
Asgar sedang sibuk meracik minuman kesehatan untuk istrinya. Beberapa hari bekerja membuat Aurora sering merasa lelah. Sehingga saat ini ia pun meminta Asgar untuk menyiapkan minuman kesehatan untuknya.
Saat ia sedang meracik minuman, rupanya ada suara mobil yang berhenti di depan rumah. Asgar pun melongok keluar, rupanya ia melihat ada Aiden datang.
"Kenapa dia datang lagi?" gumam Asgar.
Meskipun ia ingin menemuinya secara langsung, Asgar meredam egonya.
"Kita lihat dulu, dia mau apa?"
Rupanya langkah kaki Aiden melangkah dengan cepat naik ke atas. Ia segera berlari seolah sedang mempercepat langkahnya demi segera sampai di kamar Aurora.
"Kenapa pikiranku tidak enak?"
"Jangan-jangan dia pergi ke kamar Aurora?"
Tanpa membawa minuman yang sudah dipersiapkan olehnya, maka Asgar segera menyusul langkah Aiden. Melihat gerak-gerik Aiden yang mencurigakan membuat Asgar segera bergerak cepat memasuki kamarnya.
Benar saja sesaat setelah Aurora tampak berada di balkon, rupanya Aiden berani mendekati istrinya. Saat Aiden hendak menyentuh tangan Aurora ternyata Asgar lebih dulu untuk meraih tangannya.
__ADS_1
Tentu saja Aiden ketakutan. Ia hendak menarik tangannya, akan tetapi Asgar lebih dulu menarik lengan baju Aiden hingga terjadi sebuah tarik ulur.
"Jauhkan tanganmu dari tubuh istriku!" gertak Asgar pada Aiden.
Bukannya melepaskan, Aiden justru tersenyum mengejek ke arahnya. Hingga beberapa saat kemudian Asgar pun melampiaskan amarahnya.
Sebuah bogem mentah melayang tepat mengenai wajah pas-pasan milik Aiden. Asgar tidak mau tinggal diam. Ia lebih memilih untuk terus menghajarnya hingga Nyonya Jiang mengetahui hal itu.
"Hei, menantu sialan beraninya kau memukul wajah calon menantuku?"
"Cepat singkirkan tanganmu itu!" bentaknya sekali lagi.
Aiden tampak tersenyum menanggapi calon ibu mertuanya sudah datang. Seolah mendapatkan bantuan ia memasang wajah memelas. Aurora masih diam dan mencoba apakah Aiden masih berkilah atau tidak.
Padahal di belakang Nyonya Jiang ada suaminya. Ia juga merasakan jika sikap istrinya sama sekali tidak menunjukkan seorang mertua yang baik.
Suara dentuman dari setiap pukulan yang dilayangkan oleh Asgar maupun Aiden membuat Aurora histeris. Ia tidak menyangka jika suaminya benar-benar memukul Aiden hingga babak belur.
Saat Nyonya Jiang hendak memukul Asgar, rupanya Tuan Jiang berteriak kepadanya.
__ADS_1
"Cukup!"
Sontak semua orang menoleh ke arah sumber suara, hingga beberapa saat kemudian terlihat jika Tuan Jiang menarik lengan istrinya.
"Papa mau apa?"
"Tentu saja melarangmu untuk memukul Asgar. Apa kau tidak lihat bagaimana Asgar melindungi istrinya dari pecundang ini?"
Tatapan Tuan Jiang seolah menekan keberanian Aiden. Ia tidak menyangka jika calon ayah mertuanya justru membela Asgar. Tangan terlihat mengepal. Sementara itu Asgar sudah memeluk Aurora yang terlihat histeris.
"Tenanglah, sudah tidak apa-apa, 'kan?"
Aurora mengangguk. Sudah lama ia menunggu saat dimana Asgar berani membelanya dari sikap Aiden yang semena-mena. Padahal sudah berkali-kali ia mencoba untuk tidak bergantung dengan Aiden dan menjauh darinya tetapi tidak bisa.
Beruntung saat ini Asgar sudah membelanya. Meskipun pada akhirnya justru ibunya kembali menyudutkan Asgar.
"Asgar, bawa segera Aurora pergi!"
"Baik, kalau begitu tunggu sebentar. Sebelumnya terima kasih, Pa."
__ADS_1
Nyonya Jiang yang melihat hal itu segera mendekati Asgar dan hendak mendorong tubuhnya, akan tetapi ia justru dikekang oleh suaminya.
"Jangan buat masalah lagi!"