”
Kini sepasang suami istri itu segera menuju ke ruangan praktik kepala dokter. Tidak disangka Aiden melihat hal tersebut. Hanya beberapa saat mereka telah sampai disana.
“Hai Tuan Asgar masuklah!”
“Terima kasih, Pak kepala dokter.”
“Bagaimana dengan hasil pemeriksaan kesehatan Tuan Jiang tadi, bolehkah Anda memberikan penjelasan ekstra kepada kami?” tanya Asgar terus terang.
“Baiklah.”
__ADS_1
Usai melihat hasil pemeriksaan Tuan Jiang, kepala dokter terlihat menggelengkan kepala karena merasa kasihan.
“Jika pasien diobati tepat waktu, peluang terbesarnya juga hanyalah pasien vegetatif saja. Kecuali pasien mendapatkan sebuah keajaiban. Akan tetapi kemungkinan terbesarnya Tuan Jiang tidak mungkin kembali lagi seperti sebelumnya.”
Mendengarkan penjelasan dari kepala dokter, seketika Aurora melemas. Aiden yang sedari tadi membuntuti langkah kaki Aurora dan Asgar kini sudah mengetahui semuanya.
Demi membangun kesan baik pada Aurora, Aiden buru-buru menghubungi temannya. Dengan cepat, seseorang yang baru saja kembali dari luar negeri tiba di tempat.
Aiden pun buru-buru memperkenalkan teman baiknya itu pada Nyonya Jiang.
“Nyonya Jiang, kenalkan dia adalah dokter hebat yang baru saja datang dari luar negeri. Kami adalah teman baik.”
Nyonya Jiang dan dokter itu segera berjabat tangan.
“Nyonya tidak perlu khawatir lagi. Dia baru saja pulang dari luar negeri, dan sangat hebat. Sudah pasti ia bisa memulihkan Tuan Jiang.”
Mendengar hal itu, harapan Aurora kembali lagi. Tidak lupa ia pun berterima kasih kepada Aiden.
“Terima kasih banyak, Aiden. Kamu telah memberikan sebuah harapan baru pada kami.”
“Sama-sama, Aurora.”
Melihat hal itu, Asgar malah menatap Aiden dengan sinis. “Masih belum menyerah juga rupanya kau, Aiden?”
“Kita lihat, sampai dimana kamu mau mempermalukan dirimu lagi, Aiden!” batin Asgar di dalam hati.
Saat ini, Asgar telah menyadari jika Ayah Mertuanya, Tuan Jiang saat ini sedang diikuti oleh seorang hantu wanita dengan wajah pucat dan raut putus asa.
Jelas sekali bahwa alasan Tuan Juang sakit, semuanya dikarenakan hantu ini sudah cukup lama mengikuti beliau. Saat hantunya tidak bisa diusir, maka Tuan Jiang juga tidak bisa memulih kembali.
“Untuk penyakit seperti ini, bisa dipastikan orang luar negeri itu tidak akan bisa mengobati Ayah,” ucapnya penuh percaya diri.
Rasa sayang yang mendalam pada Aurora membuat Asgar mengingatkan istrinya untuk berhati-hati, dan tidak membiarkan dokter luar negeri ini mengobati ayahnya.
“Istriku, jangan biarkan dia memeriksa ayah, berhati-hatilah padanya.”
Rupanya kebaikan hati Asgar masih disangkal dan justru mendapatkan hinaan lagi dari Aiden.
“Kau diam saja disitu, dan lihat bagaimana temanku menyembuhkan Paman Jiang. Kau tidak usah merebut kontribusi ini lagi, paham!”
Asgar sudah malas berdebat dengan Aiden, kemudian membiarkan dokter luar negeri melakukan pemeriksaan pada Ayah Mertuanya.
__ADS_1
Dokter luar negeri membiarkan suster membawakan beberapa obat untuk menginfus Tuan Jiang.
Setengah jam berlalu, raut wajah Tuan Jiang memang agak membaik, bahkan bola matanya juga mulai pelan-pelan berputar. Mereka semua berseru kejut dan berterima kasih kepada dokter luar negeri.
“Puji Tuhan, keajaiban terjadi. Dokter luar negeri memang sangatlah hebat.”
Dokter luar negeri terlihat sangat bangga akan pencapaiannya kali ini.
“Kalian tidak perlu terlalu terkejut, karena kemampuan di bidang ini sudah lama saya pelajari hingga belasan tahun. Masalah seperti ini hanyalah masalah kecil,” ucapnya dengan bangga.
Bahkan setelah selesai berkata, ia juga menertawai Asgar yang masih berani tidak percaya akan keterampilan medisnya di usia muda seperti ini. Orang-orang pun ikut menegurnya.
“Dengar itu Asgar, harusnya punya mulut itu juga dijaga. Jangan memberikan komentar buruk sebelum kamu melihat kemampuannya terbukti.”
Nyonya Jiang tampak menyudutkan Asgar kembali.
Asgar tersenyum sinis. Asgar tahu jika dokter luar negeri itu hanya memberi obat keras pada Tuan Jiang. Dengan obat itu ia memaksa seluruh organ dalam tubuh untuk beroperasi kembali, sehingga membuat Tuan Jiang terlihat agak baikan untuk sementara waktu.
“Kita lihat sampai dimana kalian akan membandingkan pengetahuan kakek dengan dokter luar negeri itu?”
Ternyata tidak membutuhkan waktu lama, dengan cepat salah satu organ dalam tubuh yang beroperasi justru kehabisan tenaga, sehingga menyebabkan kondisinya menjadi parah. Asgar pun menghitung mundur tanpa suara, lima, empat, tiga, dua, satu.
Hingga angka satu, Tuan Jiang tiba-tiba saja memuntahkan darah. Wajahnya seketika langsung memucat, bahkan tekanan darah dan detak jantungnya langsung menurun drastis.
Semua orang mulai panik. Melihat kondisi yang terasa tidak benar ini, semua orang pun ikutan panik.
“Ada apa ini? Kenapa semuanya berubah memburuk?”
“Entahlah, semua dilakukan sesuai prosedur yang diberikan oleh dokter itu!” ucap salah satu suster sambil menunjuk dokter luar negeri.
Awalnya Aiden juga ingin kabur, tapi lengannya malah ditahan oleh Adelle.
“Mau kemana kau, sekarang pikirkan cara lain agar ayahku bisa diselamatkan!” gertaknya dengan nada naik setengah oktaf.
“Sial, kenapa dia justru menghalangi langkahku?”
“Karena kamu menghalangi, maka jangan salahkan jika saya bertindak kasar padamu!”
Aiden yang tidak bisa kabur, akhirnya membuat Adelle kesal. Karena kesal Aiden justru menendang perut Adelle agar cengkeraman tangan darinya segera terlepas.
“Makan tuh tendangan maut dariku!”
__ADS_1
Aiden pun hendak melarikan diri dan menjauh dari Adelle. Adelle yang masih memegangi perutnya karena kesakitan tidak bisa berbuat banyak pada Aiden yang sudah melarikan diri.